
"Apa yang kau tangkap itu?"
Reibert, Frintz, dan Xeros punya pertanyaan yang sama. Mereka penasaran terhadap serpihan cahaya yang ditangkap Valencia.
"Ini adalah jejak sihir, bisa digunakan untuk mendeteksi keberadaan mereka saat ini. Nanti aku akan ajarkan kepada kalian cara menggunakan jejak sihir ini. Untuk sekarang, tolong kirim laporan ke istana dan ke kediaman Archduke Calestine. Lebih banyak orang yang mencarinya, maka itu semakin baik," titah Valencia.
Segera Reibert mengutus beberapa orang untuk mengirimkan surat ke istana terkait situasi yang terjadi kala itu. Para kesatria bergerak sigap, mereka menulis surat dan mengirimnya melalui burung pengirim surat.
Para burung itu dibubuhi sihir untuk mempercepat daya terbang mereka supaya suratnya bisa sampai lebih cepat dari biasanya. Hanya butuh waktu beberapa menit sampai suratnya tiba di tangan Abraham — sang Kaisar.
Abraham yang sedang menghabiskan waktu bersama Linita dikagetkan oleh kedatangan seekor yang hinggap di tangannya. Di kaki burung terikat sepucuk surat dari kelompok Valencia. Buru-buru Abraham mengambil surat itu lalu membaca isi suratnya.
Sontak Abraham berdiri dari tempat duduknya, ia syok bukan main membaca surat yang menjelaskan situasi putri tercintanya.
"Sayang, gawat!" ujar Abraham.
Linita menegakkan kepalanya, firasatnya mendadak memburuk ketika Abraham mendapatkan surat tersebut.
"Ada apa? Apa yang tertulis di kertas itu?" tanya Linita berharap itu bukanlah hal yang buruk.
"Devina menghilang, dia diculik oleh seseorang. Saat ini Valencia meminta untuk mengirimkan beberapa orang ke lokasi kejadian."
"Apa?!"
Linita syok, kepalanya mendadak didera rasa sakit sesaat mendengar kabar buruk soal Devina. Seisi istana tahu seberapa besar rasa sayang Kaisar dan Permaisuri terhadap putri satu-satunya mereka. Bahkan, mereka tidak bisa menolak apa pun keinginan putrinya. Akan tetapi, hari ini mereka malah mendengar sesuatu tidak terduga tentang putri mereka.
"Devina, putriku yang malang. Siapa yang menculiknya? Kepalaku jadi sakit mendapatkan kabar soal Devina."
Tubuh Linita kehilangan keseimbangan dan nyaris tumbang ke atas lantai. Untung saja para pelayan sigap menangkap Linita.
"Sayang, tolong tenanglah, aku akan segera pergi mencari putri kita. Kau tidak boleh sampai jatuh sakit. Mengerti?"
Linita mengangguk lemah. "Tolong temukan Devina, jangan biarkan dia terluka. Aku tidak sanggup membayangkan putri kita harus menghadapi kejadian tidak mengenakkan."
"Baiklah, aku pergi sekarang." Abraham mengecup kening Linita. "Kalian tolong jaga Permaisuri, jangan sampai Permaisuri jatuh sakit memikirkan Tuan Putri," perintah Abraham kepada para pelayan.
__ADS_1
"Baik, Yang Mulia."
Abraham segera mengumpulkan beberapa orang kesatria untuk dia bawa pergi. Dia buru-buru memacu kudanya untuk berlari di tengah malam ini. Kemudian tanpa sengaja, Abraham bertemu dengan Henzo yang juga akan pergi ke akademi.
Mereka pun berhenti di pertengahan hutan, mereka menyisir pemandangan sekitar nan gelap gulita.
"Valencia menyuruh kita untuk melewati jalan ini, katanya kita akan lebih cepat sampai kalau kita menggunakan jalan ini," tutur Henzo.
"Ya sudah, ayo cepat kita lewat jalan yang diberi tahu Valencia. Aku yakin Valencia telah menyiapkan sesuatu di jalan ini."
Dan memang benar, di jalan tersebut Valencia sudah membuka pentagram teleportasi untuk mereka. Tanpa berpikir panjang, mereka menginjak pentagram tersebut. Momen yang sangat mengejutkan, mereka tiba di akadi dalam sekejap seusai menginjak pentagram teleportasi milik Valencia.
"Apa itu barusan? Kita lebih cepat sampai di akademi melewati cahaya aneh itu," bingung Henzo.
