
Sementara itu, Elkin sedang berada di kamarnya. Dia terlihat tengah berbicara dengan seseorang melalui bola kristal komunikasi. Pembicaraan mereka terdengar begitu serius. Bahkan, Elkin memasang sihir di sekitar kamarnya supaya tidak ada orang yang menguping obrolannya.
Terdengar suara seorang wanita, suara itu sama persis dengan suara wanita yang sebelumnya pernah berbicara dengan Rudolf. Emosi wanita itu terdengar tidak stabil, mungkin karena semua rencananya tidak ada yang berhasil dan digagalkan oleh Valencia terus menerus.
"Bagaimana perkembangannya? Aku yakin, kalian pasti belum membuahkan hasil yang memuaskan. Apakah sebegitu sulitnya membereskan satu gadis kecil saja? Apa aku perlu turun tangan langsung untuk membuat gadis itu mati?"
Elkin hanya menyimak sampai wanita itu selesai berbicara. Sungguh, kemarahan dari wanita itu membuat Elkin tertekan. Bagaimana pun otak dari semua masalah yang terjadi adalah dari wanita itu sendiri.
"Mohon maaf, Yang Mulia. Ada sesuatu yang perlu saya sampaikan terlebih dahulu terkait sihir yang digunakan gadis itu," ucap Elkin.
"Apa maksudmu? Memangnya ada apa dengan sihir gadis itu?" tanya wanita itu bernada jengkel.
"Dia menggunakan sihir yang sama seperti sihir Klarybell. Lalu juga pengetahuannya tentang dunia sihir sangatlah luas. Bahkan, dia bisa menciptakan potion tingkat tinggi persis seperti potion yang diracik oleh Cetrion, healer terhebat itu," jelas Elkin.
Wanita itu terdiam sejenak mendengar nama Klarybell di sela jabaran penjelasan Elkin.
"Sihir Klarybell? Apa kau tidak salah mengira?"
"Tidak, Yang Mulia. Saya yakin itu sihir Klarybell, gaya bertarungnya juga sama seperti Klarybell. Gadis itu punya kepekaan terhadap bahaya, lalu dia juga tahu pasti cara menggunakan pistol sihir."
Wanita itu membuang napas kasar, masalahnya semakin rumit jika Klarybell ikut campur ke dalamnya.
"Kenapa wanita itu masih hidup? Aku sudah memastikan bahwa dia sudah mati karena seranganku waktu itu. Apakah kau menemukan jawabannya?"
"Belum, saya masih belum menemukan jawabannya. Hanya saja, dia seringkali terlihat bersama sesosok pria bernama Sean. Pria itu sepertinya bukanlah seorang manusia."
"Bukan manusia? Lanjutkan penjelasanmu lebih detail lagi."
Elkin menarik napas dalam-dalam sebelum dia memperinci penjelasannya.
"Kala itu saya pernah mendengar sekilas, mereka berdua membahas soal alam akhirat. Saya tidak paham maksudnya, tetapi menurut pemikiran saya, pria itu berasal dari alam akhirat."
Wanita itu terkejut bukan main mendengar soal alam akhirat. Dia sepertinya mengetahui sesuatu perihal alam akhirat.
__ADS_1
"Kau tidak bercanda? Kau yakin itu?"
"Saya yakin, Yang Mulia."
"Jika itu alam akhirat, maka kemungkinan adalah Klarybell dihidupkan kembali di tubuh orang lain atas bantuan dewa kedamaian," tutur wanita tersebut.
"Dewa kedamaian? Tidakkah ini bahaya menurut Anda, Yang Mulia?"
"Awasi saja dulu, aku tidak tahu bahaya atau tidaknya. Laporkan lagi kepadaku kalau ada yang menjanggal. Lalu satu hal lagi, bila Rudolf tidak becus mengerjakan tugasnya, maka kau bunuh saja dia sebelum dia membocorkan tentang kita kepada gadis itu," pungkas wanita itu.
"Baik, Yang Mulia. Akan saya ingat tentang hal itu."
Tepat setelah ia mengakhiri pembicaraannya, seseorang mengetuk pintu kamar Elkin. Buru-buru dia membukakan pintu untuk melihat siapa gerangan yang datang. Ternyata yang mengetuk pintu ialah kesatria suruhan Rudolf.
"Ada apa?" tanya Elkin.
"Yang Mulia Pangeran memanggilmu, ada sesuatu yang harus kau lakukan," ujar si kesatria.
