Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Api Sihir yang Melahap Dhea


__ADS_3

Tidak sesuai keinginannya, pikiran liciknya itu tidak berguna. Valencia menatap rendah Dhea, ekspresinya begitu dingin dan menyiratkan kematian. Dhea masih bersujud menunggu ampunan dari Valencia. Lalu alangkah terkejutnya Dhea saat tangan Valencia menjambak rambutnya.


Dhea mengerang sakit, jemari Valencia mencengkramnya dengan kekuatan yang tak terduga. Kemudian Valencia menyeret paksa Dhea keluar dari kamar Reibert.


"Nona, tolong lepaskan saya," ujar Dhea bernada suara gemetar.


"Jangan pernah sesekali kau berpikir bahwa aku wanita yang pemaaf. Apa kau tahu? Aku ini bisa membaca keseluruhan sikap licik dan serakahmu itu. Namun, sayang sekali itu tidak berefek padaku."


Valencia menghempaskan tubuh Dhea hingga punggungnya menghantam tembok. Kaki Valencia dengan cepat menginjak punggung tangan Dhea. Wanita itu salah mencari gara-gara, dia telah membangunkan singa yang sedang tertidur.


"Hei, jal*ng! Tidak bisakah kau lebih tahu diri? Kau ingin menjadi Nyonya rumahnya Reibert? Apakah keinginanmu itu tidak berlebihan? Seharusnya kau tahu di mana tempatmu," tegas Valencia.


"Nona, saya tidak pernah berniat menjadi Nyonya rumah—"


"Kau masih berani berbohong kepadaku? Aku sering melihat wanita murahan sepertimu yang menghalalkan segala cara mendapatkan apa yang kau inginkan. Sayangnya, kau tertangkap olehku, jadi Reibert terhindar dari fitnah yang sedang kau rencanakan."


PLAK!


Valencia menampar dengan sangat kasar pipi Dhea. Entah sudah berapa kali dirinya menggunakan tangannya ini untuk menampar orang lain.


"Apa kau masih belum mengakui niatmu?" tekan Valencia menjambak sekali lagi rambut Dhea.


"Tidak, Nona, saya—"


PLAK!


Valencia menampar pipi sisi sebelahnya lagi, dia tidak mengampuni setiap tutur kebohongan Dhea. Lirih kesakitan terlontar dari mulut Dhea, wanita itu tidak kuasa menekan rasa sakit yang ditorehkan Valencia. Sosok Valencia seperti iblis, itulah yang ada di gambaran mata Dhea.


"Tolong hentikan, Nona. Saya sudah tidak sanggup lagi."


"Hentikan? Jangan harap!"


Valencia terus menerus menghajar Dhea, untung saja ia telah memasang sihir kedap suara sehingga tidak ada orang yang mendengar penyiksaan yang dilakukan Valencia. Padahal niatnya kemari adalah untuk mendiskusikan masalah Rudolf. Akan tetapi, dirinya malah dihadapkan pada masalah yang membuatnya mengamuk.

__ADS_1


"Saya mengakuinya! Saya mengakui niat buruk saya," kata Dhea tiba-tiba melontarkan pengakuan yang sejujurnya.


Valencia menghentikan pukulannya, dia menunggu Dhea mengatakan secara lantang.


"Katakan sekali lagi," perintah Valencia.


"Saya mengakui niat saya ingin menjebak Pangeran Reibert meniduri saya. Apakah Anda puas? Lepaskan saya sekarang sebelum saya memanggil kesatria untuk menyeret Anda keluar," gertak Dhea.


Bukannya berusaha bersikap baik, Dhea malah semakin menyulut kemarahan Valencia. Tatkala Dhea hendak bangkit berdiri, telapak tangan Valencia menutupi wajahnya.


"Aku tidak berencana membiarkanmu tetap hidup, wanita jal*ng."


Dari telapak tangannya, muncul kobaran api yang melahap tubuh Dhea dalam sekejap. Jeritan meminta ampun serta pekikan kesakitan bersamaan terdengar. Tubuh Dhea dibabat habis oleh api tersebut. Sampai akhirnya Dhea melihat sendiri jurang kematian yang menghampirinya.


"Kematian adalah hukuman yang cocok untuk wanita sepertimu."


Dhea akhirnya meregang nyawa di hadapan Valencia. Dia tewas terbakar api sihir, hidupnya benar-benar berakhir sekarang. Inilah balasan dari manusia yang berani menentang Penyihir terhebat.


