
Sepulang sekolah, Dion mampir ke kantor papa Surya untuk menjemput Nadira karena mereka memiliki janji ketemu siang itu.
"Nadira.." Panggil Dion ketika sudah berada dalam mobil.
"Apa?"
"Lo di kasih duit jajan gak sama papa?" tanya Dion.
"Di kasih lah.. Ngapa?"
"Bagi gue dong, jajan bulan ini habis punya gue." sahutnya memelas.
"Kok bisa?"
"Ya tadi gue ada ngerjain sesuatu jadi habis." Dion memilih tidak menceritakan apa yang terjadi di sekolah pada Dinda akibat ulah Qenan.
...****...
Tadi saat jam istirahat sekolah, Qenan menghukum nya atas kecemburuan Qenan.
"Ngapain aja sama Nadira?" tanya Qenan dingin.
"Nggak ngapa-ngapain, cuma keliling Jakarta terus nonton dan makan mie ayam di kaki lima."
"Oh sh it." umpat Qenan.
"Ayolah Qenan.. Gue ini adik nya, kenapa harus cemburu?"
Qenan tak menjawab namun ia melayangkan tatapan tajam pada Dion. Lalu ia menyeringai dan memberi pengumuman bahwa hari ini kelas XII makan gratis dan yang membayarnya adalah Dion Putra Wijaya.
...****...
"Lo perlu berapa? atau pegang aja ATM yang di kasih papa, gue udah punya dari Qenan." Na-dira menyodorkan ATM dan di terima Dion.
"Gue pinjem selama seminggu ya.. Entar gue balikin."
Mobil mereka telah terparkir rapi di tempat parkiran butik yang cukup besar. Kedatangan mereka disambut ramah oleh pekerja butik.
"Tante Sinta ada mbak?" tanya Dion.
"Ada mas, langsung ke lantai dua aja kata nyonya karena udah di tunggu." suhut pekerja itu.
Nadira dan Dion berjalan beriringan menuju lantai dua dimana ruangan pemilik butik tersebut berada.
"Ini butik mertua lo." bisik Dion langsung membuat Nadira menghentikan langkah nya, ia berdiri terpaku.
Dion terkekeh melihat wajah Nadira yang berubah tegang, tak menyangka akan membuat kakak tirinya seperti itu.
"Santai aja, sikap lo kayak gitu malah buat mertua lo curiga."
Nadira mende sah lalu mengikuti Dion memasuki ruang mama Sinta.
"Siang Tante.." sapa Dion ramah.
__ADS_1
Mama Sinta mengangkat wajah melihat sahabat anaknya yang sudah lama tak menyambangi rumahnya pun tersenyum.
"Dion.. Apa kabar? Ayo duduk dulu"
"Sehat Tante.. Ah ya ini kenalin kakak aku." sahut Dion menyikut lengan Nadira yang sedari tadi diam dengan wajah tegang nya.
"Oh emm iya Tante, saya Nadira." ucap Nadira kikuk lalu duduk di sebelah Dion.
Mama Sinta tersenyum mendekati Nadira lalu memeluknya. "Kamu cantik, sangat mirip dengan mama kamu. Jangan formal gitu ya.. Panggil Mama aja, Dion aja yang gak mau panggil mama lagi karena berantem sama anak Tante." seru mama Sinta lembut.
Mau tahu apa yang di rasakan Nadira? tentu bahagia karena ini pertama kalinya di peluk dengan seorang wanita yang menyuruhnya memanggil mama.
Ya.. Memang mama ku, mama mertua.
"Loh.. Kenapa menangis?" tanya mama Sinta setelah melepas pelukan.
Nadira menggeleng dan tersenyum. "Enggak, cuma kangen mama Melati."
Mama Sinta tersenyum lembut, bisa ia lihat bahwa mama Sinta sangat menyayangi keluarganya.
"Baiklah, apa Dion udah kenalkan kamu dengan kedua anak mama?" tanya mama Sinta menatap Nadira dan Dion bergantian.
"Dua?" Nadira membeo.
"Iya, namanya Qenan dan Nazeef." sahut mama Sinta yang tidak memudarkan senyum nya.
"Sudah Tan." sahut Dion.
"Iya ma."
Mama Sinta melebarkan senyuman mendengar itu. Ia mengerti keadaan Dion yang sangat haus akan kasih sayang. Makanya ia tidak keberatan jika Dion sering menginap di rumah nya karena di rumah papa Surya lebih sering tinggal bersama para ART sedang papa Dion sering keluar kota untuk mengurus perusahaan.