Elkin segera melangkah ke kamar tempat Guilla berada. Cukup terkejut karena suara Guilla menggema ke setiap ruangan. Wanita itu tidak berhenti berteriak akibat adanya ilusi yang terus menerus menghantam dirinya. Ilusi menyeramkan yang menggambarkan neraka, itulah yang dia saksikan.
"Ada apa, Yang Mulia? Mengapa Anda memanggil saya?" tanya Elkin.
"Sekarang aku ingin kau menyembuhkan Ibunya Endry. Aku tidak tahu dia kenapa, tetapi aku yakin kau tahu penyebabnya menjadi seperti ini," ujar Rudolf.
"Saya akan periksa terlebih dahulu."
Elkin mengecek dengan seksama tubuh Guilla, lalu Elkin membuat ekspresi terkejut saat merasakan sihir ilusi yang begitu kuat mengikat tubuh Guilla.
'Sihir ilusi ini sangat kuat, apakah wanita itu lagi yang membuat ulah? Aku yakin, itu pasti dia,' batin Elkin.
Endry menaruh harap terhadap Elkin, dia berharap Guilla dapat disembuhkan. Walau sebenarnya sangat mustahil bagi Elkin membantu mencabut sihir ilusi tersebut.
"Bagaimana? Apakah Ibuku dapat disembuhkan?" tanya Endry bersuara gemetar.
__ADS_1
"Mohon maaf, Tuan Muda, ini berada di luar kendali saya. Akan tetapi, saya akan mencoba beberapa teknik sihir untuk membantu menyelamatkan Nyonya Guilla," ucap Elkin.
"Tolong selamatkan Ibuku, bagaimana pun caranya Ibuku harus tetap hidup. Aku mohon kepadamu."
Elkin menganggukkan kepalanya, pertama-tama dia memberi Guilla penenang sebelum dia masuk ke tahap berikutnya.
"Sementara menunggu Ibumu disembuhkan, bagaimana kalau kau sekarang pergi melakukan persyaratan sebelumnya? Aku rasa Ibumu seperti ini karena ulah Valencia. Lebih baik kau balaskan dendam Ibumu kepada wanita itu segera," ujar Rudolf.
"Benar yang Anda katakan, gadis itu pasti adalah penyebab utama mengapa Ibu saya menjadi seperti ini. Saya akan melakukannya sekarang, Yang Mulia."
Rudolf menyunggingkan senyum penuh kemenangan, sungguh mudah sekali baginya mengendalikan Endry. Kemudian menjelang Endry berangkat memenuhi tugasnya, Rudolf menyerahkan sebuah gelang berwarna emas kepada Endry.
"Gunakan gelang ini, kau akan bertambah kuat nantinya karena gelang ini mengandung kekuatan besar yang bisa membuatmu mengalahkan gadis itu."
Gelang berwarna emas itu mempunyai satu buah permata berwarna hitam. Ada aura negatif yang memancar dari gelang tersebut.
"Baik, terima kasih, Yang Mulia. Saya pastikan akan menjaga gelang ini dengan baik."
Endry langsung mengenakan gelang tersebut, dia pergi tergesa-gesa menuju kediaman Archduke Calestine. Saat itu waktu menunjukkan pukul satu malam. Waktu di mana semua orang tengah tertidur pulas.
Endry memanfaatkan waktu itu untuk menyerang Valencia yang sedang terlelap. Pendengaran dan mata Endry tertutup oleh rasa marah. Tidak akan ada satu orang pun yang dapat menegurnya secara berani.
'Kau akan mati malam ini, Valencia! Ini semua gara-gara kau, hidupku hancur karena kau masih hidup sampai detik ini.'
Endry diam-diam menyelinap ke dalam kamar. Dia mendapati Valencia sedang tertidur membelakangi pintu balkon sehingga Endry menganggap hal ini menjadi kesempatan baginya menghabisi nyawa Valencia. Akan tetapi, Endry salah besar. Dia tidak akan bisa mengelabui Valencia.
Tepat sebelum ujung pedangnya ditancapkan ke tubuh Valencia, tiba-tiba saja gadis itu terbangun dan langsung menangkis senjata milik Endry.
"Kau sangat berani menyelinap masuk ke kamarku saat aku sedang tidur," ujar Valencia melompat turun dari tempat tidur.
Emosi Endry tidak lagi terkendali, pria itu hampir dikendalikan oleh sesuatu yang tidak asing bagi Valencia.
"Diam kau! Aku kemari ingin membalaskan dendam Ibuku. Aku tahu, Ibuku sakit karena ulahmu. Kau kan orang yang telah membuat Ibuku menjadi seperti orang gila?!" teriak Endry disertai kemarahan menggebu-gebu.
__ADS_1