
Sesuai rencana, Nadira dan Melinda membantu Nazeef untuk menyambut malam nanti. Kedua ibu hamil itu tengah menghiasi kamar dengan kelopak bunga mawar merah dan balon berbentuk hati.
Sedang Nina sengaja di ajak jalan-jalan oleh Nazeef. Jangan tanya kedua suami mereka. Tentu masih di kantor masing-masing.
Sebenarnya Nadira dan Melinda telah berbohong tadi. Jika Nadira izin hendak pergi jalan-jalan dengan Nina dan Melinda sedang Melinda izin ingin berbagi cerita tentang kehamilan.
Nadira juga merasa beruntung karena jika siang hari ia terlihat biasa saja, berbeda pada pagi hari yang masih sering mual dan muntah.
"Sesak nafas, gila." gerutu Nadira dengan nafas tersengal karena baru selesai meniup balon terakhir.
"Sama."
"Kehamilan ini buat tenaga kita kurang ya kak?" tanya Melinda menatap balon merah berbentuk hati itu masih berdetak di lantai.
"Iya." jawab Nadira singkat karena sedang melihat hasil kerja mereka yang lumayan bagus.
Dinding tepat di kepala ranjang itu di sulap menjadi indah. Dengan balon merah berbentuk hati berbaris memenuhi sisi dinding. Tak lupa ada bunga mawar yang sengaja mereka rekat di dinding dan tengah dinding berisi puluhan foto Nazeef dan Nina lalu mereka pasang dengan tumberlamp berbentuk hati di sekitar foto.
Juga balon di atas dengan gantungam berbentuk hati. Di bagian ranjang kelopak bunga mawar merah mereka susun rapi dan cantik dengan bentuk love di tengahnya.
"Akhirnya kita selesai." ucap Nadira lalu mengajak Melinda untuk ke kantor suami mereka masing-masing.
Sesampainya di rumah Nadira membersihkan diri lebih dahulu karena ia juga ingin tampil cantik.
Begitu juga Melinda di apartemen. Ia juga ingin tampil cantik di depan suaminya.
...****...
Malam harinya, Qenan yang baru pulang mengerutkan dahi ketika melihat sang istri berdandan.
Berdandan?
Sadar akan keanehan, ia mendekati wanita yang tengah hamil anak nya itu. Lalu mengecup kedua pipi nya yang berwarna merah muda karena blush-on.
"Kamu mau pergi?" tanya Qenan.
"Iya, kamu cepat mandi gih, pakaian udah aku siapin. Aku pengen makan malam romantis." Nadira tersenyum penuh arti melihat sang suami dari pantulan cermin.
Namun Qenan bergeming karena merasa aneh pada sang istri. "Kamu abis dari mana sama Melinda? tumben ajak aku makan malam romantis?"
Nadira mendongak dengan senyuman. Ada rasa tidak tega tetapi mau bagaimana lagi. Ia berdiri lalu memeluk Qenan sesaat.
Kedua tangan mengalung di leher Qenan lalu jinjit untuk mengecup bibir suaminya itu.
Qenan sendiri tak membuang kesempatan. Ia juga merindukan istrinya itu. Tangan semula hanya diam kini sudah membuat tubuh itu merapat tanpa jarak.
"Nan, Riasanku." cicit Nadira setelah pagutan terlepas.
"Aku menginginkanmu, Ra." kata Qenan dengan suara berat menahan sesuatu yang menuntut.
Nadira mendongak dengan menggigit bibir bawahnya malah membuat has rat Qenan semakin menggebu.
Tidak menerima penolakan dari Nadira langsung ia bungkam kembali dengan bibirnya dan bergerak mengarahkan ke ranjang mereka. Entah siapa yang memulai namun keadaan mereka berdua sudah polos, kini.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti karena ia juga ingat pada calon anak mereka. Kedua tangan saling menggenggam, tubuh Nadira setiap jengkal ia telusuri dan meninggalkan jejak kepemilikan disana.
Hingga akhirnya hanya terdengar desa han, lenguhan, dan erangan nikmat dari keduanya.
...****...
"Oppa, ayo dong kita jalan-jalan." rengek Melinda untuk kesekian kalinya.
Dion menggeleng seraya mengeratkan pelukan. "Aku masih kangen."
Melinda menghela nafas panjang berpikir apalagi alasan agar Dion mau keluar dari apartemen bersamanya.
"Tapi tadi udah sekali."
