Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Pengurangan Kadar Racun


__ADS_3

Valencia memanipulasi bentuk luka di kaki Count Terano, dia pun menyeret tubuh Count Terano menuju pemukiman penduduk desa. Di sana Reibert telah membereskan sisa-sisa bawahan Count Terano, tidak ada satu pun dari mereka yang tinggal.


“Apakah sudah selesai semuanya? Tidak ada lagi yang perlu dibereskan?”


Reibert menengok ke arah datangnya Valencia, dia mematung bisu sesaat melihat kondisi tubuh Count Terano yang memprihatinkan. Begitu pula dengan para kesatria yang tercengang sekaligus bergidik ngeri saat melihat darah yang berceceran di sepanjang jalan.


“Nona, apa yang terjadi kepada Count Terano? Mengapa kondisi tubuhnya sangat memprihatinkan?” tanya Reibert.


Valencia menaruh tubuh Count Terano di bawah kaki Reibert. “Sebenarnya tadi dia lari ke tengah hutan lalu dia diterkam oleh binatang buas. Untung saja aku tiba tepat waktu, jadi aku bisa menyelamatkannya walaupun kedua kakinya sudah tercabik taring binatang buas,” jelas Valencia berbohong lagi.


Reibert tidak meragukan penjelasan Valencia, dia justru percaya sebab melihat dari luka yang didapatkan Count Terano sangat jelas kalau pria tua itu memang diterkam binatang buas. Valencia telah mempersiapkannya sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan kecurigaan.


“Ya sudah, Anda taruh saja tubuhnya di sini biar bawahan saya menanganinya,” ucap Reibert.


Ketika Valencia hendak berbalik, tiba-tiba seorang anak kecil menghampirinya, anak kecil itu sama dengan anak yang kemarin mendatanginya. Sekarang dia juga datang kembali membawa ekspresi cemas di mukanya.


“Nona, tolong Ayah dan Ibu saya, mereka berdua tidak sadarkan diri,” lirih anak tersebut berderai air mata.


“Ya ampun, bukankah kau anak kecil kemarin? Aku benar-benar lupa. Sekarang bawa aku ke tempat kedua orang tuamu.”


Anak kecil itu pun memandu Valencia ke rumahnya, Reibert juga mengikuti Valencia dari belakang. Setibanya di rumah si anak, Valencia langsung memeriksa kondisi sepasang suami istri yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidur. Kondisinya sungguh memprihatinkan, tubuh mereka tak berhenti menggigil, muka mereka pucat, dan suara napas yang terputus-putus.


Valencia meraba-raba denyut nadi mereka, dia mendeteksi adanya racun yang sedang bereaksi. Valencia mencoba memeriksanya sekali lagi untuk memastikan apakah itu benar racun atau bukan.

__ADS_1


“Reibert, bisakah kau memanggil dokter dari ibu kota kemari? Mereka berdua terinfeksi racun, aku tidak akan bisa mengatasinya karena aku bukan seorang dokter.”


Reibert terkejut mendengar adanya racun. “Baiklah, saya akan memanggil dokter segera.” Reibert bergegas keluar dari rumah, dia memerintahkan salah seorang bawahannya untuk membawa dokter dari ibu kota.


Si anak menunggu dengan penuh kegelisahan, dia takut sesuatu yang buruk terjadi kepada kedua orang tuanya. Dia tiada henti menangis tersedu-sedu, bayangan buruk terus saja menghantuinya sedari kemarin.


“Apakah sebelum sakit Ayah dan Ibumu mengonsumsi sesuatu?” tanya Valencia.


Anak kecil itu mengangkat kepalanya. “Sebenarnya, Ayah dan Ibu meminum minuman yang sebelumnya diberikan Count Terano. Saya tidak meminumnya karena saat itu saya tidak haus, tapi seusai Ayah dan Ibu meminumnya, mereka langsung jatuh sakit,” jelasnya.


Lagi-lagi ini karena Count Terano, Valencia tidak bisa menahan kemarahannya, tapi untuk saat ini kondisi orang tua si anak lebih penting dibanding kemarahannya. Valencia pun mengusap puncak kepala anak itu, dia mencoba menenangkannya.


“Jangan khawatir, aku pasti akan menyelamatkan Ayah dan Ibu. Lalu apakah hanya kedua orang tuamu yang meminum air itu? Apakah ada warga lain yang ikut meminumnya?”


