
Valencia tercengang ketika seorang perancang busana istana tiba-tiba saja datang ke kediamannya. Ditambah lagi ada beberapa orang bawahan Henzo yang membawa satu peti koin emas beserta perhiasan mewah. Dan juga mereka membawa beberapa set pakaian yang begitu cantik keluaran butik ternama di Alegra.
Satu kediaman dibuat heboh oleh hal tersebut, mereka berkumpul menyaksikan kejutan dari Henzo untuk Valencia di depan halaman paviliun. Mereka penasaran siapa gerangan orang yang mengirim begitu banyak uang, perhiasan, dan pakaian untuk Valencia.
"Apakah ini dikirim langsung oleh Archduke Calestine?" tanya Valencia.
"Benar, Nona, beliau meminta kami untuk mengantarkan ini kepada Anda. Beliau bilang sebagai hadiah karena Anda pernah menyelamatkan beliau."
Para pelayan dan kesatria yang memasang telinga di sekitar sana seketika terkejut bukan main. Mereka tidak salah dengar, yang mereka dengar memang adalah nama Archduke Calestine.
"Lalu siapa orang ini?" Pertanyaan Valencia teralih pada seorang wanita yang berusia empat puluh tahunan yang kala itu berdiri di hadapannya.
"Mohon maaf sebelumnya, Nona. Perkenalkan, saya Mayerlin, perancang busana istana. Saya datang kemari atas perintah dari Archduke Calestine. Beliau meminta saya membuatkan gaun untuk Anda."
Tidak ada yang tidak kenal nama Mayerlin di kekaisaran ini. Mayerlin merupakan perancang busana istana yang terkenal oleh rancangan gaun miliknya yang selalu bersinar. Selama ini dia hanya bekerja untuk keluarga kekaisaran saja. Namun, khusus hari ini dia bekerja untuk memenuhi perintah Henzo.
Seluruh pelayan dan kesatria kala itu seketika kaget mendengar nama Mayerlin. Mereka tidak percaya terhadap apa yang mereka saksikan. Terlalu banyak hal mengejutkan yang mendatangi Valencia sekarang.
"Membuatkan gaun untukku? Tapi, kenapa? Aku tidak memerlukan gaun atau segala macamnya," heran Valencia.
"Ini juga bagian dari hadiah untuk Anda. Archduke Calestine memberi perintah saya membuat gaun untuk Anda yang terbuat dari bahan pakaian yang beliau pesan di Kekaisaran Ergis," jelas Mayerlin lagi.
"Bukankah itu terlalu berlebihan untukku? Cukup beri aku makan saj—"
"Tidak, Nona! Saya akan menciptakan gaun yang paling indah untuk Anda. Bahkan lebih indah dari gaun yang ada di kekaisaran ini," tekan Mayerlin.
Valencia menghela napas panjang, dia tidak bisa menolak apa pun kata Mayerlin.
__ADS_1
"Baiklah, tidak masalah. Sekarang ayo kita masuk ke kamarku."
Mayerlin pun beranjak masuk ke kamar Valencia, ia tampak kaget melihat kondisi kediaman Valencia yang terlihat sepi dan tak berpenghuni. Ditambah suasana ruang kamar Valencia yang jauh di level kamar seorang gadis bangsawan tingkat tinggi.
'Grand Duke Allerick sungguh keterlaluan, beliau memperlakukan putri kandungnya lebih rendah dari putri angkatnya sendiri. Aku akan melaporkan hal ini nanti kepada Kaisar dan Permaisuri,' batin Mayerlin sangat kesal bercampur marah.
Mayerlin mengukur badan Valencia, ia takjub dengan tubuh gadis itu yang begitu ideal. Jarang sekali ada wanita yang mempunyai ukuran tubuh seperti Valencia.
Setelah selesai semuanya, Mayerlin pun pamit undur diri. Dia kembali ke kediamannya dan langsung mengerjakan gaun untuk Valencia. Sementara itu, Valencia lanjut membereskan barang-barang yang akan dia bawa ke asrama akademi.
***
Saat ini di alam akhirat, lebih tepatnya di kastil kediaman Davey, Sean tengah melakukan pertemuan empat mata dengan Davey. Mereka berdua berbincang di ruangan yang tidak akan dilalui oleh siapa pun. Pembicaraan mereka diliputi keseriusan, atmosfer sekitar terasa sendu sekaligus tercekat.
Davey duduk berseberangan dengan Sean, wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya. Menyaksikan kondisi Davey yang seperti ini mendatangkan kekhawatiran mendalam di hati Sean. Akan tetapi, Sean mencoba untuk bersikap biasa saja sebab Davey tidak suka dikhawatirkan oleh seseorang.
