Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Sesuatu yang Baru Disadari


__ADS_3

Seusai mendapatkan izin, Valencia langsung pamit untuk kembali lagi ke kediaman Archduke Calestine. Masih ada satu hal yang perlu dia lakukan untuk mewujudkan langkah berikutnya demi memajukan benua Solvey sekaligus membantu dalam memperkuat keamanan.


"Alasan kenapa aku ingin menjadikan benua Solvey sebagai benua sihir, itu dikarenakan aku khawatir. Apabila aku tidak lagi ada di tempat ini, setidaknya mereka bisa bertahan hidup menggunakan senjata sihir. Aku tidak bisa meninggalkan mereka dalam kondisi lemah seperti ini," gumam Valencia.


Valencia menaruh pulpennya, ia menghela napas untuk ke sekian kalinya. Pikirannya terlalu rumit untuk bisa diutarakan secara lisan.


"Apa kau masih berniat untuk pergi dari sini dan mencari wadah baru?" tanya Sean tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Kau selalu saja muncul dari tempat yang tidak terduga. Ya, aku berniat mencari wadah baru, jika semuanya sudah selesai maka lebih baik aku bunuh diri saja," tutur Valencia.


"Hah? Bunuh diri?"


Sean melirik aneh ke arah Valencia, reaksinya cukup membuat Valencia terganggu.


"Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh melakukannya?"


Sean memutar bola mata malas, ia tak mampu mengikuti jalan pikir Valencia.


"Ya, kau tidak boleh melakukannya. Kalau kau ingin mati, maka matilah secara wajar. Lagi pula kehidupanmu kali ini sebagai Valencia jauh lebih baik. Apa lagi yang kau cari, Bell?"


"Apa yang aku cari? Aku tidak tahu, tapi aku ingin kembali ke benua Mihovil. Bolehkah aku mencari wadah di san—"


"Tidak! Kau tidak boleh ke benua Mihovil," tegas Sean.


Atmosfer di antara mereka berdua menjadi berbeda. Sean terlalu jelas memperlihatkan bahwa ia sedang menyembunyikan sesuatu di belakang Valencia.


"Kenapa aku tidak boleh pergi ke sana?! Aku yakin, kau dan Davey pasti sedang menyembunyikan sesuatu. Kasus kematianku saja sangat janggal, jadi aku mau ke sana untuk menyelidikinya langsung," kukuh Valencia tidak mau mengalah.


Valencia menatap Sean penuh kecurigaan, ia selalu merasa janggal dengan sikap Sean atau pun Davey.


"Pokoknya kau tidak boleh ke benua Mihovil apa pun yang terjadi. Akses ke tempat itu juga takkan bisa kau temukan. Saranku, lebih baik kau menyerah saja."


Mimik wajah Valencia amat jengkel, dia sangat marah karena Sean melarangnya secara tegas dan menutup segala celah yang mungkin membuat Valencia sadar akan kebohongannya.


"Terserah! Aku tidak mau berbicara denganmu!"


Valencia bangkit dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan Sean sambil menghentakkan kakinya. Tampaknya gadis itu merajuk akibat ulah Sean yang melarangnya.


'Maaf, Bell, tapi aku harus melarangmu ke sana. Kau tidak boleh terlibat dengan fragmen jiwamu yang lain. Aku tidak mau kau kembali jahat dan mengacaukan alam semesta seperti dahulu kala,' batin Sean menatap sendu punggung Valencia.


Valencia sepanjang perjalanan terus menggerutu dan mengutuk Sean. Hingga tanpa tersadar, gadis itu tiba di depan rumah sakit tempat Sammy bekerja.


"Karena aku sekarang ada di sini, alangkah baiknya aku ajak Sammy untuk membuat itu."


Valencia bergegas melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Suasananya cukup ramai, di sana ada banyak kesatria yang terluka setelah kembali dari medan penaklukan portal.