Anak itu pun menganggukkan kepala dan menjawab, “Ada, Nona, sekarang ada banyak orang yang sedang terbaring lemah dalam kondisi yang sama. Benarkah Anda bisa menyelamatkan kedua orang tua saya?”


Valencia beranjak keluar rumah, situasi ini benar-benar menguras emosi dan pikirannya.


‘Aku bisa saja menuruni kadar racun, di tubuh mereka tapi jika aku menggunakan sihir di sini maka akan menimbulkan keributan. Sebaiknya aku gunakan cara biasa saja, aku bisa menurunkan kadar racun hanya dengan menggunakan beberapa bahan,’ pikir Valencia.


Valencia lekas memeriksa kondisi warga yang lain, kondisi mereka sama secara merata. Mereka berada di ambang kematian akibat racun berbahaya tersebut. Setelah itu, Valencia bergegas mencari sejumlah tumbuhan herbal untuk dia jadikan sebagai bahan pembuatan ramuan penurun kadar racun di tubuh korban keracunan.


Valencia berhasil mendapatkan bahan utama pembuatan ramuan penurun kadar racun, dia segera meracik ramuannya. Tangan Valencia bergerak dengan sangat cepat, dia mengerjakannya sendirian tanpa bantuan orang lain.

__ADS_1


‘Aku telah mengikuti langkah-langkah pembuatan ramuan ini dengan benar sesuai yang pernah diajarkan padaku. Sebenarnya ini bukan bidangnya, tapi aku harus melakukannya demi memperkecil resiko kematian,’ batin Valencia.


Ramuannya selesai lebih cepat dari dugaan, langsung saja Valencia menyuruh para korban meminum ramuan tersebut sementara menunggu datangnya dokter. Ramuan itu bekerja lebih cepat, sekarang kondisi para korban jauh lebih baik. Valencia cukup lega, setidaknya muka mereka tidak sepucat sebelumnya.


Selang satu jam, Reibert datang membawa seorang dokter dan dokter tersebut adalah Sammy. Dia datang bersama Leano, koki yang dulu pernah berurusan dengan Valencia pada saat bayangan hitam menyerangnya. Sammy bergerak memeriksa satu persatu kondisi korban, dia cukup kaget menemukan denyut nadi mereka perlahan stabil. Namun, masih ada racun yang tersisa di tubuh mereka dalam jumlah yang tidak sedikit.


“Reibert, apakah ada seseorang yang memberi mereka obat penurun kadar racun?” tanya Sammy kepad Reibert.


“Memangnya ada apa? Apa kau menemukan sesuatu yang janggal?” celetuk Leano.


“Ya, seharusnya berdasarkan apa yang kau katakan, kondisi mereka sangat parah tapi sesudah aku periksa baik-baik, justru kadar racunnya menurun serta kondisi mereka perlahan stabil. Aku hanya perlu memberikan penawar racun untuk menghilangkan sisa racunnya,” jelas Sammy.


Valencia tiba-tiba datang ke tengah pembicaraan mereka membawa botol sisa ramuan yang tadi. Pandangan Valencia mengedar dan menetap fokus terhadap Sammy, dokter yang baru dibawa Reibert dari ibu kota. Entah mengapa melihat mereka bertiga mata Valencia mendadak silau sebab mereka sangat tampan.


“Oh, Leano! Kita bertemu lagi,” seru Valencia sumringah.


Senyum Leano melebar, dia menemukan lagi sosok wanita yang tidak mempengaruhi alerginya. Alangkah senangnya hati Leano, beberapa hari ini dia ingin bertemu Valencia tapi terkendala oleh beberapa masalah.


“Valencia, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Leano.


Mereka berdua tampak sangat akrab, mereka bahkan saling memanggil nama dan berbicara secara informal.


“Kalian berdua saling kenal?” tanya Reibert.

__ADS_1


“Ya, dialah wanita yang waktu itu aku maksud, saat aku menyentuhnya alergiku tidak bereaksi sama sekali. Lihat ini,” jawab Leano menyentuh tangan Valencia dan memang benar, alerginya tidak muncul sama sekali.


Sammy terkesiap menyaksikannya seolah alergi Leano benar-benar menghilang ketika menyentuh Valencia.


__ADS_2