
Dengan perasaan dongkol, Nazeef masuk ke dalam salah satu restoran kelas atas. Malam ini ia akan bertemu dengan gadis yang disebut adik tirinya itu.
Ada rasa takut dan bersalah dengan Nina. Ia merasa telah khianati cinta yang selama ini diperjuangkan.
Tadi ia sempat bercerita dan meminta pendapat pada Papa Reno bagaimana masalah yang sedang dihadapi.
"Temui aja dulu adik tiri mu itu, ingat adik tiri bukan calon istri." tukas Papa Reno.
"Tapi kalau memang kamu lebih memilih adik tirinya sebagai calon istri, bicarakan baik-baik pada Nina." sambung Papa Reno lagi.
Nazeef hanya mende sah kasar.
"Nazeef nggak mungkin ninggalin Nina, Pa."
"Kalau begitu, katakan dengan tegas pada Papa mu itu kalau kamu menolak perjodohan itu. Dan segera nikahin Nina sebelum kamu ke bablasan. Ingat, pria nggak butuh wali. Papa sendiri bisa mewakilkan Papa mu itu. Bahkan dari kamu SMP."
Nazeef membenarkan apa yang dikatakan papa Reno. Dan dengan dukungan Papa Reno pula tumbuh keberanian untuk menolak perjodohan dan akan segera melamar Nina.
Disini lah Nazeef. Pandangan mengedar mencari sosok yang harus ia panggil dengan sebutan 'adik'.
"Nazeef." panggil seorang gadis.
Matanya memicing melihat gadis yang ia kenali dan berharap bukan dia orang yang dicari.
"Sini duduk." ajak gadis itu menarik Nazeef duduk di hadapan nya.
Sumpah demi apapun, Nazeef benar-benar tidak ingin semua ini terjadi.
"Oh jadi lo anak yang udah rebut bokap gue dan buat mama gue meninggal?"
Meski ia telah menerima semua keadaan, namun tetap masih ada luka yang belum kering di hatinya karena peristiwa dimana papa kandung nya membawa seorang wanita muda ke rumah orang tua nya dahulu.
Semenjak kejadian itu, mama kandung nya sering menangis dan sakit-sakitan hingga meninggal dunia.
"Gue nggak tahu masalah itu, Zeef. Tapi perlu lo tahu kalau gue masih cinta sama lo hingga kini."
Nazeef mengepal tangan dan menatap gadis itu dengan tajam.
"Terus? dan lo akan jadi orang ketiga sama kayak nyokap lo?" Nazeef tersenyum miring.
"Bener kata orang, buah jatuh tak jauh dari pohon nya. Lo sama persis kayak nyokap lo yang udah rebut papa gue dari nyokap gue. Jangan lupakan kalau karena ulah nyokap lo, nyokap gue meninggal."
Gadis itu menunduk. "Tapi, gimana saja pertunangan kita?"
"Nggak usah ngomongin pertunangan kalau Lo sama nyokap lo gak bisa kembaliin nyokap gue ke dunia."
Nazeef berdiri melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu. Kilatan amarah tercetak jelas di mata pria playboy tobat tersebut.
Masuk kedalam mobil masih dengan amarah, mencengkeram setir meluapkan emosi kemudian menunduk dengan derai air mata.
Ia adalah pria ceria namun hanya sahabatnya yang tahu jika hingga kini belum bisa menerima kepergian sang ibunda.
__ADS_1
Melihat sang ibunda menangis sepanjang malam adalah kesakitan dihatinya begitu kekal hingga kini. Ia sering melihat sang ibunda menelepon papanya untuk pulang dan akan memaafkan kesalahan papanya namun pria yang ia sebut papa itu tak kunjung kembali.
Sampai pada malam itu, sang ibunda tercinta menghembuskan nafas terakhir dalam pelukan nya.
"Ma, apa boleh Nazeef membalaskan dendam ini kepada anak wanita itu?"
Di usap kasar air mata tersebut, menarik nafas panjang berulang kali agar keadaan dirinya kembali seperti semula.
Dihidupkan mesin mobil lalu melaju membelah jalanan ibukota. Setelah ini ia akan bercerita kepada kedua sahabatnya.
...****...
"Apa kamu senang?" tanya Dion baru keluar dari bioskop bersama Melinda.
Melinda mengangguk dengan senyuman.
