
Atmosfer dingin dan menegangkan menyelimuti seisi ruang tamu. Untungnya kala itu Valencia telah mengusir seluruh pelayan dan kesatria yang berada di sana sehingga mereka tidak akan mendengar identitas Valencia yang sebenarnya. Hanya saja baik Adarian maupun Helen sangat tidak menduga mendengarkan sebuah nama dari penyihir paling terkenal di dunia.
"Klarybell? Jangan bercanda! Penyihir Agung Klarybell sudah mati lebih delapan ratus tahun yang lalu. Sekarang kau mengatakan dirimu sebagai Klarybell?" bantah Adarian.
"Tolong jangan berbohong, Valencia. Apa kau sebegitu tidak inginnya memaafkan kami sampai kau berbohong soal identitasmu sendiri?" timpal Helen.
Wajar saja mereka tidak percaya, lagi pula manusia mana yang bisa mempercayai sesuatu yang mustahil? Manusia biasa mana yang percaya begitu mudahnya perihal perpindahan jiwa seperti ini?"
"Aku memaklumi kalian tidak percaya terhadap pernyataanku. Akan tetapi, putri kalian sudah menyerahkan tubuhnya padaku. Coba kalian pikir kembali semenjak insiden percobaan bunuh diri waktu itu. Aku berubah sejak saat itu bukan?"
Adarian maupun Helen tidak menyangkal perubahan Valencia tersebut. Pertanyaan mereka terkait perubahan Valencia kini terjawab sudah. Jiwa sang putri telah digantikan oleh seseorang yang lebih berbahaya.
"Valencia telah melalui kehidupan bagai neraka. Alasanku berada di tubuh ini selain memenuhi tugasku ialah aku harus membantunya balas dendam. Jadi, jika kalian memang ingin meminta maaf, kalian temui saja Valencia langsung di alam akhirat," lanjutnya berucap.
Tubuh Adarian dan Helen seketika melemas, tungkai mereka lunglai hingga tak sanggup menahan beban badan. Mereka benar-benar terlambat, bahkan jika mereka bersujud memohon maaf pun sang putri tidak akan kembali lagi.
"Valencia sungguh sudah meninggal? Aku terlambat. Aku sangat terlambat."
Helen mulai menangis tersedu-sedu, Adarian sekuat tenaga menahan isak tangis seusai mengetahui putri tercintanya mati akibat kebodohan mereka sendiri.
"Sebenarnya, Valencia pernah berbicara kepada kalian saat hari aku diadopsi Archduke Calestine. Dia mengungkapkan segala rasa sakitnya dan mencoba untuk membuat kalian sadar. Valencia sangat menyayangi kalian, tapi apa daya, dia tidak mendapat keadilan atas perasaan tersebut."
Valencia kembali mendudukkan dirinya di atas sofa. Sebenarnya ia cukup bingung menanggapi mereka berdua. Namun, sudah saatnya bagi mereka mengetahui bagaimana fakta yang sesungguhnya.
"Yang berbicara saat itu adalah Valencia? Valencia putri kami?"
Valencia mengangguk. "Iya, Valencia putri kalian. Bagaimana perasaan kalian sekarang? Kalian menyesal bukan? Lihat ini."
Valencia memperlihatkan tangannya yang penuh luka sayatan kepada Adarian dan Helen.
"Luka ini?"
"Luka ini adalah luka bekas sayatan, Valencia pernah mengatakan ke kalian bahwa dia berulang kali berada di ambang kematian. Itu sebagian besar akibat luka ini. Gadis itu menyayat tangannya sendiri akibat depresi berat karena kalian tidak menyayanginya," jelas Valencia.
Lalu tiba-tiba Helen mendekati Valencia dan menggenggam kedua tangannya.
__ADS_1
"Bisakah Anda membantu kami bertemu Valencia sekali saja? Sekali saja ... saya memohon teramat sangat kepada Anda. Saya ingin berbicara dengannya sebagai Ibu dan anak," lirih Helen.
Valencia menggeleng pelan. "Aku tidak punya kuasa membawa jiwa orang yang telah mati ke dunia manusia. Itu merupakan bagian dari kehendak dewa kedamaian. Satu-satunya cara kalian agar bertemu Valencia ialah berada di alam yang sama dengannya."
Sesaat mereka merasakan keputusasaan mendalam. Frustrasi, rasa bersalah, rasa ingin mati, segalanya bercampur menjadi satu.
"Kami harus mati lebih dulu untuk bertemu Valencia?"
"Benar, kalian harus mati untuk bertemu dengannya. Aku yakin, gadis itu sudah menyadari bahwa kalian sebenarnya berada di bawah pengaruh mantra pengendalian Guilla. Oleh sebab itu, bolehkah aku memberi satu penawaran?"
Helen dan Adarian saling bertukar pandang, sejenak mereka tidak lagi memiliki cahaya kehidupan di matanya.
