
"Sialan.. Tadi di kelas kena hukum sekarang harus di hukum lagi. Mimpi apa gue tadi malam." gerutu Nazeef saat ini ia dan Qenan tengah membersihkan toilet sekolah.
"Ck.. Lo dari tadi ngomel terus bukan nya bersihkan juga." Sedari tadi ia menahan kesal karena seumur hidupnya ia tak pernah melakukan hal seperti ini. Setelah menikah pun ia tak pernah membersihkan toilet karena Nadira selalu membersihkan nya. Ia hanya bertugas menyapu dan mencuci piring saja.
"Iya-iya. Galak amat."
Dion masuk ke area toilet dengan ponsel yang mengarah ke wajah nya.
"Hai .. Gimana disana?" saat ini Dion tengah melakukan video call dengan Nadira.
"Hai.. Emm baru hari pertama jadi biasa aja sih.."
"Udah dapet teman baru belum?" tanya Dion.
"Udah, kapan-kapan nanti gue kenalin. Lagi apa Ion?"
"Gue? lagi mandorin dua orang yang gue hukum karena terlambat datang." Dion sengaja mengeraskan suara agar Qenan menoleh ke arahnya. Dan benar saja, Qenan memperhatikan dirinya kini.
Terdengar gelak tawa di tempat Nadira membuat Dion tersenyum. Ia sengaja melakukan video call dan masuk ke are toilet karena di luar sana sudah banyak fans fanatik seorang Qenan Abraham menunggu dengan setia.
"Itu siapa yang ketawa nya keras banget? cewek juga."
"Oh teman baru gue, orang nya lucu masih muda banget."
"Oh iya Ion, Qenan kemana? kok gak ada hubungin gue ya?"
Dion menyeringai mendengar pertanyaan dari Nadira. Ide muncul di kepalanya untuk ngerjain Qenan. Kapan lagi bisa ngerjain seorang Qenan Abraham pikirnya.
"He kalian berdua.. Sebelah sini masih kotor woy.." Serunya menunjuk sisi dekatnya.
Qenan yang sudah tak tahan langsung mendekati Dion ingin menghajar nya. "Anj ir lo.. Lo kira gampang apa bersihkan ini? Lo gak tahu gue siapa?"
"Iya gue tahu lo kakak ipar gue, terus?" tanya Dion dengan tampang tak berdosa dengan video call masih menyala.
"Lo aja yang ngerjain." ujarnya memberi brush toilet.
"Qenan.."
Qenan yang hendak melangkah pun urung karena mendengar suara seseorang yang ia rindukan. Iapun lantas merebut ponsel milik Dion.
Di bukanya masker sedari tadi ia kenakan. Melihat wajah sang istri membuat ia tersenyum ditambah istrinya pun melakukan hal sama.
"Kamu kemana aja? aku WA gak di balas."
Qenan terkekeh melihat bibir Nadira yang mengerucut hingga bibir bawah Nadira seakan mau jatuh.
"Hape ku ketinggalan di kelas. Aku kena hukum Dion. Aku kesiangan bangun." Qenan mengaduh pada Nadira.
__ADS_1
Nadira tersenyum. Belum sempat menjawab ada wajah cewek lain yang tak dikenali Qenan sedang menatapnya.
"Kak.. Ini siapa? ganteng tapi.." Cewek itu adalah Melinda. Ia tak melanjutkan ucapan nya dan membisikkan sesuatu ke telinga Nadira membuat sang empunya telinga tertawa.
"Apa kelihatan banget ya? Tapi aku cinta.. Gimana dong?" ucap Nadira membuat Melinda bergidik ngerih.
"Aku di cuekin, Matiin aja ya, jangan vc sama Dion." Qenan memasang wajah sebalnya.
"Iya, nanti aku ke sekolah deh.. Belajar yang bener ya.. Aku mau masuk dulu."
"Aku gak di cium?"
Pertanyaan Qenan membuat Nazeef dan Dion berasa ingin muntah. Pasalnya selama ini mereka mengenal Qenan bagai si raja hutan namun ketika bersama Nadira maka akan berubah menjadi anak kucing menggemaskan.
Sangat menjijikkan.
"Qenan.. Kamu apaan sih.. Malu tahu."
Ia terkekeh melihat wajah Nadira yang tersipu malu.
