Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Kesaksian Palsu


__ADS_3

 Valencia melempar pertanyaan kepada seluruh pelayan dan kesatria yang sedari tadi menyaksikan awal mula penyebab Guilla terjatuh di tangga. Namun, karena mereka tidak menyukai Valencia dan juga mereka adalah bawahan Guilla, jadi mereka tidak mau menjawab dengan jujur bagaimana kronologinya. Bahkan mereka tidak segan-segan membuat cerita bohong soal kronologi jatuhnya Guilla.


“Kami memang melihatnya, Tuan Muda, kami menyaksikan keseluruhan kejadiannya. Memang benar, Nona Valencia lah yang memulai pertengkaran lalu beliau dengan sengaja mendorong Nyonya Guilla.”


“Benar, Tuan Muda, kami juga menyaksikannya sendiri, Nyonya Guilla hanya mencoba menegur Nona Valencia yang mengacau di lapangan latihan kesatria. Akan tetapi, Nona Valencia malah menanggapinya dengan tidak baik.”


Valencia sudah menduga hal ini akan terjadi, Guilla telah menyeret semua orang untuk berada di pihaknya. Saat ini Guilla tengah berpura-pura lemah di hadapan Adarian, sekilas penglihatan Valencia menangkap Guilla tengah tersenyum penuh kemenangan karena berhasil memojokkan Valencia. Tetapi, sebenarnya kala itu Guillah lah yang terpojok, Valencia tidak akan melepaskan dirinya dengan mudah.


“Kau dengar itu?! Kau tidak perlu mengelak lagi! Mereka semua bersaksi kalau kau yang mendorong Ibuku. Valencia, kau benar-benar keterlaluan! Apa yang kau lakukan hari ini tidak bisa aku maafkan,” kecam Endry meluapkan kekesalannya.


Valencia menyunggingkan senyumnya. “Aku tidak butuh maaf darimu, aku tidak salah apa-apa dan walaupun aku salah, aku takkan pernah meminta maaf pada manusia hina seperti kalian!” Valencia menekan setiap kata yang terlontar dari mulutnya.


“Semakin hari kau semakin kurang ajar! Tidak peduli apa pun yang kau lakukan di luar sana, tidak peduli apa pun yang kau lakukan hingga berhasil menjadi seorang wanita dengan reputasi luar biasa, tapi jikalau kau membuat masalah di kediaman ini maka tak ada gunanya kau membangun reputasi itu!” murka Adarian.


“Apa yang kau katakan? Aku tidak pernah membangun reputasi baik soal diriku. Mereka saja yang menggadang-gadangkan namaku. Aku menyelamatkan Permaisuri, menyelamatkan Archduke, atau pun menyelamatkan kekaisaran ini dari bencana besar, aku tidak pernah menggunakan itu semua demi memperbaiki reputasiku yang rusak.”


Valencia menapaki anak tangga satu persatu mendekati kerumunan orang-orang yang berada di sekitar Guilla. Tatapan Valencia diselubungi kemarahan tiada batas, emosinya meluap bersamaan aura mematikan nan kuat.


“Grand Duke, padahal aku tadi berniat untuk menanyakan padamu, apa alasan kau mengusir para kesatria wanita yang berada di bawah perintahku?” lanjut Valencia bertanya menekan Adarian.


“Tentu saja itu karena mereka tidak berguna, keberadaan mereka hanya menambah pengeluaran yang tidak penting saja,” jawab Adarian tanpa berpikir panjang.


Valencia melemparkan selembar kertas ke muka Adarian, kertas tersebut ialah surat izin dari Abraham untuknya mendirikan kelompok kesatria khusus wanita. Adarian membaca isi surat tersebut, sejenak dia tak bisa berkata-kata sesaat mendapatkan surat resmi dari Kaisar.


