Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Kelancangan Linnea


__ADS_3

 "Astaga, Valencia! Cepat ambilkan kain lap!" titah Linita.


Linita seketika panik menyaksikan pelayan tersebut yang terjatuh hingga membuat pakaian Valencia terguyur air teh. Pelayan wanita itu langsung meluruhkan badan dan bersujud di bawah kaki Valencia. Dia gemetar karena takut akan dihukum oleh Linita. Sedangkan Linnea hanya tersenyum licik di balik wajahnya yang sok polos tak berdosa.


"Ampuni saya, Nona, saya tidak sengaja melakukannya. Tolong maafkan saya," ucap pelayan itu.


Tiada disangka, bukannya marah Valencia malah mengulurkan tangannya kepada si pelayan. Dia tahu betul bahwa kejadian itu bukanlah kesalahan si pelayan melainkan kesalahan Linnea. Alhasil, Valencia harus bersabar sejenak sebelum akhirnya Linnea diberi efek jera.


"Tidak apa-apa, angkat kepalamu lagi, aku tidak marah padamu," tutur Valencia sembari merekahkan senyum ramah.


Pelayan itu pun mengangkat kepalanya, dia terkejut karena Valencia tidak memaki dirinya. Berbeda dengan bangsawan pada umumnya yang pasti akan mengamuk bila menghadapi situasi yang sama. Hati sang pelayan tersentuh, baru kali ini dirinya mendapatkan perlakuan baik dari seorang bangsawan tingkat tinggi.


"Apakah Anda tidak akan menghukum saya?" Kedua mata si pelayan berkaca-kaca, dia hampir saja menangis karena saking takutnya dipecat oleh Linita.


"Tidak, lagi pula kau tidak sengaja, bukan? Jadi, untuk apa aku menghukum orang yang tidak melakukan kesalahan. Seharusnya sekarang kita mempertanyakan, mengapa dirimu bisa terjatuh di lantai datar seperti ini? Benar kan, Linnea?"


Valencia sengaja menekan perkataannya sambil memandang ke arah Linnea. Gadis itu pun langsung terkesiap begitu Valencia menatapnya dengan tatapan mengetahui segalanya. Linnea terdiam sejenak lalu dia tersenyum kaku.


"Iya, itu benar, tapi mungkin juga karena pelayan ini ceroboh. Seharusnya kau menghukumnya karena dia membuat basah gaunmu." Linnea mencoba memanipulasi keadaan, tapi hal tersebut takkan berhasil.


"Itu tidak perlu, pelayan ini murni terjatuh karena ketidaksengajaan. Aku bisa membeli gaun yang lebih mahal tapi jika aku menghukum pelayan ini maka dia akan kehilangan pekerjaannya. Itu tidak adil, maka dari itu aku tidak akan mempermasalahkannya. Seharusnya kau sebagai Nona yang dipuji cantik dan baik hati tahu akan resiko ini, kenapa kau malah memintaku untuk menghukumnya?"

__ADS_1


Linita mengamati pergerakan Linnea, dia sudah melihat secara keseluruhan kejadiannya kalau sebenarnya yang membuat si pelayan terjatuh adalah Linnea. Akan tetapi, di sini Linita terlihat takjub dengan respon Valencia yang jauh lebih bijaksana.


Linnea kembali hening dalam seribu bahasa, Valencia selalu punya jawaban untuk dilontarkan kepada dirinya.


"Bukan begitu maksudku, hanya saja—"


"Sudah, sekarang ayo Valencia, Bibimu ini akan memberikanmu pakaian yang paling bagus. Tidak perlu memperpanjang masalahnya, Valencia telah memaafkan pelayan itu," ucap Linita menarik tangan Valencia pergi menuju ruang ganti pakaian istana.


Sungguh mengejutkan, Valencia dibawa ke ruang penyimpanan gaun istana. Di sana terdapat berbagai macam gaun dengan harga mahal. Valencia merasa tidak enak hati atas kebaikan yang diberikan Linita padanya. Ingin rasanya dia menolak, tapi tampaknya Linita tidak akan membiarkannya menolak pemberiannya.


"Carikan gaun yang paling pas, bagus, mewah, dan paling mahal untuk Valencia," perintah Linita kepada para pelayan.


Linnea hanya bisa gigit jari menyaksikan Valencia dilayani begitu ramahnya. Seketika dia merasakan penyesalan karena telah membuat pelayan barusan jatuh mengenai gaun Valencia. Para pelayan pun membawa satu persatu gaun untuk dicoba Valencia.


“Sebenarnya gaun ini memang dibelikan khusus untukmu, tapi aku tidak mengirimkannya ke kediaman Grand Duke. Bukankah kau tahu sendiri kalau Devina tidak suka memakai gaun? Oleh sebab itulah, Devina tidak mempunyai gaun. Jadi, karena itu aku membeli gaun sebanyak ini demi diberikan padamu saat berkunjung ke istana. Namun, apa daya kau dulunya selalu menolak diundang ke istana. Pada kesempatan inilah aku ingin menyerahkan seluruh gaun ini padamu!”


