
"Woy, Nina keriting." panggil Nazeef ketika panggilan video nya di jawab Nina.
"Apaan, sih Zeef."
"Gak niat pulang apa gimana? betah banget di kampung halaman."
Sudah seminggu Nina pergi membuat Nazeef kesepian. Ia tak melarang karena selama menikah, istrinya itu tak pernah pulang ke kampung halaman. Itupun harus diam-diam karena takut Nadira tahu dan ingin ikut ke Bogor.
Bukan tak ingin, namun istri dari sahabat sekaligus bos nya itu tengah hamil dan tak bisa jauh dari Qenan sedang pria itu masih banyak pekerjaan.
"Seminggu lagi, ya."
Nazeef berdecak. Beruntung pekerjaan nya juga banyak jadi tak masalah jika Nina berada disana.
"Beb, kau membuat ku kangen."
"Sabar ya, udah dulu ya Zeef. Aku mau bantu ibu masak."
Nazeef mengangguk. "Titip salam sama ibu. Aku juga mau kerja lagi."
Panggilan video itu terputus. Nazeef memandangi wallpaper di ponselnya. Foto dimana mereka baru saja nonton sebelu. Nina hamil.
"Aku kangen."
Nazeef kembali berkutat pada tumpukan dokumen. Bekerja di usia muda tak masalah baginya. Dahulu ketika baru pertama kali memulai usaha berjualan kaos bersama Qenan juga tak ada rasa malu sedikitpun.
Bagaimana mereka menawarkan ke teman sekolah, kakak kelas, harus jadi model kaos sendiri. Siaran langsung di sosial media hanya untuk menawarkan kaos seharga tiga puluh lima ribuan.
Tapi jangan tanya media sosial siapa ya g di gunakan. Tentu saja dirinya karena Bos nya itu sangat tidak suka akun pribadi untuk bisnis.
Hingga sekarang, tanpa harus promosi di media sosial pribadi kaos mereka di cari-cari pelanggan.
"Hallo." katanya ketika ponsel berdering.
"..."
"Iya, gue kesana."
Nazeef mematikan laptop dan membereskan berkas-berkas kemudian meninggalkan ruangan menuju ruangan Qenan.
Seperti malam-malam biasanya. Ia akan mengantar Qenan dan Nadira pulang. Seperti saat ini, sahabatnya itu sering sekali keluar ruangan dengan Nadira berada di gendongan.
"Lo gak kasihan lihat kakak ipar setiap hari di kantor mulu." ucap Nazeef setelah berada di dalam lift.
"Ini lebih baik dari pada gue harus jauhan sama Rara, dia sebetar lagi lahiran."
"Lo bisa kerja dari rumah, biar kerjaan di luar gue handle."
"Dan gue gak mau lo kerja sendirian."
Nazeef terharu dengan jawaban Qenan. Tidak menyangka jika sahabatnya masih memikirkan dirinya di tengah kehamilan sang istri.
"Gue terharu, pengen peluk boleh?" tanya Nazeef langsung di hadiahi tatapan membunuh dari Qenan membuat nyalinya menciut.
__ADS_1
"Kalau kangen istri itu di jemput jangan nunggu dia pulang."
Nazeef menghela nafas. "Nantilah, kerjaan kita banyak. Lo mah enak di buntutin sama kakak ipar. Nina beda, dia gak suka nunggu."
Pintu lift terbuka membuat menghentikan obrolan mereka. Dengan sigap Nazeef membukakan pintu penumpang lalu ia masuuk di kursi kemudi.
"Zeef, tolong besok pagi pimpin rapat ya. Gue siang baru bisa datang. Gak apa-apa kan?"
Nazeef mengangguk. "Mau kemana?"
"Periksa kandungan Rara."
"Oke, kasih bonus ya."
"Ck. Cuma lo anak orang kaya tapi mau nya kerja sama orang."
Nazeef mengedikkan bahu sembari melajukan mobil membelah jalanan. Jalanan sudah lenggang karena sudah hampir tengah malam.
Beberapa saat kemudian mobil mereka sudah masuk ke pelantara rumah Qenan. Setelah membukakan pintu mobil dan pintu rumah langsung pamit pulang karena tubuhnya sudah gerah dan butuh istirahat.
"Tumben Nina gak ada hubungi gue sebelum waktu dia tidur." ucap Nazeef namun tetap fokus pada jalanan.
