
Laboratorium lab devil tiba-tiba memancarkan sinar dan alarm pertanda bahaya pun berdering memecah suasana. Seluruh anggota lab devil terpaksa keluar dari markas untuk memastikan apa gerangan yang terjadi di luar markas. Mereka refleks terkejut mendapati Valencia beserta tujuh orang pria telah mengepung markas mereka.
"Akhirnya kalian keluar juga, aku sudah lelah menahan diriku untuk tidak mengamuk," murka Rexid.
Orang-orang yang keluar dari markas tampak panik melihat Valencia berhasil menemukan tempat persembunyian mereka. Padahal mereka telah melapisi sekitar tempat ini menggunakan sihir. Akan tetapi, itu tidak ada gunanya sama sekali karena mematahkan sihir kecil seperti ini hanyalah masalah mudah bagi Valencia.
"M-Mereka adalah penyihir? Bagaimana bisa ada penyihir di benua Solvey?!"
Valencia menyadari kepanikan di antara mereka.
"Kalian panik? Tenang saja. Anggap ini sebagai hadiah pertemuan dari kami."
Secara brutal, Rexid dan Ivanov mengerahkan sulur sihir mereka hingga menghantam gedung laboratorium. Permukaan tanah pun bergetar akibat serangan mereka. Valencia menonton dari atas seraya mengamati sekitar.
"Tidak bisa dibiarkan terus seperti ini. Cepat panggil Tuan Nolen! Kita takkan sanggup mengatasi mereka."
Salah seorang bawahan Nolen membawanya turun dari lantai atas. Nolen menyadari adanya kekacauan di luar markas. Namun, siapa sangka kalau yang datang kala itu ialah Valencia berjiwa Klarybell.
"Siapa kalian?! Beraninya kalian mengac—"
Seketika tubuh Nolen bergetar hebat, ia merasakan tekanan kuat dari sihir yang tidak asing baginya. Nolen pun menoleh ke arah Valencia, sekilas bayangan Klarybell membayang di tubuh Valencia.
"Klarybell. Wanita itu benar-benar masih hidup."
Valencia mendarat tepat di hadapan Nolen, sebuah senyum yang selalu ditunjukkan Klarybell di masa lalu terukir tipis di bibir Valencia.
"Halo, Nolen. Lama tidak berjumpa."
Valencia menggunakan bahasa benua Mihovil. Tubuh Nolen membeku, hawa dingin menusuk dirinya. Wanita yang dia takuti kini berada tepat di hadapannya.
"Kau Klarybell? Jadi sekarang kau berada di tubuh orang lain? Pantas saja sulit sekali mencari tahu soal dirimu."
Nolen berusaha bersikap santai, meski di dalam hatinya saat ini sedang memanas karena dikejar aura kematian yang dipancarkan oleh Valencia.
"Ah, benar. Aku hidup di tubuh orang lain, tapi jiwaku masih sama. Walaupun tubuh ini punya orang lain, sihirku tidak pernah berubah sama sekali."
__ADS_1
Sekali lagi, Nolen merasakan kengerian luar biasa. Tubuhnya masih bisa merasakan bagaimana ia dulunya terkoyak di dalam kobaran sihir yang meledak-ledak.
"Kau kemari ingin membunuhku lagi? Aku rasa kau takkan bisa melakukannya karena aku bekerja untuk seseorang yang jauh lebih kuat darimu."
"Benarkah itu? Sayang sekali sepertinya kau harus mati lagi hari ini. Aku ini paling membenci seseorang yang mengorbankan orang lain untuk kepentingan egonya. Jangan harap kau bisa lolos dariku."
Valencia menyentuh pundak Nolen, sensasi terbakar perlahan menjalar ke sekujur badannya. Aliran listrik dari telapak tangan Valencia menyalur ke tubuh Nolen. Tidak sempat bagi Nolen melarikan diri, tubuhnya sudah lebih dulu diserang bertubi-tubi oleh sihir Valencia.
"Seharusnya kau diam saja di neraka, kau tidak perlu hidup lagi. Inilah akibatnya kalau kau mencoba mengusikku lagi."
Nolen disengat aliran listrik yang mencabik-cabik dirinya dari dalam.
'Brengs*k! Wanita ini mengunci pergerakanku. Aku tidak akan bisa melawannya kalau begini. Ah, apakah aku akan mati lagi? Tidak! Aku tidak mau mati.'
Valencia berencana untuk segera mengakhiri masalah ini. Dia tahu kalau sesungguhnya Nolen tidaklah berbakat di dalam sihir. Oleh sebab itulah, Nolen selalu menyewa penyihir demi kelangsungan eksperimennya.
