Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Guilla Diseret ke Penjara


__ADS_3

Pria bernama Roy itu tampak terkejut seketika Valencia menyebut bahwa ia adalah kaki tangan Rudolf dalam pembunuhan Stephen. Sebuah rahasia yang telah ia simpan selama bertahun-tahun akhirnya perlahan terkuak ke permukaan. Valencia merupakan orang yang akan menguak segala kasus kejahatan Rudolf.


"Apa yang kau katakan?! Aku tidak ada hubungannya dengan kematian Pangeran Stephen!".


Roy bersikeras menyangkal seluruh tudingan Valencia. Berbagai kejahatannya telah tersimpan rapi, ia juga menerima sebagian besar uang yang membuatnya hidup berkecukupan sampai sekarang.


"Benarkah begitu?" Valencia melontarkan sihirnya untuk mematahkan ibu jari kaki Roy.


"Arrghhhh!" Roy memekik kesakitan menahan siksaan pertama dari Valencia.


"Setiap kali kau berkata bohong, maka aku akan mematahkan salah satu jarimu. Jikalau kau masih sayang nyawamu, aku sarankan kau untuk mengaku," ucap Valencia.


"Tidak, aku tidak akan mengata—"


Krekk


Satu jari lagi patah, begitu seterusnya sampai jari kaki dan tangan Roy dipatahkan semuanya. Setelah dipatahkan semua, Valencia memberi Roy potion untuk menyembuhkannya. Namun, Valencia kembali menyiksanya menggunakan metode yang sama.


"Kau sungguh pria yang menjaga dengan baik rahasia Tuanmu. Haruskah sekarang aku menggunakan metode penyiksaan yang lain?"


Valencia mendudukkan diri di atas sebuah kursi. Dia mengamati Roy yang meringis kesakitan seusai berulang kali terkena siksaan.


"Bawa itu ke dalam, aku akan menunjukkan bagaimana rasanya hidup di antara ambang kematian," perintah Valencia kepada para kesatria.


Tidak lama selepas itu, sejumlah kesatria mendorong masuk sebuah akuarium raksasa yang ditutupi oleh kain hitam. Roy hanya menatap takut ke arah Valencia tanpa bersuara sedikit pun.


"Buka kain penutupnya," lanjut Valencia memberi perintah.


Betapa terkejutnya Roy sesaat menyaksikan adanya ikan hiu berenang bebas di akuarium. Itu bukanlah hiu biasa, ikan hiu tersebut mempunyai warna hitam legam. Berbeda dari hiu pada umumnya.


Tentu saja hiunya berbeda, itu dikarenakan Valencia membuat sendiri hiunya dan memang digunakan sebagai media penyiksaan. Roy tidak akan bisa lari dari kematian.


"Karena kau memilih menutup rapat mulutmu, aku akan membuatmu sadar dengan siapa kau berbohong saat ini."


Para kesatria mengingat tubuh Roy pada sebuah tali. Tubuhnya perlahan terangkat ke atas menuju akuarium. Kini tepat di bawah badannya, dia melihat jelas mata hiu yang ingin sekali memangsanya.

__ADS_1


"Tidak! Saya mohon, jangan lempar saya ke dalam sana."


Suara Roy terdengar gemetar, tidak disangka Valencia akan menyiksanya sampai seperti ini.


"Kalau begitu, apakah kau mau berbicara sekarang? Pangeran Rudolf yang kau layani itu tidak akan mampu melindungimu dari amarahku. Pilihlah jalan mana yang seharusnya kau tempuh di posisi saat ini."


"Saya mengakuinya! Saya bekerja di bawah perintah Pangeran Rudolf sejak awal."


Valencia tersenyum puas, ia memberi isyarat kepada para kesatria untuk melepaskan Roy.


"Mari aku dengar pengakuan darimu."


Roy didudukkan di atas sebuah kursi dalam kondisi tangan dan kaki terikat rantai. Valencia membordirnya dengan berbagai pertanyaan. Roy menjawab segalanya secara jujur.


Rudolf yang menaruh kedengkian besar terhadap Stephen seringkali mencoba membunuh Stephen menggunakan racun. Akan tetapi, mau berapa kali pun dia menaruh racun di makanan dan minuman Stephen, dia tetap gagal membunuhnya. Lalu Roy merupakan orang yang telah membantu Rudolf menaruh racunnya.


Roy juga mengakui kalau kematian Stephen bukanlah kecelakaan semata, melainkan pembunuhan berencana yang disusun rapi oleh Rudolf. Valencia merekam pengakuan Roy di dalam sebuah kristal perekam yang ia temukan di sebuah portal belum lama ini. Rekaman ini akan dia gunakan nanti sebagai salah satu barang bukti.


"Karena aku telah mendapatkan informasi yang aku inginkan, sekarang lempar dia ke dalam akuarium untuk dijadikan santapan makan malam oleh hiu kesayanganku," ujar Valencia menitahkan kesatrianya.


