
Keduanya keluar dari taksi setelah membayar ongkos. Belum sempat melangkah menuju gerbang keduanya di kejutkan oleh suara seseorang.
"Hai.."
Nadira merasa tidak mengenal cewek di hadapan mereka. Ia pun lantas menyikut lengan Nina sebagai isyarat untuk memberi tahu siapa cewek di depan mereka ini.
"Risa." bisik Nina.
"Lo cewek bos Qenan kan?" tanya Risa mengakrabkan diri.
Nadira tersenyum dan mengangguk.
Risa beralih menatap Nina dari ujung kepala hingga kaki lalu tersenyum miring.
"Lo yang waktu itu numpang di mobil Nazeef pacar gue kan?"
"Ralat. Bukan gue yang numpang tapi cowok lo yang maksa gue untuk pulang bareng kalian."
Risa terus saja mencoba mengakrabkan diri ke Nadira. Entah apa maksud dari perlakuan nya itu yang pasti Nadira tidak suka.
"Rara.."
Nadira yang hendak pamit ingin menghindari Risa menoleh ke sumber suara yang memanggil sebutan nama dari orang yang ia rindukan.
Seketika, jantung Nadira berdetak dengan kencang.
Suaminya itu sangat tampan!
Dia mengenakan jaket merah dengan dalaman nya adalah seragam sekolah.
Menurut perkiraan Nadira tinggi badan suaminya itu 180cm, perbedaan tinggi yang cukup signifikan. Nadira tiba-tiba merasa dirinya sangat kecil. Rahang yang tajam, alis yang hitam tebal tersusun rapi, dan mata coklat gelap semua menonjolkan wajah nya yang terlihat seperti pahatan karya seniman terkenal.
Saat alis itu berkerut, Nadira menyadari suami tampan nya itu sangat berwibawa dan mendominasi.
Ah!
"Hei.." Suara Qenan membuat Nadira tersentaj karena ia melamun mengamati cowok yang bergelar suaminya ini.
"Kenapa melamun?"
Nadira menggeleng.
"Hai bos Qenan.." sapa Risa.
Qenan pun melirik Risa sekilas lalu mengangguk. "Kita ke kafe dulu ya.. Baru pulang ke apartemen."
Nadia mengangguk tanpa bersuara karena sedang mengatasi degub jantung berlebih mengakibatkan dirinya menjadi gugup.
"Aku ambil mobil dulu." ucap Qenan dan Nadira hanya mengangguk lagi.
Risa memilih pergi karena tak ditanggapi memilih pergi.
Jika di luaran sana sepasang kekasih yang sudah lama tak bertemu maka saat waktunya tiba bertemu akan berlari dan saling berpelukan. Tapi mengapa Nadira tidak? Ia terlalu gugup untuk melakukan hal itu.
__ADS_1
Berulang kali ia menarik nafas lalu menghembuskan perlahan-lahan. Merasa aneh dengan dirinya jika berada di depan suami sendiri yang tidak bertemu dalam sehari.
"Na.. Lo ikut gue ya? Lo kan bentar lagi masuk kerja." tawar Nadira. Ya, Walau Nina sudah di biayai untuk kuliah namun ia memilih tetap bekerja karena harus mengirim uang ke orang tua nya untuk membantu biaya hidup keluarganya.
Karena Nina kuliah dan atas permintaan Nadira, ia pun memutuskan Nina masuk kerja pada shif sore.
"Apa gak ngerepotin Dir?" tanya Nina.
"Enggak lah."
Keduanya memilih duduk di halte bus yang tak jauh dari sekolah Qenan. Bercerita banyak tentang masa sekolah mereka dahulu. Nadira juga tadi melihat Rania yang sedang memperhatikan nya namun setelah bersitatap, cewek itu memalingkan wajah lalu pergi begitu saja.
Qenan🦁 :
Dimana Ra?
Satu pesan WhatsApp masuk ke ponsel Nadira. Sebelum membalas ia menoleh ke arah gerbang sekolah ada mobil Qenan disana. Segera ia membalas pesan tersebut mengatakan jika ia dan Nina berada di halte bus dekat sekolahnya.
Bibirnya melengkung saat mobil Qenan berhenti tepat dimana mereka duduk. Nadira pun mengajak Nina untuk naik bersama.
Qenan yang tadinya duduk di sebelah kemudi kini keluar membukakan pintu untuk Nadira di kursi penumpang bersamanya juga ikut duduk disana. Sedang Nina terpaksa harus duduk di sebelah kemudi, sebelah Nazeef.
Di sepanjang jalan tidak ada suara yang dari mereka. Hanya Qenan yang senantiasa menggenggam tangan Nadira.
Biarlah genggaman tangan keduanya dapat menyampaikan betapa hati ini sangat merindu. Karena pada dasarnya Qenan tak pandai berkata-kata untuk menyampaikan isi hatinya. Yang ia tahu hanya merasa kehilangan saat Nadira tak dekat dengan nya.
