
Linita terpaku pada sebuah potret seorang anak laki-laki yang terpajang jelas di antara potret-potret anggota keluarga kekaisaran. Air matanya berlinang sesaat memandangi potret tersebut, tersirat rasa rindu yang tidak bisa dijelaskan menggunakan kata-kata. Tidak bisa dibohongi, ada rasa sakit tersembunyi di balik hati Linita.
Padahal ini sudah larut malam, tetapi Linita menolak untuk tidur, ada sebuah bayangan dari ingatan masa lalunya mengenai putranya yang telah lama meninggal. Telah berlalu beberapa waktu, telah banyak perubahan yang terjadi di istana. Namun, sedikit pun Linita tidak bisa menyingkirkan ingatan tentang Stephen dari ruang memorinya.
“Linita, apa yang kau lakukan di sini?” Abraham tiba-tiba datang menghampiri Linita.
Sontak air mata yang terlanjur turun mengucur lekas diseka oleh Linita, perlahan ia mengangkat sudut bibirnya untuk tersenyum pedih. Walaupun dia telah menyembunyikan rasa sakitnya sebaik mungkin, dia tetap tidak bisa membohongi Abraham.
“Tidak ada, aku hanya sedang melihat potret Stephen,” jawab Linita.
Abraham pun menghampiri istrinya, langsung dia rengkuh pundak Linita demi menenangkan perasaannya.
“Aku merindukan, Stephen. Apabila dia masih hidup sampai sekarang, mungkin dia sudah menjadi pria dewasa. Hari ini adalah hari peringatan kematian Stephen, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak merindukannya,” ungkap Linita.
“Aku juga merasakan hal yang sama denganmu, Stephen selalu tersenyum dan memperlakukan semua orang dengan sangat baik. Andaikan saja waktu itu aku bisa menyelamatkannya, andaikan aku melarangnya pergi ke danau, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Aku merasa bersalah baik kepadamu maupun kepada Stephen.”
Linita terdiam, Abraham kala itu tidak kuasa menahan air matanya, pria itu menangis untuk pertama kalinya. Rasa bersalah yang dia pikul selama ini cukup membuatnya tertekan, hidupnya selalu dibayangi kenangan tentang Stephen.
“Hei, ini bukan salahmu. Kau tidak salah apa-apa, Stephen akan membencimu kalau kau menyalahkan dirimu atas kematiannya. Bagaimana pun itu, Stephen takkan menyukai orang tuanya bersedih apalagi sampai menyalahkan diri sendiri atas kematiannya. Itu bukan salahmu, berhentilah melempar semuanya ke dirimu.”
Linita mendekap Abraham, tak terhitung goresan yang tertoreh di hati mereka, perasaan yang tidak karuan membuat mereka sama-sama sesak.
“Aku bahkan tidak mampu untuk mengunjungi makamnya, aku takut sepanjang waktu. Apakah ini benar-benar bukan kesalahanku? Aku harus bagaimana lagi agar membuat diriku lebih tenang?”
__ADS_1
“Aku di sini, jangan limpahkan semuanya ke hatimu, tolong berbagilah denganku. Aku menyayangimu, aku menyayangi Stephen, dan aku menyayangi kedua anak kita yang lain. Aku tidak mau kehilangan siapa pun lagi. Berhentilah menyalahkan dirimu, kau paham?”
Tanpa mereka berdua sadari, sejak tadi Devina menyaksikan semuanya dari balik tembok. Dia menahan isak tangis mendengar kedua orang tuanya yang begitu terluka semenjak kepergian Kakak keduanya.
‘Ini bukan salah kalian, Kakak tidak mati karena kalian. Ayah dan Ibu telah berjuang selama ini untuk tetap berdiri tegap demi rakyat. Ayah dan Ibu telah menjadi orang tua yang baik untuk Kakak,’ batin Devina.
Devina memilih untuk pergi ke kamarnya daripada harus mendengar lebih jauh lagi soal kesedihan orang tuanya. Di persimpangan lorong, Devina tanpa sengaja berpapasan dengan Rudolf. Dia terperanjat kaget menemukan Rudolf ada di istana ketika malam-malam seperti ini.
“Apa yang terjadi padamu?” tanya Rudolf kepada Devina.
