
Suasana mendadak berubah menjadi hening dan sunyi. Para Pangeran ditinggalkan Valencia di ruangan tersebut. Masing-masing dari mereka berupaya mencerna satu persatu kenyataan yang terjadi.
"Tidak heran kenapa dia bisa begitu kuat. Rupanya dia adalah penyihir terhebat sepanjang sejarah," gumam Leano diangguki yang lain.
"Tetapi, tetap saja aku belum bisa menerimanya begitu saja. Aku merasa ditipu walau sebenarnya ini bukanlah salah dia sepenuhnya."
Terbesit kekecewaan besar di hati mereka terhadap Valencia. Walaupun seperti itu, mereka berusaha untuk terus berpikir positif soal Valencia.
Sementara itu, Valencia kembali ke kamar di mana Arc berada. Walau dia telah membuka identitasnya kepada para Pangeran, Henzo masih belum mengetahuinya karena dia sedang tidak berada di sana kala itu.
"Arc, bisakah kau menjelaskan semuanya kepadaku sekarang? Apa yang kau lakukan di benua Solvey? Kau datang sendirian dalam kondisi terluka. Mungkinkah kau diserang seseorang saat perjalanan kemari?"
Valencia menatap serius Arc, dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk mendapatkan penjelasan. Keberadaan Arc sebagai salah satu penyihir teratas di benua Mihovil merupakan sebuah pelanggaran apabila dia keluar dari benua tanpa pengawalan.
"Sebelumnya aku meminta maaf padamu. Sekarang benua Mihovil sudah hancur di tangan para iblis. Aku maupun Cetrion telah melakukan segala usaha untuk mempertahankan kedamaian di sana. Namun, apa daya, kematianmu ternyata membawa kehancuran bagi Mihovil," papar Arc.
"Ya? Benua Mihovil sudah hancur?" Valencia tercengung, matanya nan bulat tak mengerjap.
Arc menganggukkan kepalanya. "Sekarang perbudakan marak terjadi. Tidak hanya itu saja, pertempuran tiada henti serta keserakahan manusia. Ditambah lagi kekaisaran yang berada di bawah perintahmu telah luluh lantak sepenuhnya. Semua ini karena wanita itu! Dia memimpin kehancuran terhadap benua Mihovil."
Arc tampak geram, ia menggerutu menahan segala dendam amarah yang dia rasakan selama lebih delapan ratus tahun ini.
"Siapa wanita itu?"
"Yuine. Iblis wanita yang terusir dari dunia bawah."
Valencia berpikir sejenak, nama itu terdengar tidak asing di kepalanya. Kemudian sebuah gambaran wanita bersurai hitam muncul di memorinya.
"Maksudmu Yuine yang pernah datang menemuiku dan mengacau di menara sihir?"
"Iya, dia memperoleh kekuatan yang sangat besar. Aku tidak tahu dari mana kekuatan itu berasal, tetapi dia mampu menggenggam benua Mihovil di tangannya dalam waktu singkat," ujar Arc.
"Masalahnya ternyata serumit ini, aku rasa dia adalah orang yang berada di belakang Rudolf selama ini. Lalu bagaimana dengan Tryton? Aku tidak mendengarmu membahas dia sedari tadi. Apakah dia sudah mati?"
__ADS_1
Arc tersentak, jemarinya menegang dan mengepal kuat. Tersirat binar api amarah yang menyambar di bola matanya.
"Bell, ada satu hal yang harus kau ketahui. Kematianmu adalah perbuatan dari Yuine dan kau tahu? Tryton merupakan pengkhianat yang bekerja untuk Yuine. Dia membantu rencana pembunuhanmu lalu dia juga melepas seluruh segel yang kau pasang. Racun mematikan sampai artefak sihir, dia mencuri itu semua," ungkap Arc.
Sungguh mengejutkan! Valencia terpaku di tempat mendengar soal Tryton. Sebagaimana yang diketahui, Tryton ialah pria yang senantiasa bekerja untuk dirinya selama berada di Mihovil.
Perannya sama seperti Arc dan Cetrion, dia salah satu rekan berharga Valencia. Akan tetapi, setelah apa yang dia lakukan, Tryton membalasnya dengan pengkhianatan.
"Tryton pengkhianat? Kau tidak sedang bergurau kan? Bagaimana ini bisa terjadi? Memangnya apa yang telah aku perbuat sampai dia berani mengkhianatiku?"
"Aku tidak tahu itu karena Tryton tidak memberi jawaban apa pun. Maka dari itu, Bell, ayo kembali lagi ke Mihovil bersamaku."