“Kaisar telah memberiku izin untuk mendirikan kelompok kesatria wanita, jadi kau tidak punya hak untuk melarang-larangku dan mengusir kesatria wanita dari kediaman ini. Akan tetapi, karena kejadiannya sudah seperti ini, aku akan membawa mereka keluar dari kediamanmu. Dan lagi aku hanya akan memakai nama belakangmu sampai aku lulus dari akademi. Kau dan wanita jal*ng ini akan bahagia seusai kepergianku.”


Valencia merebut paksa surat itu dari Adarian, ia pun berlalu pergi meninggalkan kerumunan orang yang masih membatu selesai membaca surat resmi dari Kaisar perihal izin pembentukan kelompok kesatria khusus wanita. Namun, ada hal yang lebih mengganggu pikiran Adarian mengenai kalimat terakhir yang diucapkan Valencia.


“Apa maksudmu kau hanya menggunakan nama belakangku sampai kau lulus dari akademi?!” teriak Adarian bertanya.


Valencia terpaksa berputar badan menghadap Adaria, menjeda sejenak langkahnya demi menjawab pertanyaan itu.


“Aku akan keluar dari kediaman ini setelah aku lulus dari akademi, Kaisar sendiri yang akan mengurusnya.”


Adarian tidak percaya dengan apa yang dia dengar, berbeda dengan Guilla dan Endry yang merasa bahagia tatkala mendengar hal itu, Adarian justru bertingkah sebaliknya.


“Kau tidak boleh keluar dari kediaman ini!” teriak Adarian lantang hingga membuat Guilla dan Endry terkejut.


“Kenapa aku tidak boleh keluar dari tempat yang seperti neraka ini? Aku tahu, kau pasti memikirkan reputasimu yang tercoreng bila aku keluar dari kediaman ini. Aku tidak peduli, aku akan tetap keluar!” kukuh Valencia.


“Kalau kau keluar dari kediaman ini, kau mau tinggal di mana lagi? Gelar bangsawanmu akan dicabut dan kau akan hidup sebagai rakyat biasa. Memangnya kau akan tahan dengan itu semua?!”

__ADS_1


“Apa buruknya menjadi rakyat biasa? Lagi pula aku punya banyak uang untuk membeli sebuah gelar. Jadi, kau tidak berhak melarangku!”


Adarian terdiam sejenak sebelum ia kembali bersuara. “Dari mana kau mendapat semua uang itu? Apa yang kau lakukan di belakangku sampai kau bisa mempunyai uang yang jumlahnya tidak terbatas?”


Valencia menghela napas sembari melipat kedua tangan di dada. “Apa kau akan percaya kalau semua uang itu aku dapatkan dari dewa kedamaian? Aku kaya setelah aku mengalami kematian satu kali. Kau paham itu? Jangan berbicara padaku lagi, aku muak mendengar suaramu.”


Setelah berucap demikian, Valencia berlalu pergi meninggalkan Adarian tapi dia berhenti di tengah langkahnya.


“Oh iya, untuk para pelayan dan kesatria yang tadi membuat cerita bohong soal diriku. Tolong lindungi baik-baik leher kalian karena aku tidak tahu kapan pedangku melayang menebas leher kalian,” gertak Valencia serius hingga membuat mereka bergidik ngeri.


Setelah itu, Valencia lekas menghubungi kediaman Henzo. Valencia menjelaskan rincian kejadian tidak mengenakkan di kediamannya. Kemudian gadis itu juga meminta Henzo untuk meminjamkan satu mansion kosong. Mansion kosong tersebut akan dijadikan sebagai tempat berkumpulnya para kesatria wanita.


Tidak sampai satu hari hingga Valencia mendapatkan surat balasan sekaligus pemberitahuan dari Henzo bahwa dia akan meminjamkan satu mansionnya kepada Valencia. Mendapat balasan ini pun Valencia kegirangan, akhirnya dia bisa membawa keluar kelompok kesatria wanita yang dipimpinnya dari kediaman terkutuk ini.


