
Linnea terkejut bukan main, pertama kalinya ia mendapatkan perlakuan seperti ini dari Adarian. Terlebih lagi Adarian menamparnya di hadapan orang banyak. Citranya sebagai anak angkat kesayangan Grand Duke Allerick seketika runtuh berkeping-keping. Perasaan Linnea pun menjadi campur aduk tak menentu.
"Kenapa Ayah menampar saya? Bukankah biasanya Ayah juga memperlakukan Valencia lebih buruk?" protes Linnea.
"Apa kau masih mencoba untuk mengelak? Ada banyak saksi mata dan kau telah melakukan sesuatu yang membuat Archduke marah kepadamu. Aku tidak akan melindungimu, lindungilah dirimu sendiri dari kemarahan Archduke maupun Kaisar dan Permaisuri," pungkas Adarian.
Adarian berlalu pergi dari hadapan Linnea. Dia sudah muak menyaksikan perlakuan Linnea yang dinilai sudah melewati batas. Tanpa disadari Linnea, dirinya saat ini tengah berada di ambang kehancuran.
'Kenapa ini bisa terjadi padaku? Seharusnya yang menerima perlakuan seperti ini adalah Valencia. Wanita itu mengapa dia selalu beruntung?' batin Linnea.
Bersamaan kala itu, pertunjukan pun berakhir dengan kejadian yang tidak mengenakkan. Tidak sedikit orang menaruh perhatian terhadap Valencia. Bahkan, di antara mereka ada yang ikut mencaci maki Linnea dan Endry yang telah menyebabkan Valencia tenggelam hingga nyaris tewas.
"Endry, kau tahu alasanku memanggilmu kemari?"
Tepat selesai pertunjukan, Adarian langsung menindak ndry di kediamannya. Dia kabur ketika Valencia tercebur ke dalam danau.
"Tidak, Ayah. Saya tidak tahu alasan Ayah memanggil saya kemari."
Endry ketakutan, aura intimidasi Adarian begitu kuat sampai membuatnya tak kuasa menatap balik mata Adarian. Endry hanya tertunduk sambil memikirkan nasib dirinya.
"Kau benar-benar tidak tahu alasanku memanggilmu kemari? Baiklah, sekarang aku akan bertanya padamu. Kenapa kau melakukan itu? Kenapa kau mendorong Valencia ke dalam danau?"
Endry tersentak, tidak dapat dipercaya kalau Endry memanggilnya karena masalah yang dia buat tadi.
"I-Itu, t-tadi saya tidak sengaja mendorongnya. S-Sungguh, saya tidak tahu kalau kejadiannya malah jadi seperti ini," jawab Endry gelagapan.
"Tidak sengaja? Kalau begitu, mengapa kau kabur setelah mendorong Valencia? Bisakah kau menjawabnya dengan jujur?" selidik Adarian.
"Saya tidak kabur, saya hanya pergi sebentar—"
"Pergi ke mana?" potong Adarian cepat. "Kau jangan mencari alasan lagi! Sekarang aku akan menghukummu. Kau harus meminta maaf kepada Valencia dan pergilah melakukan penaklukan portal selama satu bulan penuh. Jangan pulang jika kau belum menyelesaikannya."
"Baik, saya akan melakukannya."
Endry lekas beranjak meninggalkan ruangan pribadi Adarian. Terdengar helaan napas yang menyiratkan rasa frustrasi akibat permasalahan yang saat ini terjadi.
'Masalahnya menjadi sangat rumit, mulai dari pembunuhan berencana terhadap Kaisar sampai pembunuhan yang juga menghantui Yang Mulia Klarybell. Tampaknya ada sesuatu yang aneh terjadi di Alegra akhir-akhir ini.'
__ADS_1
Akibat kejadian tadi siang, Valencia disuruh oleh Henzo beristirahat saja di dalam kamar. Dia tidak diperbolehkan keluar dari mansion meski ada keperluan mendesak sekali pun. Valencia menurut, ia hanya beraktivitas di kamarnya saja dan melakukan beberapa pekerjaan kecil.
"Kenapa kau di sini? Apakah kau punya urusan penting denganku?" tanya Valencia kepada Ivanov yang tiba-tiba muncul dari balkon.
"Apa kau baik-baik saja? Aku dengar Archduke tidak memperbolehkanmu keluar."
Valencia mengembuskan napas panjang, sungguh disayangkan di malam festival ini dirinya tidak diperbolehkan keluar.