Dion sengaja mengajak Melinda menonton karena wajah istrinya itu berubah sendu ketika tamu bulanan nya datang kembali seperti bulan kemarin.
"Kita mau kemana lagi?" tanya Dion.
"Pulang aja deh."
"Yakin? Jangan deh, aku kan lagi libur seminggu malam ini." Dion menaik turunkan alisnya menggoda sang istri.
"Oppa mah mesum mulu."
Dion tertawa mengacak rambut Melinda. "Seminggu lagi aku harus ke Surabaya, mau ikut?"
Dion mengangguk.
...****...
Keesokan harinya, seperti rencana nya ingin membicarakan hal kemarin pada kedua sahabatnya.
Mereka sengaja bertemu di rumah Papa Surya karena menghindari para wanita mereka.
"Jadi, lo beneran mau balas dendam?" tanya Dion memastikan setelah Nazeef menceritakan pertemuannya nya dengan adik tirinya itu.
"Ck, jangan bermain api, Zeef. Gue yang paling tahu lo gimana." tegur Qenan.
"Ya, gue usahain gak ada pertemuan berdua lagi dengan dia. Kalau pun ada ya harus tempat rame."
"Gue minta tolong jangan ada yang bocorkan ke wanita kita masing-masing." mohon Nazeef membuat kedua sahabatnya menghela nafas kasar.
Qenan dan Dion tak langsung menjawab karena ragu untuk menyembunyikan sesuatu pada istri mereka.
"Gue gak bisa, Nadira lagi hamil. Dia sensitif banget sekarang. Bisa-bisa kabur lagi, terus lemah lagi badan nya jauh dari gue." Qenan mengatakan fakta nya, ia teringat dengan aksi kabur Nadira berujung setiap pagi harus di infus karena terlalu lemah.
Berbeda dengan sekarang, walau masih morning sickness, namun jarum infus itu tak pernah menancap di punggung tangan istrinya lagi.
"Ayolah boy, kasihanilah adik kedua mu ini."
__ADS_1
"Haiisshh.. Dulu, mertua gue yang gila, sekarang orang tua lo lebih gila, parah." maki Qenan karena tak mengerti jalan pikiran orang tua yang egois pada anak.
Menurutnya ini tidak adil untuk Nazeef. Kemana Papa nya selama ini?engapa sekarang datang dan menuntut Nazeef menuruti keinginan pria yang berprofesi sebagai papa itu?
"Oke gue dukung, kapan lo mau kesana?" tanya Qenan.
"Dua hari lagi."
Qenan manggut-manggut. "Hati-hati."
"Oh iya, boy. Selesai makan siang kita adain pertemuan di aula. Ajak istri lo. Kakak ipar jadi tranding topik dan ada yang berkata buruk tentang nya."
"Kok gue gak denger?" tanya Qenan.
"Qen, gue pastikan bakalan habisi lo kalau Nadira terluka lagi." ancam Dion. Ia tak ingin kakak nya itu kembali menangis.
"Iya."
...****...
Di lobby Edzard Abraham Company.
"Dir, tanya dulu yuk ke resepsionis."
Nadira mengangguk.
"Kak, Tuan Qenan ada di ruangan nya?" tanya Nadira pada pegawai resepsionis tersebut.
"Enggak." sahut pegawai itu acuh.
"Kalau Tuan Nazeef?"
"Enggak."
Sejenak mereka terdiam lalu Nadira kembali berujar. "Kita nunggu di ruang nya aja yuk, Nin."
"Jangan sembarangan masuk ruangan orang, gak sopan." celetuk pegawai itu membuat urung melangkah kan kaki.
"Yang anda bilang gak sopan ini adalah istri dari pemilik Perusahaan tempat anda bekerja." Setelah mengatakan hal itu, Nina mengusap punggung Nadira agar kembali tenang, jangan sampai istri dari bos nya itu menangis.
Sedang pegawai tersebut langsung menunduk takut jika ucapan Nina benar adanya.
🌸
Bersambung..
*Hai kesayangan emak, Novel 'SETITIK CAHAYA ( Janda Kesayangan Berondong Narsis) udah rilis ya.
Ayo mampir kesayangan emak*.
__ADS_1
Cover tahap revisi ya karena tukang edit foto (adiknya emak) masih kerja memburu dolar banyak-banyak.