
Melinda duduk di halte bus dengan kepala menunduk. Ia ingin menumpahkan segala kebodohan nya karena jatuh cinta kepada Dion.
"Percuma lo tiap sore dan malem temenin dia video call.. Seharusnya lo sadar, sikap cuek nya itu karena ada cewek lain di hatinya."
"Loh.. Kakak kecil ngapain?"
Suara seseorang yang ia kenal mengejutkan nya membuat ia cepat-cepat menghapus air mata yang terus saja mengalir di pipi tembem itu.
Seseorang itu duduk disebelah Melinda. "Kenapa nangis sendiri?"
"Ya karena aku sendirian." jawaban Melinda membuat orang itu terkekeh.
"Sekarang kita berdua, apa boleh kita nangis bareng sekarang?" tanya orang itu menatap lurus ke jalanan.
"Jangan, kamu cowok.. Jelek kalau nangis." cegah Melinda.
"Tapi aku hampir nyerah." ucapnya lirih.
"Coba perbaiki apa yang gak di suka Nina." Melinda memberi masukan kepada Nazeef.
Ya, Nazeef memanggil Melinda kakak kecil karena umur nya lebih muda dari nya tetapi tingkat pendidikan berada di atas nya. Begitupun Melinda memanggilnya adik besar karena alasan sebaliknya.
Mereka menjadi akrab beberapa hari lalu sepulang Nazeef dari puncak. Keduanya tak sengaja bertemu di pusat perbelanjaan. Keduanya menjadi teman curhat dan saling bertukar kabar.
"Udah, tinggal di Risa belum bisa aku putusin."
"Kenapa? apa karena kamu ada perasaan?"
"Bukan, tapi cuma si Risa yang setia nunggu aku dan dia pula yang terima aku yang seorang playboy dan casanova."
Melinda menghela nafas. "Kakak kecil tahu Rania itu siapa?"
"Memangnya kenapa?"
Kemudian Melinda menceritakan bagaimana khawatir nya Dion terhadap Rania dan memberitahu percakapan mereka yang di dengar Melinda.
"Hah.. Ternyata nasib kita sama."
"Tapi kakak mending, kak Nina sempat nunjukin kalau kak Nina suka sama kakak. Sedangkan aku?" Melinda berbicara dengan raut wajah yang sendu.
Nazeef senyum terpaksa mencoba menghibur Melinda yang teramat polos lalu mengajak rambut pendeknya.
"Gimana kalau kita makan aja.. Seenggaknya kita melupakan sakit hati kita sebentar." cetus Nazeef memberi ide.
"Ide bagus.. Aku pengen makan pizza adik besar.." sahut Melinda girang bahkan ia melompat sembari tepuk tangan mengekspresikan kegirangan nya.
Nazeef melihat itu tertawa merasa gemas melihat Melinda.
__ADS_1
Dion.. Lo nyesel kalau lebih milih Rania dari pada Elin. Andai di hati gue belum ada Nina pasti gue cepet jatuh cinta sama Elin. Lo bodoh Ion..
Nazeef masuk mobil diikuti Melinda. Di sepanjang jalan Melinda terus saja berceloteh membuat Nazeef tertawa renyah.
"Apalagi novel yang judulnya Jodoh KEDUA, itu lagi bikin baper tahu gak." Saat ini Melinda bercerita beberapa novel yang ia baca.
"Jodoh KEDUA?"
"Iya, aku baca novel itu dari kak Nadira.. Cerita nya bikin senyum-senyum sendiri tahu. Nanti adik besar baca ya.."
"Enggak.. Enggak... Aku gak suka baca kakak kecil."
"Baiklah.. Sekarang traktir kakak kecil mu ini pizza yang ada keju mozzarella nya."
"Baiklah.. Ayo kita bersenang-senang sore ini."
Mereka turun dari mobil dengan senym mengembang. Nazeef dan Melinda benar-benar ingin melupakan sejenak masalah hati. Ya, hati yang berjuang sendiri.
Nazeef memesan 1 paket yang isinya 2 medium hot pizza, 2 tasty pocket, 1 bread sticks, 1 chicken sides.
"Aku pizza nya aja, kakak sisanya." seru Nazeef.
"Dengan senang hati."
