
Valencia langsung terbangun tanpa mendapatkan jawaban atau kepastian kebenaran dari mimpinya. Dia terbangun dalam kondisi napas yang terengah-engah. Kepalanya terasa pusing akibat mimpi yang terlalu menekan alam bawah sadarnya.
Kedua matanya melirik ke celah jendela, rupanya sinar mentari telah terbit. Kini Valencia beranjak turun dari tempat tidurnya dan segera membuka jendela kamar agar angin pagi nan segar memenuhi kamarnya.
"Mimpi apa itu barusan? Aneh sekali. Mengapa rasanya sangat nyata? Dan lagi nama gadis itu Klarybell. Mungkinkah itu diriku? Tetapi, aku tidak yakin. Kalau memang itu aku, kapan itu kejadiannya? Mungkinkah aku juga punya kehidupan sebelum menjadi seorang penyihir agung?"
Berbagai jenis pertanyaan bersarang di kepala Valencia. Padahal seharusnya kalau bangun tidur kepalanya segar dan bebas dari segala beban. Namun, kali ini berbeda, mimpi itu terus menghantui kepalanya.
Kemudian di sela kebingungannya, Valencia kendengar kegaduhan dari luar kamar. Lekas Valencia keluar dari kamar dan rupanya kegaduhan tersebut datang dari lantai bawah. Mereka menemukan Linnea tidak sadarkan diri dan berlumuran darah di permukaan tanah.
'Sudah dimulai ternyata, aku yakin setelah ini aku akan menghadapi sesuatu yang cukup menjengkelkan. Lagi pula Linnea tidak akan berhenti sampai di sini saja.'
Xeros pun datang menghampiri Valencia seusai mendengar berita jatuhnya Linnea dari lantai tiga. Dia bermaksud mengunjungi Valencia karena khawatir Valencia akan dijadikan sebagai kambing hitam dari insiden yang menimpa Linnea.
"Hei, Xeros! Tumben sekali kau muncul pagi-pagi begini," ujar Valencia menyapa Xeros yang datang dari bawah.
Xeros refleks menutup mata ketika menemukan Valencia masih mengenakan piyama tidur yang lumayan terbuka dan menampakkan lekuk tubuhnya.
"Sebelum itu, bisakah kau mengganti pakaianmu terlebih dahulu? Piyamamu terlalu terbuka," ucap Xeros.
"Oh, ini terlalu terbuka? Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan segera keluar setelah mengganti piyamaku."
Tidak butuh waktu lama sampai Valencia selesai mengganti piyamanya dengan pakaian yang lebih tertutup. Sekarang Xeros bisa berbicara santai tanpa gugup lagi di depan Valencia.
"Jadi, ada apa kau datang kemari? Apakah kau khawatir tentang aku setelah insiden jatuhnya Linnea dari lantai atas?" tebak Valencia.
__ADS_1
"Ya, aku cukup khawatir. Apa kau tidak khawatir setelah kejadian ini Linnea atau orang lain akan memfitnahmu lagi?"
Valencia tersenyum samar. "Untuk apa aku khawatir? Apabila Linnea mengadu kepada Grand Dhke, meski aku melakukan pembelaan sekali pun, jika menurut Linnea aku yang salah ya tetap saja Grand Duke tetap menyalahkanku tanpa menggubris pembelaan atau penjelasanku. Tidakkah menurutmu itu sangat lucu?"
"Grand Duke Allerick benar-benar tidak menyayangimu. Lalu bagaimana dengan Grand Duchess?"
Valencia mengangkat pundaknya. "Entah, dia tidak pernah peduli padaku. Dia hanya mempedulikan cinta dari suaminya yang jelas-jelas tidak pernah mencintainya."
Terdengar miris, tetapi Valencia tidak terlihat sedih saat menceritakan kedua orang tuanya. Hanya ada luka di hati di pemilik tubuh, sedangkan Valencia saat ini hanyalah menjalankan peran saja. Apabila itu Valencia yang asli, mungkin dia akan menangis dalam kesendiriannya.
"Kau tidak sedih?" tanya Xeros.
"Sedih ya?" Valencia berpikir sejenak, hatinya membeku dan tidak bisa merasakan kesedihan sedikit pun. "Tidak, aku tak mampu menggapai perasaan sedih itu sendiri. Dibandingkan sedih, aku lebih kecewa terhadap takdir hidupku."
"Kecewa?"
