
"Devina!"
Bergegas Abraham menghampiri Devina, tapi ketika di hampir sampai di altar, tubuh Abraham tiba-tiba terpental jauh ke belakang. Ternyata ada sebuah dinding sihir yang tak terlihat terbentang di depan altar tersebut.
"Paman!" Buru-buru Valencia membantu Abraham untuk berdiri. "Apakah Paman baik-baik saja? Ada yang terluka?" tanya Valencia khawatir.
"Tidak apa-apa, aku tidak terluka," jawab Abraham. "Tapi, apa yang ada di sana? Mengapa aku bisa terpental jauh?"
Sammy bergerak ke depan memeriksa dan memastikan dinding sihir tersebut. Sammy meraba-raba dinding sihirnya, itu cukup kokoh daripada yang dia duga.
"Ini dinding sihir, tapi aku masih bisa meruntuhkannya. Bolehkah aku menguancurkannya sekarang?" tanya Sammy.
"Ya sudah, hancurkan saja daripada kita yang terluka akibat dinding sihir itu," kata Valencia menyuruh Sammy untuk menghancurkan dinding sihirnya.
Dalam sekejap, Sammy berhasil menghancurkan dinding sihir itu hanya menggunakan sentuhan lembut. Sudah diduga, daya hancur kekuatan mereka memang tidak main-main adanya. Valencia cukup bangga karena dia telah memberikan kekuatan Raja iblis ke orang yang tepat.
"Sekarang cepat periksa kondisi Devina," titah Valencia.
Sammy mengecek denyut nadinya, tapi denyut nadi Devina hampir tidak terasa. Tubuhnya juga kaku karena dingin. Hidup Devina berada di ambang batas kemampuannya untuk bertahan.
"Baiklah, setidaknya ini akan membuat Devina bertahan sampai kita bisa keluar dari tempat ini."
Valencia memberikan sentuhan sihir kepada Devina untuk menjaga kehangatan tubuhnya. Abraham selaku Ayah kandungnya, dia sendiri yang menggendong Devina untuk keluar dari tempat tersebut. Mereka bergegas berjalan sebelum terjadi sesuatu yang lebih menghambat langkah mereka seperti sebelumnya.
"Berhenti! Siapa yang mengizinkan kalian keluar dari tempat ini?!"
Seorang pria keluar dari balik altar, aura sihir dari tubuh pria itu meluap-luap keluar. Itu menunjukkan bahwa dia punya kekuatan sihir yang lebih luar biasa dibanding penyihir sebelumnya. Tetapi, hal itu bukanlah suatu halangan bagi Valencia. Gadis itu punya seribu satu cara mengalahkan musuh yang berani mengusik setiap langkah kakinya.
"Jadi, kau adalah orang yang memimpin penculikan ini. Aku tidak tahu siapa yang ada di belakangmu, tapi tampaknya kau orang yang cukup berani," ucap Valencia tersenyum miring.
"Apa kau tidak takut denganku, gadis kecil? Aku lebih kuat dari lawan kau yang sebelumnya," ujarnya kepada Valencia.
__ADS_1
"Ya, kau memang kuat, tapi tidak sekuat Raja bayangan. Aku akan lebih mudah untuk mengalahkanmu dan membunuhmu saat ini juga."
Tempat mereka berada saat ini beguncang hebat seperti gempa bumi. Itu adalah efek dari bentrokan dua kekuatan sihir yang cukup besar. Valencia tidak bisa melibatkan mereka yang dia bawa karena gadis itu bermaksud untuk melawan orang itu sendirian.
"Kalian keluarlah lebih dulu, aku yang akan menyelesaikannya." Valencia menyuruh mereka untuk keluar, tapi raut muka mereka berkata sebaliknya. Mereka ingin Valencia juta ikut bersama mereka keluar dari sana.
"Tidak, Valencia, kita harus bersama-sama keluar dari tempat ini. Ayo cepat," tutur Xeros menarik pergelangan tangan Valencia.
Valencia menolak untuk bergerak keluar, ia menggeleng dan melerai genggaman tangan Xeros dari pergelangan tangannya.
"Tidak, kalian keluar duluan. Tunggu aku di luar, aku akan menyelesaikan masalahku dengan orang ini terlebih dahulu karena dia sudah berani membuat temanku terluka dan hampir mati."
Kedua mata Valencia diselimuti kemarahan, mereka pada akhirnya tidak bisa menolak apa yang dipinta Valencia. Mereka pun bergegas keluar dari tempat itu dan meninggalkan Valencia seorang diri bersama musuh yang cukup kuat.
