Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Hutan Keabadian


__ADS_3

Jumlah orang yang berangkat pada misi penyelamatan Devina adalah sekitar delapan orang. Semuanya terdiri dari Valencia, Reibert, Frintz, Sammy, Leano, Xeros, Abraham, serta Henzo.


Perjalanan menuju hutan keabadian dipimpin oleh Valencia. Mereka memacu laju kuda mereka masing-masing melewati setiap tempat yang dilalui. Valencia tiada henti menggunakan sihirnya untuk menciptakan pentagram sihir instan yang membantu mereka untuk melangkah lebih cepat.


"Perhatikan ke sekitar! Jangan tundukkan pandangan dan turunkan kewaspadaan. Pihak musuh mungkin telah menyiapkan jebakan di sepanjang bahu jalan," seru Valencia.


Benar seperti apa dugaan Valencia, setiap jalan mereka mendapati adanya jebakan khusus. Mereka selalu dihujam oleh puluhan anak panah. Namun, karena ketangkasan mereka akhirnya mereka melaluinya dengan sangat mudah.


"Sial! Mereka ternyata benar-benar berniat untuk membunuh kita," gerutu Henzo mengumpat.


Mereka meneruskan perjalanan dan menemukan berbagai jebakan baru. Akan tetapi, berkat Valencia mereka berhasil melewati semuanya dengan selamat tanpa adanya luka goresan atau lecet. Hingga satu jam lebih perjalanan, mereka akhirnya tiba di depan gerbang hutan keabadian.


"Ini adalah hutan keabadian? Semuanya berwarna putih."


Hutan keabadian diselimuti dan ditumbuhi berbagai jenis tumbuhan berwarna putih. Hutan itu telah ada semenjak ribuan tahun lalu. Oleh sebab itulah disebut sebagai hutan keabadian. Tidak ada manusia yang menginjakkan kaki di tempat ini karena ada akses masuk khusus menuju hutan keabadian dan hanya orang-orang yang mempunyai sihir dapat menemukan tempat ini.


"Mulai dari sini, perketat kewaspadaan karena dari gerbang masuk sudah ada jebakan yang menanti kehadiran kita," peringat Valencia serius.


"Bisakah kita mulai untuk masuk sekarang? Lebih cepat kita memulainya maka akan lebih cepat selesainya."


Mereka pun mulai melangkah masuk ke dalam hutan keabadian. Berbagai hal di luar nalar mereka lewati bersama-sama. Mulai dari jebakan tanaman pemakan daging, binatang raksasa, dan benda tajam yang mencoba menargetkan mereka dari jauh. Semuanya berhasil mereka lalui tanpa kesulitan.


Hingga mereka tiba di tengah hutan keabadian yang dekat dengan sungai yang membeku, suhu di sana semakin rendah. Bila mereka tidak menggunakan penghangat, maka mereka akan terkena efek bekunya.


"Cuaca di sini tidak karuan," ujar Xeros.


"Ya, tapi kita bisa melewatinya selama aku masih ada di sini."


Valencia menjentikkan jemarinya, tubuh mereka mendadak hangat berkat suntikan sihir dari Valencia.

__ADS_1


"Mari kita lanjutkan perjalanan."


Cuaca di hutan keabadian sungguh berada di luar nalar. Selain cuaca dingin, mereka juga ditimpa hujan air dan hutan es. Kemudian mereka melalui padang pasir yang sangat panas hingga melewati hutan beriklim tropis.


Setelah melewati perjalanan yang penuh perjuangan dan menegangkan, mereka akhirnya tiba di rute terakhir. Rute yang melewati jalan bergelombang, tapi sebelum masuk ke tempat itu, mereka dihadang sekelompok makhluk sihir.


"Tubuh mereka sangat besar, mungkin mereka berada di sini atas perintah seseorang," ucap Valencia.


Satu persatu dari makhluk sihir menerjang menyerang mereka. Makhluk sihir tersebut berada di tingkat lebih tinggi dibanding makhluk sihir biasa sehingga mereka tidak mudah untuk ditumbangkan.


Untung saja mereka semua kuat, jadi mereka dapat mengalahkan tanpa adanya keluhan. Pada kelompok makhluk sihir terakhir, Valencia tidak turun tangan. Hanya para pria saja yang bekerja, sedangkan dirinya mencoba merasakan aura kehidupan Devina yang berada tidak jauh dari tempat mereka kini berada.


