
malam ini rencananya kedua Mama mereka tidak akan bermalam di rumah sakit jadi tinggal Rey saja yang dibantu bi jum yang membantu menjaga Shofia dan bayi kembar mereka.
" bi jum klo ngantuk tidur aja mumpung Rafa Rafi lagi tidur jadi nanti kita gantian begadangnya biasanya mereka jam dua belas mulai dah begadangnya " ucap Rey sambil meletakkan tas belanja berisi roti dan juga air mineral untuk sang istri yang biasanya lapar pada tengah malam.
" ya tuan klo begitu bi jum tidur dulu "
" ya biar sekarang saya yang jagain mereka Shofia juga udah tidur " kata Rey lagi dan bi jum segera merebahkan tubuh nya di ranjang sebelahnya. sedang Rey kembali duduk di sofa sambil melanjutkan beberapa laporan yang di kirim Aldo lewat email.
dan benar saja jam dua belas malam mulailah bayi kembar Rafa Rafi terbangun Rey segera mengangkat bayi mereka dan membangunkan Shofia untuk menyusui kedua bayi mereka secara bergantian.
kedua bayi mereka masih belum mau memejamkan matanya.
" sayang coba di cek mungkin pokoknya basah " ucap Shofia dan Rey memeriksa kedua popok bayi mereka dan benar saja. Rey pun dengan telaten mengganti popok Rafa dan Rafi. Shofia memperhatikan gerak gerik suaminya, tidak menyangka seorang CEO sekaligus pemilik perusahaan besar dan pemilik salah satu rumah sakit terbesar dan juga beberapa hotel berbintang mengganti sendiri popok bayinya.
Rey yang menyadari istrinya memandangi sedari tadi " kenapa liatin terus? " tanya Rey
" sayang... kamu keren kamu memang bapak idola banget.. " ucap Shofia dengan senyum manisnya.
" kamu bisa aja sayang mujinya "
" bener aku seneng deh kamu bisa bantuin aku kayak gini, sini bayi nya satu aku pingin Gendong " dan Rey menyerahkan bayi Rafi yang sudah selesai berganti popok kepada Shofia
" sama mami ya sayang.. " lalu lanjut mengganti popok Rafa yang juga basah terkena pipisnya. sementara Shofia mengajak bayi Rafi berbincang tampak Rafi mengerjap ngerjapkan matanya. seolah faham dengan bahasa sang mami.
setelah hampir satu jam bermain si kembar pun tertidur Rey kembali meletakkan ke dua bayi nya ke dalam box
" sayang kamu nggak tidur ini sudah lewat tengah malam " ucap Shofia
" ya sebentar lagi aku tidur, sudah sekarang tidur lagi mumpung anak anak kita udah tidur " ucap Rey sambil membaguskan posisi selimut istrinya.lalu mengecup kening sang istri. dan Shofia pun langsung memejamkan matanya untuk mengumpulkan tenaga jika nanti si kembar terbangun kembali.
jam 2 dini hari Rey menutup laptopnya meregangkan sedikit otot ototnya yang terasa kaku kemudian membangunkan bi jum untuk bergantian berjaga karena ia marasa sudah sangat ngantuk.
pagi pagi sekali terdengar suara ramai di ruangan VVIP di mana Shofia dan kedua bayi kembarnya dirawat suara tangisan bayi bergema di ruangan tersebut dan hari ini selang infus Shofia sudah dibuka rencananya besok pagi Shofia sudah di ijinkan untuk pulang.
setelah dokter anak dan kandungan melakukan visit dan memeriksa kondisi ibu dan bayi maka dokter membolehkan Shofia untuk pulang esok hari.
" asinya lancar kan bunda? " tanya dokter farah
" ya dok alhamdulillah lancar "
" nanti semakin terus di susui jahitan di perut akan semakin cepat kering, nanti saya akan merekomendasi vitamin untuk memperlancar asinya "
" maksih dok" dan tak lama kemudian dokter farah pamit keluar dari ruangan tersebut.
" tok tok.. permisi tuan "
" masuk Al" Aldo masuk dan duduk di sofa berhadapan dengan Rey
" ada apa? "
" ini ada beberapa laporan yang harus tanda tangani " sambil menyodorkan berkas kepada Rey untuk ditanda tangani setelah itu kemudian mereka lanjut membicarakan masalah pekerjaan.
sementara di parkiran rumah sakit tampak laki laki tinggi putih bermata biru turun dari mobil. berjalan masuk menuju lobi rumah sakit.
bersamaan itu Vania berjalan terburu buru karena sambil menerima panggilan telpon dari mamanya . hingga di depan lobi
" bugh.. auw.. " ponsel dan tas prakteknya terjatuh ke lantai. dengan spontan laki laki tersebut memuggut tas Vania
" sory.. saya tidak sengaja " kata laki laki tersebut. Vania yang sibuk mengambil ponsel dan menempelkan kembali ke telinganya.
__ADS_1
" ya ma mama tenang aja nanti sore aku jemput oke udah ya aku udah nyampek di rumah sakit nih " lalu menutup panggilannya.
" sory ini tas anda "
" ya kamu klo jalan tu liat liat dong untung ponsel saya nggak jatuh " omelnya tanpa melihat ke arah orang yang di ajak bicara hingga ia mengangkat wajahnya dan menatap laki laki di depannya.
