
Lagi-lagi Valencia mendengar hal yang sama dari mulut teman sekelasnya, tentunya dia takkan membiarkan mereka berlalu begitu saja. Valencia menyeringai, anak-anak itu hanyalah sekedar bocah yang bisa dia habisi kapan pun. Valencia pun berbalik badan menatap mereka satu persatu dengan senyum kematian. Sejenak suara tawa di dalam kelas mendadak hening, entah mengapa mereka berasa sedang berhadapan dengan malaikat kematian hingga rasanya napas mereka ikut tercekat.
“Kalian sepertinya sudah mulai gila, ya.”
PRANG!
Valencia bergerak ke jendela kelas lalu memukul kaca jendela sampai pecah dan membuat suara pecahan kaca jendela bergema di penjuru kelas. Tangannya terluka akibat hal itu, terdapat luka goresan yang cukup dalam di punggung tangannya.
“Kalau kalian tidak siap bertemu alam kematian, aku peringatkan dari sekarang, jangan pernah mengusikku. Tidak peduli kalian anak bangsawan atau anak setan, aku akan membunuh kalian jika kalian mengganggu kehidupan akademiku. Meski Grand Duke tidak berpihak padaku, aku masih memiliki Kaisar dan Permaisuri di sisiku,” tutur Valencia bernada mengancam.
Tidak ada dari mereka yang berani melawan Valencia, mereka gemetar berhadapan dengan gadis yang badannya jauh lebih kecil dari mereka. Namun, tekanan yang dia berikan amat besar dan memberatkan.
“Katakan padaku, di mana kalian menyembunyikan mejaku? Kalau tidak ada yang mau angkat bicara, maka kalian harus ke liang kubur bersama-sama,” lanjut Valencia menanyakan keberadaan meja.
Salah seorang siswa mendekati Valencia lalu menunjuk ke arah tengah lapangan, mereka menaruh meja Valencia di tempat yang dapat dilihat banyak orang. Dari kejauhan juga Valencia melihat bahwa kondisi mejanya benar-benar buruk. Bergegas Valencia pergi ke lapangan dengan melompat dari jendela kelasnya yang berada di lantai tiga. Sekejap seisi ruangan terkejut menyaksikan Valencia melompat tanpa aba-aba, tapi gadis itu berhasil mendarat di permukaan tanah dengan selamat.
“Mereka menaruhnya di tempat yang seperti ini, itu artinya mereka sungguh berniat ingin mempermalukanku,” gumam Valencia.
Valencia salah fokus dengan tulisan-tulisan yang terukir di permukaan meja, tidak sedikit para siswa yang sengaja merundung pemilik asli tubuh Valencia dengan menghina fisiknya serta mengatakan ia anak tidak berguna. Kemudian Valencia juga membaca adanya tulisan yang ditulis langsung oleh si pemilik tubuh. Dia mengatakan bahwa ia ingin mati, kehidupannya yang melelahkan tak kunjung memberikannya kebahagiaan.
__ADS_1
“Dia benar-benar ingin mati.” Valencia melihat tangan kirinya yang dipenuhi bekas luka sayatan benda tajam. Hal tersebut merupakan bentuk dari tindakan menyakiti diri dan mencoba menghabisi dirinya sendiri. Akan tetapi, setiap luka sayatannya berhenti tepat sebelum urat nadinya terpotong.
“Kalau pun kau mati, tidak akan ada yang berubah, semua orang masih membencimu seperti dahulu.”
Valencia mengangkat mejanya, dia pun membawa meja tersebut kembali ke dalam kelas. Tanpa sadar, luka di punggung tangannya mulai mengering perlahan, ia bahkan tidak merasakan sakit sedikit pun dari luka yang dia terima.
Sepanjang jalan, Valencia menjadi bahan pembicaraan sekaligus pusat perhatian, dia mengangkat meja yang berat hanya menggunakan satu tangan saja. Meja itu hanya seperti kapas yang bisa terbang kapan saja. Di tengah lorong, Valencia berpapasan dengan Linnea, seperti biasa dia dikelilingi oleh banyak orang karena keramahannya.
‘Kenapa aku harus bertemu jal*ng itu di sini? Dia tidak terlihat sedih setelah kematian kedua orang tuanya. Tidak heran, dia memang anak yang tidak punya hati,’ batin Valencia bergumam kesal.
