
Valencia tersenyum, tapi itu bukan senyum biasa melainkan senyum yang menyembunyikan rasa sakit dan keputusasaan mendalam. Klarybell telah memberinya kesempatan untuk berbicara dengan dua orang yang menjadi sumber penderitaannya selama hidup.
Adarian dan Helen juga sangat kaget mendengar Valencia kembali memanggil mereka dengan sebutan Ayah dan Ibu. Semenjak Valencia dirasuki Klarybell, mereka belum pernah mendengarkan putri mereka memanggil seperti demikian.
"Omong kosong apa yang kau bicarakan? Kau sudah mati? Jelas-jelas kau sedang berdiri di hadapan kami. Jangan membicarakan sesuatu yang tidak masuk akal," bantah Adarian secara tegas.
"Kau harus menarik lagi persetujuanmu sebagai anak angkat Archduke Calestine. Apa kau tidak pernah mendengar rumor seberapa menakutkannya beliau? Kau sekarang sedang masuk ke kandang singa, Valencia!" ujar Helen.
Valencia tertunduk, kedua tangannya meremas gaunnya.
"Hahaha. Jadi, itu yang kalian khawatirkan? Kalian sedang berlagak menjadi orang tua yang baik? Kalian benar-benar melupakan semua perbuatan kalian padaku?"
Valencia menegakkan kepalanya, air mata telah mengucur deras di kedua sudut matanya. Yang menangis ialah Valencia, bukan Klarybell. Gadis itu melepaskan seluruh kesedihan selama masa hidupnya.
"Jangan membuatku tertawa, kalian mengabaikanku selama ini. Haruskah aku bertahan di rumah yang aku anggap seperti neraka? Ada di mana kalian saat aku sakit? Ada di mana kalian saat aku sekarat? Bahkan, ketika aku mati pun kalian tidak peduli. Kalian membiarkan aku sendirian menghadapi setiap perundungan di kediaman ini."
"Memangnya aku salah terlahir sebagai perempuan? Jika aku boleh meminta, aku ingin dilahirkan sebagai laki-laki agar kalian menyayangiku. Apakah aku berdosa menjadi seorang perempuan? Aku melakukan berbagai hal untuk menarik perhatian kalian. Aku jatuh dari tangga, tenggelam di danau, aku mengiris tanganku, dan terakhir aku mencoba untuk bunuh diri. Apa kalian menaruh rasa peduli padaku?"
Hening. Valencia meluapkan perasaannya kepada Helen dan Adarian. Dia meneriakkan seluruh penderitaannya dengan derai air mata yang tak terhentikan.
"Ayah, Ibu, aku hanya ingin dicintai, aku ingin disayangi seperti anak pada umumnya. Apabila kalian melahirkanku hanya untuk menyiksaku, lebih baik kalian bunuh aku. Aku tidak butuh dunia bergelimang harta, aku hanya butuh cinta kalian. Tolong berhentilah menyakitiku, aku mohon ... aku sudah lelah bertahan dengan semua ini."
Para pelayan dan kesatria yang kebetulan berada di sana mendadak merasakan pedih di hati mereka. Namun, perasaan Valencia lebih teriris. Di saat dia mati pun, ia masih dibayangi oleh penderitaannya.
"Ayah, apa yang sudah aku perbuat kepada Ayah? Kenapa Ayah hanya menyayangi Endry? Kenapa Ayah lebih menyayangi Linnea dibanding aku yang anak kandung Ayah sendiri? Apakah aku pernah menyakiti Ayah? Apakah Ayah pernah sekali saja melihatku dengan penuh kasih sayang? Ayah, aku ini anak yang berdosa, ya ...."
"Lalu Ibu, kenapa Ibu begitu membenciku? Ibu selalu menyalahkanku karena Ayah berselingkuh dari Ibu. Padahal aku tidak tahu apa-apa, aku lahir juga kehendak dari ibu sendiri. Ibu, aku ingin Ibu memelukku sekali saja, tapi apa pernah Ibu melakukannya? Tolong jangan membenciku, Ibu, aku tidak salah apa-apa. Aku ingin Ibu bahagia, aku tidak ingin dilahirkan jika aku menjadi sumber penderitaan Ibu."
Valencia terisak, matanya panas dipenuhi bulir air mata yang tak kunjung kering. Helen dan Adarian terpaku, curahan hati Valencia sesaat menjadi perasaan memberatkan bagi mereka. Putri mereka telah melalui banyak hal untuk bertahan selama ini.
"Jadi, aku mohon, tolong jangan larang aku menjadi anak angkat Archduke Calestine. Aku hanya ingin keluar dari neraka ini, aku tidak mau lagi menderita karena keegoisan kalian. Ayah, Ibu, tolong biarkan aku pergi."
Valencia membungkukkan badannya, air mata berjatuhan ke lantai. Tanpa disadari, ternyata Henzo sudah berada di balik pintu sedari tadi. Dia mendengar seluruh perkataan Valencia yang menusuk sanubari.
__ADS_1
"Grand Duke, aku pikir sudah cukup sampai di sini," ujar Henzo masuk ke dalam ruangan.
Valencia menegakkan badannya, tapi ketika itu pula ia kehilangan keseimbangan. Untung saja Henzo datang dan langsung menumpu badan Valencia yang nyaris menghantam lantai.
"Valencia, kau sudah bertahan selama ini. Sekarang kau tidak perlu menanggung beban berat di punggungmu," tutur Henzo.
"Terima kasih, Paman."