Valencia belum mengumumkan secara resmi mengenai izin resmi dari Kaisar terkait pembentukan kelompok kesatria khusus wanita. Hari ini Valencia akan mengumumkannya kepada seluruh kesatria wanita yang saat ini bersamanya. Tentu saja kabar ini akan menjadi sesuatu yang paling membahagiakan bagi mereka.


"Aku ingin mengumumkan sesuatu kepada kalian," ujar Valencia.


Para kesatria wanita tampak penasaran dengan apa yang hendak diumumkan Valencia. Terlihat dari raut muka mereka bahwa mereka mengharapkan kabar baik dari Valencia. Mereka pun memasang telinga baik-baik supaya tidak salah dengar.


"Aku mendapatkan sebuah surat dari Kaisar." Valencia membuka suratnya lalu memperlihatkan secara gamblang surat tersebut. "Ini adalah surat izin resmi pembentukan kelompok kesatria wanita yang akan dipimpin langsung olehku. Jadi, sekarang kalian sebagai kesatria wanita juga menjadi bagian penting bagi keamanan kekaisaran," ujar Valencia mengumumkan.


Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka dengarkan. Tiada yang lebih membahagiakan selain berita yang kini mereka dengar. Seketika atmosfer sekitar mereka menjadi riuh, setidaknya kesedihan mereka karena masalah kemarin berhasil dituntaskan.


"Untuk hal itu, kalian tidak perlu mengkhawatirkannya karena aku telah meminjamkan satu mansion kosong kepada Archduke Calestine. Beliau dengan senang hati membantu kita, sekarang kalian akan tinggal di sana sementara waktu sampai aku lulus dari akademi."


Nama Archduke Calestine lumayan membuat mereka tidak bisa berkata-kata. Siapa saja tahu bagaimana buruknya reputasi Henzo sehingga para kesatria menjadi terlihat lebih waspada.


"Archduke Calestine?"


Valencia mengangguk cepat. "Benar, apakah ada yang salah? Beliau sangat baik, aku sudah bertemu dengannya saat berada di istana. Kalian tidak perlu mengkhawatirkan rumor buruk soal Archduke Calestine. Apabila beliau berani macam-macam dengan kalian, maka aku sendiri yang akan menghadapinya."


Mereka tidak punya pilihan lain selain mempercayakan sepenuhnya kepada Valencia. Saat ini hanya Valencia lah harapan mereka satu-satunya untuk bertahan di dalam kelompok kesatria.


Pada sore harinya, Valencia pun pergi mengantarkan para kesatria wanita ke mansion yang dipinjamkan oleh Henzo. Di sana sudah ada beberapa orang pelayan laki-laki yang menunggu kedatangan mereka.


"Selamat datang, Nona," sapa para pelayan dengan begitu ramah.


Valencia serta para kesatria wanita tercengang ketika mendapati bahwa mansion yang dipinjamkan Henzo terlampau mewah. Valencia berpikir Henzo hanya meminjamkan mansion sederhana saja, tapi rupanya di luar dugaannya.


"Apakah ini sungguh mansion yang akan dipinjamkan oleh Archduke?" tanya Valencia masih tidak percaya.

__ADS_1


"Benar, Nona, ini merupakan mansion paling sederhana milik Archduke. Mulai sekarang mansion ini menjadi milik Anda," jawab salah seorang pelayan.


"Hah? Apa maksudnya itu? Menjadi milikku? Bukankah aku hanya meminjamnya saja dari Archduke?" bingung Valencia.


"Benar, Nona, mansion ini mulai sekarang adalah milik Anda. Archduke telah mempersiapkan surat kepemilikan mansion dan menyatakan bahwa mansion ini telah resmi menjadi milik Anda."


Valencia terkejut bukan main, tapi ini bukan hal yang buruk bagi mereka. Hanya saja Valencia tidak menyangka Henzo memberikan mansionnya secara gratis padanya.


