
Devina tanpa sengaja menyaksikan itu semua. Pedang yang ditikam ke jantung Ayahnya membuat Devina seketika histeris. Tanpa berpikir panjang, Devina langsung menghampiri tubuh Abraham. Perasaannya campur aduk begitu merasakan darah mengucur tiada henti dari celah lukanya.
"Ayah, bangun! Ayah, sadarlah! Aku mohon, bertahanlah."
Suara Devina terdengar bergetar, sedangkan Rudolf di hadapannya hanya menatap dingin dan tidak merasa bersalah seusai mencelakai Ayahnya sendiri. Hatinya telah tertutup seutuhnya oleh kebencian serta hasrat menguasai.
"Teganya kau melakukan ini kepada Ayah! Apa kau lupa siapa dirimu? Apa kau lupa kalau kau adalah anak Ayah dan Ibu?! Beraninya kau malah mengacau di istana. Bahkan, kau mencoba membunuh Ayah," teriak Devina.
"Apa yang kau katakan? Aku tidak pernah menganggap kalian sebagai keluargaku. Aku telah menantikan hal ini sejak lama. Aku harap kalian mati dan aku bisa menguasai Alegra sepenuhnya."
Kala itu Devina sangat marah, dia pun mengambil pedang Ayahnya dan mencoba melawan Rudolf. Namun, nyatanya kemampuan mereka berbeda jauh. Devina bukanlah apa-apa di mata Rudolf.
"Kau takkan bisa menang melawanku, kemampuan berpedangmu sangatlah buruk. Jadi, Devina, lebih baik kau pergilah ke neraka sekar—"
Sebilah pedang tiba-tiba menangkis gagang pedang Rudolf sehingga Devina berhasil selamat dari ujung pedang yang hendak menebas kepalanya.
"Hei, bedeb*h sialan! Lawanmu itu aku. Sekarang kau takkan bisa lari ke mana-mana."
Rexid melesat secepat kilat ke hadapan Rudolf lalu menendang pria itu hingga terpental jauh ke luar ruangan. Rudolf menekan dadanya, rasa sakit menjalar ke sekujur badan.
"Sialan! Tidak aku sangka kau bisa melewati kawanan penyihir dan monster itu."
Rexid melirik ke arah Devina dan Abraham, ia melemparkan satu botol potion ke gadis itu.
"Keluarlah dari sini dan minumkan itu nanti kepada Kaisar. Beliau akan baik-baik saja jika meminum potion itu," ujar Rexid.
"Baiklah."
Beberapa orang yang berada di sana membantu Devina membawa Abraham menjauh. Dia meninggalkan lokasi keberadaan Rudolf supaya Rexid bisa bertarung sesuka hatinya.
"Apa kau sedang mengabaikanku sekarang?"
Rudolf bangkit dari lantai lalu langsung bergerak mengayunkan pedangnya ke Rexid. Namun, Rexid lebih tangkas darinya, dia mampu menahan serangan brutal Rudolf.
"Kau tidaklah sebanding denganku."
__ADS_1
Pertarungan pun terjadi, suara pedang beradu di tengah ruangan luas. Akan tetapi, Rudolf tidak mampu menyeimbangkan kecepatannya dengan Rexid. Sampailah saat di mana Rexid menghantam tubuh Rudolf sampai terhempas dan menembus dinding kaca di belakangnya. Rudolf terlempar ke halaman istana, tubuhnya terasa hancur akibat hantaman sihir Rexid.
"Kau menggunakan sihir? Betapa curangnya itu," lirih Rudolf tidak terima.
"Ini bukanlah soal curang atau tidaknya, tetapi soal menang dan kalah. Kau sudah kalah, Rudolf! Aku akan memenggal kepalamu itu lalu membuatmu sengsara di neraka!" tekan Rexid menggebu-gebu murka.
"Hahaha." Rudolf tertawa lepas, entah mengapa ia tidak terlihat takut kala itu. "Kau tidak bisa membunuhku karena aku sudah pasti akan selamat dari kematian."
Tiba-tiba Elkin muncul entah dari mana, senyum penuh kebanggaan merekah di bibir Rudolf.
"Selamat tinggal, Rexid."
Bersamaan ucapan selamat tinggalnya, keberadaan Rudolf perlahan menghilang dari pandangan Rexid. Elkin membawa Rudolf pergi dari hadapan Rexid.
"Sial! Aku gagal membunuhnya," gerutu Rexid jengkel.
Tidak sampai di sana saja, rupanya Elkin membawa Rudolf ke tengah hutan belantara. Rudolf tampak lega karena dia tidak jadi bertemu alam kematian. Nyawanya diselamatkan, kini ia hanya perlu beristirahat sejenak.
