Kembalinya Si Penyihir Gila

Kembalinya Si Penyihir Gila
Kecemburuan Pelayan Wanita


__ADS_3

Setibanya Valencia di kediaman Reibert, kedatangannya disambut baik oleh penghuni mansion. Bahkan para pelayan dan kesatria memperlakukan Valencia dengan sangat baik, mereka terlihat senang ketika Tuan mereka membawa pulang seorang wanita. Dari sini Valencia pun menyadari bahwa Reibert memang tidak pernah dekat dengan wanita selain dirinya. Berdasarkan kabar dari kesatria pun, Reibert terkenal dingin dan tidak pernah ramah dengan wanita.


Reibert langsung menuntun Valencia menuju ruang makan, rupanya di sana telah dipersiapkan makanan yang berjumlah banyak di atas meja. Para pelayan dan koki mansion sudah menunggu mereka berdua. Valencia pun terlihat bahagia sekali menyaksikan ada berbagai macam jenis makanan di depan mata. Bola mata hijau safirnya berbinar, perutnya mulai mengeluarkan suara keroncongan.


“Wah, apa kau mempersiapkan ini semua untukku?” tanya Valencia menatap takjub Reibert.


“Ya, bukankah aku sudah berjanji padamu waktu itu? Aku ingin menjamumu sebagai rasa terima kasih karena telah menolongku melenyapkan racun dingin ini.”


Para pelayan dan koki melotot tidak percaya, Reibert benar-benar menjadi orang yang berbeda ketika berhadapan dengan Valencia. Pada awalnya, mereka menolak percaya dengan apa yang dikatakan kesatria, tapi setelah menyaksikannya sendiri mereka pun mempercayainya.


‘Apakah aku sedang bermimpi? Komandan Reibert sedang tersenyum, aku rasa dunia sebentar lagi akan kiamat.’


Begitulah isi hati semua orang yang berada di ruang makan, sedangkan Valencia sudah terbiasa menghadapi Reibert. Siapa sangka jika sebenarnya Reibert hanya tersenyum dan bersikap ramah kepada dirinya saja.


“Bolehkah aku memakan semua ini?” Valencia kembali bertanya disertai binaran tatapan yang tidak luntur sedikit pun.


“Ini memang diperuntukkan untukmu sepenuhnya, jadi kau boleh saja menghabiskan semuanya. Tetapi, bukankah ini sangat banyak? Apa kau yakin bisa menghabiskannya sendirian?”


Valencia mengangguk gembira, dia langsung mendudukkan dirinya di atas kursi meja makan. Satu persatu pelayan pun bergerak membantu Valencia mempersiapkan alat-alat makan. Akan tetapi, kala itu ada sesuatu yang membuat Valencia tidak nyaman yaitu tatapan tidak suka dari seorang pelayan wanita muda.


‘Pelayan itu tidak suka dengan kehadiranku, tampaknya dia menyimpan kedengkian besar karena aku dekat dengan Reibert. Oke, aku akan melakukan sesuatu untuk membuatnya semakin iri padaku,’ gumam Valencia dalam hati.


Valencia memotong sepotong daging, dia pun menaruhnya di sendoknya, secara mengejutkan Valencia menyodorkan sendok berisi potongan daging tersebut kepada Reibert.

__ADS_1


“Buka mulutmu, kau harus mencobanya dan ini sangat enak,” ucap Valencia.


Reibert terpaku, dia diam selama beberapa detik, seisi ruangan mendadak beku menjadi patung. Pelayan wanita yang sedari tadi menatap tidak suka kepada Valencia menunjukkan kecemburuan yang membara. Valencia menyadarinya, dia menikmati saat-saat di mana pelayan itu tersiksa akan kehadirannya.


“Aku bisa mencobanya sendiri, kau tidak perlu menyuapiku.” Reibert berupaya menolaknya, mukanya merah merona sesaat Valencia hendak menyuapinya.


“Tidak boleh, kau harus mencobanya sendiri langsung dari sendokku. Ayo cepat buka mulutmu,” desak Valencia memaksa Reibert.


Pada akhirnya, Reibert pun pasrah, tidak mungkin baginya menolak Valencia, dia langsung membuka mulut dan menerima makanan yang disodorkan Valencia. Entah mengapa, perasaan Reibert sulit dikontrol, dia jadi kesulitan menikmati makanannya karena jantungnya berdetak begitu kencang.