"Tampaknya Archduke sangat kaya sampai memberiku sebuah mansion mewah tanpa perhitungan terlebih dahulu," gumam Valencia.


"Nona, sebenarnya hubungan seperti apa yang Anda miliki dengan Archduke sampai beliau memberi Anda sebuah mansion mewah?" bisik Luana bertanya.


"Aku tidak bisa menjawabnya sekarang, kalian akan tahu nanti setelah aku lulus dari akademi."


Para pelayan pun memandu mereka masuk ke dalam mansion. Mereka tiada henti terperangah takjub melihat setiap detail mansion yang dikelilingi benda berharga tinggi. Mulai dari patung hingga pajangan yang bernilai ratusan sampai ribuan koin emas. Dari sini Valencia langsung tersadar akan satu hal.


"Ternyata Archduke lebih kaya dari diriku yang sekarang."


Begitulah yang dipikirkan Valencia, masih ada seseorang yang punya lebih banyak uang darinya. Setelah para pelayan menunjukkan masing-masing ruangan hingga jumlah paviliun di mansion tersebut, para kesatria wanita langsung bisa tinggal di sana.


Mereka bisa berlatih di lapangan latihan yang telah disediakan. Di sana telah dilengkapi oleh fasilitas mewah yang tidak pernah mereka temukan di kediaman Grand Duke Allerick. Tidak heran jika seluruh bawahan Henzo mempunyai kemampuan berpedang yang bagus dikarenakan mereka difasilitasi oleh fasilitas terbaik.


"Kalian di sini dulu sementara waktu, aku akan sering mengunjungi kalian. Latihanlah sesuai apa yang pernah aku ajarkan sebelumnya. Kalau ada keluhan, kalian bisa menyampaikannya kepada para pelayan yang ada di sini," tutur Valencia.


"Maaf, Nona, apakah Anda akan kembali ke kediaman Grand Duke?" tanya seorang bawahannya.


"Ya, aku akan kembali ke sana karena ada beberapa hal yang perlu aku urus terkait masalah yang terjadi tadi siang. Besok aku akan kemari lagi melihat kalian."


Selepas itu, Valencia kembali lagi ke kediaman Grand Duke Allerick. Gadis muda itu ingin menyelesaikan masalah dengan orang-orang yang telah menyinggungnya. Setiba di mansion, Valencia bertemu dengan Sean di wujud aslinya.


"Oh, Sean. Aku pikir kau tidak akan kembali lagi," ucap Valencia.


"Kalau aku bisa, aku juga tidak akan mau kembali lagi karena mengawasimu itu sangat merepotkan," ketus Sean.


Sean memang sudah begitu lelah menghadapi Valencia, dia seringkali merengek kepada Davey agar tugas pengawasannya segera diakhiri. Akan tetapi, Davey tidak mengabulkan keinginannya dan memaksa Sean untuk terus berada di sisi Valencia sampai hukuman Valencia berakhir.


"Ya sudah, kau kembali lagi saja ke alam akhirat, aku juga tidak pernah meminta pengawasan. Lebih baik aku bekerja sendiri saja daripada ditemani oleh pria pemarah sepertimu."


"Kau benar-benar tidak tahu terima kasih! Padahal tanpa diriku kau tidak akan bisa menangani masalahmu sendiri! Kau selalu saja mencari keributan di mana pun kau berada. Apa kau tidak sadar dengan apa yang kau lakukan itu?"


Sean terus mengomeli Valencia, tapi gadis itu tidak mempedulikan omelan Sean. Pria itu memang suka mengomel, jadi Valencia menganggap hal itu sebagai sebuah kebiasaan yang patut diabaikan. Akan tetapi, anehnya, semakin diabaikan maka Sean akan semakin murka dan cerewet. Terkadang Valencia terpaksa menutup telinga kala mendengarkan ocehannya yang panjang setiap waktu.

__ADS_1


"Bell, kenapa kau malah mengabaikanku?!" marah Sean menggebu-gebu.


__ADS_2