
Suara tawa Valencia menggelegar di setiap sudut ruangan kamar. Endry menyerangnya tanpa berpikir panjang dan sekarang dia menuntut pembalasan atas apa yang telah dilakukan Valencia terhadap Ibunya. Endry kehilangan akal sehatnya, seharusnya yang mengatakan pembalasan dendam itu ialah Valencia.
Valencia menanggapinya secara santai, dia akan memberi ruang untuk Endry mengamuk sepuas hatinya. Lalu nanti di akhir, Valencia akan menghajarnya habis-habisan sampai Endry kesulitan untuk bernapas.
"Ya, memang aku yang membuat Ibumu seperti itu. Memangnya kenapa? Ada masalah? Ataukah Ibumu sekarang hampir mati karena tersiksa?" balas Valencia.
Endry menggeram kesal, apa yang dikatakan Rudolf benar adanya bahwa Valencia merupakan orang yang menghancurkan diri Ibunya.
"Aku tidak akan memaafkanmu! Kau harus mati! Kau harus mati sebagai balasan karena telah membuat Ibuku hampir mati tersiksa!"
"Kenapa aku butuh maaf darimu? Justru di sinilah aku yang harus berbicara kepadamu. Apa kau dan Ibumu lupa terhadap apa yang telah kalian lakukan di masa lalu? Jangan kalian pikir aku melupakan semua perbuatan kalian yang membuatku menderita," teriak Valencia dengan emosi membara di dada.
"Tidak, ini bukan salahku dan Ibuku, kau berhak atas penderitaan itu! Kau pantas menderita karena kau hanyalah anak yang tidak berguna dan tidak dianggap."
Kemudian Valencia yang terlanjur marah, mendorong Endry sampai terjatuh dari balkon. Anehnya, Endry bisa mendarat dengan sempurna seolah-olah ada sihir yang mengendalikannya.
Sepersekian detik berlalu, Valencia menyadari ada yang aneh dari Endry. Warna bola matanya berubah menjadi hitam pekat. Aura hitam menyelubungi tubuhnya. Valencia dapat merasakannya bahwa ada sihir hitam mengambil kendali atas tubuh Endry.
'Gelang itu, bukankah salah satu artefak terlarang. Mengapa dia bisa punya artefak yang jelas-jelas aku taruh di museum bersegel kuat? Apakah Rudolf yang memberikan gelang itu padanya?'
Valencia menarik sebuah pedang sihir dari ruang penyimpanan. Dia mulai menanggapi Endry secara serius.
'Rudolf pasti tidak memberi tahu Endry kalau efek dari pemakaian artefak terlarang terhadap tubuh manusia biasa ialah manusia itu dapat kehilangan kewarasannya lalu dia akan berubah menjadi manusia tanpa emosi dan pikiran. Betapa bodohnya Endry dimanfaatkan oleh Rudolf.'
Endry mulai bergerak menyerang Valencia secara brutal dan beruntun. Pergerakannya yang cepat membuat Valencia harus menaikkan kecepatan ayunan pedangnya.
"Kau harus mati! Kau harus mati, Valencia!"
Daya jangkau serangannya sangatlah luas, nyaris saja lontaran sihir Endry mengenai bangunan kokoh mansion Archduke Calestine. Untung saja Valencia dengan cepat memasang penghalang supaya serangannya tidak berimbas terhadap penghuni mansion.
"Dasar gila! Kenapa aku yang harus mati? Seharusnya kau dan Ibumu yang mati!"
__ADS_1
Pedang mereka saling beradu di udara, masing-masing menekan kekuatan bentrokan ujung pedangnya. Valencia yang mulai muak menyentak pedang Endry sampai mengakibatkan pedang Endry hampir terlempar jauh dari posisi awal.
"Aku akan membunuhmu! Aku tidak akan berhenti sampai kau berhasil mati di tanganku."
Endry telah dibutakan akan amarah tak berdasar. Hal ini merupakan sebagian dari kesalahan Rudolf yang tidak langsung memberi sugesti kalau Valencia adalah orang yang menghancurkan Guilla.
"Kau takkan mampu membunuhku karena sihir merupakan kekuatan utamaku."
Mereka saling bertukar serangan di udara, bahana ledakan bergantian terdengar memenuhi lingkaran penghalang. Sampailah di puncak di mana sihir hitam sepenuhnya menguasai Endry.
