Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Kilas Balik Klarybell


__ADS_3

Situasi kian memburuk, para penyihir yang entah datang dari mana mengepung kediaman Archduke Calestine. Mereka seolah-olah tahu kondisi Valencia yang tidak stabil sehingga mereka memanfaatkan situasi ini untuk menyerang secara terang-terangan.


"Pergilah atasi mereka! Serahkan Valencia kepadaku. Apabila kalian gagal melindungi kediaman ini, maka Valencia juga akan terkena imbasnya," ucap Sean lantang.


Mereka pun memilih pergi dan mempercayakan sepenuhnya Valencia kepada Sean. Untuk sekarang tugas mereka hanyalah melindungi gadis itu dari serangan tak terduga para musuh.


"Melihat dari lambang di jubah mereka, sepertinya mereka adalah bagian dari kelompok penyihir bayangan," ujar Frintz.


"Ya, aneh sekali melihat mereka menyerang ketika Valencia sedang tidak stabil," timpal Xeros.


"Mungkin target mereka memang Valencia, dikarenakan dia sedang melemah, jadi mereka memanfaatkan situasi tersebut," imbuh Reibert.


Para penyihir melayang di udara, mereka tidak memberi celah bagi siapa pun untuk kabur. Akan tetapi, para penyihir itu tidak tahu bahwa selain Valencia, ada ahli sihir yang lain. Mereka sebenarnya hanya sedang mengantar tubuh mereka untuk dicabik-cabik.


Pertarungan pun berlangsung, kekuatan para penyihir itu ternyata tidak lebih besar dari orang-orang yang berada di pihak Valencia. Suara gaduh semakin terdengar jelas, Sean sengaja memasang sihir untuk membuat suara tersebut tak menembus fokusnya saat ini.


Sean tiada henti berusaha menstabilkan kondisi Valencia. Walaupun terasa lebih berat baginya dikarenakan gadis itu terjebak di keadaan badan di mana jiwanya hampir membuat tubuh itu meledak.


"Aku mohon, Bell, bertahanlah sebentar lagi. Setelah kondisi Yang Mulia Davey membaik, kau akan aku bawa ke kastil. Jangan sekarang, tolong bertahanlah di tubuh ini sampai situasi alam akhirat membaik."


Jauh di dalam rasa sakit yang tak terhingga, Valencia menyelami ingatan masa lalunya yang buruk selama masih menjadi Klarybell. Rasa panas dan dingin yang mendominasi jantungnya menyebabkan kesadarannya terus menurun.


'Aku tidak mau mengingat itu lagi.'


Valencia berakhir tenggelam di dasar kegelapan memori. Berbagai gambaran ingatannya tertera jelas di sepanjang ruang nan gelap. Valencia melihat jelas potongan ingatan dari memori yang paling ingin ia kubur dalam-dalam. Namun, memori itu malah menjadi mimpi buruk bagi dirinya.


***


Ini adalah benua Mihovil, lebih tepatnya di Kekaisaran Lenatore pada seribu seratus tahun yang lalu. Di bawah kepemimpinan sang Kaisar, Kekaisaran Lenatore menjadi pusat bisnis yang sangat besar.


Duke Ergen Crave, dia seorang bangsawan kelas atas sekaligus penyihir jenius penguasa menara sihir. Kemudian istrinya yang bernama Marilyn merupakan seorang wanita yang ahli di bidang seni. Baik itu seni musik, seni tari, seni teater, seni luka, dan lain sebagainya.


Bersamaan reputasi yang terus dipandang baik di mata masyarakat, mereka juga mempunyai seorang putri yang bernama Klarybell. Ini adalah kisah di mana sebelum Klarybell menjadi penyihir paling kuat di benua Mihovil.


"Di mana Klarybell? Ini sudah waktunya untuk sarapan dan dia masih belum menampakkan dirinya," ujar Ergen menekan para pelayan.


"Mohon maaf, Yang Mulia. Nona bilang beliau sedang tidak enak badan, jadi—"


"Siapa yang menyuruhnya beristirahat tanpa perintah dariku? Anak itu tidak mungkin bisa sakit. Aku yakin ini hanya akal-akalannya saja," potong Ergen menolak mendengar penjelasan pelayan.


"Ya sudah, biar aku sendiri yang memeriksa ke kamarnya."


Marilyn bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan sarapannya untuk mengecek keadaan Klarybell. Tanpa mengetuk pintu, Marilyn langsung masuk ke dalam kamar.


