Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Sumber Air


__ADS_3

Ketiga kesatria itu memperhatikan gerak-gerik Valencia yang hendak menodongkan pedang berkarat ke arah mereka. Seketika ketiganya melepaskan suara kekehan yang mengejek Valencia, tapi gadis itu tidak mengindahkan ejekan mereka. Justru Valencia merasa senang sekaligus lega ketika mereka mengejeknya sehingga dia memiliki alasan yang semakin kuat untuk menghabisi nyawa mereka.


“Tugas suci seorang kesatria? Itu tidak penting karena yang kami butuhkan hanyalah uang, dengan uang kami bisa hidup dengan baik.”


“Lalu apa-apaan itu yang kau pegang? Apakah kau serius menggunakan pedang berkarat itu untuk melawan kami? Jangan bercanda, Nona, di sini bukan panggung komedi.”


Tawa miring terbit dari bibir Valencia, dia semakin menodongkan pedang berkarat tersebut ke arah mereka bertiga. Valencia mengisyaratkan kepada orang-orang yang berada di sekitarnya untuk mundur lebih jauh supaya dia bisa leluasa menyerang ketiga kesatria itu. Memang menjengkelkan mendengar mereka meledek dirinya, tapi bagi Valencia akhir dari hidup mereka sedang melangkah perlahan menyergap diri mereka masing-masing.


“Pedang berkarat ini bisa mematahkan pedang kalian, kalau kalian tidak percaya kenapa tidak langsung mencobanya? Cobalah serang aku sekarang, aku ingin melihat seberapa lihai permainan pedang yang akan kalian suguhkan padaku,” tutur Valencia menantang mereka.


Sesaat ekspresi mereka berubah serius, secara tidak langsung sebenarnya Valencia tengah meremehkan mereka. Sekarang mereka pun terpancing oleh perkataan Valencia yang membuat mereka kesal.


“Jangan sombong dulu kau! Pedang berkarat tetaplah sebuah pedang berkarat!” Salah satu di antara mereka menarik pedang dari sarung lalu menerjang menyerang Valencia.


Dalam satu kibasan pedang, Valencia mematahkan pedang si kesatria tanpa harus menyentuhnya terlebih dahulu. Sungguh mengejutkan, mereka tidak menyangka kalau pedang berkarat bisa lebih kuat dari pedang berkilau milik mereka.


“Apa-apaan pedangnya itu? Tidak mungkin! Pasti ini karena pedangku retak dan mudah patah.”


Si kesatria barusan masih saja tidak menerima kenyataan, dia mencoba mencari kesalahan Valencia. Bagaimana pun dia melihatnya, siapa pun yang menyaksikannya, mereka pasti tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan.


“Dasar lemah! Masih saja kalian tidak mau mengakui kehebatanku. Kalau begitu, bagaimana dengan ini? Aku yakin kalian akan langsung terdiam saat melihatnya.”


Valencia melompat membumbung tinggi ke angkasa melewati si kesatria itu, kemudian tepat sebelum kesatria itu berbalik badan, ujung pedang Valencia sudah lebih dulu menebas lehernya hingga kepala kesatria tersebut jatuh menggelinding ke atas tanah.


Suasana mendadak riuh, warga Desa Sanori tidak terbiasa menyaksikan langsung pembunuhan sadis di depan mata mereka. Kedua kesatria yang melihat rekannya mati di tempat sesaat merasakan getaran menakutkan dari Valencia. Mereka berdua memilih untuk mundur, tapi sayangnya Valencia tidak membiarkan mereka begitu saja.

__ADS_1


“Mau ke mana kalian? Tadi kalian masih bisa menertawakanku lalu bagaimana sekarang? Apakah jiwa kalian terguncang melihat teman kalian mati dengan mudah hanya menggunakan pedang berkarat ini?”


“Tidak, saya salah, saya sudah berbuat salah, tolong jangan pergi kemari.” Mereka berlari terpontang-panting, tapi anehnya tiba-tiba kaki mereka melekat ke permukaan tanah sehingga mereka tidak bisa lagi berlari lebih jauh.


Tanpa ampun, Valencia langsung melayangkan pedangnya dan memotong tubuh mereka menjadi beberapa bagian. Semua penduduk desa syok bukan main ketika menonton pembunuhan tragis yang dilakukan Valencia. Kemudian Valencia menggunakan sihirnya dan membuat mereka semua tertidur. Valencia menghapus ingatan mereka yang melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Valencia barusan.