Valencia tersenyum, sebuah senyum tulus yang tidak pernah dilihat Henzo selama mengenal Valencia. Ya, itu merupakan senyum terakhir dari si pemilik tubuh. Dia menghilang tepat sesudah mengucapkan terima kasih kepada Henzo.
Selepas itu, Valencia tak sadarkan diri di dalam rengkuhan dekapan Henzo.
"Bawa Valencia keluar dari sini, sepertinya dia sudah cukup lelah," perintah Henzo ke salah satu bawahannya.
"Baik, Yang Mulia."
Helen hendak mengejar Valencia ke luar, tapi buru-buru langkahnya dicegat oleh Henzo.
"Grand Duchess, kau sudah mendengarnya bukan? Tolong jangan libatkan lagi Valencia ke dalam masalah rumah tanggamu."
"Yang Mulia, tidak bisakah Anda membatalkan adopsi Valencia? Bagaimana pun dia adalah putri saya, Anda tidak bisa seen—"
"Kau baru mengakui Valencia sebagai putrimu? Apa kau merasa menyesal sekarang? Kalian benar-benar membuatku gila!"
Henzo marah besar, atmosfer ruangan Adarian tak lagi tenang. Dia kini menarik pedangnya dan menodongkan ke arah Adarian.
"Grand Duke, jangan pernah memintaku untuk membatalkan adopsi Valencia. Gadis itu sudah cukup menderita di kediaman ini. Bagaimana bisa kalian membiarkan gadis sekecil itu bertahan di tengah badai derita? Kalian sepertinya sudah tidak waras."
Henzo menyarungkan kembali padanya, entah harus bagaimana lagi cara untuk menyadarkan Adarian dan Helen.
"Yang Mulia, saya mohon biarkan saya berbicara sekali lagi dengan Valencia. Dia putri saya, saya yang melahirkannya. Saya mohon—"
"Grand Duchess, siapa saja bisa melahirkan anak, tapi tidak semua orang bisa menjadi orang tua. Kau melahirkannya, bukan berarti kau bisa menjadi Ibunya. Kau paham maksudku?" tekan Henzo.
__ADS_1
Helen mengurungkan niatnya, ia melihat bayangan perlakuan buruk yang telah dia lakukan terhadap putrinya sendiri. Adarian pun kini terombang-ambing oleh perasaan rumit yang tak ia mengerti.
"Karena permintaan Kaisar, aku tidak akan membunuh kalian berdua." Henzo memberi tatapan isyarat ke seorang kesatrianya. Lalu kesatria itu bergegas membawa masuk sebuah peti.
"Aku telah menghancurkan paviliun kediaman Valencia, jadi ini adalah uang ganti rugi." Kesatria membuka isi peti yang rupanya diisi penuh oleh koin emas. "Tidak hanya ganti rugi paviliun, tapi ini juga ganti rugi uang yang kau keluarkan selama menampung Valencia. Aku harap kau paham posisimu. Sekarang Valencia adalah putriku."
Adarian dan Helen tak memberi respon, mereka masih tenggelam di ombak perasaan yang menyesakkan.
"Baiklah, aku anggap kalian mengerti. Aku pamit undur diri dan juga jangan pernah lagi kalian menampakkan batang hidung kalian di hadapan putriku," peringat Henzo meninggalkan ruangan.
***
Valencia telah tiba di kediaman Henzo, saat ini dirinya masih terlelap di kamar yang telah disediakan. Kamar mewah dengan desain yang sempurna. Seluruh barang yang terpajang di sana berharga sangat mahal. Siapa pun pasti akan takjub melihat kamar Valencia kala itu.
Valencia tiba-tiba membuka mata, kepalanya pusing dan matanya sembab akibat jiwa si pemilik tubuh yang menangis tiada henti. Sekarang jiwa Valencia tak lagi ada di tubuh tersebut.
"Sial! Menampung dua jiwa di satu tubuh rupanya amat memberatkan. Untung saja Valencia tidak terlalu lama berada di tubuh ini," gumamnya.
Tatkala Valencia menolehkan kepada ke kiri, ia dikagetkan oleh jiwa si pemilik tubuh yang rupanya belum berangkat ke surga.
"Kenapa kau masih ada di sini? Apa urusanmu masih belum selesai?"
Jiwa Valencia menggeleng. "Tidak, Yang Mulia, saya sudah cukup lega setelah meluapkan perasaan ke mereka. Saat ini saya hanya ingin mengucapkan terima kasih."
"Terima kasih? Untuk apa? Ini adalah tubuhmu, kau tidak perlu mengucapkan terima kasih."
Jiwa Valencia mendadak saja memeluk badannya.
"Terima kasih karena telah berusaha membalaskan dendam saya. Anda selalu berupaya mengeluarkan tubuh ini dari buruknya masa lalu saya. Terima kasih, Yang Mulia, dengan begini saya bisa pergi dengan tenang."
Perlahan jiwa Valencia lenyap bersamaan butir cahaya yang berterbangan di udara.
"Semoga Anda dilimpahi kebahagiaan dan saya harap Anda bisa menemukan cinta lalu paham bagaimana caranya mencintai orang lain."
__ADS_1
Valencia membatu di atas tempat tidur, ia bahkan belum sempat menjawab perkataan si pemilik tubuh.
"Cinta kah? Cinta itu apa? Bagaimana rasanya mencintai seseorang? Aku tidak tahu, karena tak ada satu pun orang yang pernah mengajariku tentang apa itu cinta."