"Sammy, apa kau sibuk?" Valencia menyelonong masuk begitu saja ke ruangan kerja Sammy.


"Tidak. Tumben sekali kau kemari, apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?" tanya Sammy membuka kacamatanya.


Sebelum berbicara lebih lanjut, Valencia terlebih dahulu mendudukkan diri di atas sofa.

__ADS_1


"Aku ingin berbicara padamu tentang sesuatu."


"Sesuatu? Apa itu?"


Valencia memandang serius Sammy.


"Mari kita buat potion," ujarnya.


"Potion? Kau benar-benar bisa membuat potion?"


"Tentu saja, jadi kau harus membantuku membuat potion. Kau paham?"


Sammy menghela napas, ia menyandarkan punggungnya sejenak.


"Baiklah, aku akan membantumu membuatnya. Kira-kira berapa jenis bahan yang kita perlukan?" tanya Sammy.


"Empat sampai enam bahan, tapi bahan utamanya adalah air dari telaga peri. Telaga itu terletak di pegunungan Haleyan. Air dari telaga peri membuat kinerja potion menjadi lebih efektif," jelas Valencia.


"Telaga peri? Maksudmu telaga dengan air yang sangat indah itu? Aku pernah ke sana, aku pikir itu hanya telaga biasa," ucap Sammy.


"Sekarang kau sudah tahu mengenai telaga itu bukan? Lalu untuk bahan-bahan lainnya juga tumbuh di pegunungan Haleyan."


***


Pada waktu yang berlainan di kediaman Grand Duke Allerick, waktu saat ini menunjukkan pukul sebelas malam. Adarian baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap untuk beristirahat. Namun, ketika ia berjalan di lorong mansion, langkahnya tiba-tiba dicegat oleh Guilla.


"Yang Mulia, apakah pekerjaan Anda sudah selesai?"


Guilla bertingkah manja di hadapan Adarian dan menggandeng tangan pria yang ia cintai. Akan tetapi, respon Adarian tampak sangat dingin dibanding biasanya.


Sungguh mengejutkan, Adarian bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah Guilla. Berbeda dari biasanya, Adarian tidak pernah memperlakukan Guilla secara dingin seperti itu.


Ekspresi Guilla nampak syok, ia baru saja mendapatkan penolakan secara tidak langsung dari Adarian. Namun, Guilla mencoba untuk tidak mengambil hati hal tersebut.


"Saya ingin menjemput Anda untuk tidur bersama dengan saya. Sudah beberapa waktu belakangan ini Anda tidak pernah lagi datang ke kamar saya."


"Aku sedang berada di suasana hati yang buruk. Tolong jangan ganggu aku, kau hanya akan memperkeruh masalahku," ketus Adarian.


Guilla sungguh tidak menyangka, ia diperlakukan selayaknya wanita yang tak penting bagi Adarian.


"Yang Mulia, ada apa dengan Anda? Mengapa Anda sekarang seringkali mengabaikan saya? Apakah saya punya salah terhadap Anda?"


Adarian menjeda langkahnya, dia berbalik badan menatap Guilla. Kini ia tidak lagi merasakan getaran cinta saat menatap Guilla.


"Tidak, aku hanya tidak nyaman saat melihatmu. Lebih baik kau kembali ke kamarmu, malam ini aku akan tidur sendirian."


Kehangatan Adarian seolah terkikis dalam sekejap. Guilla yang dikatakan sebagai wanita kesayangan Adarian untuk pertama kalinya diperlakukan demikian.


'Mengapa Grand Duke tidak bereaksi seperti biasa? Apa jangan-jangan mantraku sudah tidak berfungsi lagi? Tidak boleh! Aku tidak boleh membiarkan mantranya lepas,' gerutu Guilla dalam hati.


Sementara itu, Adarian memasuki kamarnya. Dia langsung mendudukkan diri di atas tempat duduk. Adarian terlihat sangat frustrasi, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini.

