
Valencia terpaksa berbohong kepada penduduk desa demi menghindari kecurigaan berlebihan dari mereka. Untung saja penduduk desa sangat religius, jadi mereka langsung mempercayainya begitu saja. Valencia merasa lega ketika mereka percaya dengan sangat mudah. Valencia merasa lelah karena seharian ini terus berbohong kepada banyak orang demi menutupi kebenaran soal dirinya.
Seluruh penduduk pun akhirnya lekas pergi menuju sungai, mereka terlihat bahagia sekali menyaksikan air kembali mengalir di sungai yang kering. Sedangkan Valencia bergerak pergi menuju ibu kota untuk melaporkan situasi terkini perihal Desa Sanori.
"Langit sudah gelap, aku harus segera menemui Reibert."
Valencia menghilang dari tempatnya berada kini, dia menggunakan sihir teleportasi demi mempercepat langkahnya menuju tempat Reibert berada. Kala itu, Valencia menyelinap ke lapangan latihan Reibert. Dia melihat masih banyak kesatria yang masih berlatih.
Valencia bersembunyi di balik tembok, sesekali matanya memicing sipit mencari keberadaan Reibert. Berapa kali pun dia melihatnya, Valencia tidak kunjung menemukan di mana keberadaan Reibert. Ketika Valencia hendak berbalik badan, dia dikejutkan oleh Reibert yang muncul tiba-tiba dari belakang.
"Nona, apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Reibert kebingungan mendapati Valencia di tempatnya latihan.
Valencia mengelus dada, dia terperanjat kaget oleh kemunculan Reibert.
"Astaga, kau mengagetkanku. Ada sesuatu yang mau aku bicarakan denganmu, bisakah kita berbicara sebentar?"
"Baiklah, mari kita bicara." Reibert langsung menyetujuinya. Dia pun membawa Valencia berbicara empat mata di tempat yang sepi.
Valencia duduk di sebuah bangku kosong, di sini memang hanya ada mereka berdua saja.
"Apakah kau tahu Desa Sanori?" tanya Valencia.
Reibert berpikir sejenak, dia merasa familiar dengan nama Desa Sanori.
__ADS_1
"Ah, saya pikir saya tahu desa itu, bukankah Desa Sanori adalah wilayah kekuasaan Count Terano?"
"Betul, desa itu sekarang berada di kondisi memprihatinkan. Sebagai Komandan kesatria istana bisakah kau membantuku membereskan masalah ini?"
Reibert mengerjapkan matanya berulang kali, dia masih belum paham sepenuhnya apa maksud perkataan Valencia.
"Bisakah Anda jelaskan kepada saya terlebih dahulu mengenai situasi di Desa Sanori? Sejujurnya saya tidak pernah menginjakkan kaki di Desa Sanori."
Valencia menceritakan semua yang dia ketahui kepada Reibert, ekspresi Reibert sangat terkejut mengetahui situasi desa yang begitu memprihatinkan. Sebagaimana yang diketahui banyak orang, Count Terano terkenal oleh kecakapannya dalam memimpin wilayah kekuasaannya. Oleh sebab itulah Reibert sulit mempercayainya, tapi karena Valencia yang memberi tahunya, maka Reibert tidak punya alasan untuk meragukan Valencia.
Ini merupakan masalah yang berada di luar dugaan Reibert, bahkan dia yakin Kaisar juga tidak mengertahuinya. Terlebih lagi Reibert yakin bahwa surat yang dikirim pihak Desa Sanori kemungkinan dihancurkan oleh bawahan Count Terano sebelum surat itu tiba di tangan Kaisar.
"Ini adalah masalah besar, sebagai kesatria istana yang dihormati seharusnya kau bisa mengatasi masalah ini. Tujuanku meminta tolong padamu karena kau punya kekuatan untuk melakukannya. Sebenarnya aku bisa saja menghancurkan Count Terano dengan tanganku sendiri, tapi akan jadi masalah kalau aku membunuh bangsawan," tutur Valencia menyiratkan aura membunuh yang kuat.
"Baiklah, malam ini aku pulang dulu, aku tunggu kabarnya besok pagi."
