Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Kisah Nyata


__ADS_3

Tanpa menunggu respon dari Linnea, Valencia beranjak pergi meninggalkan Linnea sendirian di sana bersama teman-temannya yang meronta sakit. Layaknya iblis menjelma menjadi manusia, begitulah anggapan orang-orang yang secara tidak langsung mengatakan Valencia sebagai manusia yang kejam dan tidak punya hati. Hanya saja gadis itu sudah terbiasa dikatakan seperti iblis, jadi dia menganggap semua itu sebagai sebuah omongan tak berguna.


‘Bagaimana sekarang? Apa yang harus aku lakukan? Mereka terluka gara-gara aku. Maksudku bukan begitu, tapi mereka seperti ini karena Valencia. Aku harus melaporkan segera kepada profesor untuk diberi tindakan selanjutnya.’


Linnea bergegas pergi untuk memanggil Profesor, sedang orang-orang yang ada di sana membantu teman-teman Linnea dan membawa mereka segera ruang perawatan akademi. Sementara itu, Valencia membelokkan langkahnya menuju ruang guru yang bertanggung jawab atas fasilitas akademi. Valencia meminta satu meja dan kursi yang baru untuk ia bawa kembali ke dalam kelas sebelum pelajaran dimulai.


“Hei, dia datang. Lebih baik kita tidak usah cari masalah dengannya lagi, dia tadi nyaris membunuh orang lagi.”


Suasana kelas nan bising berubah hening ketika Valencia melangkah masuk membawa meja dan kursinya. Lebih baik begini, setidaknya Valencia bisa menghemat energinya sedikit serta bersantai tanpa melibatkan emosinya.


“Katanya hari ini kita belajar dengan Profesor yang terkenal sadis dan dingin. Benarkah itu?”


“Aku juga mendapatkan kabar seperti itu. Tetapi, wajah Profesor itu katanya tampan, jadi setidaknya ada sesuatu yang menyegarkan di diri Profesor itu.”


Begitulah obrolan para gadis, mereka membicarakan seorang Profesor yang terkenal oleh keganasannya dalam mengajar. Bahkan berdasarkan kabar yang beredar, sulit untuk mendapatkan nilai sempurna di mata pelajaran yang diajarkan oleh Profesor tersebut. Maka dari itu, tidak sedikit dari siswa yang takut dan gemetaran setiap kali diajar Profesor itu.


“Selamat pagi semuanya.” Sosok pria berwajah familiar memasuki ruang kelas.


Suaranya pun terdengar dingin, pria itulah yang disebut-sebut sebagai Profesor sadis oleh para siswa. Akan tetapi, Valencia justru sebaliknya, dia nampak terkejut melihat kedatangan Profesor itu.

__ADS_1


‘Tidak salah lagi, dia adalah Frintz, tapi kenapa kepribadiannya berbeda drastis? Sekarang dia terlihat dingin dan sadis. Atau mungkin memang inilah dia yang sebenarnya,’ gumam Valencia dalam hati.


Frintz melirik ke arah Valencia, mata mereka saling bertemu, sekejap Frintz melayangkan senyum singkat pada Valencia. Gadis itu membalasnya kembali dengan senyum sumringah, setidaknya Valencia lega karena tidak harus menjadikan Frintz sebagai lawannya.


“Ini adalah pertama kalinya kalian belajar dengan saya. Perkenalkan, saya Frintz, kalian boleh memanggil saya Profesor Frintz. Di sini saya mengajar mata pelajaran sastra dan ilmu sosial, jadi saya mohon selama kelas saya, tidak ada yang membuat keributan. Apabila salah satu dari kalian melanggarnya, maka saya tidak akan segan-segan memberikan nilai F kepada kalian.”


Seisi kelas mengiyakan perkataan Frintz, dia memang sangat tegas dan tidak kenal ampun. Bahkan saat pelajaran sudah dimulai, anak-anak yang ketahuan mengobrol, langsung dikeluarkan dari kelas. Tidak peduli mereka anak bangsawan atau bukan, Frintz tetap memberikan hukuman sama rata kepada setiap siswa.


Sedangkan Valencia bersikap tak acuh, dia bahkan tertidur selama jam pelajaran Frintz. Tetapi, anehnya, Frintz tidak mengeluarkan Valencia dari kelas sehingga hal ini menimbulkan protes dari siswa lain.