Devina adalah nama anak perempuan Linita dan Abraham, Devina dikenal suka memakai pakaian pria, bahkan dia sering berkelakuan seperti pria pada umumnya. Devina menolak mengenakan gaun, dia berpikir jika memakai gaun itu sangat tidak keren untuk postur tubuhnya yang tinggi. Selain itu, beredar juga kabar bahwasanya Devina ingin mencalonkan diri sebagai kandidat Kaisar berikutnya, tapi para bangsawan menolaknya mentah-mentah.


Valencia tidak punya ingatan tentang Devina, itu mengartikan kalau si pemilik tubuh belum pernah bertemu dengan Devina. Terkadang Linita ingin sekali Devina seperti gadis pada umumnya, tapi apa daya Devina sangat keras kepala dan sulit diatur.


“Tapi, gaun ini sangat banyak dan tidak mungkin muat di paviliun kediaman saya,” tutur Valencia.

__ADS_1


“Ya sudah, tinggalkan saja di sini gaunnya, tapi kau harus sering-sering berkunjung ke istana. Paham?”


Valencia mengangguk cepat, dia memang berencana ingin sering mengunjungi istana, bagaimana pun juga istana ini adalah tempat yang nyaman bagi Valencia. Selain Kaisar dan Permaisuri yang ramah, para pelayan dan kesatria juga ramah padanya.


Ketika Valencia mencoba gaun-gaun yang dipilihkan Linita, selalu saja ada komentar tidak mengenakkan dari Linnea. Dia mengomentari setiap gaun yang dikenakan Valencia terlalu berlebihan untuk tubuh Valencia sehingga dia menilai gaunnya tidak cocok untuk Valencia. Segala ocehan Linnea menyiratkan keirian besar terhadap Valencia, dia berharap ingin mendapatkan gaun yang sama dengan Valencia.


“Nona Linnea, apa maksud Anda sedari tadi sibuk berkomentar soal gaun yang aku rekomendasikan untuk Valencia? Apa Anda ingin memamerkan mata Anda yang selalu bagus dalam menilai sebuah gaun?” Pada akhirnya, Linita yang tidak tahan mencoba menegur Linnea.


“Tetapi, saya hanya mengatakan yang sebenarnya, Yang Mulia. Memang tidak ada gaun yang cocok untuk Valencia, dia lebih cocok dengan gaun murah. Tidak seperti saya yang mungkin lebih pantas mengenakan gaun-gaun ini,” jawab Linnea terdengar lancang.


Para pelayan mengarahkan tatapan buruk pada Linnea, mereka tidak sangka jika Linnea bisa berbicara seperti itu pada Permaisuri.


“Jadi, secara tidak langsung kau juga mau diberi gaun oleh Permaisuri seperti apa yang Permaisuri lakukan untukku? Memangnya kau siapa sampai pantas diperlakukan setara denganku?” Valencia menyorot tajam Linnea.


“Aku ini sahabatmu—”


“Sahabat mana yang merebut calon tunangan sahabatnya sendiri?! Sahabat mana yang menggunakan sahabatnya sebagai batu loncatan agar dirinya lebih dikenal di kalangan pergaulan atas? Sahabat mana yang senang melihat sahabatnya menderita? Dan sahabat mana yang selalu ingin merebut barang milik sahabatnya? Katakan padaku sekarang, dari segi mananya kau merupakan sahabatku?” potong Valencia dengan emosi menggebu-gebu.


Linnea menggertakkan giginya, sudut matanya terangkat menyiratkan kemarahan terhadap Valencia. Gadis itu ingin membuat Valencia menderita dan ingin Valencia kembali seperti dahulu agar dirinya tidak kesulitan seperti sekarang. Kemudian tiba-tiba saja Linnea menangkap dan mencekal pergelangan tangan Valencia.


“Apa yang kau katakan, Valencia? Aku tidak pernah melakukan itu semua. Aku tulus berteman denganmu, sungguh,” tutur Linnea dengan muka memelas dan penuh kepalsuan, dia sedang menahan Valencia untuk tidak membocorkan kebusukannya selama ini.

__ADS_1


Valencia menyentak tangan Linnea, dia tidak menerima kebohongan yang dilontarkan Linnea begitu saja. Kali ini sorotan mata Valencia menyiratkan kemarahan yang tak terbendungkan, gadis yang menjadi lawannya kini tak berkutik sedikit pun. Linnea merasa seolah dirinya tengah tercabik dari dalam oleh tatapan mata Valencia.


‘Apa ini? Tubuhku gemetar karena takut? Aku takut dengan wanita ini? Bagaimana mungkin?!’


__ADS_2