
Xeros langsung menghadang langkah para kesatria yang hendak membawa Valencia ke pengadilan. Seragam kesatria pengadilan terlihat berbeda jauh dari kesatria biasa, di seragam mereka tertera lambang pengadilan. Bahkan aura mereka juga terasa berbeda jauh dari kesatria yang pernah ditemui Valencia.
“Membawa Valencia ke pengadilan? Apakah kalian punya surat perintah resmi dari sang hakim?” tanya Xeros disertai tatapan menantang.
Salah seorang dari mereka mengeluarkan gulungan kertas yang berlambang pengadilan, mereka memperlihatkan isi surat tersebut kepada Xeros dan Valencia. Dalam sekejap, situasi saat ini mengundang perhatian banyak orang. Seluruh penghuni akademi mengetahui apa yang telah diperbuat Valencia tempo hari sehingga hal tersebut menyulut kemarahan para hakim di pengadilan.
“Sekali lagi kami tegaskan. Nona Valencia Allerick, atas perbuatan Anda beberapa hari yang lalu, sang hakim memanggil Anda ke gedung pengadilan. Maka dari itu—”
“Baiklah baiklah, aku mengerti. Ayo kita pergi sekarang ke gedung pengadilan,” potong Valencia cepat dan langsung setuju untuk pergi ke pengadilan.
Melihat Valencia menyetujuinya tanpa perlawanan, membuat semua orang terheran-heran. Pasalnya, Valencia adalah gadis pemberontak, seharusnya dia memberontak jika hendak dibawa ke pengadilan.
“Tunggu sebentar! Kau boleh tidak pergi memenuhi panggilan pengadilan bila kau tidak mau. Jangan paksakan dirimu, mereka pasti akan memojokkanmu di sana nanti,” cegat Xeros.
Valencia mengukir senyum tipis sembari mendaratkan sebuah elusan lembut di puncak kepala Xeros.
“Kau mengkhawatirkanku? Tidak ada gunanya rasa khawatirmu itu. Aku akan kembali lagi nanti, jadi siapkan saja makanan yang banyak ketika aku balik ke akademi. Kau paham itu, pria manis?”
Seketika muka Xeros berubah merah padam, wajahnya tiba-tiba panas akibat rayuan maut dari Valencia. Gadis itu tidak sadar bahwasanya ia sedang menggoda pria polos seperti Xeros.
“B-Baiklah, k-kembalilah dengan selamat.” Xeros terlihat sangat gugup, dia sampai lupa caranya berbicara dengan benar.
Valencia pun dibawa oleh para kesatria tersebut menuju gedung pengadilan, ia diawasi begitu ketat karena waspada Valencia akan kabur ketika mereka lengah. Butuh waktu sekiranya tiga puluh menit dari akademi untuk sampai di gedung pengadilan. Mereka melewati jalan pintas yang secara khusus dibuat untuk pergi ke gedung pengadilan.
“Jadi, ini gedung pengadilan?”
Valencia menatap malas ke arah gedung pengadilan nan menjulang tinggi, gedungnya terlihat berbeda dari gedung pada umumnya.
“Nona, silakan masuk melalui pintu ini.” Salah seorang kesatria membukakan pintu untuk Valencia masuk ke dalam gedung.
__ADS_1
“Pertemuan Anda dengan sang hakim diadakan secara tertutup, hanya ada beberapa orang yang akan bertemu dengan Anda nanti. Jadi, saya harap Anda tidak membuat kekacauan tatkala berhadapan dengan mereka,” tutur kesatria yang menuntun Valencia masuk.
“Ya, akan aku usahakan.”
Setibanya Valencia di ruangan yang dimaksudkan, kedatangannya disambut dengan tidak ramah oleh orang-orang yang berada di sana. Mereka menatap masam Valencia, sepertinya mereka sangat marah terhadap gadis imut itu. Namun, Valencia mengabaikan tatapan mereka, dia ingin segera menyelesaikan seluruh urusan di sini lalu kembali lagi ke akademi.
“Selamat datang, Nona Valencia Allerick. Saya harap pemanggilan Anda ke pengadilan tidak membuat aktivitas Anda terganggu,” ujar Billy – hakim muda yang bertanggung jawab untuk mengurus masalah Valencia.
“Kalian sangat menggangguku, sungguh mengganggu sekali,” jawab Valencia bernada kesal.
Billy beserta orang-orang yang berada di ruangan yang sama merasa tertohok atas apa yang diucapkan Valencia barusan.
“Kalau begitu, tolong maafkan saya telah mengganggu aktivitas Anda di akademi.” Billy tersenyum menutupi kejengkelannya terhadap gadis berusia lima belas tahun.
“Kau harus membayar waktuku yang telah terbuang sia-sia. Kau bayar aku dengan cake dari toko bugenvil,” pinta Valencia kian melunjak.
Billy tidak menyangka rupanya gadis yang dirumorkan akhir-akhir ini sangatlah gila dan menyebalkan. Dalam situasi diapit orang-orang penting, dia bahkan tak gentar menatap mata mereka satu persatu.
