Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Devina Diculik


__ADS_3

Devina menceritakan semuanya kepada Valencia, dia memberi tahukan bahwa beberapa waktu belakangan ini sering ada teror di kamarnya. Mulai dari tulisan darah di cermin kamar mandi, surat yang berisi sumpah serapah mengenai kematian, serta bangkai burung yang sering dikirim melalui sebuah kotak hadiah.


Sesungguhnya Devina ingin sekali menceritakan kepada Valencia dan Rachel mengenai teror tersebut. Akan tetapi, Devina merasa tidak enak hati harus merepotkan mereka karena masalah itu. Oleh sebab itulah, akhir-akhir ini Devina terlihat lebih suram dan lebih waspada terhadap orang sekitar.


Kemudian terjadilah ancaman pembunuhan nyata hari ini. Ditambah lagi tangan Devina yang terkilir akibat terjatuh dari atas kuda sehingga membuatnya kesulitan mengayunkan pedang. Devina tidak mau Valencia ikut susah karena hal itu, tapi ini sudah terlanjur terjadi.


"Devina, hari ini sebaiknya kau dan Rachel tidur di kamarku. Akan lebih aman apabila kau berada di bawah pengawasanku. Aku akan segera melaporkan masalah ini kepada Reibert untuk segera ditangani."


Devina hanya mengiyakan, inilah solusi terbaik untuk saat ini. Valencia langsung mengirim surat kepada Reibert. Akhir-akhir ini Reibert ditugaskan di sekitar daerah akademi sehingga akan lebih cepat baginya sampai ke tempat ini untuk melakukan penyelidikan.


'Pangeran Rudolf, aku yakin dia berencana membunuh saudarinya sendiri. Apalagi dari cerita Devina, tampaknya Rudolf tidak punya hubungan dekat dengan Devina. Namun, apa yang membuatnya sampai ingin membunuh keluarganya sendiri? Adakah motif di balik rencananya ini?' pikir Valencia serius.


Pada malam harinya, di jam tujuh malam, Reibert beserta beberapa orang kelompok kesatrianya sampai di akademi. Sebelumnya, Valencia telah memberi tahukan situasinya kepada Frintz dan Xeros sehingga mereka juga turut membantu dalam kasus ini.


"Kali ini Pangeran Rudolf mengincar nyawa Devina, bawahannya menyerang jarak jauh menggunakan anak panah."


Valencia memperlihatkan anak panah tersebut kepada mereka bertiga. Anak panah dengan motif dan warna yang tidak biasa mereka lihat di Kekaisaran Alegra.


"Panahnya terlihat aneh," ucap Xeros.


"Wajar saja kalian merasa ini aneh, ini adalah panah sihir yang akan meledak apabila mengenai target. Untung saja aku berhasil menangkap panah ini sebelum mengenai tubuh Devina. Akan tetapi, dari mana mereka mendapatkan anak panah ini?"


Pertanyaan yang sama terlintas di kepala ketiga pria itu. Anak panah berbahaya seperti ini tidak mungkin mereka temukan di wilayah Kekaisaran Alegra atau kekaisaran dan kerajaan lain.

__ADS_1


"Bukankah ini anak panah yang berasal dari benua Mihovil?" tanya Reibert.


Valencia menoleh ke arah Reibert. "Ternyata kau menyadarinya dengan cepat. Ini memang anak panah yang berasal dari benua Mihovil. Benua yang tertutup itu, apakah ada seseorang di baliknya dengan sengaja memperjualbelikan anak panah ini secara ilegal?"


"Itu adalah kemungkinannya, tapi hal yang lebih menjanggal saat ini yaitu kemungkinan keterlibatan pihak benua Mihovil terhadap rencana Pangeran Rudolf," tutur Frintz mengutarakan isi pikirannya.


Valencia terdiam sejenak, pemikiran Frintz terdengar masuk akal di pikiran Valencia. Mulai dari kelompok penyihir bayangan sampai dengan kemunculan sihir beberapa kali untuk membunuh orang-orang penting di kekaisaran ini.


"Masuk akal! Mungkin saja dalangnya saat ini sedang berada di benua Mihovil. Semenjak kematian Klarybell, benua Mihovil menutup diri dari dunia luar sehingga tidak ada belah bagi kita untuk menyelidiki aktivitas benua Mihovil," timpal Xeros.


