Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Kegagalan Rencana Rudolf


__ADS_3

Kekalahan Raja bayangan di tangan Valencia tampaknya menimbulkan kerugian di pihak lawan. Musuh yang selama ini bersembunyi dari dunia luar kini mulai dilanda kepanikan seusai rencana mereka digagalkan kembali oleh Valencia. Saat ini Rudolf benar-benar kehabisan akal, dia tidak tahu harus bagaimana lagi caranya supaya rencananya berjalan baik tanpa berakhir gagal.


“Lagi-lagi Valencia! Gadis itu kenapa selalu menggagalkan rencanaku?! Dia bahkan menyingkirkan seluruh mata-mata yang aku kirim untuk menyelidikinya. Kemudian sekarang dia juga berhasil membabat habis Raja bayangan.”


Rudolf mengacak-acak rambutnya, seisi ruangan yang ia pijak hari ini terlihat berantakan. Di permukaan lantai terdapat banyak beling kaca, dia mengamuk seharian setelah mendengar laporan dari bawahannya.


“Tenanglah, Yang Mulia, kita bisa menyusun ulang rencananya kembali.”


Seorang pria muncul dari balik kegelapan, rupa pria tersebut sangat mirip dengan Charly. Tidak salah lagi, dia adalah Duke Nerio, Ayah kandung Charly. Dia terlibat di dalam rencana busuk Rudolf dan menjadi salah satu bawahan yang paling setia.


“Duke, bagaimana dengan putramu? Aku dengar dia ditolak mentah-mentah oleh Valencia. Apakah itu benar?” tanya Rudolf dengan mata yang memancarkan kemarahan.


“Yang Mulia, maafkan saya, karena kebodohan putra saya Nona Valencia menjadi marah dan menolak rencana pertunangannya. Akan tetapi, Anda tidak perlu khawatir, saya akan membujuk Grand Duke agar tetap melangsungkan pertunangannya,” ucap Duke Nerio meyakinkan Rudolf.


“Kau harus melakukannya! Gadis itu harus segera dilenyapkan. Pertunangan putramu dengan Valencia akan membantu kita untuk menyingkirkannya. Sesudah pertunangan dilangsungkan, kau bawa dia untuk tinggal di kediamanmu. Kita akan menghabisinya nanti ketika dia berjauhan dengan dunia luar dan dengan orang-orang yang dia kenal.”


“Saya akan meyakinkan putra saya untuk memperlakukan Nona Valencia dengan baik. Saya juga akan menyuruhnya untuk melembutkan hati Nona Valencia.”


Rudolf menyunggingkan senyumnya, kini perasaan marahnya telah berkurang karena dia berpikir bahwa masih banyak kesempatan lain untuk menghabisi nyawa Valencia.


“Bagus! Aku tunggu kabar baik darimu, Duke,” pungkas Rudolf mengakhiri pembicaraan mereka.


Beberapa menit berlalu, Elkin yang merupakan sekretaris sekaligus orang terpercaya Rudolf datang seusai mendapatkan panggilan.


“Elkin, apa kau masih tidak mendapatkan kabar dari benua Mihovil? Bagaimana pun rencana ini merupakan bagian dari rencana beliau,” tanya Rudolf.


Elkin menggelengkan kepalanya. “Maafkan saya, Yang Mulia, sampai saat ini saya tidak mendapatkan kabar atau panggilan dari benua Mihovil,” jawab Elkin.


“Aneh sekali. Apakah ada sesuatu yang terjadi di sana? Baiklah, kita biarkan saja sementara waktu. Apabila masih tidak ada panggilan atau kabar apa pun, maka kita harus menghubunginya lebih dulu.”


***

__ADS_1


Charly langsung dipanggil oleh sang Ayah untuk kembali ke kediaman Duke Nerio. Terpaksa Charly membatalkan seluruh kegiatannya hari ini demi memenuhi panggilan Duke Nerio. Charly tahu bahwa Ayahnya mungkin saja akan memarahi atau menceramahinya perihal hubungannya dengan Valencia. Maka dari itu, ekspresi Charly sedari tadi tidak bersahabat sama sekali.


"Ayah, ada apa memanggilku kemari?" tanya Charly langsung pada intinya.


Kala itu Duke Nerio tengah menyelesaikan beberapa dokumen pekerjaan. Dia langsung menghentikan pekerjaannya begitu putranya datang memenuhi panggilannya.


"Charly, bagaimana hubunganmu dengan Nona Valencia?"


Charly mendudukkan dirinya di sofa sebelum akhirnya membuka suara untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan Duke Nerio.


"Hubunganku dengannya semakin buruk, gadis itu tidak mudah untuk ditaklukkan."


