Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Senjata Sihir


__ADS_3

Valencia membawa berita membahagiakan bagi seluruh pihak kerajaan dan kekaisaran. Semua gadis yang diculik telah dikembalikan ke tempat asal mereka masing-masing. Akan tetapi, tidak sedikit dari orang tua mereka yang menerima berita duka atas kematian anak-anak mereka. Tentu saja Valencia sedikit merasa bersalah karena terlambat menyadari adanya penculikan oleh lab devil.


Seluruh bahan penelitian atau eksperimen di laboratorium lab devil disita pihak Kekaisaran Alegra. Namun, ada satu yang tidak diserahkan kepada pihak istana yaitu pistol sihir serta beberapa senjata lainnya yang sebelumnya ditemukan oleh Leano.


"Jumlah pistol sihirnya sekitar tiga ratus lima puluh buah, busur sihir tiga ratus dua puluh, tombak sihir seratus tujuh puluh, dan pedang sihir lima ratus dua puluh lima buah. Itu adalah data keseluruhan dari jumlah senjata yang ditemukan, Nona," jelas Luana.


Valencia tersenyum miring, dia mendapatkan harta karun yang cukup berguna di laboratorium tersebut.


"Luana, ambil satu pedang untukmu," ucap Valencia.


"Eh? Nona, apa Anda serius? Ini kan pedang sihir. Saya rasa saya tidak pantas menerimanya," tutur Luana merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa. Kau pilih satu pedang untukmu, bagaimana pun kekaisaran ini butuh senjata yang lebih kuat untuk menaklukkan portal."


Dengan ragu-ragu, Luana mengambil satu buah pedang. Perasaannya sangat berbeda saat menyentuh pedang tersebut.


"Rasanya menyenangkan, bukan? Senjata sihir berbeda dari senjata pada umumnya. Siapa sangka kalau lab devil menyiapkan begitu banyak senjata untuk menghancurkan benua ini."


Luana mengangguk senang, ada sihir terselubung di balik pedang yang ia miliki sekarang.


'Tampaknya nanti aku harus menjadikan benua ini menjadi benua sihir seperti Mihovil. Pada kenyataannya, sihir memang diperlukan untuk menghadapi bahaya seperti saat ini,' batin Valencia.


Setelah mengecek keseluruhan senjata tersebut, dia juga membagikan beberapa untuk kesatria wanita lainnya. Lalu di tengah-tengah itu, Valencia berulang kali mendengar suara ledakan dari lapangan latihan pribadi Henzo. Valencia akhirnya harus pergi memeriksa sendiri apa gerangan yang sedang terjadi.


"Astaga, Ayah, apa yang terjadi di sini?"


Alangkah terkejutnya Valencia menemukan lapangan yang luluh lantak akibat sihir Henzo. Sebelumnya pada saat pemberantasan monster nyamuk juga dia mengamuk sesuka hati hingga merusak beberapa fasilitas umum di ibu kota. Walau begitu, Henzo mengganti kembali seluruh fasilitas tersebut menggunakan sejumlah uang.


"Aku sedang mencoba berlatih menggunakan sihir. Aku masih belum terbiasa memakai sihir sebesar ini," jawab Henzo.


Valencia sempat heran, artefak sihir milik Henzo sepertinya mengandung sihir yang lebih besar dari dugaannya. Bahkan, sihir tersebut bisa dialirkan ke dalam tubuh secara berkala selayaknya yang ia saksikan detik itu.


'Tampaknya kemampuan Ayah yang melebihi manusia biasa mempengaruhi artefak sihir itu sendiri,' pikir Valencia.


Valencia membuang napas kasar, lalu ia pun memasang sihir penghalang di sekitar lapangan tempat Henzo latihan.


"Sekarang Ayah bisa latihan tanpa memikirkan apa-apa karena aku sudah memasang penghalang," kata Valencia.


"Oh, benarkah? Terima kasih, aku akan berlatih sepuas hati."


Henzo terlihat girang dan bersemangat, ia melanjutkan kembali latihannya. Sedangkan Valencia bermaksud untuk pergi ke istana menyerahkan sejumlah senjata sihir untuk Abraham.


"Aku harus memberikan sebagian senjata ini untuk pertahanan istana. Terlebih lagi, Rudolf bajing*n itu berniat menghabisi nyawa kedua orang tuanya."

__ADS_1


Setibanya di istana, kedatangan Valencia disambut hangat secara langsung oleh Abraham dan Linita. Mereka berdua sempat heran melihat Valencia datang menggunakan kereta kuda. Biasanya gadis itu menunggang kuda sendiri ke istana.


"Tumben sekali kau menggunakan kereta kuda," ujar Abraham.


"Sebenarnya kaki Black sedang terkilir karena kemarin dia tidak sengaja terperosot ke dalam lubang," jelas Valencia.


"Oh pantas saja, lalu kotak apa yang diangkut oleh kesatria itu?"


