
Melihat Wido pulang lebih dahulu membuat Qenan merasa lega, jika tidak maka bisa di pastikan istrinya itu akan melupakan nya. Dan lebih menyebalkan lagi ketika istrinya berceletuk sendiri di depan bayi itu.
"Aditya ganteng banget sih.. Nikah sama ajumma yuk. Jadi suami kedua."
Celetukan Nadira membuat semua orang tertawa. Ia yang duduk di sebelahnya merasa tersaingi dengan bayi berumur 2 bulan.
Tak lama kemudian orang tua dan mertuanya juga pulang. Dan disini mereka sekarang setelah tadi mengikuti Nadira berkeliling melihat seisi rumah.
Sepertinya dapur adalah tempat favorit Nadira karena sedari tadi Nadira terus tersenyum memandangi dapur dan alat-alat masak.
"Ra."
Nadira menoleh ke arah Qenan yang tengah duduk di meja mini bar. Ia pun melangkah duduk di sebelahnya.
"Ya Nan."
Qenan memandangi wajah Nadira secara intens. "Apa kamu mencintai ku?"
"Jangan tanyakan apa yang kamu tahu jawaban nya Nan."
Qenan berdecak. "Kenapa kamu gunain kalimat yang pernah aku ucapin ke kamu?"
Nadira tergelak melihat wajah Qenan yang cemberut lalu mengecup pipi suaminya itu.
"Ra, aku tahu kamu suka anak-anak. Apa kamu udah siap punya anak sendiri?" tanya Qenan dengan wajah berubah serius begitu juga dengan Nadira.
Sejurus kemudian Nadira tersenyum mengubah duduk menjadi kearah Qenan. Di genggam tangan Qenan yang lebih besar dari tangan nya.
"Aku udah siap, sangat siap Nan."
"Bukan karena habis lihat anak Wido kan?"
Mata Nadira membola lalu memukul lengan Qenan. "Tanpa lihat anak dia pun aku udah siap Nan. Apalagi kalau ingat calon anak kita. Pasti dia udah bisa lari-lari sekarang."
"Hei, jangan sedih begitu. Maaf Ra." Qenan mengatup kedua sisi wajah Nadira yang sudah berubah sendu.
Nadira mengangguk lemah.
"Boleh aku mengatakan sesuatu?" tanya Qenan hati-hati.
Nadira menatap mata Qenan dan ia pastikan Nadira menunggu apa yang hendak dikata.
"Dengarkan aku baik-baik Ra. Kamu tahu hubungan toxic relationship?"
"Tahu."
__ADS_1
Namun agaknya jawaban Nadira di ragukan Qenan karena mengetahui otak lamban sang istri.
Nadira mencebik bibir. "Aku tahu loh. Toxic relationship itu kamu selalu mengikuti apa pun yang ingin dilakukan pasangan, meskipun kamu tahu hal tersebut bertentangan dengan keinginan kamu bahkan sampai mengabaikan kebutuhan kamu. Gitukan?"
Qenan tersenyum lalu mengacak rambut Nadira. "Gadis pintar."
"Baru nyadar."
Qenan tak menjawab, ia hanya terkekeh. Tidak ingin menjawab karena jika ia bilang Nadira pintar itu sama saja bohong.
Terbukti selama dua tahun ini Nadira begitu banyak mengeluh tentang pelajaran di kampus. Bahkan sering Nadira mengirim tugas-tugas kuliah yang menurutnya itu adalah hal mudah.
"Sayang denger, aku nggak mau kamu terlalu dekat sama anak nya Wido."
Nadira mengerutkan dahi. "Kenapa? itu bayi loh Nan. Kamu cemburu?"
"Iya."
"Iya?"
Qenan berdecak. "Bukan itu intinya. Aku sadar, kita nggak pernah tahu kapan dan dengan siapa seseorang jatuh cinta sama kita. Termasuk aku, aku enggak pernah tahu sejak kapan jatuh cinta sama kamu. Tapi setelah aku nikahi kamu, ada yang menarik hatiku untuk bertanggung jawab atas dirimu, ada rasa ingin melindungi kamu, dan ingin selalu membuat mu bahagia. Mungkin setelah ijab kabul aku udah jatuh cinta sama kamu."