Kedua nya terus melahap tiap potongan-potongan pizza, sesekali mereka tertawa bersama saat tatapan keduanya bertemu.
"Asal kamu tahu ya adik besar, membuat orang jatuh cinta itu juga butuh tenaga."
"Kakak bener, mending minum dulu." Nazeef menyodorkan minuman kepada Melinda karena terlihat kesusahan menelan potongan pizza yang terakhir.
Jika orang lain melihat keakraban mereka saat ini seperti sepasang kekasih. Bahkan Nazeef dan Melinda sendiri terlihat tidak ada kecanggungan sama sekali karena merasa mereka adalah dua orang yang sama.
Sama-sama sedang memperjuangkan cinta kepada orang yang tidak memiliki perasaan apapun selain kebencian.
Andai oppa seperhatian ini sama aku..
Andai kamu mudah menerimaku seperti Elin Nina..
Saat awal Nazeef dan Melinda menjadi teman, Ia menceritakan yang sebenarnya kepada Melinda betapa buruk dirinya. Ia jujur bahwa ia adalah seorang playboy dan casanova di usia nya yang masih muda.
Mau tahu jawaban Melinda apa? jawaban nya hampir sama dengan apa yang dikatakan Nadira.
"Semua orang ingin menikmati masa muda nya dengan cara mereka sendiri. Mau menjadi playboy atau tidak itu urusan mereka."
"Dan kalau kamu udah menemukan cinta mu maka belajarlah berubah menjadikan cinta mu itu hanya satu-satunya cewek di hidupmu."
Ada satu ucapan Nadira yang Nazeef ingat hingga saat ini dan itu membuat ia bertanya-tanya. Mengapa Nina tidak seperti itu?
__ADS_1
"Sebagai orang yang kamu cinta juga seharusnya dia bantu kamu untuk berubah, seenggaknya semangati kamu."
Begitu juga Melinda, ia sedang berpikir keras mengapa Dion sangat susah digapai. Jika memang tak menginginkan hadirnya kenapa Dion selalu menerima setiap perhatian atau kerusuhan yang ia ciptakan.
Itu sama saja seperti pemberi harapan palsu. Sakit tapi tak berdarah.
Perih.
Dan lihatlah sekarang dua insan yang sering patah hati karena cinta tak terbalaskan.
...****...
"Kenapa sih Rania masih aja ngadepin kamu Nan?" gerutu Nadira.
Tadi Nadira dan Qenan sedang berbelanja bulanan dan bertemu Rania disana. Seperti biasa cewek itu selalu mempunyai banyak cara agar bisa berdekatan dengan Qenan.
Qenan hanya bisa tersenyum dan geleng kepala melihat tingkah Nadira yang kian hari semakin menunjukkan kecemburuan nya.
"Qenan.. Kenapa kamu senyum-senyum gitu? seneng ya tadi di cium pipi nya sama Rania?" sungut Nadira memicing menatap Qenan penuh curiga.
Qenan menelan saliva dengan kasar bahkan ia bergidik ngerih melihat tatapan Nadira berbeda dari biasanya.
Sangar.
Ada apa dengan Nadira?
Untuk pertama kalinya Qenan merasa takut dengan tatapan Nadira karena biasanya ia hanya melihat tatapan cinta dan pernah juga melihat kerapuhan tapi itu hanya beberapa kali saja.
"Ra.."
"Tuh kan.. Jadi bener?" Rajuk Nadira menghentakkan kaki di depan Qenan.
"Eh.. Kok nangis?" tanya Qenan panik lalu mendekap Nadira.
"Kamu mau duain aku Qenan?" tanya Nadira masih terisak di dekapan Qenan.
"Gak akan ada yang duain kamu Ra.. Tenang ya.." Qenan terus memberi ketenangan untuk istrinya. Ada rasa aneh dipikiran nya mengapa berubah menjadi cengeng seperti ini karena biasanya Nadira selalu melawan jika ada yang menggangu miliknya.
"Bener?" tanya Nadira dengan suara parau.
"Iya.. Kamu mau makan pizza? aku harus temuin Nazeef dan dia lagi disana sama temen nya."
"Mau.." sahut Nadira cepat, mimik wajahnya langsung berubah menjadi senang.
🌸
Bersambung...
__ADS_1