Sudah ketergantungan.
Sesampainya di Kafe, Qenan dan Nadira langsung berjalan masuk ke kafe tanpa melepas genggaman. Sedang di dalam mobil, Nina hendak keluar dari mobil namun pintu sudah terkunci dan itu ulah dari Nazeef.
Nazeef bergeming hanya menatap kedua mata Nina membuat sang empunya salah tingkah.
"Lo kenapa?"
"Gue kenapa?"
"Ya, Lo kenapa berubah?"
Nina menghela nafas. Mungkin ini saatnya ia berbicara serius pada Nazeef.
"Gue gak pernah berubah. Lo nya aja salah menilai."
"Tapi gue suka sama lo." kata Nazeef lirih.
Nina menggeleng. "Enggak. Lo gak pernah suka sama gue Zeef."
Nazeef yang tertunduk kembali mendongak menatap Nina. Tatapan yang susah di artikan.
"Apa lo gak bisa ngerasain rasa itu dari tatapan gue? dari cara gue mencoba untuk dekat sama lo lagi."
Nina terkekeh kecil. "Lo terus coba deketin gue tapi lo tetap berhubungan sama cewek-cewek lo yang lain. Sorry gue bukan Risa yang tetap terima kelakuan lo yang suka main sama cewek."
"Gue janji akan tinggalin mereka demi lo terima gue." Nazeef mencoba membujuk Nina lagi.
__ADS_1
Lagi-lagi Nina terkekeh lalu menggeleng kan kepala mendengar bujukan Nazeef.
"Itu salah satu kalimat yang sering gue denger dari mulut playboy kayak lo."
Nazeef bungkam mendengar itu. Tenggorokan nya seakan tercekat membenarkan apa yang dikatakan Nina. Namun ia mengatakan itu pada Nina tulus dari hatinya.
"Sekarang bukain pintu mobil nya."
Dengan terpaksa Nazeef menekan kunci pintu itu agar Nina bisa keluar. Pupus sudah harapan untuk mendapatkan Nina.
Lain di mobil, lain pula di ruang kerja Qenan. Tampak buku-buku berada di lantai yang semula tadi ada di atas meja. Terdapat juga jaket kulit berwarna merah dan celana jeans cewek tergeletak di lantai.
Ruang kerja tersebut lebih seperti kapal pecah. Itu semua akibat ulah sepasang suami-istri muda yang tengah memadu kasih.
Tidak tahu tempat. Padahal ada kasur single di ruang itu namun sepertinya mereka tak menyadari.
Kemeja sekolah Qenan sudah tak terlihat lagi, kini dalam keadaan berte lanjang dada dan celana sekolahnya sudah turun hingga ke lutut sedang Nadira sudah polos di bagian bawah dan kemeja yang ia kenakan kancing sudah terbuka dan br*a sudah tersingkap hingga menampilkan kedua aset nya.
"Qenaaan aahh.." Suara yang tertahan kini terlepas dengan sigap Qenan membungkam kembali bibir ranum Nadira agar suara syahdu nya tak terdengar sampai keluar ruangan.
Sentuhan-sentuhan yang diberikan Qenan sungguh membuat ia mabuk kepayang. Terus menjejaki setiap inci lekuk tubuhnya. Memberikan rasa yang tak dapat terucap dengan kata-kata hingga keduanya mencapai puncak nirwana bersama.
"Qenan.." ucapnya lirih dengan nafas yang masih terdengar memburu.
"Makasih Ra.." Di kecup kening Nadira yang duduk di atas meja dalam keadaan masih menyatu.
"Kira-kira di dalam situ bocor gak Nan?"
"Gak tahu."
"Ya udah lepasin rudal nya dong.." Rengek Nadira karena Qenan membiarkan mereka masih menyatu.
"Rudal?"
Nadira mengangguk. "Iya.. Rudal Amerika yang ada di dalam itu." Nadira menunjuk ke bawah tepat di dalam ke malu an nya.
Akhirnya Qenan melepaskan diri dan menunjuk aset nya. "Ini?" Ia pun melepas pengaman yang ia kenakan tadi.
"Iya."
"Kenapa kamu sebut Rudal Amerika?" tanya Qenan sembari membersihkan sisa-sisa percintaan mereka yang ada di atas meja.
"Ya karena kekuatan nya bisa di acungi jempol dan Amerika itu kan darah yang ngalir di kamu."
Qenan tak menjawab memilih menggendong Nadira menuju kamar mandi. Ruang kerja yang berantakan itu pun masih terkunci rapat.
🌸
Bersambung...
*Masih kurang gak?
Kalian apa kabar? semoga sehat selalu ya..
__ADS_1
Terimakasih banyak atas dukungan kalian.
Emak sayang kalian*..