
"Kita mau kemana?"
"Beli hape Nan."
"Oke."
"Qeenaann.." jerit Nadira ketika Qenan menambah kecepatan laju nya.
Dan itu membuat Qenan tertawa. Ternyata benar, naik sepeda motor bersama pasangan itu sangat menyenangkan.
Ia membawa Nadira ke Pondok Indah Mall. Tempat yang mereka sukai jika berbelanja dan sekalian melihat store kaos Qenan.
"Rambut kamu lepek."
"Kamu juga Nan.."
Mereka berjalan beriringan dengan jemari saling bertautan. Senyuman Nadira seperti memiliki virus yang dapat menular kepada Qenan.
"Bibir bawah kamu itu loh."
"Kenapa? belum bengkak ini, kan belum ada kamu lu mat." Nadira mengerling sebelah mata ke arah Qenan.
"Mau sekarang?"
Nadira menggeleng.
Nadira tidak tahu saja jika isi kepala Qenan sudah dipenuhi fantasi-fantasi liar yang sudah direncanakan.
Mereka berjalan menuju toko resmi ponsel apel tergigit. Sampai disana, semua urusan ponsel Qenan yang menangani dan tak di biarkan barang sejenak Nadira memilih apa yang diinginkan.
Karena apa? Nadira terlalu banyak protes soal harga.
"Nan, ini hape mahalnya gak ketulungan. Harga nya sama kayak motor baru."
"Memang."
Selesai dari toko resmi, Qenan mengajak Nadira untuk makan siang yang sudah terlambat lebih dahulu.
Untuk mengisi daya, pikirnya.
...****...
Nadira merasa sedari tadi Qenan banyak melamun namun senyuman tak pudar menghiasi wajahnya.
Ia tahu pasti Qenan sedang memikirkan aneh-aneh tapi tak tahu apa.
"Kamu kenapa senyum-senyum sih?" tanya Nadira di tengah kunyahan nya.
Nadira mengerutkan dahi merasa heran melihat Qenan sedang salah tingkah. Tidak seperti Qenan yang ia kenal.
"Nggak ada Ra, nanti setelah ini kamu mau kemana lagi?"
"Aku pengen nonton kayak nya."
Lagi-lagi Nadira heran melihat Qenan yang kini justru berubah menjadi datar kembali dan tatapan mata itu seperti, kecewa?
"Kamu kenapa sih Nan?"
Ia bertambah bingung melihat Qenan yang menggeleng. "Kamu mau pergi?" tanyanya tetap menatap wajah datar Qenan.
__ADS_1
Dapat dilihat Qenan sedang menghela nafas panjang lalu menjawabnya. "Enggak ada."
Nadira mengedikkan bahu acuh karena menurutnya ia sudah bertanya pada Qenan.
...****...
Setelah selesai makan dan membayar Qenan menuruti kemauan Nadira yang ingin keliling mall sambil menunggu waktu film yang akan ditonton tayang dua jam mendatang.
Mau tahu mengapa raut wajah nya berubah? karena fantasi-fantasi liarnya gagal terealisasi kan. Namun ia mencoba meredam kekecewaan yang ia timbulkan sendiri demi keinginan sang istri.
Ia cukup kagum melihat sang istri yang tidak tertarik sama sekali dengan tas branded, pakaian, atau hal-hal yang mahal seperti cewek kebanyakan.
Namun ia juga ingin istrinya itu habiskan uang nya sekali-kali. Segera ia rangkul leher Nadira membawanya ke toko tas branded ternama.
"Kita ngapain?"
Dengarlah pertanyaan nya, apa tidak melihat jika mereka sedang berada di toko tas? itu berarti beli tas bukan?
"Beli baju." sahutnya sembari melihat-lihat tas selempang untuk Nadira.
"Disini toko tas Nan, mana ada baju."
Ia tercengang mendengar ucapan Nadira yang menganggap serius jawaban ia sebelumnya. Dan siapapun tahu jika mereka sedang berada di toko tas bukan toko pakaian.
Memilih bungkam adalah jalan terbaik jika istrinya sudah dalam mode lambat.
Buat naik tensi.
"Nan, keluar yuk.."
"Aku masih milih ini."