"Mata Valencia berbinar, dia punya sinar mata yang bagus ketika dia percaya diri dengan dirinya sendiri," ucap Reibert.
"Iya, kita masih belum terlalu kuat, masih ada banyak sihir yang perlu kita pelajari. Apabila kita terus berada di tempat ini, aku khawatir akan menjadi beban untuk Valencia," timpal Leano.
Mereka mempercepat langkah ke luar dari mansion. Setelah memastikan semua orang keluar, Valencia baru bisa lebih tenang untuk melakukan pertarungan sihir dengan orang yang ada di hadapannya kini.
"Kau punya nyali yang kuat untuk melawanku," ujar pria itu.
"Ya, aku selalu kuat sepanjang waktu dan aku yakin bisa mengalahkanmu dengan mudah."
Sekali lagi Valencia memancarkan senyum mengesalkan, dia terlihat menyebalkan di mata lawannya kini.
"Apa kau baru saja meremehkanku?" Pandangan mata pria itu mulai menajam.
"Tidak, aku hanya berbicara fakta bahwa aku memang sangat kuat dan kau tidak akan bisa mengimbangiku. Kau paham itu, bocah?"
"Kurang ajar! Aku akan membuatmu menyesal karena sudah mengatakan hal itu."
__ADS_1
Pria itu membawa emosinya ke dalam serangannya yang menerjang ke arah Valencia. Akan tetapi, tiba-tiba saja Valencia menghilang dari pandangannya. Gadis itu bergerak secepat kilat menghindari serangan pria itu.
"Kau sedang melihat ke mana? Aku ada di sini."
Valencia mendadak saja tiba di belakang punggungnya. Valencia langsung menghantam tubuh pria itu menggunakan tangan kosong tanpa sihir. Valencia benar-benar kuat, bahkan kekuatan fisiknya saja tidak perlu dipertanyakan lagi. Tanpa sihir dia bisa menerbangkang pria yang suka banyak omong seperti lawannya kini.
"Aku paling tidak suka ada orang yang bersikap angkuh di hadapanku. Mungkin saja kau memang tidak tahu siapa dirinya. Hanya saja kau tetap harus aku ajari caranya menghormati Master dari segala sihir!"
Pria itu lekas bangkit kembali, Valencia melayang di udara sambil menatap dingin ke arahnya. Dia sangat benci dengan mata Valencia, mata yang memperlihatkan kekuatan intimidasi yang amat kuat.
"Baiklah, aku akan tunjukkan padamu kekuatan maksimalku."
Pria itu memejamkan matanya, dia berencana mengeluarkan sihir yang lebih besar untuk menghancurkan Valencia. Sementara itu, Valencia hanya menunggu sambil mengamati setiap detail aura sihir yang memancar dari tubuh si pria.
'Dia sangat gigih, aku yakin dia selama ini berlatih dengan sangat kuat. Namun, sayang sekali kekuatan sihirnya tetap tidak akan bisa mengimbangi diriku,' batin Valencia.
Mata pria itu terbuka, sekujur tubuhnya dipenuhi aura hitam pekat. Kekuatan sihirnya bercampur sedikit dengan sihir hitam. Valencia sangat menantikan serangan selanjutnya dari pria itu.
"Terimalah seranganku ini, dasar jal*ng!"
Pria itu melancarkan serangan sihir membabi buta ke arah Valencia, tapi percuma saja karena kecepatan serangannya masih kalah cepat dari teknik penghindaran Valencia. Pria itu mulai geram, dia meningkatkan kekuatan sihirnya sampai rasanya kepalanya mau meledak karena tak kuasa menahan energi sihir di tubuhnya.
"Jangan paksakan dirimu, bocah. Aku sudah katakan bahwa aku adalah Master dari segala sihir dan kau belum bisa menandingiku."
Valencia muncul di depan matanya, dia menjentik kening pria itu dan membuatnya kembali memental ke belakang. Padahal itu hanya sebuah jentikan, tapi rasanya sangat sakit sampai membuat otaknya nyaris bergeser.
"Argghhh! Siapa kau sebenarnya?! Mengapa kau bisa sekuat ini. Sialan! Kau tidak mungkin hanya manusia biasa yang tiba-tiba memperoleh sihir besar. Butuh waktu puluhan tahun untuk menguasai sihir sekuat ini."
Valencia melontarkan senyum tipis, akhirnya pria itu penasaran dengan identitas dirinya sendiri.
"Aku adalah Klarybell, Penyihir Agung yang dikabarkan mati di dalam ledakan meteor di waktu lebih delapan ratus tahun yang lalu."
__ADS_1