Linnea melirik ke arahnya, senyum palsu itu sungguh memuakkan, dia mengambil hati semua orang menggunakan wajah polosnya. Valencia berencana melaluinya begitu saja, tapi Linnea tiba-tiba menghadang jalan Valencia.
“Valencia, apa yang kau lakukan? Mengapa kau mengangkat meja sendirian? Mungkinkah teman sekelasmu menjahilimu lagi?”
“Apa pedulimu? Cepat menyingkir dari jalanku sebelum aku cabik topeng jelekmu itu,” gertak Valencia dengan muka yang tidak ramah.
Mendengar ketidakramahan Valencia, teman-teman Linnea langsung maju menyergap Valencia. Dia masih ingat wajah mereka satu persatu, mereka merupakan sekte pengagum Linnea dan selalu menjadi tameng utama ketika Linnea diperlakukan tidak baik oleh Valencia.
“Benar apa yang dikatakan oleh rumor, kau sekarang semakin kurang ajar dan tidak tahu diri. Selama ini Linnea sudah berbuat baik padamu, tapi kau malah membalas kebaikannya dengan sifat burukmu itu.”
__ADS_1
“Ya, tidak peduli seberapa imut dan cantiknya dirimu, tapi kalau kau tidak punya kelembutan seperti Linnea, kau masih belum bisa menandingi Linnea.”
Valencia hanya menatap datar mereka yang mati-matian membela Linnea, karena ini di akademi, jadi seluruh siswa diminta untuk diperlakukan secara setara. Maka dari itu, di akademi semua orang saling berbicara informal, tapi ketika di luar akademi mereka akan kembali menunjukkan rasa hormat terhadap orang yang lebih tinggi dari mereka.
‘Rasakan itu, Valencia! Meskipun semua orang berpikir kau lebih imut dan cantik dariku, tapi reputasi yang aku bangun selama ini malah membuatmu semakin jauh di bawahku,’ batin Linnea berbangga diri.
Semua orang sibuk mengoceh padanya, Valencia malah memutar badan lalu berlalu pergi meninggalkan mereka yang tidak memberinya kesempatan untuk berbicara.
“Valencia! Mau ke mana kau?! Siapa yang mengizinkanmu pergi meninggalkan kami?!” teriak salah seorang teman Linnea.
“Kenapa aku harus butuh izin dari kalian? Memangnya kalian itu siapa? Dewa? Malaikat? Meski begitu sekali pun, aku tetap tidak memerlukan izin dari kalian,” balas Valencia mengabaikan teriakan mereka.
“Beraninya kau bersikap seperti itu!”
Salah satu teman Linnea melemparkan kaleng minuman kosong ke kepala Linnea, sekarang mereka berhasil menarik seluruh atensi ke arah mereka. Valencia akhirnya terpaksa memutar badannya lagi. Tanpa berpikir panjang, Valencia melemparkan meja ke kelompok teman-teman Linnea hingga menimpa kaki dan kepala mereka.
“AARGGHHH!” Mereka menjerit kesakitan, entah bagaimana ceritanya sebuah meja berhasil melukai lebih dari enam orang sekaligus. Tidak ada yang tahu selain Valencia, ia sengaja menggunakan sedikit sihir untuk memperkuat lemparannya.
“Hei, aku tidak keberatan untuk membunuh kalian detik ini juga. Kalian memuja jal*ng ini sampai membelanya mati-matian. Kalian pikir aku takut dengan kalian?”
__ADS_1
Sorot mata Valencia menggambarkan kebencian mendalam diselubungi dendam terhadap orang-orang yang pernah mencelakai pemilik tubuh ini. Sangat sulit baginya menjalankan kehidupan nan tenang di akademi selagi masih ada orang yang berani merundungnya.
“Dan kau, Linnea.” Valencia menoleh ke arah Linnea yang berdiri kaku seperti patung menyaksikan teman-temannya dilukai Valencia. “Berhentilah mencoba untuk menjatuhkanku menggunakan kepolosan biad*pmu itu. Kau takkan bisa melakukannya karena aku jauh lebih kuat dan tangguh dari wanita lemah sepertimu.”