"Huh? Aura kehidupan Devina menipis!" ucap Valencia mengagetkan semua orang.


"Apa maksudmu menipis?" Mereka semua punya pertanyaan yang sama.


Valencia meminta Black untuk bergerak lebih cepat. Black mematuhi perintah Valencia dan bergerak dengan kecepatan super. Tepat seperti yang dikatakan Valencia, mereka akhirnya tiba di depan sebuah mansio mewah yang berdiri di tengah hutan keabadian.


"Di sini tempatnya, Devina disekap di tempat ini."


Mereka sama-sama turun dari punggung kuda, mereka meletakkan kuda mereka sebelum masuk ke dalam mansion. Tepat menjelang mereka melangkah lebih jauh lagi, mereka langsung dihadang segerombol orang yang keluar dari pintu masuk.


"Kalian dilarang masuk jika kalian tidak bisa mengalahkan kami," tantang mereka semua.


"Itu hal yang sangat mudah dilakukan. Jangan menyesal karena kalian sudah salah menentang orang yang lebih kuat dari kalian."


"Serang mereka! Jangan biarkan satu pun dari mereka yang lolos dan masuk ke dalam mansion!"


Terjadilah pertengkaran hebat di depan mansion, mereka saling mengadu sihir dan kekuatan. Ledakan demi ledakan, bahana demi bahana benturan sihir menggetarkan permukaan tanah. Tidak ada yang mau mengalah, mereka semua berhasrat untuk menang.

__ADS_1


Hasil akhir sudah dipastikan siapa pemenangnya, pihak Valencia menang telak dari para musuh tersebut. Mereka bukanlah penyihir yang kuat sehingga proses mengalahkan mereka tidak memakan waktu lama.


"Mereka telah ditumbangkan, saatnya kita masuk lebih dalam lagi."


Ternyata jalan mereka menuju ruangan yang lebih dalam lagi tidak semudah yang dibayangkan. Selalu ada musuh yang menghambat langkah mereka. Akan tetapi, mereka punya akhir yang sama seperti rekan mereka yang lain. Tidak ada yang berbeda, sampai akhirnya mereka bertemu dengan beberapa orang yang punya sihir lebih kuat.


Mansion tersebut seperti sebuah labirin sehingga mereka akan bertemu musuh pada setiap sudut jalan yang mereka lewati.


"Kalian dilarang masuk lebih dalam lagi, sebaiknya kalian berhenti di sini karena kalian tidak akan bisa melewati kami dengan mudah."


Mereka terkesan angkuh, menganggap diri mereka lebih kuat dari pihak Valencia. Mereka terlalu meremehkan kelompok Valencia hingga mereka tidak sadar sedang membuat beberapa celah untuk membuat pihak lawan kabur begitu mudahnya dari hadapan mereka.


'Aura kehidupan Devina melemah, mereka sengaja mengulur waktu agar kami terlambat menyelamatkan Devina. Mereka benar-benar punya niat membunuh terhadap Devina.


Valencia menunduk geram, rasanya sungguh menjelengkelkan setiap detik bertemu mereka.


"Kalian banyak omong. Aku tidak punya waktu meladeni kalian."


Valencia menjentikkan jemarinya, bersamaan suara jentikan tersebut tubuh pihak lawan hancur lebur seperti abu di depan orang-orang yang dibawa Valencia. Mereka bergidik ngeri menyaksikan pemandangan sadis tersebut.


"Mereka membuatku marah, seharusnya tadi aku siksa mereka sedikit agar mereka mengerti seberapa jauh perbedaan kekuatan kita. Dasar manusia bodoh!" gerutu Valencia bergumam Valencia.


"Sepertinya kekuatan sihirmu sangat besar," ujar Sammy tiba-tiba.


"Benar yang kau katakan, sihirku paling besar di dunia ini," ucap Valencia penuh percaya diri.


Mereka melanjutkan jalan mereka lagi, sekarang tidak ada pihak lawan yang berani menghambat langkah mereka. Dan sampailah mereka di depan sebuah pintu besar yang diukir ukiran kuno yang teramat indah. Mereka mendorong bersama-sama pintu besar itu. Sampailah mereka di sebuah ruangan luas yang memiliki sebuah altar.


Di atas altar tampak keberadaan Devina tengah terbaring lemah tak berdaya. Aura kehidupannya menipis karena dia memang sedang berada di pintu kematian. Akan tetapi, Valencia tidak akan membiarkan hal ini begitu saja terjadi.

__ADS_1


__ADS_2