Bersamaan kala itu, para penyihir berkeluaran dari tempat persembunyiannya. Mereka mencoba menyelamatkan Nolen, tapi langsung dihadang oleh Reibert dan yang lain.
"Jangan ganggu Valencia, kalian akan berhadapan dengan kami."
"Kau tidak akan bisa membunuhku! Aku akan dihidupkan kembali kalau kau membunuhku lagi," lirih Nolen di tengah rasa sakit.
"Begitukah?" Valencia tersenyum polos. "Kalau seperti itu, sebaiknya jiwamu aku segel saja supaya tidak bisa pergi ke alam baka."
"Apa? Apa yang kau katakan, sialan?! Hei, jawab dul—"
Valencia tidak memberi celah sedikit pun, dia langsung melenyapkan Nolen menggunakan sihirnya. Kemudian bersamaan dengan lenyapnya Nolen, muncul satu gumpalan cahaya beterbangan di sekitar Valencia. Gumpalan cahaya itu pun langsung dimasukkan ke dalam sebuah botol.
"Wah, sekarang kau terjebak di dalam botol ini dan kau takkan bisa ke mana-mana lagi," ucap Valencia mengamati gumpalan cahaya yang perlahan berubah seperti api putih kecil.
"Lepaskan aku!" Gumpalan cahaya itu berbicara. "Dasar gila! Kau tidak bisa memperlakukan aku seperti ini!" teriak Nolen.
"Kau bawel sekali. Kau akan tetap berada di sini karena jika aku membiarkanmu mati begitu saja, nanti pasti kau akan dihidupkan kembali. Jika memang benar seperti itu, maka kau hanya akan merepotkanku saja."
"Klarybell! Wanita gila! Aku tidak peduli apa pun alasannya. Cepat keluarkan aku dari tempat in—"
__ADS_1
Valencia lekas menyimpan botolnya menggunakan sihir. Dia enggan mendengar omelan Nolen sampai akhir. Selepas itu, ia membasmi seluruh bawahan Nolen sampai habis tidak bersisa.
"Tampaknya mereka semua sudah selesai menyingkirkan para penyihir itu."
Valencia melangkah ke luar lalu mengibaskan tangannya menyuruh mereka untuk segera masuk.
"Kalau sudah selesai, masuklah cepat!" panggil Valencia segera dituruti mereka.
Ketika mereka menginjakkan kaki di dalam laboratorium, ketujuhnya langsung dihadapkan oleh perasaan yang tidak karuan. Botol-botol cairan dan jarum suntik eksperimen berserakan di atas lantai. Aromanya pun diselimuti aroma yang tidak mengenakkan.
"Perasaanku tidak nyaman saat berada di sini," kata Ivanov merasakan aura negatif berselimut di laboratorium.
"Wajar saja, mereka menggunakan tempat ini untuk menyiksa manusia," tutur Frintz.
"Lihatlah kemari! Sepertinya para gadis itu dikurung di sini," seru Xeros.
Mereka berkumpul di depan ruangan yang diisi suara rintihan para gadis. Mereka langsung masuk bersama-sama ke dalam sana. Tidak butuh waktu lama sampai mereka menyadari keberadaan para gadis yang dikurung di dalam jeruji besi.
Kondisi mereka menyedihkan, tangan dan kaki mereka dirantai. Bahkan, terlihat jelas kalau mereka tidak diberi makan dengan baik. Sebagian dari mereka berasal dari Alegra dan sebagian besarnya lagi merupakan para gadis yang dilaporkan menghilang di kekaisaran dan kerajaan lain.
"Ayo kita lepaskan mereka," kata Reibert.
Mereka melepaskan para gadis itu dari belenggu rantai. Tidak lupa Sammy langsung memeriksa keadaan tubuh mereka. Untung saja mereka baik-baik saja, tidak ada luka serius yang mereka dapatkan.
"Setelah ini kirim mereka ke masing-masing tempat asal mereka," ujar Valencia.
Para gadis itu menangis bahagia karena Valencia membebaskan mereka. Tiada henti ucapan terima kasih membanjiri Valencia.
"Valencia, ini apa?"
Di saat Leano sedang menggeledah ruangan lain, ia menemukan satu tumpuk senjata yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Senjata itu berbentuk sebuah pistol berwarna perak.
"Astaga, ini adalah pistol sihir!" ucap Valencia.
"Pistol sihir?"
__ADS_1
Valencia mengangguk. "Benar, pistol sihir. Nanti aku akan ajarkan padamu cara menggunakannya. Sekarang kita harus mengutamakan keselamatan para gadis ini dulu."