"Bell, bangun!"


Marilyn menyingkap selimut Klarybell, gadis itu tengah tertidur sambil menahan sakit di kedua tangannya.


"Ibu ...," lirih Klarybell membuka matanya.


"Bangun sekarang!" Marilyn menarik tangan Klarybell secara paksa. "Siapa yang menyuruhmu tidur? Bukankah waktu tidurmu dibatasi hanya dua jam saja?!" omel Marilyn.


"Maaf, tapi tanganku sakit karena kemarin berlatih pedang seharian tanpa istirahat."


Telapak tangan Klarybell dipenuhi luka dan memar sebab ia tidak berhenti mengayunkan pedang seharian. Badannya juga terasa panas, pandangannya berkunang-kunang. Oleh sebab itulah, dia tidak bisa bangun pagi ini.


"Ini hanya luka kecil, hari ini kau ada pelajaran medis. Jangan buang waktumu untuk tidur," tekan Marilyn.


"Ibu, aku benar-benar sedang sakit. Tidak bisakah aku beristirahat satu hari saja?"


"Tidak bisa! Aku akan bawakan healer kemari menyembuhkan lukamu. Jangan coba-coba mencari alasan lagi untuk bermalas-malasan."


Kala itu Klarybell masih berusia tiga belas tahun. Gadis tersebut terkenal oleh kejeniusannya dalam menguasai berbagai pengetahuan. Entah itu di bidang seni, medis, matematika, ilmu alam, seni berpedang, dan sihir. Dia menjadi tokoh utama yang membuat keluarga Duke Crave dikenal dunia luar.


"Aku lelah."


Ketika sedang membaca buku medis, hidung Klarybell mengeluarkan banyak darah. Dia hanya punya waktu dua jam untuk tidur, lalu selama dua puluh dua jam dia gunakan untuk belajar, belajar, dan belajar. Apabila dia menolak melakukannya, maka Ayah dan Ibunya akan memberi hukuman.

__ADS_1


"Mereka terus menerus menyiksaku dan tidak memberiku kesempatan menikmati hidup. Terlahir jenius ternyata tidak sebaik yang aku kira. Sekarang sihirku masih belum cukup melawan Ayahku, haruskah aku bertahan sebentar lagi?"


Semakin hari, pujian terhadap Klarybell tiada henti membanjiri kekaisaran. Hal itu membuat Ergen dan Marilyn semakin menekan Klarybell untuk menjadi gadis yang sempurna.


"Dengar, Bell, kau harus melakukan semuanya secara sempurna. Aku tidak akan memaafkanmu walau kau melakukan satu kesalahan."


"Kau gadis yang jenius, kemampuanmu melebihi aku dan Ibumu. Apa pun itu, kau harus menguasainya dengan sempurna."


"Kau harus menjadi gadis yang paling cantik di dunia. Seluruh perhatian hanya milikmu, jika ada seseorang yang melebihimu maka kau bunuh saja dia. Paham?"


Mereka berdua dibutakan ketenaran, dengan memanfaatkan Klarybell, mereka berhasil memperoleh kekayaan dan kekuasaan melebihi bangsawan lainnya.


"Ada untungnya kita membesarkan anak itu. Dia bahkan terkenal oleh dunia luar. Kita harus melatihnya lebih ketat dari sebelumnya," tutur Ergen.


"Ya, tapi aku rasa walaupun dia tidak tidur sekali pun takkan ada masalah baginya. Lebih baik sekarang kau ciptakan pil yang bisa membuatnya tetap terjaga sepanjang hari," kata Marilyn.


"Ya, aku rasa itu ide yang bagus. Aku akan membuatnya nanti."


Kebiadaban mereka berdua kian menjadi-jadi, mereka semakin menyiksa Klarybell dan membuat gadis itu tidak bisa tidur sedetik pun. Klarybell terjaga sepanjang hari dan melakukan pembelajaran yang berada di tingkat paling atas.


Tidak jarang dia hampir tumbang karena kelelahan. Akan tetapi, Marilyn dan Ergen mengatasinya dengan healer.


"Bell, hari ini kau akan melatih sihirmu," ujar Ergen.


"Kali ini Ayah akan menyediakan metode pelatihan seperti apa?" tanya Klarybell.


"Aku ingin kau mengalahkan makhluk sihir tingkat paling atas. Aku telah mengurung makhluk sihir itu di dalam ruangan itu."