Duke Nerio menghembuskan napas panjang, sudah dia duga akan berjalan seperti ini. Melihat sifat putranya yang dinilai bodoh, sebenarnya Duke Nerio tidak terlalu menggantungkan harapan kepada Charly. Hanya saja saat ini Charly satu-satunya kunci untuk menyingkirkan Valencia.


"Aku tidak mau tahu, kau harus memperbaiki hubunganmu dengan Nona Valencia," ujar Duke Nerio menuntut Charly.


"Tapi, Ayah, Valencia itu gadis yang keras kepala. Padahal aku sudah meminta maaf dan memintanya untuk memperbaiki kembali hubungan kami. Namun, dia menolaknya mentah-mentah. Bahkan aku sampai dipukul berulang kali olehnya. Aku ingin menyerah saja, lebih baik aku cari wanita yang lebih penurut dibanding dirinya."


"Ini salahmu! Aku sudah memperingatimu berulang kali untuk berhati-hati berhubungan dengan Linnea. Gadis itu tidak cocok menjadi Nyonya rumah ini. Sekarang kau harus mencari cara untuk memperbaiki hubunganmu dengan Nona Valencia. Hanya dia yang pantas menjadi pendampingmu!" tegas Duke Nerio.


"Dia sangat sulit untuk didekati, ditambah lagi dia dikelilingi oleh banyak pria yang punya reputasi bagus di Alegra."


Duke Nerio menggeleng-geleng, siapa sangka putranya mudah sekali menyerah pada masalah percintaannya.


"Aku akan menghubungi Grand Duke Allerick untuk mempercepat pertunangan kalian. Sekarang tugasmu hanya merebut hati Nona Valencia."


Ekspresi Charly berubah sumringah mendengar pertunangannya direncanakan untuk dipercepat dengan Valencia.


"Benarkah? Kalau begitu sekarang aku hanya perlu melembutkan hati gadis itu. Sejujurnya tidak ada gadis yang lebih menarik dari Valencia. Tolong Ayah urus saja urusan pertunangan kami, biar aku yang mencoba untuk membuat Valencia luluh."


"Ya, kau harus melakukannya supaya keluarga kita semakin kuat dengan dukungan dari Grand Duke Allerick. Sekarang kau sudah boleh keluar, aku akan segera mengurus masalah pertunangan kalian," ucap Duke Nerio.

__ADS_1


"Baik, Ayah."


Duke Nerio menyeringai menatap punggung Charly yang kian menjauh dari ruangannya. Dia percaya bahwa rencananya dan Rudolf untuk membunuh Valencia akan berjalan baik.


'Kenapa aku bisa mempunyai anak yang sangat bodoh? Untung saja dia mudah dikendalikan sehingga aku tidak perlu bersusah payah menjelaskan apa pun terhadap dirinya,' batin Duke Nerio.


Semenjak saat itu, Charly berusaha untuk mendekati Valencia memakai cara apa pun tanpa ada rasa menyerah. Akan tetapi, hasilnya nihil, Valencia selalu menolaknya mentah-mentah tanpa berpikir panjang. Misi penaklukan hati Valencia ternyata jauh lebih susah dibanding bayangannya.


"Apa lagi yang kau bawa ini?" ketus Valencia.


Hari ini Charly datang membawa sepuluh kotak cake yang telah dia pesan dari toko kue Bugenvil yang terkenal di ibu kota. Dia percaya kali ini Valencia tidak akan menolaknya lagi.


"Ini hadiah dariku untukmu. Cake populer yang berasal dari toko bugenvil," ujar Charly.


Seketika kedua mata Valencia berbinar-binar, dia ngiler sesaat Charly berkata membawakannya cake dari toko populer. Valencia mencoba untuk pergi membelinya sendiri ke toko itu, tapi setiap kali dia sampai di sana, tokonya sudah tutup karena kehabisan.


"Kali ini kau membawakanku sesuatu yang lebih bermanfaat."


Rachel dan Devina menatap datar Valencia, mereka tahu kalau Valencia lemah terhadap makanan. Namun, tidak disangka rupanya gadis itu selemah ini dengan makanan.


"Iya, tentu saja, aku bisa mengabulkan apa pun keinginanmu asalkan kau bersedia untuk ber—"


"Tidak," potong Valencia cepat.


"Eh? Apa?"


"Aku bilang tidak! Aku tidak akan pernah kembali lagi padamu. Sekarang kau boleh keluar dari kamarku," tekan Valencia.


Charly tidak menerima penolakan Valencia begitu saja. Dia masih bersikeras untuk membuat Valencia menjadi miliknya.


"Kenapa? Padahal aku sudah berusaha memperlakukanmu dengan baik. Aku juga membelikanmu cake kesukaanmu. Aku mohon, Valencia, jangan tolak aku lagi," tutur Charly memohon.

__ADS_1


"Sekali tidak tetap tidak.Terima kasih untuk cakenya dan silakan keluar dari kamarku," kukuh Valencia.


__ADS_2