"Penawaran semacam apa yang ingin Anda tawarkan?" tanya Adarian.
"Apakah kalian ingin balas dendam kepada Guilla? Ya, aku pribadi tidak punya urusan dengan kalian, aku juga tidak punya kebencian khusus. Kalau kalian ingin balas dendam, biar aku yang melakukannya. Bukan karena aku iba melihat kalian, melainkan hasrat membunuhku terlalu kuat. Aku rasa Guilla wanita yang pantas menjadi sasaran hasratku," papar Valencia.
Valencia ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat. Dendam si pemilik tubuh terhadap Guilla harus segera dituntaskan. Bagaimana pun juga, dia tidak bisa pergi sebelum wanita itu benar-benar mati.
"Jika itu bisa membuat jiwa Valencia lebih tenang, maka Anda bisa melakukannya. Kami berdua akan bekerja di bawah perintah Anda, Yang Mulia."
Pada akhirnya, kedua orang itu tunduk di bawah perintah Valencia. Mereka merasakan aura mencekam dari gadis itu. Meski di luarnya dia menggunakan tubuh Valencia, tapi di dalamnya tetaplah seorang Klarybell.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Henzo tiba-tiba masuk.
"Tidak ada hal penting selain permintaan maaf. Lagi pula sudah terlambat bagi mereka meminta maaf," jawab Valencia.
"Jadi, mereka benar-benar menyesal? Sungguh fenomena tak terduga."
Valencia tersenyum samar, Henzo tampak tidak nyaman dengan keberadaan Adarian dan Helen. Dia masih menaruh dendam terhadap apa yang menimpa Valencia di masa lalu.
"Ayah, kapan festival ulang tahun kekaisaran diadakan?" tanya Valencia.
"Sekitar dua minggu dari sekarang."
"Pantas saja suasana menjadi lebih ramai dari biasanya."
__ADS_1
Saat ini semua orang sedang sibuk mempersiapkan festival ulang tahun kekaisaran. Tidak sedikit dari rakyat yang ikut meramaikan festival tersebut.
Bersamaan kesibukan orang-orang di kekaisaran, Valencia juga disibukkan dengan penyelidikan tentang Rudolf. Dia berhasil mengumpulkan sejumlah informasi mengenai pria tersebut.
"Pangeran kedua — Stephen, ditemukan meninggal tenggelam di danau istana. Insiden itu diduga karena Pangeran Stephen mencoba menyelamatkan seekor kucing yang hampir tenggelam. Pada saat itu Pangeran Rudolf adalah orang terakhir yang ditemui Pangeran Stephen."
Itu merupakan salah satu isi dari hasil laporan penyelidikan bawahan Valencia. Ada suatu kejanggalan dari insiden kematian Pangeran Stephen.
"Tampaknya ada yang aneh di sini. Mungkinkah Pangeran Rudolf memanipulasi kecelakaan tersebut? Lebih tepatnya, dia adalah pelaku di balik kematian Pangeran Stephen."
Tidak hanya satu insiden janggal saja, ada beberapa masalah yang menimpa Stephen sebelum ia ditemukan tewas. Salah satunya ialah racun yang terkadang ditemukan di makanan dan minuman Stephen.
"Permisi, Nona." Luana masuk ke dalam ruangan.
"Ah, Luana. Bagaimana? Apakah kau menemukan orang itu?"
"Kami menemukannya, Nona. Sekarang orang itu sedang berada di ruang penyiksaan."
Valencia menyunggingkan senyum sambil bangkit berdiri dari tempat duduknya.
"Baiklah, mari kita ke sana sekarang juga."
Valencia berangkat menuju ruang penyiksaan. Di ruangan ini, seluruh pelaku kejahatan yang ditangkap Henzo dikurung dan disiksa sampai mati.
"Di mana orang itu?"
"Di sini, Nona."
Luana menunjukkan seorang pria yang diikat rantai di atas sebuah ranjang besi. Dia babak belur seusai dihajar oleh para kesatria karena mencoba untuk kabur.
"Siram dia sampai terbangun," titah Valencia.
Para kesatria segera melaksanakan perintah Valencia. Begitu pria itu terbangun, dia terkejut melihat Valencia di hadapannya.
"Ada di mana aku? Lalu siapa kalian? Kenapa kalian menahanku di sini?!"
__ADS_1
Pria itu mulai meronta, dia masih belum sadar alasannya berada di tempat tersebut.
"Roy, berumur empat puluh tahun yang dahulunya bekerja sebagai salah satu pelayan di kediaman Pangeran Stephen. Sepertinya sekarang kau akan menerima karma karena telah menjadi kaki tangan Pangeran Rudolf untuk menyingkirkan Pangeran Stephen. Mari dengarkan, bagaimana penjelasanmu mengenai masalah ini."