"Ya udah nanti aja ngamar di apartemen. Udah ya aku matiin." Qenan mengerling mata sebelum mematikan video call lalu menyerahkan ponsel milik Dion.
Ada senyum terbit di wajah Qenan setelah melihat dan mendengar istrinya. Namun senyuman itu di nilai horor oleh kedua sahabatnya.
"Qen.. Lo sakit?"
...****...
"Kak Nadira.. Itu beneran cowok kakak?" tanyanya kepo.
Lagi-lagi Nadira terkekeh melihat wajah imut Melinda yang bertopang dagu menunggu jawaban darinya.
"Iya."
"Masih SMA?"
"Iya."
"Gak malu? biasanya kan cewek itu sukanya yang lebih dewasa dan banyak duit bahkan ada yang nikah sama sugar Daddy asal banyak duit nya."
Nadira dan Nina hanya menggeleng kepala saja.
"Lo tahu dari mana cewek nikah sama sugar Daddy Elin.." celetuk Nina.
"Dari novel yang gue baca kak." Melinda nyengir kuda.
"Kalau di novel sugar Daddy nya mah ganteng-ganteng kalau di dunia nyata perut nya buncit kebanyakan."
__ADS_1
Ketiganya pun tertawa bersama tidak menghiraukan siapapun melihat aneh ke arah mereka.
"Tapi ya Lin, perlu di garis bawahi, Pacar nya Nadira kita ini itu banyak duit nya. Dia aja bos gue di kafe Hebat." terang Nina lagi.
Melinda terbelalak tak percaya. Pasalnya ia pelanggan tetap kafe Hebat dari kafe yang dekat sekolahnya itu didirikan hingga kini menjadi tempat tongkrongan bersama teman-teman nya.
Tetapi selama itu pula ia tak pernah tahu sosok pemilik kafe Hebat.
"Jadi yang punya masih anak SMA?" tanya Melinda masih tak percaya.
Nadira hanya mengangguk saja.
"Demi apa? ya Ampun.. Kakak bakalan jadi Nyonya kaya raya dong.. Wow.. Kekayaan gak menjamin umur ya kak."
"Mau dong cowok SMA juga.." rengek nya membuat Nadira dan Nina hanya bisa menggeleng kepala saja. Karena sedari tadi hanya Melinda yang membuka topik pembicaraan.
Mereka pun mengerti jika Melinda sama persis seperti mereka ketika umur 16 tahun saat baru memasuki SMA dahulu.
"Ayo kita masuk kelas sebelum dosen masuk." ujar Nadira.
Selama mata kuliah berlangsung, Nadira merasa kikuk saat mengikuyinya lantaran selama setahun tidak pernah belajar pelajaran akademis itu membuat otak nya benar-benar linglung.
Ketiganya keluar dari kampus bersamaan. Nadira mengajak Nina untuk kesekolah Qenan lebih dahulu. Tadi pagi, Nadira menolak keras untuk di jemput oleh Wido atas perintah papa Surya.
"Kita naik taksi atau angkot ya?" tanya Nadira.
"Kak Nadira, gue boleh ikut gak?" tanya Melinda.
"Boleh sih, tapi entar ibu lo nunggu."
"Iya sih, ya udah deh besok-besok. Gue duluan ya.." Melinda masuk ke dalam angkot yang berbeda arah dari mereka.
"Dir, gue males ketemu Nazeef. Apalagi di sekolahnya. Pasti ada Risa."
Nadira menghela nafas panjang. "Kalau lo cinta di kejar Na.. Lupain masalalu."
Nina diam sejenak memikirkan apa yang dikatakan Nadira. Ia bisa saja menerima Nazeef tapi mengingat kelakuannya tentu saja sangat sulit.
Mereka memutuskan untuk menaiki taksi. Nadira memberi tahu alamat tujuan lalu bermain ponsel. Ia sengaja tak membahas lagi agar Nina bisa memikirkan ucapan nya.
"Gue nunggu di sini aja ya.."
Nadira menggeleng. "Enggak. Lo harus ikut, damai lah biar hati lo tenang juga."
Keduanya keluar dari taksi setelah membayar ongkos. Belum sempat melangkah menuju gerbang keduanya di kejutkan oleh suara seseorang.
"Hai.."
__ADS_1
🌸
Bersambung...