
Setelah melewati kejadian kemarin, Valencia kembali masuk kelas seperti biasa seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Valencia duduk secara terpisah di sudut ruangan kelas sebab semua orang menjauhinya karena takut dengan kesadisan Valencia. Mereka khawatir akan menjadi korban berikutnya jika terlalu dekat dengan Valencia. Namun, gadis itu tidak terlalu mengindahkan apa pun tanggapan orang lain terhadap dirinya.
‘Tidak bisakah aku lulus dari akademi ini dalam waktu enam bulan saja? Jujur, aku ingin pergi ke tempat yang tidak ada orang berlalu lalang,’ pikir Valencia sambil menopang dagu dan menatap lurus ke arah jendela.
Tidak lama setelahnya, pintu masuk kelas terbuka secara terpaksa, seorang pria muda bersurat perak tiba-tiba masuk. Seluruh atensi berpusat padanya, separuh mukanya tertutup topeng, serta pupil mata berwarna hijau gelap yang penuh kesuraman. Mendadak suasana kelas menjadi hening, mereka membisikkan sesuatu yang buruk soal kedatangan pemuda itu.
‘Siapa dia? Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Tetapi, dari seragamnya, dia juga merupakan siswa di akademi ini.’ Valencia pun bertanya-tanya, baru kali ini dia bertemu dengan pria itu di akademi.
Bisikan dari orang-orang mencapai gendang pendengaran Valencia, di sini dia langsung mengetahui apa yang terjadi dengan si pemuda itu dan juga dia dijauhi oleh seluruh siswa di kelas ini.
“Tumben sekali dia datang ke akademi, setelah berkelahi dan hampir membuat anak orang meninggal, dia masih sanggup datang tanpa merasa bersalah.”
“Si buruk rupa itu benar-benar punya mental baja. Padahal seluruh orang di akademi ini menjauhinya, tapi dia masih datang ke akademi. Apa yang ada di otaknya?”
Selepas rasa penarannya terpenuhi, Valencia kembali ke pikirannya sendiri dan memilih untuk mengabaikan pemuda itu. Entah mengapa hidup pria itu terasa amat menyedihkan bagi Valencia, terselip sedikit rasa kasihan padanya.
“Hei, kau masih berani datang ke akademi? Apa kau tidak punya rasa malu seusai melukai orang lain?”
“Apa yang ada di dalam pikiranmu? Selain rupamu yang buruk, rupanya otakmu juga tidak bisa berpikir.”
Tiga orang siswa laki-laki mendadak menghampiri pria yang belum diketahui namanya oleh Valencia. Mereka bertiga memaki habis-habisan pria tersebut, mereka merundungnya tanpa ampun. Kemudian sepasang mata hijau gelap itu menatap tajam mereka satu persatu, sontak mereka tersentak tatkala orang yang mereka rundung menampakkan api kemarahan.
“Tidak bisakah kalian diam? Bungkam saja mulut kalian itu dengan sampah,” ujarnya dibubuhi amarah mendalam.
Mereka refleks mundur, mereka menganggap pria itu seperti monster yang hendak menerkam mereka detik itu juga.
“Monster! Wajahmu buruk rupa seperti monster! Sebaiknya kau angkat kaki dari sini karena kau hanya merusak suasana saja.”
“Akademi ini tidak menerima monster, di sini hanya menerima orang normal saja dan kau bahkan tidak punya rupa seperti manusia biasa.”
Mereka membullynya terus menerus, Valencia tidak tahan mendengar orang-orang yang berlagak merasa paling sempurna di dunia ini. Padahal mereka sendiri tidak menyadarinya bahwa mereka bahkan tidak menyentuh setitik pun kesempurnaan.
__ADS_1
“Kalian berisik sekali.” Akhirnya, Valencia buka suara, dia langsung membuat bungkam ketiga orang itu. “Mengatakan orang lain seperti monster, memangnya kalian sudah sesempurna itu? Ck, kalian tidak pernah bercermin? Lihatlah wajah kusam tidak terawatt itu, sungguh memuakkan. Lebih baik kalian berhenti sekarang sebelum aku buat kalian bernasib sama dengan Kepala Akademi,” lanjutnya menggertak.
Nyali mereka bertiga seketika ciut, mereka memilih untuk tidak berurusan dengan Valencia. Langsung saja mereka menghilang dari kelas sebelum mereka menerima nasib buruk yang sama seperti Joseth kemarin.