“Tidak ada, mataku pedih karena terkena pasir saat jalan-jalan keluar. Lalu Kakak kenapa ada di sini? Padahal hari ini peringatan kematian Kak Stephen, kenapa Kakak baru datang sekarang?” tanya Devina balik.
“Aku sibuk, aku baru punya waktu sekarang,” jawab Rudolf berekspresi datar.
“Bohong! Kakak tidak pernah pulang ke istana setiap kali hari peringatan kematian Kak Stephen. Apakah Kakak menyembunyikan sesuatu di belakangku?” tuding Devina.
Rudolf langsung melayangkan tatapan membunuh kepada Devina, mereka berdua memang tidak pernah sekedar bertegur sapa dengan baik atau pun berbincang empat mata. Entah atas alasan apa, Rudolf seringkali menghindar dari Devina. Terkadang Devina merasa bahwa sebenarnya Rudolf sangatlah membencinya.
“Tidak bisakah kau berhenti bertanya? Aku lelah. Sebaiknya sekarang kau enyah dari hadapanku,” tekan Rudolf.
Devina tersentak, Rudolf pun beranjak pergi meninggalkan Devina yang masih terpaku sendirian. Devina baru menyadari bahwa sebenarnya Kakaknya itu bukanlah pria berhati malaikat, melainkan pria bertopeng malaikat dan berhati layaknya iblis.
‘Hubungan kami sangat buruk, mungkinkah dia dendam padaku karena aku juga berniat menjadi pewaris takhta?’
__ADS_1
***
Kekaisaran Alegra kembali digemparkan oleh kematian Guilla di dalam kamar tempatnya dikurung. Kondisi jasadnya sangat mengenaskan, bahkan Sammy sampai harus turun tangan untuk membawa jasadnya ke peti pemakaman. Pasalnya, tubuh Guilla sangat lunak, jika salah cara angkat, maka tubuhnya akan tercerai berai.
Helen berdiam diri di depan peti mati Guilla dan menatap wajah yang tak lagi berwujud itu. Menjijikkan, itulah kata-kata yang terbesit di benak Helen kala itu, wanita yang menjadi sumber penderitaanya telah berjalan menuju alam neraka.
‘Aku tidak akan pernah memaafkanmu, aku harap Valencia bisa memberimu pukulan yang sangat kuat jika nanti dia bertemu denganmu di akhirat. Namun, aku berharap agar dia tidak perlu susah-susah menemuimu. Biarkan Valencia melihatmu dari pintu surga, ini adalah hukuman bagimu, hukuman bagi pembunuh putriku!’ batin Helen.
Belum selesai memakamkan jasad Guilla, di hari yang sama pula kekaisaran mendapatkan berita kematian Endry. Pria itu mati secara misterius, hal itu dikarenakan energi di tubuhnya diserap habis oleh artefak sihir terlarang. Alhasil, di hari itu orang-orang harus memakamkan dua orang pendosa sekaligus.
“Siapa sangka Ibu dan anak ini mati dalam waktu berdekatan, mungkin inilah karma. Aku harap kalian kekal di neraka, jalanilah penyiksaan sebagai akibat perbuatan buruk kalian di dunia. Sesekali aku akan pergi mendatangi alam akhirat untuk menonton kalian disiksa di neraka,” gumam Valencia di hadapan jasad Endry dan Guilla.
Valencia sangat puas sekali, hidupnya terasa lebih ringan sekarang, hanya tertinggal dua kasus saja yang perlu dia urus yaitu kasus Rudolf dan kasus Linnea.
“Sepertinya suasana hatimu sangat bagus hari ini,” ujar Frintz.
Valencia terperangah, lagi-lagi dia tidak menyadari aura keberadaan Frintz yang sangat tipis.
“Tentu saja, satu persatu parasit berhasil aku singkirkan. Sekarang tinggal Linnea dan Rudolf saja yang harus aku tangani.”
“Setidaknya dengan begini dendammu di masa lalu berhasil dituntaskan. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan lagi,” tutur Frintz.
“Ya, kau benar, tidak ada yang perlu aku khawatirkan lagi.”
__ADS_1
Valencia memejamkan sejenak matanya sambil mengembuskan napasnya perlahan. Sekarang waktunya menggunakan tubuh ini juga hampir habis. Dia akan meninggalkan kehidupannya sebagai Valencia dan akan menjadi jiwa Klarybell yang selalu melayang di atas langit.