Qenan pun terkekeh geli mendengar bisikan Nadira. "Uang ku jauh lebih banyak dari harga tas yang kamu bilang Ra.."
"Serius Nan.. 65 juta cuma kembali 50 ribu loh, mending beli di tanah abang. Segitu, aku udah bisa buka toko tas sendiri."
"Oke, besok aku urus persiapan toko nya. Sekarang kita bayar dulu tas yang kamu bilang."
Qenan pun berjalan mengikuti pegawai toko ke meja kasir tanpa menghiraukan rengekan Nadira karena ia menyetujui apa yang dikatakan Nadira tadi.
Mereka keluar toko tersebut dengan wajah tak bersemangat.
"Kamu nyebelin."
Bukan marah namun semakin melihat Nadira begitu menggemaskan di matanya.
"Awas jatuh bibirnya." tuturnya menggoda.
"Biarin, paling kamu yang panik."
Sekuat tenaga ia menahan tawa melihat wajah Nadira semakin masam dan memerah karena menahan kesal padanya.
"Ya jangan kembang kempis gitu dong hidung nya." godanya merapat kan diri dekat dengan Nadira.
Namun lihatlah, wajah kesal itu berubah menjadi rona merah di garis wajahnya.
"Qenan.. Menjauhlah."
Suara rengekan Nadira bagai air yang menyirami kaktus di tengah gurun yang tandus. Ada rasa bahagia ketika rengekan dari Nadira terdengar.
__ADS_1
Ia memang suka Nadira yang kuat dan selalu berlaku realistis namun ia sangat menyukai Nadira yang merengek dan manja padanya.
Bukankah pria sangat menyukai ketika wanitanya sedang manja dan selalu mengikutsertakan dalam segala hal yang dilakukan wanita nya?
Ia merasa di butuhkan.
"Aku merindukan mu." ucapnya tanpa membalas rengekan Nadira.
Pelukan hangat dari Nadira meyakini bahwa istrinya itu juga merindukan dirinya.
"Kita pulang atau nonton?" tanya nya membalas pelukan Nadira.
"Nonton dong, sayang juga tiket nya."
Ia pun mengurai pelukan lalu menuju bioskop. Tak lupa ia beli dua kotak popcorn dan dua cup minuman dingin.
Film yang di pilih Nadira ber-genre komedi-romantis. Ternyata banyak yang menyukai film ini terbukti para penonton sudah tampak ramai.
Ketika panggilan masuk terdengar, keduanya pun bangkit dan melangkah kan kakinya.
"Kak Rendi." panggil Nadira melihat mantan pacar nya bersama Risa, lagi?
Rendi tampak salah tingkah. "Eh iya, Nana mau nonton juga?"
"Iya, ini pacar kakak?" tanya Nadira tanpa memperhatikan wajah sang suami sudah mulai berubah.
"Iya Na, mau nonton juga?" tanya Rendi diangguki oleh Nadira.
Nadira mengangguk dan memperhatikan Risa sedari tadi menunduk. Hatinya merasa tenang karena Nazeef bisa terbebas dari Risa dan sekarang terserah Nina bila ingin tetap lanjut dengan Arga.
"Kami masuk duluan ya Na."
"Eh iya kak."
Sepeninggalan Rendi, keduanya masih berdiri diam di tempat namun Nadira segera menarik Qenan agar masuk karena film nya akan tayang.
Sebenarnya Nadira menyadari perubahan wajah Qenan dan ia terus merayunya saat adegan berciuman maka ia pun melakukan hal itu hanya demi sang suami tak merajuk lagi.
"Kamu pintar merayu ku Ra.."
Ia terkekeh mendengar itu. "Makasih loh pujian nya."
Tanpa perduli film nya bagaimana, ia terus membungkam bibir Nadira karena merasa gemas pada istrinya sedari tadi.
Di tambah Rendi duduk tepat di belakang mereka maka dengan senang hati ia melakukan hal ini.
Qenan melihat dari tatapan cowok itu masih ada rasa cemburu dan tentu ia harus menunjukkan bahwa Nadira miliknya.
Nadira hanya milikku.
๐ธ
Bersambung..
*Maafkan emak beberapa hari ini hanya bisa serahin satu bab, keluarga suami lagi berduka.
Semalam, uwak dari suami meninggal dunia.
๐๐๐*
__ADS_1