Xeros mengelus puncak kepala Valencia, senyum manisnya merekah sempurna menatap Valencia.
"Gadis tangguh, kau sudah berjuang cukup kuat selama ini."
"Hahaha." Valencia terkikik, baginya ini terlihat sangat lucu. "Aku memang gadis yang tangguh, kau tidak perlu mengatakan itu."
Mereka pun tertawa bersama, sedangkan semua orang sibuk mengurus insiden Linnea. Mereka berpikir ini sangat aneh karena mereka tidak mendengar suara teriakan atau sekedar suara Linnea terjatuh tadi malam. Penglihatan dan pendengaran mereka benar-benar disumbat oleh Valencia sehingga mereka tidak akan mendengar dan melihat insiden jatuhnya Linnea dari lantai tiga akademi.
Tidak hanya akademi saja yang heboh, ternyata berita ini telah sampai ke penjuru kekaisaran. Mereka mulai mencurigai bahwa kemungkinan Linnea didorong oleh seseorang dari atas sana.
__ADS_1
Target kecurigaan pertama mereka adalah Valencia. Selain hubungan mereka berdua tidak baik, Valencia diduga menaruh api cemburu atau iri hati terhadap Linnea yang masuk ke dalam daftar keluarganya. Hal itulah yang menyebabkan kejadian ini terjadi menurut mereka.
Mereka tidak tahu bagaimana sifat asli Linnea, hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahuinya. Meskipun sudah pernah ada rumor buruk yang disebarkan langsung oleh Permaisuri, tampaknya itu tidak mempengaruhi reputasi Linnea yang telah tertanam selama beberapa waktu di mata orang lain.
Hingga tepat dua hari berselang, Valencia dihadapkan oleh masalah dengan seseorang yang paling dia benci. Benar dugaan Valencia, selepas kesadarannya kembali, Linnea mengadukan kepada Adarian mengenai pelaku yang mendorongnya dari lantai tiga. Dia membeberkan bahwa pelakunya adalah Valencia sendiri.
Hari ini akhirnya Adarian datang berkunjung ke akademi. Dia langsung pergi menemui Valencia dan berbicara saling berhadapan dengan putrinya itu.
"Apa yang sudah kau lakukan terhadap Linnea?"
Satu persatu kerumunan massa mulai berkumpul, mereka penasaran mengenai alasan kedatangan Adarian ke akademi.
"Dia sudah sadar? Kalau begitu, aku tidak perlu menjelaskannya lagi. Kau sudah tahu apa yang aku lakukan kepada Linnea," jawab Valencia ketus.
"Jadi, benar kau mendorongnya dari lantai tiga?"
Sesaat suasana menjadi riuh, Valencia mengibaskan rambutnya dan melipat kedua tangan di dada. Tidak peduli siapa pun Adarian, baginya pria itu bukan Ayah atau orang tua Valencia.
"Oh, dia mengadu seperti itu padamu? Sekarang tunjukkan bukti yang mengatakan aku pelakunya. Jangan asal berbicara tanpa bukti, aku paling benci orang yang menudingku melakukan apa yang tidak pernah aku lakukan."
Adarian semakin geram berhadapan dengan Valencia. Gadis itu tambah berani melawannya, bahkan setelah sekian lama tidak bertemu, tiada kata rindu atau senyum manis menyambut pertemuannya dengan sang putri.
Kebencian Adarian telah mendarah daging, takkan ada satu pun orang yang bisa menyadarkan pria itu bahwa sesungguhnya dia telah berbuat salah kepada anak kandungnya.
"Tanpa bukti pun sudah jelas, hubunganmu dengan Linnea tidak pernah baik setelah kau terbangun dari percobaan bunuh diri itu. Kau bisa saja melakukannya karena iri pada Linnea."
__ADS_1
Valencia menahan tawa, dia menertawakan betapa bodohnya Adarian menyimpulkan segalanya seperti itu. Valencia amat frustrasi, mungkin sebentar lagi dia dan Adarian akan saling beradu emosi.
"Pemikiran yang dangkal. Untuk apa aku iri padanya? Aku jelas lebih cantik dan imut, aku lebih cerdas, lebih kuat, dan lebih kaya dari dia. Aku punya banyak uang, aku punya Kaisar dan Permaisuri di belakangku. Aku dikelilingi pria tampan rupawan, ada Archduke Calestine yang juga melindungiku. Lalu di bagian mananya yang membuatku iri kepada Linnea? Coba jawab sekarang! Di bagian mananya?"