"Saya akan menjelaskannya. Begini, Paman, Bibi, kotak-kotak ini berisi senjata. Ini bukanlah senjata biasa, melainkan senjata sihir. Saya mengambil seluruh senjata ini dari markas laboratorium milik lab devil."


"Senjata sihir?"


Valencia mengangguk, ia memberi isyarat kepada kesatrianya untuk membuka kotak tersebut.


"Ini adalah senjata sihir." Valencia mengambil salah satu pistol. "Anda pastia belum pernah melihat senjata ini. Sekarang saya akan tunjukkan cara penggunaannya."


Valencia memusatkan bidikannya ke luar jendela. Selepas itu, ia melepas pelatuknya dan suara tembakan pistol menggema di ruangan. Sungguh mengejutkan, peluru sihir di pistol tersebut mengenai sebuah pohon dalam jarak yang amat jauh.


Abraham dan Linita tercengang ketika menyaksikan Valencia mempraktekkan penggunaan pistol sihir. Mereka belum pernah seumur hidup melihat adanya senjata seperti pistol tersebut.


"Luar biasa! Apakah senjata yang lain juga bekerja seperti pistol itu?" tanya Abraham.


"Benar, Paman. Daya jangkau serangannya lebih jauh dari senjata biasa dan daya ledaknya pun juga lebih besar. Sekarang saya menyerahkan sebagian senjata ini kepada pihak istana. Lalu saya harap Paman dan Bibi bisa mempunyai satu senjata untuk melindungi diri," kata Valencia.


"Aku tidak pandai menggunakan pistol," ujar Linita.


"Nanti saya akan ajarkan Bibi cara menggunakannya."


Abraham dengan senang hati menerima pedang pemberian Valencia. Bersamaan saat itu, Devina juga datang ke ruangan tempat Valencia berada.


"Valencia!" seru Devina sumringah.


"Devina, lama tidak berjumpa!" Mereka saling berpelukan.


Kesibukan di antara keduanya membuat mereka jadi sulit mengatur pertemuan. Bahkan, mereka juga belum bertemu dengan Rachel selama beberapa waktu belakangan ini.


"Apa yang membawamu kemari?" tanya Devina.


"Ada sesuatu yang harus aku serahkan ke pihak istana." Valencia menjangkau sebuah pedang yang berbalut kain. "Ini pedang untukmu," kata Valencia memberikan pedang itu kepada Devina.


"Untukku?"


"Iya, untukmu. Perlu kau ketahui, ini adalah pedang sihir. Kau bisa menjadi kesatria yang hebat kalau menggunakan pedang ini."

__ADS_1


"Wah." Devina tersenyum lebar mendapatkan pedang dari Valencia.


Abraham dan Linita selalu heran melihat putrinya yang hanya menunjukkan senyum ramah kepada Valencia.


"Valencia, aku punya pertanyaan. Bisakah kau mengabulkannya untukku?"


Devina menggenggam kedua tangan Valencia dengan binar mata penuh harap.


"Apa yang kau inginkan?"


"Bisakah kau mengizinkanku untuk bergabung ke dalam kelompok kesatria wanitamu?"


Valencia menoleh ke arah Abraham dan Linita, sepertinya mereka berdua menyerahkan keputusan tersebut ke tangan Valencia.


"Baiklah, kau boleh melakukannya."


"Benarkah?"


"Ya, lagi pula aku pernah menjanjikan padamu ketika kita masih belajar di akademi."


Devina tampak gembira sekali, ia tak kuasa menahan kesenangan yang dia peroleh hari ini. Sungguh, impiannya sebagai seorang kesatria berada di depan mata.


"Lalu, Paman, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan."


Raut muka Valencia menjadi lebih serius dari sebelumnya.


"Apa yang ingin kau bicarakan?"


"Tolong izinkan saya mengubah daratan benua Solvey menjadi sebuah benua sihir seperti Mihovil. Dengan begitu, korban yang mati di medan penaklukan portal juga akan berkurang. Bisakah Anda mengizinkannya?"


Abraham tak kuasa menahan ekspresi kagetnya, begitu pula dengan Linita dan Devina. Mereka baru saja mendengar sesuatu yang menakjubkan.


"Apa yang kau katakan? Bagaimana caranya mengubah benua ini menjadi benua sihir?" Abraham benar-benar terlihat syok.


"Saya bisa melakukannya, tapi bukan sihir yang bisa digunakan langsung di tubuh manusia. Melainkan sihir yang dialiri ke dalam senjata biasa seperti senjata sihir yang saya bawa hari ini," papar Valencia.


"Apa kau yakin bisa melakukannya?"


Valencia menatap lurus mata Abraham, tersirat keyakinan penuh dari Valencia.


"Ya, saya yakin bisa melakukannya. Saya hanya butuh persetujuan dari Anda."


Abraham menghela napas panjang, kepalanya seolah-olah baru saja diguncang angin kencang.

__ADS_1


"Baiklah, lakukanlah apa yang ingin kau lakukan. Jika itu untuk kedamaian benua ini, maka aku tidak bisa melarangmu."


__ADS_2