"Ya, begitulah. Jadi, sekarang aku harus mengurus pekerjaanku yang tersisa. Besok aku mau pergi ke festival ibu kota."
Valencia menggerakkan pulpennya menandatangani beberapa dokumen. Kemudian Ivanov mendekat ke arah meja kerja Valencia. Tangannya secara tidak sadar menyentuh kening Valencia. Dia memeriksa suhu tubuh gadis itu.
"Syukurlah suhu tubuhmu normal."
Valencia tidak mengerti, baik itu dengan diri Ivanov atau keenam Pangeran yang lain. Mereka memperlakukan Valencia secara berbeda dari orang lain. Terlebih lagi, sifat mereka semakin hari semakin lembut. Perlakuan hangat mereka sesaat membuat Valencia hanyut di dalam kebingungan.
"Kau pikir aku akan demam hanya karena tenggelam? Aku tidak selemah itu," ucap Valencia.
"Benarkah? Aku tahu itu. Seorang Valencia tidak mungkin kalah karena demam."
"Hei, berhentilah meraba-raba wajahku. Singkirkan tanganmu sekarang juga!" ujar Valencia.
"Apa?"
"Aku bilang singk—"
Cup!
Valencia terperangah, Ivanov tiba-tiba mencium bibirnya. Gadis itu terdiam sepersekian detik, sebuah ciuman singkat yang dilayangkan Ivanov membuat darahnya berdesir hebat.
"M-Maaf."
Ivanov yang tersadar pun langsung menjauhkan dirinya dari Valencia.
"Dalam rangka apa kau menciumku?" Valencia menanggapinya dengan santai.
"Hmm, itu ... maafkan aku, aku tidak sadar melakukannya."
__ADS_1
Ivanov tersipu malu, mukanya merah merona setelah mencium Valencia. Sekarang dia pun menghilang dari hadapan gadis itu membawa rasa malu karena perbuatannya sendiri.
"Aneh, kenapa dia menciumku tiba-tiba? Entahlah, aku tidak memahaminya."
***
Guilla yang masih terkurung di balik jeruji besi hanya bisa meratapi nasib buruknya. Setelah melakukan perbuatan yang membahayakan nyawa Helen, Adarian sedikit pun tidak pernah menjenguknya ke dalam penjara.
Sehari-harinya hanya ada para kesatria maupun pelayan yang membawakannya makanan. Guilla gagal mencapai tujuannya yang ingin menjadi Nyonya rumah ini. Sekarang dia bingung harus melakukan apa lagi supaya dirinya bisa keluar dari tempat gelap dan sempit ini.
"Kenapa mantraku tidak lagi bekerja? Aku sudah mencoba merapalkan mantra baru, tetapi itu percuma saja," gumam Guilla.
"Tentu saja mantramu tidak bisa lagi bekerja karena aku telah memblokir seluruh mantramu di kediaman ini."
Guilla sontak kaget mendengar suara seseorang yang sangat familiar. Guilla bangkit dari tempat duduknya lalu melihat dari sela kurungan besi. Terdengar suara derap kaki yang melangkah kian mendekat ke arahnya.
"Siapa kau?!" tanya Guilla lantang.
Sosok seorang gadis tiba-tiba berdiri di hadapannya. Gadis itu adalah Valencia, dia sengaja menyelinap masuk ke kediaman Grand Duke Allerick untuk menemui Guilla.
"Apa? Kenapa kau bisa ada di sini? Pergi! Jangan pernah kau menampakkan wajahmu yang menjijikkan itu di hadapanku!" teriak Guilla marah.
"Astaga, kau sudah dijerumuskan ke dalam penjara dan kau masih berani bersikap kasar kepadaku. Bagaimana rasanya? Bagaimana rasanya ketika mantramu tidak lagi bekerja?"
Guilla membatu ketika mendengar soal mantra dari mulut Valencia langsung. Darahnya berdesir hebat dan detak jantungnya tak karuan.
"Mengapa kau bisa tahu soal mantra?"
"Hahaha." Valencia terkekeh. "Ternyata kau benar-benar seorang penyihir mantra. Siapa sangka aku bisa bertemu penyihir mantra setelah sekian lama."
"Kau bahkan tahu soal penyihir mantra? Siapa kau sebenarnya?! Katakan padaku, siapa kau sebenarnya?!"
Valencia menghentikan suara tawanya, Guilla mulai frustrasi menghadapi kenyataan ini.
"Tentu saja aku bisa tahu karena aku adalah seorang penyihir."
"Apa? Penyihir?"
__ADS_1