"Untung saja kau tiba tepat waktu, jika kau terlambat sedikit saja, maka mungkin aku bisa mati di tangan Rexid," kata Rudolf.
"Aku rasa sudah cukup sampai di sini saja." Akhirnya, Elkin membuka suara.
"Apa maksudmu?" Rudolf terpaku menatap mata Elkin yang penuh rasa yang sulit ia artikan.
"Pangeran Rudolf, kau telah gagal menjalankan perintah dari Yang Mulia Yuine. Jadi, ini adalah penghabisan dari hidupmu."
Secara mengejutkan, Elkin menghunuskan sebuah belati ke jantung Rudolf. Belati tersebut telah dibaluri dengan racun.
"K-Kenapa? Kenapa semuanya menjadi seperti ini?" Tubuh Rudolf jatuh ke permukaan tanah, darah mengucur deras dari celah jantungnya. "Bukankah sejak awal kalian yang menawarkan bantuan untukku?"
"Ya, tetapi itu sudah berakhir dan sekarang Yang Mulia Yuine memberiku perintah untuk menghabisi nyawamu."
Racunnya mulai bereaksi, rasa panas mendidih di darah Rudolf. Perlahan kesadarannya lenyap, bayangan kematian pun mengitari dirinya.
"Seharusnya aku tidak mempercayai kalian sejak awal ... sialan! Inikah akhir dari hidupku?"
__ADS_1
***
Masalah pemberontakan berakhir begitu saja kala Rudolf menghilang bersama Elkin. Saat ini kondisi kekaisaran berada di dalam kekacauan. Para bangsawan bergerak cepat membantu istana mengurus kekacauan tersebut.
Sementara itu, Valencia bersama Henzo dan ketujuh Pangeran membereskan sisa-sisa makhluk sihir yang masih berkeliaran bebas. Namun, mereka berhasil membereskannya dalam waktu singkat.
"Kondisi Kaisar sudah jauh membaik, sekarang beliau hanya perlu beristirahat sampai tubuhnya pulih sepenuhnya," tutur Sammy selesai memeriksa Abraham.
"Benarkah? Syukurlah."
Semua orang serentak menghela napas lega mendengar perkataan Sammy. Sesungguhnya, sedari tadi mereka sangat tegang karena mengingat luka yang diterima Abraham cukup parah.
"Rexid, apa kau tidak tahu ke mana arah Rudolf kabur?" tanya Frintz.
Rexid menggeleng. "Tidak, sepertinya Elkin mampu menyapu habis seluruh jejaknya sehingga kita tidak bisa mendeteksi keberadaannya."
"Kalau begitu, kita tinggal mencarinya saja. Aku yakin dia takkan kabur lebih jauh dari Alegra," timpal Xeros.
Kemudian bersamaan setelahnya, Reibert baru kembali dari luar. Tampaknya dia membawa sebuah berita untuk semua orang.
"Bisakah kalian ikut denganku ke luar? Ada sesuatu yang ingin aku perlihatkan," ujar Reibert.
"Baiklah, ayo kita ke luar."
Setibanya mereka di halaman istana, alangkah terkejutnya mereka mendapati jasad Rudolf. Sekujur tubuh pria itu seperti hangus terbakar, aroma busuk menyengat dari badannya. Lekas Valencia bergerak mengecek jasadnya.
"Ini Rudolf, bukan? Kenapa dia bisa menjadi seperti ini?" Ivanov terheran menyaksikan jasad Rudolf.
"Benar, ini adalah jasad Rudolf. Dia telah dibunuh oleh Elkin menggunakan racun yang menyebabkan tubuhnya menjadi terbakar," jelas Valencia.
"Tampaknya orang yang berada di belakang Rudolf tidak lagi membutuhkannya. Oleh sebab itulah dia disingkirkan secara tragis," ucap Leano.
"Aku rasa apa yang kau katakan itu benar, dia tidak lagi dibutuhkan. Mungkin itu karena Rudolf selalu gagal menjalankan rencananya," imbuh Frintz.
Valencia membuang napas berat, masalahnya semakin rumit. Memang masalah pemberontakan di Alegra telah berakhir. Akan tetapi, masalah yang sebenarnya masih belum terpecahkan. Mulai dari sini, Valencia akan terus diikuti serangkaian masalah beruntun dari orang yang menjadi dalang kekacauan kala itu.
__ADS_1
'Aku harap aku bisa menyelesaikan ini semua dengan cepat sebelum tubuh ini tidak berguna sama sekali.'