Valencia tidak langsung memberikan jawaban. Dia terdiam dan hanyut di dalam pikirannya tentang Tryton. Di sisi lain, ada beban lain yang dia pikirkan terkait kondisi tubuhnya saat ini.
"Maafkan aku, Arc. Kondisi tubuh ini berada di ambang batas. Aku tidak bisa pergi ke Mihovil sekarang sampai aku menemukan tubuh baru," tutur Valencia.
"Itulah mengapa aku memintamu ke Mihovil karena tubuhmu ada di sana," ujar Arc.
Valencia sulit mempercayai apa yang baru saja dikatakan Arc.
"Iya, aku dan Cetrion berhasil menyelamatkannya. Meskipun ada beberapa kerusakan pada tubuhmu, tetapi Cetrion dapat mengatasinya. Tubuhmu masih awet sampai sekarang. Kami menjaganya dengan sangat baik," kata Arc.
"Kalau begitu, aku bisa—"
Perkataan Valencia terjeda, dadanya mendadak sakit dan memanas seakan-akan ada bara api memanggang jantungnya. Dia pun terjatuh ke atas lantai, ia membuat Arc khawatir mengenai kondisinya yang amat buruk.
"Bell, apa kau baik-baik saja?" tanya Arc membantu Valencia bangkit.
"Ya, aku baik-baik saja. Ini hanyalah efek dari batas tubuh milik Valencia. Aku ingin pergi ke benua Mihovil, tetapi akses menuju ke sana hilang," ucap Valencia.
"Tenang saja, kau tidak perlu khawatir soal itu karena ada akses tersembunyi menuju benua Mihovil."
"Pantas saja kau bisa sampai di benua Solvey. Baiklah, aku akan pergi denganmu kembali ke Mihovil. Lebih baik kita berangkat sesegera mungkin karena tubuhku tidak mampu bertahan lebih lama lagi."
__ADS_1
Selepas itu, mereka menunggu sampai tengah malam untuk berangkat menuju benua Mihovil. Valencia tidak berbicara atau sekedar berpamitan dengan penghuni mansion. Gadis itu menghilang seperti debu yang diterbangkan angin.
Hingga pagi menjelang, Henzo menerobos masuk ke dalam kamar Valencia dengan tujuan ingin mengajak putrinya jalan-jalan. Akan tetapi, dia membatu saat menemukan tidak ada siapa-siapa di sana.
"Di mana anak itu? Apakah dia pergi ke luar?" gumam Henzo bertanya-tanya.
Kemudian Pierre datang, ia berniat membantu Valencia berdandan seperti biasa.
"Pierre, ke mana Valencia?" tanya Henzo.
"Mohon maaf, Yang Mulia, saya juga tidak tahu Nona pergi ke mana," jawab Pierre.
Indera penglihatan Henzo menangkap sebuah kertas yang terlipat di atas meja rias Valencia. Langsung saja ia mengambil kertas tersebut dan membaca isinya.
"Maafkan aku, aku harus pergi ke benua Mihovil. Maaf karena tidak berpamitan dan aku harap kalian jangan mencariku, apalagi menghampiriku ke Mihovil. Maaf karena aku menyembunyikan identitasku selama ini."
Begitulah isi dari surat yang ditinggalkan Valencia. Seketika Henzo merasa buntu dengan isi surat tersebut. Lekas ia memutar badan lalu menghampiri ketujuh Pangeran yang masih berada di mansion.
"Hei, apakah kalian tahu soal ini?" Henzo melempar surat itu kepada mereka.
"Ada apa, Archduke? Surat dari siapa ini?"
Frintz menjangkau suratnya, para Pangeran yang penasaran mendekati Frintz untuk ikut membaca suratnya. Mereka terlihat syok tatkala melihat deretan kalimat yang berisi perihal benua Mihovil.
"Valencia pergi ke benua Mihovil. Apakah kalian tahu soal ini?" Sekali lagi Henzo melontarkan pertanyaan bernada marah.
"Kami tidak tahu sama sekali soal ini. Dia tidak membicarakan perihal keberangkatannya ke Mihovil," ujar Xeros.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Dia terlihat aneh setelah bertemu pria asing di pesta Rachel."
Para Pangeran kini tidak punya pilihan lain selain memberitahu Henzo fakta yang sesungguhnya.
"Archduke, kami ingin membicarakan sesuatu dengan Anda. Ini tentang Valencia, mungkin Anda tidak akan percaya terhadap apa yang kami katakan nanti."
__ADS_1