‘Ada apa dengan jantungku? Mengapa rasanya sangat aneh? Perasaanku jadi tidak karuan,’ batin Reibert meraba dadanya, degup jantungnya semakin terasa cepat.


Sementara itu, Valencia melirik pelayan wanita yang berdiri di belakangnya, pelayan wanita tersebut terlihat nyaris meledak. Melihat reaksinya, Valencia jadi tahu bahwa pelayan wanita itu menaruh harapan besar menjadi Nyonya kediaman ini. Tetapi, kedatangan Valencia hari ini dianggap sebagai penghambat dari keinginannya yang telah terpendam lama.


Pelayan wanita itu geram, telapak tangannya terkepal kuat menyaksikan momen romantis Valencia dan Reibert. Gadis itu salah besar jika ingin menyingkirkan Valencia, dia takkan bisa melakukannya karena Valencia merupakan lawan yang sangat tangguh.


Selesai makan, Valencia dan Reibert melanjutkan dengan bersantai sambil minum teh di meja taman mansion. Valencia sekilas melihat para kesatria yang bersembunyi di balik pepohonan, mereka bermaksud ingin menyaksikan apa yang akan dilakukan Komandan mereka terhadap Valencia.


“Pemandangan di sini cukup menenangkan,” ucap Valencia.


“Sejujurnya aku jarang mengunjungi taman mansion, tapi sepertinya para pelayan merawat taman ini dengan sangat baik.”


Valencia lalu meraih cangkirnya dan berencana untuk langsung meneguk tehnya, tapi dia menyadari ada sesuatu yang bercampur di dalam air teh. Valencia menggunakan setitik sihir demi memastikannya. Dan yang benar saja, Valencia menemukan adanya tanda-tanda racun yang bercampur di antara genangan air teh hangat di cangkir.

__ADS_1


‘Seseorang ingin meracuniku? Dasar orang bodoh! Racun selemah ini tidak akan bekerja padaku.’


Valencia meneguk habis tehnya dan memang benar racunnya tidak bereaksi pada tubuh Valencia. Dia bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda keracunan, hal tersebut mendatangkan tanda tanya besar di otak si pelayan wanita yang dengan sengaja mencampurkan racun ke minuman Valencia.


‘Kenapa ini? Kenapa racunnya tidak bereaksi sama sekali? Apa aku tadi lupa memasukkan racunnya? Tidak mungkin, tadi jelas-jelas aku sudah mencampurkan racun ke dalam teh wanita itu.’


Raut pelayan tersebut terlihat panik, menyaksikannya gelisah seperti itu membuat Valencia semakin ingin mendorongnya terjun ke jurang kematian. Kemudian Valencia mengibaskan jemarinya mengisyaratkan untuk memanggil pelayan wanita itu. Dia tersentak begitu Valencia memanggilnya, tapi dia langsung mematuhi panggilan Valencia.


“Siapa namamu?” tanya Valencia.


“Saya Dhea, Nona,” jawab pelayan wanita yang ternyata bernama Dhea.


Dhea menyimpan rapat kegelisahannya, sebetulnya dia panik tatkala Valencia memanggilnya. Dia khawatir Valencia menyadari racun tersebut lalu mengadukannya kepada Reibert.


“Dhea, cangkirku kosong, kau tahu kan apa yang harus dilakukan?”


“Tahu, Nona. Saya akan segera mengisi kembali cangkirnya.” Dhea bergegas mengisi ulang cangkir Valencia.


Bersamaan dengan dituangkannya air teh ke dalam cangkir, Valencia tiba-tiba membisikkan sesuatu yang menakutkan di samping telinga Dhea.


“Racun yang kau berikan tidak mempan pada tubuhku, lain kali berikan aku racun yang lebih kuat. Dengan begitu, kau bisa dengan mudah menyingkirkanku yang kau anggap sebagai penghambat. Cih, seorang pelayan rendahan ingin menjadi Nyonya rumah dengan cara curang? Bahkan kau sengaja menonjolkan buah dadamu di balik seragam pelayanmu. Betapa memalukannya itu,” bisik Valencia tersenyum miring.


Spontan Dhea membatu, dengan perasaan ragu dan resah Dhea melirik ke arah Valencia, yang dia lihat kala itu hanyalah senyum menyeramkan Valencia. Kedua tangan Dhea gemetar, padahal sebelumnya dia sangat berani melawan Valencia. Akan tetapi, sekarang dia malah tenggelam di dalam rasa takut yang luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2