Klarybell kaget bukan main, mengukur dari sihir yang ia miliki sekarang, makhluk sihir tingkat teratas tidak akan bisa dia atasi. Apabila dia nekat melakukannya, maka mungkin saja nyawanya akan terancam.


"Tapi, Ayah, aku belum bisa melawan makhluk sihir tingkat teratas. Bagaimana kalau—"


"Berhenti mengeluh! Kau anak yang jenius, tidak mungkin kau tak sanggup mengalahkan makhluk sihir tingkat teratas!"


Klarybell terdiam, ia menahan diri untuk tidak protes lebih lanjut.


Ergen menyeret Klarybell masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi makhluk sihir. Klarybell meronta-ronta meminta agar dia dikeluarkan segera dari ruang tersebut.


"Ayah, bebaskan aku dari sini! Aku tidak mau mati! Aku mohon."


Mau berapa kali pun Klarybell memohon, Ergen tidak peduli. Pada akhirnya, gadis itu tetap dipaksa bertarung melawan makhluk sihir.


"Oh, dia keluar!"


Setelah lebih dari sepuluh jam, akhrinya Klarybell keluar dengan darah yang mengujur di setiap bagian tubuhnya.


"Hahaha, putriku berhasil mengalahkan makhluk sihir tingkat teratas! Ini adalah prestasi terbaru di usia putriku yang masih tiga belas tahun! Cepat sebarkan berita ini ke penjuru kekaisaran."


Semenjak hari itu, perubahan besar terjadi pada diri Klarybell. Dia menjadi seorang gadis yang dingin dan tak mengenal emosi. Hingga usianya mencapai tujuh belas tahun, banyak para bangsawan yang datang melamarnya. Namun, mereka semua ditolak karena satu alasan.


"Apa yang kalian pikirkan?! Kalian menyuruhku menikah dengan Kaisar tua bangka itu?!"


Klarybell marah besar, alasan mengapa Ergen dan Marilyn menolak seluruh lamaran para bangsawan ialah agar mereka bisa menikahkan putri mereka dengan Kaisar yang baru saja kehilangan Permaisurinya.


"Coba pikirkan, Bell, kalau kau menikahinya maka kau bisa menjadi Permaisuri. Jikalau Kaisar meninggal nanti, kau akan menjadi satu-satunya penguasa di kekaisaran ini," ucap Marilyn.


"Benar, lagi pula kalau masalah para Pangeran, kau bisa membunuh mereka dan mengambil takhta Kaisar. Dengan begitu, kita menjadi penguasa di kekaisaran ini. Tidak akan ada satu pun orang yang berani membantahmu," timpal Ergen.


Sungguh di luar dugaan, Klarybell rasanya ingin menertawakan dirinya sendiri yang selalu menjadi alat untuk mencapai keinginan kedua orang tuanya.


"Aku sudah muak! Menjadi alat untuk memenuhi segala impian gila kalian itu, aku tidak mau lagi melakukannya! Lebih baik aku mati daripada harus menikahi pria tua."


Klarybell menolak keras pernikahan tersebut, tentu saja mereka berdua tidak tinggal diam begitu saja. Bahkan, sekarang mereka mencoba menyeret Klarybell secara paksa ke istana untuk segera dinikahi sang Kaisar. Namun, lagi-lagi mereka gagal membawa Klarybell ke istana.


"Yang Mulia, celaka! Nona Klarybell menghilang!"


Seorang pelayan secara tiba-tiba melaporkan Klarybell menghilang saat malam hari. Hal tersebut membuat Ergen terkejut bukan main.

__ADS_1


"Apa yang kau katakan? Klarybell menghi—"


DUAARR!


Suara ledakan dari istana kekaisaran menggetarkan permukaan tanah. Ergen syok sesaat merasakan adanya kekuatan mahadahsyat bersumber dari istana.


"Apa yang sedang terjadi di istana?" gumam Ergen bertanya-tanya.


"Yang Mulia! Ada sesuatu yang ingin saya laporkan!" teriak seorang kesatria.


"Apa lagi kali ini?" tanya Ergen.


"Ada penyusup di istana dan sekarang penyusup itu menyerang istana secara terang-terangan. Bahkan, dia berhasil membunuh Kaisar dan para Pangeran!"


"Apa? Tidak mungkin!"


