Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Malaikat Kegelapan


__ADS_3

Kastil Davey kembali ramai dikarenakan kondisi tubuh Davey mengalami penurunan. Seluruh penghuni kastil sibuk berlarian ke sana kemari untuk membantu penanganan tubuh Davey. Sedangkan Sean senantiasa selalu berada di samping Davey.


"Sean, aku ingin berbicara denganmu," lirih Davey. Nada suaranya nan terlalu rendah membuat Sean harus lebih dekat dengan Davey.


"Ya, Yang Mulia. Saya di sini, apa yang ingin Anda bicarakan?"


Sean menggenggam erat tangan Davey, napasnya terdengar putus-putus. Sean berusaha menguatkan diri supaya air matanya tidak tumpah mengenai Davey.


"Mungkin aku akan kembali tidak sadarkan diri. Dapatkah kau melakukan sesuatu untukku?"


"Apa yang harus saya lakukan untuk Anda? Selagi saya mampu, saya akan melakukannya."


Kedua mata Sean berkaca-kaca, tak kuasa ia menyaksikan Davey menahan rasa sakit yang luar biasa mendera badannya. Namun, Davey masih berupaya mempertahankan kesadarannya sampai ia menyelesaikan pembicaraannya.


"Aku menitipkan Klarybell padamu. Tolong jaga Adikku selama aku memasuki alam tidur. Bisakah kau berjanji menjaganya?"


Tanpa berpikir panjang Sean menganggukkan kepalanya.


"Saya berjanji akan menjaga Klarybell, saya akan melindunginya," tutur Sean mulai terisak.


"Terima kasih. Aku rasa dengan begini aku bisa lebih tenang meninggalkannya padamu. Terima kasih, Sean. Tolong maafkan masa lalu Adikku yang pernah menyakitimu."


Sean menunduk dalam-dalam, Davey telah menutup rapat sepasang matanya. Sean merasakan kesedihan yang menusuk relung jiwanya.


"Yang Mulia, saya sudah memaafkannya. Anda tidak perlu lagi meminta maaf kepada saya."


***


Di malam yang larut, Valencia tidak bisa memejamkan matanya. Sedari tadi ia berdiri di balkon kamar sambil menatap langit bertabur bintang dan bulan sabit. Ada beberapa hal yang membuatnya berpikir dengan keras.


"Aku tidak pernah memimpikan wanita bersayap itu lagi. Kira-kira dia siapa? Dia punya nama yang sama denganku. Tetapi, itu bukan hal penting sekarang. Terlalu banyak masalah yang bersarang di kepalaku."


Valencia mengacak-acak rambutnya, pikirannya kusut berantakan.


"Aku memikirkan, siapa orang yang ada di balik Pangeran Rudolf. Orang itu berasal dari benua Mihovil. Mungkinkah dugaanku benar? Bahwasanya ada pengkhianat di antara bawahanku. Bila memang begitu, itu artinya kematianku telah direncanakan."


"Benua Mihovil menutup diri seusai kematianku. Aku tidak mungkin salah memperhitungkannya, tapi inilah dugaan sementara. Aku harus mencari akses menuju benua Mihovil untuk membuktikannya sendiri."


Di sela ketenangan, sekelebat angin kencang menyambar dan membelai wajah Valencia. Gadis itu tersentak sesaat angin tersebut menyapu wajahnya.


"Apa itu barusan? Itu bukan angin biasa."


Valencia memutuskan untuk tidak berpikir macam-macam. Ia pun berbalik badan untuk kembali ke dalam kamar. Namun, tatkala ia baru memutar tubuh, Sean muncul tiba-tiba dan langsung memeluknya dari belakang.

__ADS_1


"Sean, apa yang kau lakukan? Menyingkirlah dariku. Apa kau gil—"


"Diamlah sebentar."


Valencia merasakan adanya bulir-bulir air mata berjatuhan di punggungnya. Kemudian ia menyadari bahwa Sean sedang menangis. Sejenak, Valencia membiarkannya bersandar melepaskan kesedihan bak duri yang menancap jiwanya.


'Kenapa dia menangis? Apa ada masalah di kastil Davey? Ya, aku rasa begitu. Pasti ada masalah yang membuatnya tertekan.'


Lima menit berselang, Sean menyeka air matanya. Dia merasa sangat malu karena menangis di hadapan Valencia.


"M-Maaf, aku tidak bermaksud—"


"Terkadang seseorang butuh air mata membicarakan luka hatinya. Tidak perlu merasa malu karena kau menangis di hadapanku," tutur Valencia.


Sean terpaku, Valencia baru saja menampakkan raut wajah yang tidak pernah ia lihat selama ini. Sebuah raut berpancar kesenduan, tapi tertutup suara tawa dan garis senyum nan memukau.


"Jangan mencoba-coba menjadi gadis bijak di hadapanku," ketus Sean.


Valencia menepuk punggung Sean.