"Bagaimana keadaan Klarybell? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Davey sembari meneguk teh yang dihidangkan pelayan.
Davey menyadari bahwa Sean sebenarnya juga sangat lelah mengawasi Valencia selama ini, tapi dia tidak punya pilihan lain selain melakukannya.
"Maafkan aku karena telah melibatkanmu dengan seseorang yang kau benci."
Tiba-tiba saja Davey menuturkan kata maaf kepada Sean. Hal tersebut membuat Sean tercengang, ia bahkan tidak mengharapkan kata maaf dari Davey.
"Tidak, Yang Mulia. Anda tidak perlu meminta maaf, saya sama sekali tidak keberatan melaksanakan tugas pengawasan Klarybell. Meskipun saya membencinya, tapi saya tidak pernah menyalahkan Anda terhadap apa yang terjadi kepada diri saya," ucap Sean gelagapan.
"Aku tetap harus meminta maaf padamu, bagaimana pun juga aku ikut bertanggung jawab atas apa yang pernah menimpamu di masa lalu. Klarybell, gadis itu dia tidak bermaksud membuatmu menderita. Kau harus mulai memahaminya dari dekat, dia sudah cukup menjalani kehidupan bagai neraka selama ini."
__ADS_1
Davey tersenyum redup, suasana di sekitar mereka begitu sunyi. Baru kali ini Sean menyaksikan ukiran senyum yang menyimpan ribuan kesedihan di balik ketenangan Davey selama ribuan tahun ini.
"Saya sedang berusaha untuk memahaminya, tapi Yang Mulia, mengapa Anda tidak memberitahukan semuanya pada Klarybell? Maksud saya, mungkin situasinya akan berbeda jika Anda memberitahu dia."
Davey terdiam sejenak sebelum akhirnya bersuara kembali.
"Tidak akan ada yang berubah meski aku memberitahunya." Davey hanya menjawab dengan singkat seadanya saja.
"Tapi setidaknya dia akan sedikit menghormati Anda, apalagi Klarybell dengan teganya merampok di gudang harta milik Anda. Gadis itu benar-benar sangat kurang ajar," oceh Sean.
"Tidak masalah karena harta itu memang miliknya sejak awal. Aku hanya membantu menjaganya saja, tapi siapa sangka kalau dia menyumbangkan uangnya ke kuil."
Sean tercengung. "Hah? Harta itu miliknya? Maksud Anda apa, Yang Mulia?"
Davey tampak enggan memberi penjelasan, ada alasan khusus kenapa dia tidak bisa menjelaskannya pada Sean.
"Nanti kau akan tahu sendiri, lagi pula gudang hartaku sudah aku sembunyikan sebaik mungkin dan Klarybell tidak akan bisa menembus gudang harta milikku."
Sean menepuk pelan kepalanya, ia sama sekali tidak paham maksud perkataan Davey. Kemudian berselang sepersekian detik selepas itu, Davey tiba-tiba mimisan dan batuk berdarah.
'Huh? Darah?' Davey kaget melihat darah memenuhi telapak tangannya. Lalu pandangannya perlahan diselimuti sekelebat bayangan hitam. Tubuhnya pun tumbang, kesadarannya nyaris terenggut sepenuhnya dari dirinya.
Sean sontak syok melihat Davey tumbang. "Yang Mulia! Yang Mulia tumbang! Pelayan! Pelayan!" Dia langsung berteriak memanggil para pelayan untuk membantu membawa Davey masuk ke dalam kamar.
Di tengah kesadarannya yang mencapai ambang batas, timbul gambar seorang gadis cantik bersayap hitam. Gadis yang tersenyum lembut padanya dengan mata merah muda seperti bunga sakura yang baru mekar. Davey merasakan sentuhan lembut gadis itu di telapak tangannya.
'Bell, aku telah menepati janjiku, bukan? Janji yang aku buat ribuan tahun lalu padamu. Maafkan aku, Bell, maaf karena sudah membawamu ke dunia yang dipenuhi rasa sakit.'
__ADS_1
Sementara itu, di kala Davey sedang ditangani oleh sejumlah bawahannya, Valencia yang sedang berdiam diri membaca buku merasakan ada perasaan aneh menusuk firasatnya. Valencia tersentak dan pikirannya langsung tertuju pada Davey.
'Ada apa ini? Firasatku tiba-tiba memburuk. Apa yang terjadi pada Davey?' batin Valencia mengarahkan pandangannya ke atas langit malam.