Selepas itu, Valencia beranjak pamit menuju kediamannya. Ketika dia membuka pintu kamar, Valencia teranjat melihat ada Helen, sang Ibu di sana tengah duduk bersilang kaki menunggu kepulangan Valencia.
"Apa yang dilakukan Grand Duchess di sini? Apakah ada sesuatu yang mungkin kau inginkan dariku?" tanya Valencia menatap dingin Helen.
Helen menoleh ke arah Valencia, terpancar kekesalan yang tak terbendungkan. Valencia sudah tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
"Dari mana saja kau seharian ini? Kenapa akhir-akhir ini kau tidak menunjukkan sikap seperti gadis bangsawan. Seharusnya kau tahu kalau seorang gadis bangsawan dilarang berkeliaran sampai tengah malam," ucap Helen.
__ADS_1
Valencia mengerutkan keningnya, berdasarkan ingatannya Helen memang seringkali menekan di pemilik tubuh untuk bersikap sempurna selayaknya bangsawan. Terkadang Helen tidak segan-segan melayangkan tamparan atau pukulan demi mengajarkan Valencia sikap sempurna seorang bangsawan.
"Aku tidak peduli, kenapa aku harus mengikuti aturanmu? Aku lebih suka menjadi bangsawan yang bebas tanpa adanya tekanan dari aturanmu. Apa artinya menjadi seorang bangsawan kalau diri kau saja tidak bahagia?" balas Valencia.
Helen berdecak sebal, kedua tangannya mengepal menahan kegeraman terhadap putrinya sendiri.
"Aku mendengar laporan kalau kau mengalahkan Endry dalam duel pedang. Apa maksudnya itu? Bukankah kau tahu kalau seorang wanita itu dilarang menyentuh pedang?! Tidak hanya itu saja, rumor mengenai kau mengatasi portal merah juga sangat mengganggu!" bentak Helen.
Valencia menyibakkan rambutnya, dia baru saja pulang tapi sudah disambut oleh situasi yang tidak menyenangkan.
"Aku tidak peduli! Memangnya apa hakmu melarangku? Selama ini kau juga tidak pernah berperan sebagai Ibu yang baik. Aku tidak mau mendengar kau mengoceh di hadapanku lagi! Lebih baik sekarang kau pergi dari sini! Jangan pernah mencoba membentak atau pun menegurku apalagi bertingkah seperti Ibu yang baik!"
Valencia menarik tangan Helen, dia mendorong tubuh sang Ibu untuk keluar dari kamarnya. Helen sekuat tenaga mempertahankan dirinya dan melawan putrinya yang bersikap lancang. Helen merasa dirinya sudah benar menasehati Valencia, tapi sebenarnya dia salah besar memberi nasehat seperti itu kepada Valencia.
"Tunggu, Valencia! Kau tidak bisa mengusirku dari sini! Aku hanya memberi tahumu yang baik. Lihatlah sekarang bagaimana kelakuanmu! Aku tidak menyangka aku melahirkan anak kurang ajar sepertimu."
Helen terus berceloteh sampai akhirnya Valencia berhasil mendorong Helen keluar dari kamar.
"Pergi kau sana! Aku kurang ajar juga karena kau dan suami tercintamu itu! Awas saja kalau kau berani datang kemari lagi, aku tidak segan-segan menebas kepalamu," ancam Valencia menghempaskan pintu kamarnya.
Helen mematung di depan pintu, Valencia sungguh berbeda dari yang dulu. Sikapnya berbanding terbalik dan berubah kasar, bahkan sekarang Valencia suka sekali berkeliaran tanpa ada pengawasan dari pihak kediaman Grand Duke Allerick. Hal yang lebih aneh lagi, Valencia sering menghilang tiba-tiba. Terkadang juga Valencia bisa muncul di dalam paviliun tanpa melewati pintu masuk utama sehingga keanehan ini pun mendatangkan tanda tanya besar di kepala Helen maupun Adarian. Akan tetapi, Valencia tidak mengindahkannya, dia terus melakukan hal yang sama berulang kali.
"Ada apa sebenarnya dengan Valencia? Dia dulu tidak pernah membentakku apalagi mengusirku. Caranya menatapku sangat dingin, dia bahkan tidak lagi memanggilku Ibu. Apakah dia benar Valencia yang aku kenal?" gumam Helen berpikir keras.
__ADS_1