"Aku tidak mencoba menjadi bijak, tapi aku hanya mengatakan yang aku tahu. Lagipula ke mana kau selama ini? Selama berbulan-bulan kau tidak pernah menampakkan barang hidungmu."


Valencia tidak bertanya alasan kenapa Sean menangis, dia mencoba mencairkan suasana redup di antara mereka.


Sean sontak membungkam mulutnya sendiri.


'Sialan! Kenapa aku mengatakannya kepada Klarybell? Dasar mulutku!'


Valencia memiringkan kepalanya, ia menatap lekat Sean.


"Davey sakit? Benarkah? Memangnya dia sakit apa?" tanya Valencia.


"Tidak, aku salah. Beliau tidak sakit, Yang Mulia Davey hanya demam saja. Tetapi, sekarang kondisi beliau sudah membaik," kilah Sean.


"Hahaha." Suara tawa Valencia menggelegar di ruang kamar. "Memangnya dewa bisa sakit? Baru pertama kalinya aku mendengar ada dewa yang sakit."


"Y-Ya, b-begitulah."


Tanpa Valencia sadari, hubungannya dengan Sean kian membaik. Sean mulai mengubah pandangannya terhadap Valencia. Dia telah mengetahui secara menyeluruh masa lalu Valencia, sekarang tinggal memperbaiki hubungannya yang dahulu pernah memburuk dan diisi kebencian mendalam.


***


Di waktu bersamaan di kediaman Frintz, pria itu mendapatkan sebuah mimpi aneh dan mengerikan di tengah tidurnya. Sekujur tubuh Frintz mengeluarkan butiran keringat dari celah kulitnya.

__ADS_1


Jauh di bawah alam sadar, sebuah pemandangan asing mengusiknya. Dirinya terbangun di antara langit berwarna merah menyala. Makhluk asing berwarna hitam berlalu lalang di hadapan Frintz. Sejenak Frintz menenangkan diri, ia berharap segera keluar dari mimpi tersebut. Namun, dia malah semakin terjebak di dalamnya.


"Aku ada di mana? Tempat ini dikuasai aroma darah yang menyengat."


Ketika Frintz sedang mencari tahu keberadaannya, ia menangkap dari jauh adanya kerumunan massa. Seluruh makhluk hitam yang berbentuk aneh itu berkumpul di sebuah kastil megah dan dibalut kekuatan asing.


"Ke mana mereka pergi? Aku harus mengikutinya."


Frintz masuk semakin dalam, akhirnya ia tiba di ruang singgasana. Seketika Frintz berdiri mematung, tatapannya tak luput dari arah singgasana yang berlumuran darah. Ada banyak tengkorak manusia di sekitar singgasana tersebut.


"Siapa wanita itu? Mengapa dia ada di sana?"


Hal yang lebih mengagetkan bagi Frintz ialah ia menjumpai seorang wanita bersayap hitam tengah duduk di singgasana. Rambut biru muda panjangnya tergerai indah di bawah sinar rembulan merah. Kedua mata merah muda wanita itu seolah-olah menyihir tubuh Frintz.


"Hormat kami kepada malaikat kegelapan, kami persembahkan jiwa dan raga kami kepada engkau, wahai Ratu pencipta dunia hitam."


Seisi ruangan bersujud di hadapan wanita itu, sontak tubuh Frintz ikut bersujud di antara kerumunan itu.


"Apa kabar kalian, para pengikut setiaku? Sudah lama sejak terakhir kita bertatap muka."


Badan Frintz tiada henti merasakan getaran yang tak biasa. Sekujur tubuhnya merinding mendengar suara wanita tersebut.


"Kabar kami baik, Yang Mulia."


Frintz mendongakkan kepalanya, ada pancaran kekuatan yang tak asing ia rasakan.


'Siapa ketujuh pria itu? Kepala mereka bertanduk.'


Tujuh orang pria mendekati wanita di singgasana itu. Mereka menyambut wanita yang mereka anggap sebagai Ratu.


"Astaga, ketujuh Raja iblis. Kalian mendapatkan wujud manusia yang sempurna. Kalian semakin indah dipandang. Namun, jangan sampai karena wujud ini kalian melupakan misi terpenting yaitu menghancurkan umat manusia," tekan wanita itu.


Frintz terkejut bukan main, tak disangka mereka adalah tujuh Raja iblis yang dia baca di buku sejarah dunia.


'Raja iblis? Kalau begitu, mungkinkah mimpi ini ada kaitannya dengan ingatan Raja iblis? Itu masuk akal. Bagaimana pun sekarang kekuatan mereka ada di diriku,' batin Frintz.


Frintz kembali memusatkan fokus terhadap apa yang ada di hadapannya.


"Tentu saja kami mengingat misi itu, wahai malaikat kegelapan."


"Mustahil kami melupakannya karena itu adalah perintah dari Ratu kami, Yang Mulia Klarybell."


Detak jantung Frintz berpacu cepat, nama yang tidak asing muncul dari sana.

__ADS_1


'Apa yang mereka katakan? Klarybell? Wanita itu adalah Klarybell?'


__ADS_2