"Mari kita tanyakan nanti kepada Valencia."
Mereka lekas pergi ke tempat Valencia berada, di sana gadis itu telah berkumpul bersama yang lain. Ditambah lagi ada Leano dan Sammy untuk membantu pencarian Devina.
"Valencia! Bagaimana? Ke mana mereka membawa Devina?" tanya Abraham panik.
"Paman tampan, Paman Kaisar, kalian sudah datang. Devina dibawa ke tempat yang sangat jauh. Mereka menggunakan artefak sihir untuk menculik Devina," jelas Valencia.
Valencia menganggukkan kepalanya. "Benar, artefak sihir yaitu benda-benda yang punya kekuatan sihir. Mereka memakai benda yang bisa mengeluarkan sihir."
"Lalu bagaimana sekarang? Bagaimana cara kita menyusul Devina?"
Valencia terdiam sejenak, dia sedang berkonsentrasi menemukan jalan menuju tempat persembunyian musuh membawa Devina. Valencia mencoba melakukan beberapa trik sihir yang mungkin bisa membawanya langsung ke tempat Devina.
"Aku tidak bisa membuat pentagram teleportasi ke tempat itu, sepertinya kita harus melakukan perjalanan ke tempat itu," ucap Valencia.
Abraham dan Henzo tidak paham terhadap apa yang dijelaskan Valencia. Hanya mereka di sini yang tidak tahu apa pun soal sihir.
"Pentagram teleportasi? Apa yang sebenarnya kau bicarakan sejak tadi?"
Valencia menepuk keningnya, dia lupa kalau Abraham dan Henzo tidak tahu apa-apa soal ini.
__ADS_1
"Paman, lingkaran yang bergambar bintang yang Paman injak sebelum datang ke sini itu disebut pentagram teleportasi. Itu adalah sihir, sihir perpindahan tempat secara cepat," jelas Valencia singkat.
"Sihir? Siapa yang pandai menggunakan sihir?"
Serentak kelima pria yang berada di sisi Valencia menunjuk ke arah Valencia.
"Valencia pandai menggunakan sihir?"
Valencia tersenyum polos sambil mengangguk. "Benar, nanti biar aku jelaskan setelah Devina ditemukan."
"Baiklah, tapi ada di mana Devina saat ini?" tanya Abraham tidak bisa lagi tenang memikirkan nasib putrinya.
"Devina dibawa ke hutan keabadian. Hutan yang dipenuhi jebakan dan dipenuhi makhluk berbahaya. Sebaiknya kita tidak usah membawa para kesatria ke sana karena mereka tidak akan bisa bertahan di tempat itu. Apakah Paman ingin pergi bersama kami?"
"Tentu saja, kami berdua harus pergi!"
Kemudian Valencia mengeluarkan dua buah gelang hitam yang diisi sihir perlindungan yang sangat kuat untuk mereka.
"Pakai gelang ini, di sini terdapat sihir perlindungan. Paman juga bisa mengalirkan sedikit sihir ke pedang Paman, setidaknya dengan begini Paman bisa melewati hutan keabadian," tutur Valencia.
"Apakah hutan itu sangat berbahaya?" tanya Henzo.
"Iya, jika Paman bersikap ceroboh, bisa saja Paman pulang tinggal mayat saja. Itulah mengapa aku membuatkan gelang ini supaya Paman bisa pulang dengan selamat. Ingatlah, lawan kita bukan orang sembarangan. Mereka semua pandai dalam sihir."
"Baiklah, aku akan mendengarkan semua perkataanmu."
Selepas itu, mereka menyiapkan segala sesuatu yang perlu mereka bawa. Hutan keabadian yang mereka lewati nanti akan cukup merepotkan. Valencia telah melihat gambaran bagaimana bentuk hutan itu.
"Valencia, seluruh persiapan telah selesai," seru Leano.
"Oke, aku akan segera ke sana."
Valencia mengambil kudanya — Black yang berada di peternakan akademi. Selama dirinya berada akademi, pihak akademi membantu perawatan kuda siswa akademi. Kini Valencia membawanya pergi ke hutan keabadian bersama.
"Lama tidak berjumpa, Black," sapa Valencia mengusap kepala Black.
__ADS_1
Black terlihat senang melihat Valencia datang membawanya untuk pergi bersama.
"Black, kita punya tugas besar, aku harap kita bisa menyelesaikan segera tugas ini. Ayo kita pergi bersama-sama menuju hutan keabadian!"