Sesudah itu, Valencia membuang mayat Dhea ke jurang berisikan buaya. Dia menjadikan jasad Dhea sebagai makanan binatang buas. Setelahnya, Valencia kembali lagi ke mansion Reibert. Dia mengecek kondisi Reibert, untungnya pria itu baik-baik saja meski telah menghirup asap dari lilin aroma perangsang.


"Astaga, apa yang sudah aku lakukan?!"


Reibert mengacak-acak rambutnya, dia tidak sadar sama sekali terhadap apa yang telah ia perbuat terhadap Valencia. Tak lama setelahnya, Valencia mendatangi Reibert sembari membawa satu nampan sarapan.


"Ada apa? Kenapa kau tampak gelisah?" tanya Valencia.


Reibert terperangah menemukan Valencia masuk ke dalam kamarnya.


"Kenapa kau ada di sini? Jadi, apa yang terjadi malam itu bukanlah sekedar halusinasi?"


Valencia memandang bingung Reibert, di penglihatan Valencia, Reibert sepertinya tidak nyaman karena adegan kecupan bibir semalam. Terlihat jelas bahwa Reibert merasa bersalah karena telah mencium Valencia tanpa seizinnya.


"Tidak perlu kau pikirkan, sebenarnya aku di sini ingin menjelaskan situasi yang menimpamu semalam," ucap Valencia.

__ADS_1


"Situasi yang menimpaku semalam? Setelah aku pikir-pikir kembali tubuhku bereaksi aneh saat aku baru masuk ke dalam kamar."


"Ya, itulah yang ingin aku katakan kepadamu. Salah satu pelayananmu membuat ulah, tetapi aku sudah membereskan masalah itu. Untung saja aku datang tepat waktu, jadi kau selamat dari jebakan menjijikkan dari pelayan tidak tahu diri itu," oceh Valencia.


Reibert sama sekali tidak paham dengan apa yang membuat Valencia begitu kesal.


"Bisakah kau jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi tadi malam?"


Valencia pun menjelaskan semuanya secara detail kepada Reibert. Reaksi Reibert tak menentu, dia marah besar dengan tindakan Dhea. Akan tetapi, kemarahannya terasa percuma sebab wanita itu telah dieksekusi terlebih dahulu oleh Valencia.


"Aku benar-benar berterima kasih, kalau kau tidak kemari tadi malam, aku tidak tahu apa yang akan terjadi," tutur Reibert.


"Iya, itu bukan masalah sama sekali, kau tidak perlu berterima kasih kepadaku. Aku hanya menghukum wanita murahan seperti pelayan itu."


Reibert mengangguk, dirinya sungguh lega karena tidak termakan jebakan Dhea. Rasa syukur tak terhingga ia haturkan untuk Valencia sebagai penyelamatnya.


"Jadi, ada urusan apa kau ingin menemuiku semalam?" tanya Reibert mengganti topik pembicaraan mereka.


"Oh iya, aku ingin memintamu mencari tahu soal orang ini."


Valencia memberikan sepotong kertas dengan sebuah nama tertera di sana. Ada nama Leah, nama yang terdengar familiar di ingatan Reibert.


"Leah? Bukankah ini adalah nama pengasuh Pangeran Stephen?"


Valencia menganggukkan kepalanya. "Benar, dia adalah pengasuh Pangeran Stephen."


"Ada urusan apa kau dengan pengasuhnya Pangeran Stephen? Apakah ada kaitannya dengan kematiannya?" tanya Reibert sekali lagi.


Valencia menyeruput tehnya sebelum menjawab pertanyaan dari Reibert.


"Pengasuhnya Pangeran Stephen adalah kunci saksi utama dari kematian sang Pangeran. Kenapa aku bisa berpikir seperti itu? Karena setelah aku selidiki, pengasuh Pangeran Stephen menunjukkan perilaku yang berbeda seusai kematian Pangeran. Oleh sebab itu, aku berpendapat wanita itu punya sesuatu yang disembunyikan."


"Siapa tahu nanti dia menjadi salah satu alasan untuk menjatuhkan Rudolf. Pria itu tidak bisa dibiarkan lagi berkeliaran sesuka hatinya. Jadi, tolong temukan pengasuh Pangeran Stephen. Aku hanya bisa mempercayaimu saja dalam melakukan pencarian ini," jelas Valencia.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, aku akan mencari tahu keberadaan pengasuh Pangeran Stephen," kata Reibert memenuhi permintaan Valencia.


__ADS_2