Mobil sudah di parkirkan. Masuk dengan langkah lebar memasuki lift dan menekan tombol dimana apartemennya berada.
Pintu lift terbuka, ia pun keluar dengan cool bersiul-siul dan tangan berada di dalam saku celana.
Menekan barcode apartemen nya. Masuk membuka sepatu di gelapnya ruangan. Meraba dinding mencari saklar dan...
"Beb, kenapa lama banget pulang nya? aku udah nunggu kamu lama." cerocos Nina.
"Beb."
Nazeef langsung berhambur ke pelukan Nina. Mengecup seluruh wajah sang istri.
"Zeef."
Kedua pasang mata bertemu tak lama bibir itu sudah saling berpagut melepas rindu sekian lama tak jumpa. Menyesap mengantarkan kata cinta bergelora.
"Udah siapin ini?" tanya Nazeef dengan suara berat. Tangan nya sudah masuk ke dalam lingerie yang dikenakan Nina dan ternyata istrinya itu sudah tak memakai dalaman dan pelindung kedua bukit kembar tersebut.
Nina mengangguk membuat Nazeef tersenyum lalu menggendong wanita itubke dalam kamar.
"Aku kangen, beb."
"Aku datang, Zeef."
Nazeef baringkan tubuh Nina ke tengah ranjang, menyelipkan anak rambut ke daun telinga lalu memulai pagutan kembali.
Pagutan begitu lembut dan memabukkan. Tangan sudah bergerilya ke setiap sisi tubuh membuat Nina mengerang tertahan merasakan sentuhan itu.
Tak lupa Nazeef mengelus dan menyapa calon bayi mereka.
"Nazeef." cicit Nina tak tahan lagi.
__ADS_1
"Ya, beb."
"Sekarang." rengek Nina dengan suara manja.
"Baiklah, kamu yang meminta maka aku gak akan berhenti." ucap Nazeef kemudian membuka celana yang masih melekat di tubuhnya.
"Aah.." erang Nazeef saat burung pipitnya baru saja memasuki sangkar yang seminggu ini tak ia kunjungi.
Gerakan pinggul maju mundur membuat keduanya meracau menyebutkan nama pasangan nya.
Hingga pencapaian hampir tiba, pacuan semakin di kerahkan hingga racauan dan desa han panjang terdengar di kamar itu.
"Kamu gila, beb." seru Nina dengan nafas maskh terengah.
Nazeef berguling ke samping Nina. "Tubuhmu membuatku gila."
Ia menyelimuti tubuhnya dan Nina lalu memeluk wanita itu juga ikut memejamkan mata.
...****...
Esok harinya di kediaman Qenan dan Nadira. Wanita yang bergelar ratu di rumah itu sedari tadi mengomel karena Qenan membuat ulah lagi.
Bagaimana tidak? suaminya itu sudah meminta pelayanan dini hari dan kembali melahapnya di pagi hari di bawah guyuran shower.
Bahkan pelayan rumah itu tidak ada yang berani menyapa Nadira karena wajah nya masam sedari tadi.
"Bi, masih ada stok kerang nggak?" tanya Nadira.
"Masih, Nya."
"Aku pengen rebus kerang. Bibi bisa nggak?" tanya Nadira lagi.
"Bisa, nyonya dusuk saja dulu biar saya siapkan."
Nadira mengangguk lalu berlaku dari dapur menuju kamar lagi karena suaminya tak kunjung turun.
"Qenan.. Apa yang kamu lakukan?" pekik Nadira langsung membalikkan badan karena melihat kelakuan aneh suaminya.
Qenan menoleh lalu terkekeh. "Kenapa balik badan? bukan nya kamu sering merasakan nya?"
Mau tahu apa yang dilakukan Qenan? suaminya itu sedang memegang rudal di depan cermin.
"Dan kamu masih kurang sampek gunain tangan kamu?"
"Enggak, tadi aku ngukur rudal. Kayaknya di tumbuh dengan baik "
Nadira berdecak. "Iya, rudal makin gemuk. Sesak tahu."
Qenan tertawa lalu membalikkan tubuh Nadira lalu mengecup kening wanita berperut buncit.
"Makasih telah hadir di hidupku, Ra."
❤️
__ADS_1
Bersambung..