Nadira diam terharu mendengar ucapan yang dikatakan Qenan. Ia tak ingin menyela karena wajah Qenan masih serius untuk mengatakan kalimat selanjutnya.
"Keberuntungan ku adalah kamu masih bisa menjaga diri dan hati mu untuk ku juga aku harus berterima kasih Wido nggak ambil kesempatan ketika aku nggak ada untuk mu."
Qenan menghela nafas sejenak. Di belai pipi Nadira, sebenarnya tadi ingin sekali langsung melahap istrinya. Namun, melihat kejadian dimana Rania menolak dibantu Nadira, ia harus bertindak.
"Tapi sayang, dengarkan aku baik-baik. Aku tahu kamu nggak ada maksud apapun. Apalagi sampai merebut Wido dari Rania. Kamu sendiri bilang, Rania mencintai Wido itu makanya kamu meminta Wido menikahi Rania bukan?"
Nadira mengangguk.
"Karena Wido mencintaimu dan ingin melihatmu bahagia bersamaku, ia suka rela menerima dan menikahi Rania. Jadi mulai sekarang, jauhi keluarga itu ya."
Nadira mengerutkan dahi. "Kenapa? aku kan gak ada dekat-dekat Wido lagi."
Qenan tersenyum merapikan anak rambut Nadira lalu mengecup kening istrinya.
"Iya, tapi jika seorang istri tahu kalau suaminya mencintai wanita lain pasti istrinya akan selalu memandang tak suka pada wanita yang di cintai suaminya."
Nadira mengerutkan dahi. "Benarkah? sampek segitunya?"
Qenan mengangguk. "Dan kamu pasti tahu kalau wanita sudah cemburu. Dia akan nekad kan?"
Nadira menunduk menyadari kesalahannya. "Maaf Nan."
__ADS_1
Di angkat dagu Nadira hingga tatapan mereka kembali bertemu. "Tak apa, aku tahu maksud kamu baik. Tetapi mereka yang gak pernah suka sama kita akan selalu memandang buruk terhadap kita."
Nadira tersenyum haru. Tidak menyangka suaminya akan sebijak ini menasihati nya.
Ia tahu, Qenan pasti cemburu tetapi melihat Qenan menekan rasa itu dan memberi nya nasihat agar sadar perbuatan nya salah membuat ia kembali merasakan jatuh cinta kepada orang yang sama, suaminya. Qenan Abraham.
"Kamu nggak marah?" tanya Nadira.
"Tentu aja aku marah. Apalagi saingan ku bayi sekarang." sahut Qenan sewot.
Nadira tergelak karena lelucon tadi begitu mempengaruhi Qenan.
"Aku harus menghukum mu, Ra." Qenan berdiri menghimpit Nadira yang masih duduk.
Nadira gelagapan. Tahu maksud dari suaminya, tetapi rasa gugup kembali menyerang dirinya.
"Ma-mau ngapain Nan?" tanya Nadira menengadah.
Qenan menyeringai tak menjawab. Kedua bibir itu saling berpagut. Tanpa melepas pagutan, ia menggendong seperti bayi koala menuju kamar tamu yang ada di lantai dasar itu.
Menjelajahi setiap jengkal tubuh mulus Nadira. Mencumbu, menjilat, menggigit kecil-kecil hingga menghasilkan maha karya kepemilikan darinya.
Hingga sesuatu menghalangi aktivitas nya. "Sayang, ini apa?"
Yang tadinya Nadira sudah berkabut gairah sadar akan sesuatu. Di tepuk jidatnya.
"Astaga, Nan. Aku lupa kalau lagi datang bulan."
Hasrat yang sudah menggunung lenyap seketika. Wajah penuh semangat berubah menjadi lesu tak berdaya.
"Sejak kapan datangnya?"
"Tadi pagi." sahut Nadira nyengir kuda.
Qenan menggulingkan tubuh ke samping Nadira. Mengacak rambut karena frustasi dan merasa pening hasratnya tak sampai.
"Jadi harus nunggu Minggu depan?" tanya Qenan menatap wajah Nadira. Kini mereka tidur miring saling berhadapan.
Nadira mengangguk sembari mengelus rahang kokoh Qenan.
"Maaf ya."
🌸
Bersambung..
__ADS_1