" ya Tuhan ganten banget.. " batin Vania
" hello nona hello are you oke...! " ucap laki laki bule tersebut sambil melambai lambaikan tangannya di depan mata Vania.
" eh ya saya oke.. "
" sory tadi saya sudah menabrak kamu "
" nggak nggak papa itu juga karena saya yang salah jalan sambil telponan " ucap Vania.
" Oh ya kamu dokter di sini? "
" bukan saya kebetulan tugas koas di sini "
" owh.. "
" kamu sendiri mau jenguk siapa? "
" ah iya saya mau jengus istri temannya saya baru saya melahirkan namanya klo nggak salah shopi "
" apa Shofia? nama suaminya siapa? "
" Rayyan ya tuan Rayyan "
"oh jadi anda temannya tuan pak Rey.. kenalkan saya Vania saya sahabat istri pak Rey.. tuan Rayyan " sambil mengulurkan tangannya
" jadi anda mau berkunjung menjenguk Shofia? "
" ya.. "
" klo begitu ayo ikut saya... saya kebetulan juga mau naik ke lantai atas biar sekalian saya antar "
" Terima kasih nona Vania "
" ayo mari.. " lalu mereka berjalan beriringan masuk ke dalam lift.
di dalam lift
" jadi anda yang namanya tuan Mandez ? saya pernah dengar sih nama anda, anda kan kekasih nya Eliza kan ? "
" ah iya tapi itu dulu sekarang kami sudah putus komunikasi semenjak kasus itu "
" ya benar benar parah tu cewek obsesinya terlalu tinggi egonya mengalahkan logika nya "
" ya begitulah "
" oh ya berarti anda berangkat dari Amerika dong "
" iya saya baru tiba tadi malam "
" jauh jauh datang dari Amerika hanya untuk jenguk istri nya pak Rey? " tanya Vania
" no no saya sebetulnya ada panggilan sidang atas kasus Eliza trus juga ada urusan bisnis jadi sekalian jenguk tuan Rayyan yang baru mendapat baby twins. "
__ADS_1
" oh.. "
" ting" pintu lift terbuka dan mereka berdua keluar dari pintu lift tersebut.
" silahkahkan masuk tuan ini kamarnya " sembari memegang handle pintu
" assalamu'alaikum... "
" Walaikum salam masuk van.. " ucap Shofia yang sudah hafal dengan suara sahabatnya.
" pak Rey ini ada teman anda mau berkunjung " ucap Vania
" selamat pagi tuan Rayyan " sapa Mandez yang muncul dari balik pintu
" hay tuan Mandez ayo masuk " sambut Rey
" mari tuan ayo masuk " ajak Vania lalu mereka duduk di sofa ruang tamu sedang Vania memilih menjenguk baby twins Shofia
" bagiamana kabar anda tuan Mandez lama kita nggak bertemu "
" yah seperti kau lihat kondisi ku masih seperti ini, oh ya selamat atas lahiran kedua putra mu "
" Terima kasih "
" apa saya boleh melihatnya? "
" tentu, sayang ini ada tuan Mandez mau melihat bayi kita sayang "
" ya sebentar sayang " saut Shofia dan tak berapa lama Shofia keluar bersama Vania sambil menggendong bayi Rafa dan Rafi.dan duduk bergabung bersama Rey Mandez dan juga Aldo.
" wah selamat nyonya atas kelahirannya dan ini saya kado buat si kecil " sambil meraih paper bag berisi sepasang jam tangan mewah.
" terimakasih tuan Mandez tapi anda tidak usah repot repot seperti ini " ucap Shofia.
" tidak sama sekali tidak repot " jawab Mandez
" oh ya tadi kalian kok bisa datang barengan gimana ceritanya? " tanya Rey
" oh tadi kita nggak sengaja ketemu di bawah eh taunya nona Vania teman baik anda nyonya Rey "
" iya kami sudah berteman lama sudah seperti saudara " saut Shofia
" kalian tampak sangat akur pastinya kalian berdua memiliki pribadi yang sangat baik " tutup Mandez lagi sambil sesekali mencuri pandang pada Vania sedang Aldo mulai gerah dengan sikap Mandez yang selalu menatap Vania diam diam.
" hem oh ya kayaknya saya nggak bisa lama lama karena harus berjaga di ruang poli klinik " ucap nya sambil menyerahkan bayi Rafa pada Rey
" iya makasih ya van sudah nyempetin ke sini "
" iya siang nanti pas jam istirahat aku ke sini lagi saya permisi ya " ucapnya
" tunggu nona Vania tunggu sebentar..! " ucap Mandez sambil berdiri mendekati Vania
" iya ada apa? "
" saya mau mengucapkan terimakasih karena sudah di antar ke sini dan klo boleh saya bisa minta nomor ponsel Anda "
" oh tentu " kemudian Vania menyebutkan nomor HPnya dan Mandez segera menyimpannya di dalam ponselnya.
" Terima kasih nona semoga kita bisa bertemu kembali "
__ADS_1
" ya semoga saja klo begitu saya duluan mari " dan Vania pun berlalu keluar dari ruangan tersebut.