“Memang lebih baik kalau mereka tidak mengingat pembunuhan yang aku lakukan,” gumam Valencia.


Setelah itu, Valencia membawa ketiga mayat kesatria tersebut menuju hutan yang berada di bagian barat desa. Valencia menaruh mayat para kesatria itu di tengah hutan untuk dijadikan sebagai makanan burung gagak.


Pada saat Valencia kembali ke desa, seluruh penduduk desa terbangun dalam kondisi linglung. Mereka memikirkan alasan mengapa mereka bisa tertidur di luar, mereka bahkan tidak memiliki ingatan mengenai pembunuhan yang dilakukan Valencia.


“Siapa di antara kalian pemimpin desa ini?” tanya Valencia.


“Siapa namamu?”


“Saya Yugo, Nona,” jawabnya.


“Oke, sekarang bisakah kau mengantarkanku ke bendungan sungai yang dibuat oleh Count Terano? Ada sesuatu yang mau aku lakukan.”


“….”


Yugo tampak ragu mengiyakan permintaan Valencia, gadis itu paham mengapa Yugo ragu memenuhi permintaan Valencia.


“Sepertinya kau tidak bisa, bagaimana jika mengantarku ke sungai saja? Setelah itu kau boleh pergi meninggalkanku di sana sendirian. Aku sekaligus ingin mencari sumber air bersih untuk kalian,” ucap Valencia.

__ADS_1


Mendengar Valencia yang berupaya mencari sumber air bersih, akhirnya Yugo bergerak membawa Valencia ke arah utara desa di mana letak sungai yang biasa digunakan penduduk desa sebagai sumber air sehari-hari. Kondisinya memang memprihatinkan,


“Saya hanya bisa mengantar Anda sampai di sini saja karena saya khawatir bawahan Count Terano bergerak menghabisi saya jika mereka melihat saya di tepi sungai. Tolong jangan sampai Anda ketahuan oleh mereka, Nona,” tutur Yugo.


“Baiklah, kau boleh kembali sekarang.”


Valencia berdiam diri di tepi sungai lalu Valencia menyentuh tanah dan merasakan adanya jumlah air yang sangat besar di arah aliran sungai. Sekarang Valencia tahu di mana keberadaan bendungan besar yang menyebabkan mengeringnya air sungai.


“Serakah sekali si tua bangka itu.” Valencia bangkit kembali. “Jangan salahkan aku kalau kau kehilangan seluruh air di bendungan itu. Anggap saja ini sebuah peringatan dariku untukmu yang membuat orang lain menderita.”


Valencia menghentakkan kakinya dua kali, tiba-tiba permukaan tanah pun bergetar hebat. Dari arah atas, muncul air yang sangat besar membasahi sungai kembali. Valencia berhasil mengambil air yang berada di bendungan tanpa merusak bendungannya. Tidak akan ada yang sadar kalau sebenarnya ada sihir yang menyelimuti bendungan tersebut hingga airnya keluar melalui celah yang tidak terlihat.


“Rasakan itu! Kalian tidak akan bisa menyumbat air sungai ini lagi.”


Valencia beranjak pergi kembali ke desa, mereka menyambut kembalinya Valencia dengan tatapan penuh harapan. Betapa tidak sanggupnya mereka menahan haus dan lapar secara bersamaan selama beberapa hari ini. Kini Valencia membawa sebuah berita bahagia untuk mereka, tidak ada lagi yang perlu mereka cemaskan.


“Nona, bagaimana? Apakah Anda menemukan sumber air bersih?” tanya Yugo.


“Ya, aku menemukan sesuatu yang menakjubkan, air sungai kembali mengalir deras.”


Mata mereka semua membulat sempurna, mereka masih belum paham apa yang dimaksudkan Valencia sebenarnya.


“Maksud Anda apa, Nona? Mana mungkin sungainya bisa mengaliri air jika airnya malah disumbat oleh Count Terano.”


Ekspresi Valencia berubah memelas. “Aku juga tidak tahu kenapa, tapi waktu aku berdoa kepada dewa kedamaian dengan sungguh-sungguh, mendadak saja muncul air dengan gelombang besar dari atas. Mungkin saja ini adalah bentuk dari jawaban doa kalian selama ini, dewa kedamaian membantu mengembalikan sumber air utama kalian kembali.”

__ADS_1


__ADS_2