Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Teguran Frintz


__ADS_3

Valencia menekankan kata demi kata yang ia lontarkan, mungkin setiap orang yang berpihak kepada Valencia memiliki pertanyaan yang sama. Bagian mananya yang pantas diirikan oleh Valencia? Dia punya segalanya, dia mempunyai nilai lebih dari Linnea. Hanya saja Adarian terlalu buta mata untuk melihat kesempurnaan putrinya. Dia bahkan tidak tahu bahwa sebenarnya Linnea jauh tertinggal di belakang oleh Valencia.


Valencia sudah muak berurusan dengan Adarian, yang ada hanyalah emosi yang dia dapatkan dari pria itu. Dikarenakan Ayahnya merupakan pemimpin dari keluarga bangsawan kelas atas, Valencia tidak bisa membunuhnya begitu saja. Dia sendiri yang akan kerepotan apabila Adarian mati di tangannya.


“Bagaimana? Kau tidak bisa menjawabnya kan? Kau tidak bisa menjawabnya karena memang Linnea tidak punya nilai apa pun. Dia bahkan tidak punya setengah dari diriku, kau membuatku tertawa,” ucap Valencia menyunggingkan senyum remeh.


Adarian menggeram marah, dia jengkel mendengar kata-kata Valencia yang bahkan tidak bisa dia jawab. Entah apa yang dilihat Adarian dari Linnea, padahal Valencia sendiri anak kandungnya dan punya potensi besar sebagai pemimpin wanita.


“Berhentilah bersikap angkuh! Apa kau lupa kau lahir dari darah siapa?! Apa sulitnya bagimu mengakui kesalahanmu yang telah mendorong Linnea dari lantai tiga?! Kau dilahirkan tidak punya otak dan hati ya?”


Binar mata Valencia berubah dingin, ini adalah kali pertama seumur hidupnya bertemu Ayah kandung yang bodoh layaknya Adarian. Biasanya Ayah kandung akan selalu menjadi garda terdepan di saat sang putri tersandung masalah. Akan tetapi, hal itu tidak berlaku untuk Adarian, dia hanya peduli pada anak pungut dan anak haram yang dia besarkan penuh cinta.


“Grand Duke, sepertinya kau butuh seribu cermin untuk berkaca dan melihat bagaimana dirimu sendiri. Apabila aku tidak punya otak dan hati, berarti itu turun darimu yang merupakan Ayah kandungku. Apa yang ada di otakmu? Kau memperlakukan anak haram dan anak pungutmu seperti seonggok berlian berharga. Namun, kau membiarkan anak kandungmu diinjak-injak oleh orang lain. Bukan berarti aku ingin disayangi, hanya saja menurutku kau Ayah terbodoh yang pernah aku temui seumur aku hidup!”


Berdasarkan perkataan Valencia barusan, apakah Adarian mengakui kesalahannya? Jawabannya tidak. Dia tidak merasa bersalah atas setiap keputusan yang dia ambil, Valencia sudah terlanjur buruk di matanya.


“Tutup mulutmu! Kau sangat tidak sopan! Aku tidak percaya kau bisa lahir dengan rupa yang mirip denganku.”


“Aku juga tidak menyangka bisa lahir dari Ayah bodoh dan tidak punya otak sepertimu. Aku rasa otakmu walau digadaikan tidak akan ada orang yang mau mengambilnya. Dasar sampah!”

__ADS_1


“Anak kurang ajar!”


Adarian naik pitam, dia mengangkat tangan kanannya dan berniat melayangkan tamparan ke wajah mulus Valencia.


“Grand Duke, ini bukan tempat untuk Anda melakukan tindak kekerasan terhadap putri Anda sendiri.”


Tiba-tiba Frintz dan Xeros datang menegur perbuatan Adarian, mereka berdua buru-buru kemari setelah mendengar keributan dari para siswa. Untung saja mereka datang tepat waktu sebelum akhirnya Adarian benar-benar menampar wajah Valencia.


“Profesor Frintz, ini adalah urusan keluarga saya dan Anda tidak berhak ikut campur ke dalam masalah ini,” jawab Adarian.


“Perilaku kekerasan adalah urusan kekaisaran, bukankah itu sudah tertulis di hukum Alegra? Siapa pun yang menyaksikan kekerasan diperbolehkan melapor atau ikut campur menghentikan kekerasan yang tengah berlangsung. Jadi, karena saya menyaksikan Anda yang hendak menampar Valencia, maka saya punya hak di sini untuk menegur Anda,” tegas Frintz.