Dion mengangguk namun tak melepaskan pelukan. Dan itu membuat Melinda semakin bingung.
"Pi, ayo. Aku pengen jalan-jalan." rengek Melinda dan berhasil membuat Dion melepaskan pelukan.
Keduanya bersiap untuk pergi. Nina sepanjang jalan terus saja tersenyum dan berharap Nadira segera sampai di apartemen Nazeef.
"Kenapa ke apartemen Nazeef?"
"Iya, Nina butuh bantuanku sebentar, Oppa."
"Kenapa oppa lagi sih?"
"Ah iya, papi."
Sesampainya nya di lobby apartemen Nazeef, ia memilih mengajak Dion duduk di sofa yang ada disana untuk menunggu Nadira dan Qenan.
...****...
Di kediaman Qenan dan Nadira.
Sedari tadi Nadira terus menggerutu karena ulah Qenan. Sepertinya pria itu tahu jika ia sedang merencanakan sesuatu hingga memperlambat kegiatan mereka lebih lama lagi.
Seperti saat ini, Qenan begitu lama di kamar mandi membuat ia semakin jengkel.
"Qenan, keluar sekarang atau aku pergi sendiri."
Ancaman Nadira berhasil kali ini. Pintu kamar mandi itu terbuka dan menampakkan kepala Qenan menyembul disana.
"Jangan coba-coba pergi jauh dariku, Ra." Kemudian pintu tertutup kembali.
Di elus perut Nadira yang sudah menonjol. "Lihatlah, Daddy mu itu selalu membuat Mommy jengkel. Kalau udah lahir jangan tiru papa jelek kamu itu ya."
"Siapa yang jelek, hm?" tanya Qenan memeluknya dari belakang dan dagu di bahu.
"Daddy nya anakku."
"Siapa Daddynya?"
"Suamiku lah."
__ADS_1
Qenan melihat Nadira sudah cemberut akhirnya mengalah. Di kecup pipi Nadira. "Baiklah, maafin Daddy, ya." Qenan jongkok mensejajarkan pada perut Nadira lalu mengecup perut itu berulang kali.
...****...
"Ngapain kita ke apartemen Nazeef?"
"Makan malam romantis." jawab Nadira sekenanya.
Di genggam tangan Nadira hingga ke lobby bertemu dengan Dion dan Melinda. Rasa curiga nya semakin melekat karena tidak biasanya Dion menunggu di lobby.
Menoleh melihat ekspresi mencurigakan dari sang istri tetapi ia tidak menemukan jawaban. Hingga sampai di unit apartemen Nazeef pun ia semakin curiga karena sang istri tahu password apartemen sahabatnya.
Langkahnya terhenti ketika Nadira hendak melangkah masuk ke dalam. Matanya memicing curiga.
"Ada apa, Nan?"
"Kenapa kamu bisa tahu password nya?" tanya Qenan dingin membuat Nadira kikuk sembari melirik Melinda.
"Nina yang kasih tahu."
"Bohong kan?" tanya Qenan masih dengan tatapan menyidik.
"Nazeef yang kasih tahu."
Qenan menganga. "Kamu pernah kesini sama Nazeef?" Cemburu tengah menguasai diri saat ini.
"Enggak. Jangan marah ya, ayo kita masuk."
Qenan mengalah dan ikut masuk ke dalam. Ia tercengang tata perabotan ada yang berbeda. Memang ada meja makan dengan makanan lezat sudah tersaji disana.
Tetapi mengapa di depan pintu kamar?
Qenan dan Dion saling pandang lalu menatap istri masing-masing. Menelan saliva terasa sulit seperti menelan biji salak.
"Duduk." titah Nadira berubah menjadi dingin dan datar begitu juga Melinda.
"Kita makan diluar aja yuk, Ra."
Nadira menggeleng. "Duduk."
"Ra."
"Duduk, Nan. Kamu juga Dion."
Mau tidak mau kedua pria muda itu duduk tepat di kursi yang bersebelahan dengan dinding kamar.
Sedang Nadira dan Melinda duduk di seberang dua pria itu memasang earphone bluetooth di telinga masing-masing menonton drama Korea berjudul 'Whats Wrong with Secretary Kim'.
Kedua tubuh pria muda itu menegang setelah mendengar suara saling bersahutan dari dalam kamar itu. Ingin bangkit mendekati sang istri namun tatapan tajam itu membuat nyali kedua pria itu menciut.
🌸
Bersambung..
__ADS_1