“Profesor, Valencia tertidur. Mengapa Anda tidak mengeluarkannya dari kelas?” tanya salah satu siswa.


Frintz menekan para siswa dengan perkataannya sehingga mereka pun terdiam dalam rasa takut dan memutuskan untuk kembali bungkam.


Berselang beberapa menit, Valencia pun terbangun dan dia masih menemukan Frintz berbicara di depan kelas. Belajar di dalam kelas ternyata lebih bosan dari yang ia bayangkan karena selama dirinya menjadi Klarybell, belum pernah sekali pun ia belajar di akademi sebab saat dirinya masih usia remaja, tidak ada yang namanya akademi di benua Mihovil. Lalu waktu demi waktu berlalu, akademi sihir pun didirikan, tapi tetap saja tidak ada pelajaran seperti sastra atau yang lainnya, di sana hanya ada pelajaran sihir saja.


“Valencia, karena kau sudah bangun, sekarang saya akan mengajukan pertanyaan,” ujar Frintz.


“Pertanyaan apa yang akan Profesor berikan?” tanya Valencia sembari menopang tangan di dagu.

__ADS_1


“Cerita romansa yang berjudul “Berliana” merupakan karya tulis terkenal milik seorang penyihir. Apakah kau tahu siapa penulisnya?”


Valencia tersentak diam, suasana kelas pun mendadak bising sebab tidak ada orang yang tidak tahu mengenai cerita romansa yang disebutkan oleh Frintz. Dan di sini Valencia lah orang yang paling tahu soal cerita romansa “Berliana”.


“Klarybell,” jawab Valencia singkat.


“Ya, itu betul! Cerita romansa tragis berjudul “Berliana” merupakan karya paling terkenal yang ditulis langsung oleh penyihir agung, Klarybell Crave. Mungkin masih sedikit dari kalian yang tahu, sebenarnya cerita ini diambil dari kisah nyata.”


Seketika ruang kelas bertambah bising, pasalnya mereka baru tahu kalau sesungguhnya cerita romansa yang begitu populer selama ratusan tahun belakangan ini merupakan sebuah kisah nyata. Ini adalah pembahasan yang menarik, mereka sekarang semakin fokus mendengarkan Frintz.


“Maaf, Profesor, izin bertanya. Sebelumnya Anda menyebutkan nama Klarybell Crave, tapi bukankah nama belakang Klarybell adalah Berliana? Lalu mungkinkah cerita romansa tersebut merupakan kisah nyata yang dialami Klarybell itu sendiri?” tanya seorang murid.


“Oke, pertanyaan yang bagus. Klarybell Crave adalah nama asli dari Klarybell, hanya segelintir orang di benua ini yang tahu fakta tersebut. Dia anak dari penyihir jenius, Ergen Crave dan Ibunya bernama Marilyn Rain yang merupakan seorang bangsawan tingkat atas sekaligus wanita yang ahli di dalam seni. Sedangkan nama Berliana itu sendiri yaitu nama dari sahabat baik Klarybell, dia adalah orang yang diceritakan pada cerita ini,” jelas Frintz.


Sepanjang penjelasan Frintz, Valencia hanya terdiam tanpa kata, tidak disangka dia bisa mendengar nama kedua orang tuanya di tempat seperti ini. Valencia tak menyangkal satu pun penjelasan dari Frintz. Semua itu adalah sebuah kenyataan dari hidupnya di masa lalu dan itu ada di sejumlah buku yang tersebar di berbagai belahan dunia.


‘Klarybell Crave, kah? Sudah berapa lama sejak terakhir kali aku mendengar nama asliku? Padahal aku sudah membuang jauh-jauh nama terkutuk itu, tapi akhirnya aku takkan bisa menghapus sejarah asli dari hidupku,’ batin Valencia seraya mengarahkan manik hijau safirnya ke luar jendela.


Dia punya alasan tersendiri untuk menyingkirkan nama aslinya, ada kisah kelam yang tidak ingin dia ingat lagi. Memori yang dia anggap sebagai kutukan perlahan terkubur di ruang ingatannya hingga tanpa sadar kisah kelam tersebut mencuat kembali ke kehidupannya. Dia akan segera mengingatnya dan dia tidak punya alasan untuk membuat memori tersebut hancur dalam arus waktu. Tidak peduli seberapa jauh pun ia membuangnya, sesuatu yang semula adalah miliknya akan balik lagi pada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2