__ADS_1


"Gambaran apa yang melintas di kepalaku beberapa waktu belakangan ini? Lalu entah mengapa, aku tidak merasakan apa-apa lagi saat melihat Guilla."


Adarian mendapatkan sebuah gambaran memori di kepalanya. Dia melihat dirinya, Helen, dan Valencia kecil sedang tertawa bersama di tengah taman mansion. Potongan gambaran itu selalu mengusik pikirannya.


"Permisi, Yang Mulia. Apa Anda memanggil saya?" Seorang kesatria masuk ke dalam kamar.


"Ya, kemarilah. Aku ada tugas untukmu," kata Adarian.


Kesatria itu lekas menghadap Adarian untuk menerima suatu tugas.


"Aku ingin kau mencari tahu soal Guilla. Temukan latar belakangnya sebelum dia masuk ke kediaman ini. Jangan lewatkan satu pun penyelidikan tentangnya. Lalu ingatlah untuk merahasiakan hal ini," titah Adarian.


Kesatria itu terperangah, sebuah tugas yang sangat tidak biasa diberikan oleh Adarian. Namun, di sisi lain ia juga menyadari bahwa Adarian mempunyai aura yang berbeda dari biasanya.


"Baik, Yang Mulia. Saya akan segera melaksanakannya."


Setelah kesatria itu meninggalkan kamarnya, Adarian juga bangkit dan beranjak pergi ke luar. Tujuan langkah Adarian kali ini adalah kamar Helen. Entah sudah berapa lama sejak terakhir kali ia mengunjungi Helen ke kamarnya.


Adarian mengetuk pintu kamar Helen beberapa kali sebelum masuk ke dalam.


"Iya, tunggu sebentar," sahut Helen.


Sepersekian detik seusainya, Helen membukakan pintu. Betapa terkejutnya Helen menemukan keberadaan suaminya di depan pintu.


"Yang Mulia, apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Helen.


"Bolehkah aku masuk terlebih dahulu?"


"Ya, silakan."


Helen mempersilakan Adarian masuk ke kamarnya. Tidak ada yang berubah dari kamar sang istri selain ada beberapa pajangan yang diganti.


"Apa yang membawa Anda kemari?"


Helen menghidangkan satu cangkir teh hangat di atas meja untuk menemani pembicaraan mereka.


"Helen, sebenarnya belakangan ini aku mendapatkan potongan gambaran aneh di ingatanku. Aku melihat kita dan Valencia sedang tertawa bersama di taman mansion. Tidak hanya itu, aku juga melihat kita makan bersama di satu meja ruangan makan," ujar Adarian.


Kedua mata Helen membulat sempurna.


"Anda juga melihat itu? Sebenarnya saya juga mendapatkan potongan gambaran itu. Saya tidak mengerti, tapi rasanya itu sangat nyata. Jadi, saya mulai menduga-duga bahwa ada yang tidak beres dari Guilla."


Rupanya Helen juga mengalami hal yang sama seperti Adarian. Hal itu pun memperkuat firasat buruk Adarian.


"Menurutmu, apakah itu mungkin terjadi? Maksudku segala gambaran yang masuk ke kepala kita, mungkinkah itu merupakan kenyataan?"


Helen mengangguk pelan sembari menatap lurus Adarian.


"Saya pikir itu mungkin saja. Ingatan saya mulai kacau semenjak Valencia mengutarakan isi hatinya kepada kita berdua. Lalu ini hanya sekedar dugaan, bagaimana jika seandainya ingatan kita dimanipulasi oleh Guilla?"


Adarian bingung harus merespon seperti apa, pemikiran Helen bisa ia terima sebab firasatnya juga berkata demikian.

__ADS_1


"Dimanipulasi? Bagaimana cara dia melakukannya?"


"Dengan sihir, di dunia ini ada sihir yang mungkin membantunya melakukan itu semua."


__ADS_2