Penglihatan Valencia teralih pada darah yang mengalir dari tangan pria yang baru saja dirundung tersebut. Perban yang terbalut di tangannya berubah warna menjadi merah, darahnya perlahan menetes menodai meja. Valencia lekas bangkit dari posisinya, ia menuju ke tempat duduk pria itu.
“Pakai ini. Jangan mengepalkan tanganmu terlalu kuat, nanti lukamu yang belum kering jadi semakin terbuka.” Valencia menyerahkan sapu tangannya pada pria itu.
Namun, respon pria itu tidak baik, ia menepis tangan Valencia dan membuat sapu tangannya terjatuh ke permukaan lantai. Valencia memungut kembali sapu tangannya, dia tidak marah sama sekali kepada pria itu.
“Tidak usah sok baik padaku,” ketusnya.
Valencia menghela napas panjang, wajar saja jika seseorang yang selalu kena rundung tidak percaya terhadap orang lain. Bahkan di saat dirinya berbuat baik pun pasti akan ditanggapi secara negatif.
“Buang pikiran burukmu soal aku, aku hanya tidak mau kau mati karena kehilangan darah.” Valencia meletakkan sapu tangannya di atas meja lalu berlalu pergi dari hadapan pria itu.
Pria itu terpaku, ini merupakan pertama kalinya seseorang berbuat baik padanya dan merasa prihatin terhadap dirinya.
***
Waktu bergulir begitu cepat, saat ini menunjukkan pukul sembilan malam, tapi kebanyakan orang sudah lebih dulu terlelap. Valencia yang sendirian di kamarnya merasakan kesuntukan luar biasa sehingga ia memutuskan untuk pergi ke luar mencari kegiatan lain untuk mengurangi rasa suntuk.
Ketika dirinya pergi ke lapangan latihan, dia menemukan seseorang masih latihan mengayunkan pedangnya di tengah lapangan. Valencia penasaran dan segera menghampiri orang tersebut, ia naik ke atas pohon seraya menikmati sejenak pemandangan latihan itu.
“Eh? Bukankah pria itu yang tadi ada di kelas? Kenapa dia masih latihan malam-malam begini?”
Ya, pria itu adalah pria bertopeng yang tadi dirundung di dalam kelas, Valencia kembali bertemu dengannya di lapangan latihan.
“Hei, kenapa kau masih latihan?” teriak Valencia bertanya.
Mendengar suara Valencia, pria itu menjeda sejenak latihannya, dia menoleh ke sumber datangnya suara Valencia. Sejujurnya kala itu ia terkejut karena tidak menyadari kehadiran Valencia di atas pohon dekat lapangan latihan.
__ADS_1
“Apa urusanmu?” Dia menjawab pertanyaan Valencia dengan nada tidak ramah.
“Bagaimana kalau kita berduel?” tantang Valencia melompat turun dari atas pohon.
“Duel?”
Valencia mengangguk sembari bergerak mendekatinya, ia meraih sebuah pedang yang tergeletak di pinggir lapangan.
“Bagaimana? Apa kau mau berduel denganku?” Valencia menodongkan pedang ke arah pria itu, ia tersenyum dengan mata yang penuh keyakinan.
“Baiklah, mari kita berduel,” jawabnya menyetujui tantangan duel dari Valencia.
“Tunggu dulu sebentar, aku belum tahu namamu. Bisakah kau menyebutkan namamu terlebih dahulu?”
Pria itu terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya dia menyebutkan namanya kepada Valencia.
“Xeros, namaku Xeros,” ucapnya pelan.
“Baiklah, Xeros! Ayo kita berduel sekarang.”
Senyum manis Valencia merekah hingga membuat Xeros terpesona sesaat menatap Valencia.
“Cantik sekali,” gumamnya tanpa sadar.
“Hmm, apa yang kau katakan?” tanya Valencia tak sengaja mendengar sepintas perkataan Xeros.
“Tidak, tidak ada apa-apa,” kilah Xeros langsung membungkam mulutnya.
Pada saat Valencia dan Xeros hendak memulai, tiba-tiba mereka diganggu oleh kelompok pria yang dipimpin Charly – calon tunangan Valencia. Terpaksa mereka berdua menunda sejenak duelnya sampai Charly pergi dari hadapan mereka. Valencia langsung menyambut kedatangan Charly dengan senyuman mematikan, auranya dipenuhi kemarahan yang tak terbendungkan.
“Apa yang kau lakukan malam-malam begini bersama pria lain? Kau ini semakin liar ya, Valencia,” ujar Charly.
__ADS_1