“Aku tidak peduli.”
Tanpa perintah dari siapa pun, Valencia langsung mendudukkan diri di atas kursi kosong yang disiapkan secara khusu untuk tamu. Billy masih berusaha bersikap tenang, meski di hatinya kini memanas terbakar emosi.
“Baiklah, terserah Anda saja. Sekarang saya akan menjelaskan alasan mengapa Anda dipanggil ke penga—”
“Cukup! Aku sudah tahu alasannya. Kau tidak perlu menjelaskannya lagi,” sela Valencia memotong cepat perkataan Billy.
Billy menghela napas panjang, di hadapannya Valencia secara terang-terangan memperlihatkan rasa tidak suka. Gadis itu duduk dengan menyilangkah kaki, menyandarkan punggung, serta tatapannya terkesan angkuh. Tidak ada orang yang tidak kesal akibat tingkah laku Valencia yang berada di luar batas.
“Nona, saya pikir Anda harus memperhatikan sifat Anda saat ini. Anda berada di gedung pengadilan, di mana setiap orang harus bersikap menghormati hukum. Saya yakin Duchess Allerick pernah mengajari Anda soal tata krama. Tetapi apa-apaan ini? Anda seperti seseorang yang tidak pernah mendapatkan pendidikan etiket.”
__ADS_1
Valencia menyeringai, sudah dia duga akan mendapatkan respon seperti demikian dari Billy. Kini berpasang-pasang mata terpusat padanya, Valencia mulai merasa tidak nyaman karena kemarahan yang tengah ia tahan.
“Kau cerewet sekali. Tidak bisakah kita mulai sekarang? Aku ini sibuk, tidak ada waktu bagiku meladeni manusia seperti kalian,” sinis Valencia.
Rekan Billy yang duduk di sebelahnya berusaha menenangkan Billy sebab mereka masih berada di tengah ruangan yang diisi banyak bangsawan terpilih yang terlibat langsung dengan pengadilan.
“Nona, Anda telah melakukan kesalahan fatal, melukai secara brutal Kepala Akademi dan Anda nyaris menghilangkan nyawanya. Ini merupakan tindakan percobaan pembunuhan, seharusnya Anda tahu bahwa Anda sedang melanggar hukum kemanusiaan. Memberi hukuman terhadap pelaku kejahatan adalah urusan kami para petugas pengadilan. Anda tidak berhak ikut campur menjatuhi hukuman terhadap pelaku.”
“Jika begitu, hukuman apakah yang pantas didapatkan Kepala Akademi atas kejahatan yang telah dia lakukan?” tanya Valencia menatap serius.
Billy tidak langsung menjawabnya, dia berpikir terlebih dahulu dan menimbang hukuman yang pantas didapatkan Joseth, sang Kepala Akademi.
“Hukuman penjara seumur hidup dan juga denda sejumlah uang,” jawab Billy.
“Apakah kau yakin?”
Valencia terlihat meragukan jawaban Billy, sorotan tajam dari netranya membuat Billy gugup seketika.
“Tentu saja saya yakin, itu merupakan hukum yang pantas untuk Kepala Akademi.”
Valencia tertawa kecil, mereka sedang meremehkan gadis kecil yang mereka bawa hari ini ke ruangan tersebut.
“Kalian sungguh pandai berbohong. Apa kalian pikir aku tidak tahu? Setelah orang-orang mulai melupakan kasus kejahatannya, maka kalian pasti akan membebaskan pelaku. Kalian selalu seperti itu terhadap bangsawan yang melakukan kejahatan. Hukum macam apa itu? Kalian tegas terhadap rakyat biasa, tapi lunak terhadap bangsawan tingkat tinggi. Dasar sampah yang bersembunyi atas nama keadilan!”
Kemurkaan Valencia menyulut amarah orang-orang yang berada di ruang yang sama dengan dirinya. Kini mereka mengarahkan pandangan memanas terhadap Valencia, gadis itu dalam sekejap dianggap sebagai pemberontak hukum.
“Tolong perhatikan perkataan Anda! Hukum bukan sesuatu yang dapat Anda anggap remeh begitu saja! Kami sebagai petugas pengadilan menjunjung tinggi keadilan terhadap korban kejahatan—”
“Jangan merasa ternodai atas ucapanku! Kenyataan selalu datang dari para pengamat hukum. Meskipun aku masih berusia lima belas tahun, tapi aku telah melihat keseluruhan hukum di kekaisaran ini. Para bangsawan tingkat tinggi berkeliaran melakukan kejahatan, sedangkan rakyat biasa mendekam di penjara.
__ADS_1
Sudah berapa banyak rakyat biasa yang kalian bunuh dan kalian kurung di balik dinding penjara pengadilan?! Aku bisa mendengarnya dengan jelas, ratusan tangisan rakyat yang tersiksa di bawah ruangan ini.”