Arah serangannya mulai berbeda, tidak beraturan tapi mengeluarkan sihir yang sangat kuat. Sihir hitam mencoba menekan diri Endry dengan bisikan-bisikan yang menyebabkan Endry semakin tak kuasa menahan amarahnya.
Sebuah kilatan cahaya dari pedang Endry hampir melukai tubuh Valencia. Gadis itu secara spontan dan cepat menghindari serangan tersebut. Berulang kali serangan tak terduga muncul mengakibatkan Valencia nyaris terpojokkan.
"Kalau begitu, tidak ada pilihan lain. Aku tunjukkan sekarang bagaimana sihir yang kuat itu bekerja."
Valencia menyimpan pedang sihir yang dia pakai menyerang Endry lalu menggantinya dengan sebuah tongkat sihir. Tongkat yang menjadi senjata andalan ketika Valencia harus berurusan dengan sihir hitam yang sangat kuat.
Dengan kekuatan penuh serta konsentrasi maksimal, bola kristal di ujung tongkat Valencia bersinar terang. Gadis itu mengarahkan tongkatnya ke atas langit. Cahaya dari bola kristalnya menyambar tepat ke gelang yang dikenakan Endry.
"Piyamaku jadi kotor gara-gara si sialan ini," gerutu Valencia mengibas gaunnya yang kotor dan berdebu.
Kemudian Valencia mendarat ke permukaan tanah. Dia menyeret tubuh Endry dan membawanya ke kediaman Grand Duke Allerick. Betapa terkejutnya Adarian menemukan Endry yang babak belur karena dihajar Valencia.
"Grand Duke, tolong masukkan pria tidak berguna ini ke penjara. Dia nekat menyerangku saat sedang tertidur," ujar Valencia melempar tubuh Endry.
"Baiklah, bagaimana bisa anak ini menyerang kediaman Archduke Calestine?" bingung Adarian.
"Tidak tahu, tetapi mungkin dia disuruh oleh seseorang. Sekarang karena dia sudah di sini, aku pergi dulu. Tolong awasi dia dengan ketat karena setelah dia bangun nanti, kewarasannya akan hilang."
Valencia melesat cepat meninggalkan kediaman Grand Duke Allerick. Adarian langsung membawa Endry ke penjara bawah tanah.
__ADS_1
Sementara itu, Valencia tidak langsung pulang ke mansion. Dia pergi ke istana kediaman Rudolf untuk membawa Guilla keluar dari sana.
"Anda tidak boleh masuk tanpa izin Pangeran, Nona."
Para kesatria mencegat langkah Valencia untuk masuk lebih dalam lagi. Valencia menatap tajam mereka, tiada rasa hormat yang mereka tunjukkan kepada Valencia.
"Cepat minggir sebelum aku tebas kepala kalian," ancam Valencia.
"Tidak bisa, Nona. Anda harus membuat janji temu dengan Pangeran Rudolf."
Valencia menyeringai, akhirnya dia pun mendorong para kesatria untuk menjauh dari jalannya.
"Dasar mengganggu saja!"
Valencia langsung melangkah menuju ruang pribadi Rudolf. Rasanya ingin dia hancurkan kediaman Rudolf. Namun, belum sekarang waktu yang tepat untuknya menghancurkan Rudolf.
BRAK!
Valencia mendobrak dan menyelonong masuk ke dalam ruangan Rudolf. Pria itu tersentak saat pintu masuk rusak parah karena tendangan Valencia.
"Hei, pria bajing*n! Aku ingin mencari perhitungan denganmu."
Kemarahan memuncak di diri Valencia, Rudolf gemetar saat aura menakutkan muncul dari diri Valencia.
"Nona Valencia, apa yang membawa Anda—"
PLAK!
Tanpa menunggu Rudolf selesai berbicara, Valencia melayangkan tamparan kuat ke wajah Rudolf hingga melukai sudut bibirnya. Rudolf tertegun, baru kali ini dirinya ditampar oleh seorang wanita.
"Hahaha." Rudolf tertawa kaku. "Kenapa kau menamparku? Apa yang membuatmu begitu marah, Valencia?"
__ADS_1
Topeng malaikat yang terpasang di wajahnya sesaat luntur menghadapi Valencia. Tidak habis pikir apa yang ada di pikiran Valencia sampai dirinya begitu berani bersikap kasar.
"Jangan berpura-pura lagi, Rudolf! Dari mana kau mendapatkan gelang ini? Dari mana kau mendapatkan artefak sihir terlarang ini?!"