Valencia mengabaikan teriakan Roy, tubuhnya langsung diseret para kesatria lalu dilempar ke dalam akuarium.


***


Guilla saat ini berada di posisi yang terancam. Seluruh mantra yang ia kerahkan untuk mengendalikan semua orang satu persatu mulai hancur. Bahkan, sekarang ia tidak lagi mampu memberikan mantra yang sama.


"Bagaimana ini? Mengapa mantranya tidak bekerja sama sekali seolah-olah ada sesuatu yang menghalangiku."


Guilla membalikkan setiap halaman buku mantra yang dia dapatkan dari Ibunya yang juga merupakan seorang penyihir mantra. Guilla telah memperoleh kehidupan mewah berkat mantra tersebut. Akan tetapi, segalanya akan berakhir sebab mantranya tidak bekerja seperti biasanya.


"Aku sangat panik, aku tidak bisa tidur nyenyak. Beberapa waktu belakangan ini, Grand Duke lebih sering menghabiskan waktu bersama wanita jal*ng itu. Tidak boleh! Aku harus mencari cara untuk mengembalikan semuanya kepadaku."


Di malam yang larut, Guilla diam-diam menyelinap masuk ke paviliun kediaman Helen. Dia membawa satu bilah pisau di genggaman tangannya. Aura Guilla diselubungi aura membunuh yang kuat.


"Kalau aku ingin mengembalikan segalanya, maka aku harus membunuh wanita itu. Apabila dia tidak ada, aku bisa dengan mudah mendapatkan posisi yang aku inginkan."

__ADS_1


Guilla merangkak masuk ke kamar Helen, ia menemukan Helen sedang tertidur pulas di atas tempat tidur. Guilla mendekatinya perlahan dan meminimalkan suara yang berkemungkinan membangunkan Helen.


Tepat sebelum Guilla berhasil mendaratkan ujung pisaunya, Helen tiba-tiba terbangun karena merasa ada yang masuk ke kamarnya.


"Guilla, apa yang sedang kau coba lakukan?!"


Helen sontak bangkit dan mendorong Guilla menjauh darinya. Helen langsung menyadari bahwa Guilla berencana untuk membunuhnya. Apabila ia telat sedikit saja, dapat dipastikan dia mati di tangan Guilla.


"Apa kau mau membunuhku?!" bentak Helen dibubuhi emosi mendalam.


"Hahaha." Guilla tertawa seperti orang gila, dia telah menahan diri selama ini untuk tidak berbuat nekat. "Kau adalah penghalang besar untukku! Jika kau mati, aku bisa merebut tempatmu menjadi Nyonya kediaman ini. Kau harus berkorban untukku, Helen! Kau harus mati di tanganku."


Guilla pun tanpa ragu-ragu langsung menerjang menodongkan pisau ke arah Helen. Wanita gila itu bergerak secara tidak seimbang, tetapi pergerakannya tidak bisa dihindari oleh Helen sampai akhirnya ia tertusuk ujung pisau yang sangat tajam.


Tubuh Helen jatuh ke permukaan lantai, darah mengucur deras dari sela lukanya. Rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan menggerogoti diri Helen.


"Helen!"


Adarian datang tepat waktu bersama para kesatria. Untungnya dia menerima laporan dari salah seorang pelayan yang tidak sengaja melihat Guilla menyelinap ke kamar Helen.


"Helen, bisakah kau mendengar suaraku?"


Adarian membawa Helen ke pelukannya, wanita itu nyaris kehilangan kesadarannya. Tangan Adarian bergetar cemas, perasaan murka menghantui kepalanya.


"B-Bagaimana Anda b-bisa berada di sini? Bukankah Anda sedang ada pekerjaan di luar wilayah?!" Guilla panik bukan main, dia hampir tidak bisa berbicara dengan benar.


Adarian memandangi Guilla dengan tajam, dia benar-benar marah mendapati kondisi Helen yang terluka parah karena ulah wanita yang amat ia benci saat itu.


"Beraninya kau melukai istriku! Kesatria, seret wanita ini ke penjara bawah tanah! Kurung dia dan jangan biarkan satu pun orang menemuinya tanpa izin dariku! Dia telah melakukan dosa besar karena telah berani mencelakai istriku," perintah Adarian.


"Tidak, Yang Mulia! Jangan masukkan saya ke penjara. Bukankah Anda mencintai saya? Jika—"


"DIAM!" sergah Adarian. "Kau wanita yang menjijikkan! Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Aku pastikan kau menderita di penjara karena kau telah melukai istriku dan membunuh putriku satu-satunya."


Guilla diseret secara paksa ke penjara bawah tanah. Adarian tidak menunjukkan sedikit pun belas kasihan terhadap Guilla. Hanya ada api amarah bersama dendam yang membara di dada.

__ADS_1


__ADS_2