“Hari ini kau selamat, lain kali kalau kau pulang ke kediaman, aku akan pastikan kau mendapatkan hukuman atas ketidaksopananmu!” gertak Adarian.


Tanpa berbicara panjang lebar lagi, Adarian bergerak meninggalkan akademi, tidak ada hasil yang dia dapatkan dari kemarahannya terhadap Valencia. Orang-orang pun mulai bubar, mereka kembali mengerjakan aktivitas mereka masing-masing.


“Apakah dia sungguh Ayah kandungmu? Aku rasa Archduke Calestine lebih memperlakukanmu dengan manusiawi,” heran Frintz geleng-geleng tak percaya.


“Dia memang Ayahku, Ayah satu darah bukan Ayah sejati dan Ayah yang baik untukku. Mudah-mudahan saja dia cepat mati supaya tidak ada lagi orang yang membela Linnea mati-matian,” tutur Valencia.

__ADS_1


Mereka mengajak Valencia untuk duduk di tempat yang lebih sepi dan nyaman untuk berbicara. Pikiran Valencia memanas karena kehadiran Adarian, untung saja tadi mereka berdua datang. Kalau tidak, mungkin saja Valencia akan bersikap nekat melukai Adarian seperti sebelumnya.


“Jangan-jangan Linnea anak kandung Grand Duke yang tersembunyi, makanya beliau memperlakukan Linnea dengan sangat baik,” ujar Xeros menerka sembarangan.


“Pffft, hahaha.” Valencia tertawa mendengar terkaan Xeros. “Sebenarnya, kalau dipikir-pikir bisa saja seperti itu. Namun, dia kan hanya butuh anak laki-laki, jadi mengapa dia baik ke Linnea yang jelas-jelas seorang perempuan? Aku anak kandungnya juga perempuan, tapi tidak pernah mendapatkan perlakukan baik darinya. Sungguh aneh, aku tidak bisa memikirkannya menggunakan otak cerdasku.”


Valencia merasa miris terhadap hidup si pemilik tubuh, ada untungnya sekarang yang ada di tubuh ini ialah sosok Klarybell, si gadis tangguh dan tidak mudah terbawa arus besar sehingga apa pun yang terjadi dia dapat menyelesaikannya sesegera mungkin.


“Ya, kau hanya bisa memikirkan dari mata kakimu. Tidak perlu sibukkan dirimu memikirkan Ayah yang tidak berguna. Masih banyak orang yang berada di pihakmu, masih ada Kaisar dan Permaisuri yang punya kuasa tertinggi di Kekaisaran Alegra,” ucap Frintz.


“Hmm, kau benar. Tidak boleh menghabiskan waktu berharga demi memikirkan sampah yang tidak ada artinya karena itu hanya akan membuat kita semakin gila,” kata Valencia.


“Tetapi, tanpa memikirkan itu pun kau memang sudah gila.” Xeros mencairkan suasana dengan penuturan tentang pribadi Valencia yang gila.


Valencia dan Frintz terkekeh bersama, mereka cukup terhibur mendengar perkataan Xeros. Valencia adalah gadis tergila dari orang gila yang pernah mereka temui seumur hidup.


***


Pada hari berikutnya, terlintas ide gila di kepala Valencia, dikarenakan dirinya sudah sangat bosan terus menerus dikejar oleh kesatria pengadilan, kini Valencia pun membuat sebuah keputusan sendiri. Dia akan menjalankan keputusan ini berdasarkan keinginan pribadi tanpa campur tangan dari pihak luar.

__ADS_1


“Tampaknya pihak pengadilan ingin memasukkanku ke penjara\, kalau begitu sekarang aku bunuh saja Kepala Akademi yang tengah mendekam di penjara. Eh\, haruskah aku menyebutnya mantan Kepala Akademi? Dia telah dibuang dari akademi ini\, sekarang dia hanyalah seorang rakyat tanpa gelar pasti. Membunuhnya tidak akan jadi masalah besar sebab bajing*n tetaplah bajing*n\, dia takkan berubah meski sudah dipenjara sekali pun. Biarkan neraka saja yang menghukumnya\,” gumam Valencia.


__ADS_2