"Jika memang benar seperti itu, maka artinya musuh kita bukanlah orang sembarangan yang bisa kita lawan. Kita harus cari cara lain memberantas kejahatan yang terus menerus mendatangi Alegra," ujar Reibert.


Sebuah beban pikiran yang dibawa Valencia setiap detiknya hari demi hari. Setelah lebih delapan ratus tahun kematiannya, Valencia tidak lagi pernah mendengar kabar soal benua Mihovil. Wilayah kekuasaan yang dia jaga sepenuh hati tertelan oleh masa begitu saja.


Valencia berpikir keras hingga tanpa sadar mematahkan anak panahnya. Akan tetapi, dia langsung mengembalikan bentuk anak panahnya ke bentuk semula.


"Mari pikirkan itu nanti, untuk sekarang kita harus memperketat penjagaan di sekitar Devina. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, tapi setidaknya kita harus bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuknya," kata Valencia langsung diiyakan oleh mereka.


Malam ini Devina dan Rachel dibawa ke kamar Valencia. Di sekitar kamar, terdapat sejumlah kesatria berkemampuan tinggi ditugaskan untuk menjaga Devina. Mereka tidak pernah mengalihkan fokus mereka ke hal lain.


Meskipun mereka susah memperketat keamanan sekitar, musuh masih bisa memanfaatkan celah yang tanpa sengaja diciptakan kelompok penjaga. Di tengah malam nan sunyi, Rachel terjaga karena mendengar suara bising dari tempat tidur Devina.


Alangkah syoknya Rachel menyaksikan Devina tengah dibekap oleh dua orang pria berjubah yang entah masuk dari mana. Devina mencoba untuk berteriak, tapi kekuatan mereka jauh lebih kuat dari Devina.

__ADS_1


"KYAAAAA, DEVINA!" pekik Rachel mencoba menyelamatkan Devina. Akan tetapi, dia tidak berhasil menyelamatkan temannya.


Devina tiba-tiba menghilang secepat kilat dari jangkauan pandang mata Rachel. Pada akhirnya, suara pekikan Rachel sampai ke indera pendengaran Valencia yang kebetulan sedang berada di luar kamar.


"Ada apa, Rachel? Apa yang terjadi pada Devina?" tanya Valencia panik.


"Valencia, Devina ... Devina menghilang! Dia dibawa oleh dua orang pria berjubah hitam dan mereka menghilang di depan mataku begitu saja sambil membawa Devina. Apa yang harus kita lakukan? Ini salahku, salahku tidak bisa menjaga Devina dengan baik."


Rachel terlihat histeris, syok, dan panik, isi kepalanya berkecamuk. Dia yang tidak terbiasa melihat sihir cukup membuatnya tenggelam di dalam rasa bingung.


Segera saja Valencia menenangkan Rachel, dia membawa Rachel untuk duduk.


"Tenanglah, jangan panik. Semua akan baik-baik saja selama ada aku di sini."


Valencia berupaya tetap tenang sampai Rachel berhasil ditenangkan. Tidak lama berselang, Xeros, Frintz, serta Reibert juga menghampiri kamar Valencia setelah mendengar suara teriakan Rachel.


"Lebih baik kau tidur sekarang, tunggu kabar baik dariku. Aku janji akan membawa Devina dengan selamat ke akademi."


Valencia menyentuh dahi Rachel, dia sengaja membuat Rachel tertidur demi mengurangi rasa frustrasi Rachel. Kemudian baru Valencia bergerak bersama yang lain untuk mencari keberadaan Devina saat ini.


"Ke mana mereka membawa Devina? Apa kau punya cara untuk mendeteksi keberadaan mereka?" tanya Reibert.


"Aku punya caranya yakni dengan cara mendeteksi jejak sihir orang-orang yang baru saja membawa Devina."

__ADS_1


Valencia menangkap sepercik cahaya yang diduga sebagai jejak sihir kedua orang tersebut. Jejak sihir yang mereka tinggalkan akan sangat berguna bagi Valencia menemukan keberadaan Devina kala itu.


__ADS_2