"Nadira udah pernah ketemu anak-anak mama?" tanya mama Sinta tetap tersenyum.
Nadira menelan saliva yang terasa kelat ditanya seperti itu. Bagaimana pun mama Sinta adalah orang tua yang seharusnya tak di bohongi oleh anaknya.
Nadira tersenyum canggung lalu mengangguk.
"Pasti dia cuek kan? mama gak tahu lagi harus gimana sama dia, belum lagi Nazeef itu yang suka gonta-ganti pacar." keluh mama Sinta yang membuat Nadira kikuk dan saling lirik dengan Dion.
Ma... Bahkan anak mama itu udah jadi suami aku, gimana ya reaksi kalian kalau pernikahan kami terbongkar? gumam Nadira dalam hati.
"Tapi Qenan orang nya baik kok ma.." bela Nadira.
"Ya memang dia baik tapi cuma sama orang yang dianggap penting. Oh iya baju kalian berdua udah siap, sebentar ya.." Mama Sinta bangkit memasukkan tiga pakaian untuk mereka.
"Makasih ya ma.. Kita pulang dulu." pamit Dion mencium punggung tangan mama Sinta begitu juga Nadira.
Setelah dari butik, Dion mengantar Nadira ke apartemen Qenan.
"Nadira, mending lo nyewa apartemen juga disini biar gak ada yang curiga. Lo juga harus hati-hati sama om Wido."
Nadira mengangguk, ia sudah menceritakan tentang Wido tadi di kantor papa Surya pada Dion. Adik tirinya sendiri tidak begitu dekat dengan Wido karena terlalu tua untuk ia ajak bicara.
__ADS_1
"Gue balik, Lo hati-hati Ion.."
Dion mengangguk lalu melajukan mobil menuju rumah.
Tiba di dalam apartemen Nadira mengedar pandangan tak mendapatkan seseorang yang ia cari. Masuk ke kamar mendengar suara gemericik air dalam kamar mandi dan ia yakin itu adalah suaminya, Qenan.
Nadira membuka lemari mengambil pakaian untuk Qenan kemudian ia masuk dalam kamar mandi yang tak terkunci.
Ia melihat Qenan sudah mengenakan handuk yang terlilit di pinggang dengan handuk di leher nya. Bibirnya tertarik keatas melihat Qenan sedang menyugarkan rambut di depan cermin.
Sangat tampan.
"Qen..."
Merasa namanya di panggil ia pun menoleh ke kanan dan ia sedikit terkejut melihat Nadira sudah berada di dalam kamar mandi dengan....
Ah rasanya ingin sekali ia memakan Nadira sekarang juga.
"Mau menggoda ku hem?" tanya Qenan menarik pinggang Nadira agar tubuh itu merapat dengannya.
Nadira tertawa lalu menggeleng.
"No honey, I just want to take a shower. (Enggak sayang, aku hanya ingin mandi.)"
Qenan menggeleng langsung mengulum bibir Nadira semakin lama semakin menuntut meminta lebih. Sedang Nadira sudah mengalungkan tangan ke leher Qenan tak ingin ciuman itu terlepas.
Dengan setiap sentuhan Qenan salalu mampu melupakan apa yang ia rasakan. Hanya ada cinta dan kepuasan.
Qenan semakin bersemangat setiap mendengar Nadira melenguh dan mende sah menyebut namanya.
Qenan.
"Kayak nya aku harus sewa apartemen juga deh.." celetuk Nadira masih dalam dekapan Qenan setelah selesai bercinta.
Qenan mengurai pelukan lalu menatap Nadira yang juga sedang menatapnya.
"Kenapa begitu? kamu udah gak mau tinggal bersama sama aku? apa aku ada salah?" Mendadak ia begitu khawatir jika Nadira akan meninggalkan nya.
Nadira sendiri merasa gemas pun langsung mengecup bibir tipis Qenan. Setelahnya ia menceritakan kejadian di kantor papa Surya dengan Wido tadi.
Ya, Wido hanya tahu jika ia dan Qenan menjalin hubungan dan tinggal bersama namun tidak mengetahui pernikahan rahasia mereka.
Pada akhirnya Qenan menggangguk lemah namun memberi syarat Nadira harus tetap tidur bersamanya.
"Aku mencintaimu Nadira." ucap Qenan saat melihat Nadira sudah memejamkan mata.
Nadira tersenyum di tengah kantuk saat mendengar kalimat yang membuat hatinya bahagia.
*Apa akan selama nya seperti ini Qenan? bahkan sampai sekarang aku masih merasa takut gimana nasib hubungan kita kedepan nya.
🌸*
Bersambung..
__ADS_1