Ergen bergegas menuju istana untuk memeriksa sendiri kebenarannya. Dia sedari tadi merasakan adanya sihir yang sangat besar menyelimuti istana kekaisaran.


Sesampainya di istana, Ergen langsung disambut oleh Klarybell yang sedang duduk di atas singgasana Kaisar. Kedua tangannya dipenuhi lumuran darah. Di kepalanya terdapat mahkota Kaisar dan di pangkuannya ada kepala Kaisar yang terpisah dari badannya.


"Klarybell, apa yang sedang kau lakukan? Apa kau pelaku yang membuat kekacauan ini?!"


Klarybell tersenyum menyeramkan, dia menunjukkan kepuasan terhadap apa yang ia lakukan.


"Ada apa, Ayah? Bukankah ini yang Ayah inginkan?"


Ergen tersentak, aura yang dikeluarkan putrinya berbeda dari biasanya.


"Anak kurang ajar! Beraninya kau—"


"Berhenti mengatakan aku sebagai anak kurang ajar!" teriak Klarybell. "Kalian selalu saja memperlakukanku seperti alat! Aku sudah muak dan tidak tahan lagi terhadap perlakuan kalian. Jadi, jika kalian mati hari ini maka jangan pernah salahkan aku."


Secara mengejutkan Klarybell melesatkan serangan besar ke arah Ergen. Betapa kagetnya Ergen sesaat mendapatkan serangan tersebut. Sihir yang dikeluarkan Klarybell berbeda seperti biasa yang ditunjukkan kepadanya.


"Apa kau menyembunyikan kekuatan sihirmu selama ini?" tanya Ergen.


"Tidak, aku baru saja mendapatkan sihir dengan kekuatan yang super besar. Dengan begini, aku bisa menghancurkanmu berkeping-keping."


Tanpa memperlihatkan rasa iba, Klarybell langsung menghantam Ergen. Serangan membabi buta secara bertubi-tubi menimpa tubuh Ergen. Pria itu tidak diberi kesempatan untuk melawan sedikit pun.


Hanya dalam waktu beberapa jam saja, gadis itu berhasil menghabisi nyawa kedua orang tuanya serta seluruh orang yang berada di kekaisaran turut terkena imbasnya. Kekaisaran Lanatore menghilang dari peta semenjak kejadian itu.


"Ini adalah pembalasanku! Manusia laknat sudah seharusnya aku kirim ke neraka. Keberadaan kalian mencemarkan dunia."


***


Setelah melalui serangkaian kilas balik, Valencia masih belum menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Sementara itu, pertarungan di luar mansion masih berlangsung. Henzo terlihat sangat emosi sehingga daya hancur serangannya menjadi lebih kuat. Dia tidak memberi celah sedikit pun untuk mereka membalas serangannya.


Sean berjuang sekuat tenaga mengembalikan kesadaran Valencia. Namun, semakin ia mencoba, semakin membuat gadis itu jauh dari kesadaran awalnya.


"Kenapa, Bell? Jangan seperti ini, aku memohon kepadamu. Tolong buka matamu, aku tidak bisa melihatmu seperti ini."


Beberapa menit berselang, pertarungan melawan penyihir di kediaman Archduke Calestine pun berakhir. Tentu saja pertarungan ini dimenangkan oleh pihak Henzo.


"Bagaimana?! Apa Valencia sudah sadar?"


Henzo yang khawatir langsung menuju ke kamar Valencia untuk mengecek kondisinya. Sean hanya menggeleng dengan keringat bercucuran dari keningnya. Dia hampir putus asa karena apa pun yang ia lakukan sekarang terasa percuma.


"Apa tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang?"


Kepanikan tak kunjung mereda, raut muka mereka menggambarkan seberapa dalam mereka tenggelam di rasa khawatir yang amat berlebihan. Mereka berharap secercah harapan baru untuk Valencia.


Sepersekian detik setelahnya, Valencia menunjukkan tanda akan sadar. Kelopak matanya bergerak, hal itu menunjukkan bahwa Valencia berupaya menangkap kesadarannya. Dia juga berjuang untuk mematahkan rasa sakit yang mendera badan.


"Valencia!" seru seisi ruangan.


"S-Sean ... s-sakit. Inti sihirku terbakar ... t-tolong bawa aku ke telaga peri," lirih Valencia setengah sadar.

__ADS_1


"Telaga peri? Apakah di sini ada telaga peri?"


__ADS_2