
Melihat sahabat dan kakak nya telah meninggalkan tempat acara itu, bersamaan para tamu juga keluar mengikuti langkah mereka. Dion masih diam mematung.
Papa Surya juga meninggalkan acara itu.
Kejadian itu begitu tiba-tiba dan membuatnya benar-benar syok. Tentu ia tidak membenarkan apa yang di lakukan mamanya.
Andai tak ada kejadian ini, ingin sekali berlari memeluk sang mama. Bagaimana kesalahan di masa lalu, dirinya tetaplah seorang anak yang merindukan ibunya.
Dion menatap sang mama dengan mata memerah. Bukan hanya kerinduan dan amarah tetapi rasa kecewa yang begitu besar.
Tanpa berkata, Dion membantu wanita yang telah mengandung dan melahirkan nya ke dunia. Dengan tatapan dingin dan raut wajah datar, Dion berujar. "Pergilah sejauh mungkin dan jangan pernah menampakkan diri di depan Dion, ma. Dion sangat kecewa sama mama. Dion udah terbiasa tanpa mama, pergilah."
Ia membawa Melinda pergi dari sana.
Hanya Wido dan Nazeef tersisa. "Zeef, bawa wanita ini bersama mu."
"Ogah ah, om aja."
Wido melengos lalu menelepon salah satu anak buah nya. Biasanya Jafar yang akan menyelesaikan tetapi ia cukup mengerti kalau adik merangkao menjadi kaki tangan nya itu tengah berbahagia atas kelahiran baby twin R itu.
Tanpa memerdulikan rontahan wanita paruh baya itu, Wido memerintahkan anak buahnya untuk membawa ke markas.
Terserah mereka untuk di jadikan apa.
Setekah itu ia juga akan membantu Nazeef agar kejadian tadi tidak ada yang bocor ke publik.
...****...
Di salah satu kamar hotel. Nampak Nadira meringis merasakan nyeri di perutnya.
"Kenapa, Ra?"
Nadira menggeleng sembari mengusap perut buncit nya. Tarik nafas dalam-dalam lalu keluarkan secara perlahan. Sesuai yang dikatakan dokter Gadhing. Ketika usia kandungan sudah berjalan di bulan ke delapan maka akan sering merasakan hal seperti ini.
"Enggak apa-apa." sahut Nadira datar.
Sedari Qenan membawa Nadira ke kamar hotel, lalu mengobati pipinya memerah dan mulai bengkak, hingga selesai wanita itu menjadi irit bicara.
Merasa sedang malam berbicara dan kesal dengan Qenan. Tapi lihatlah suaminya itu tidak peka sedikitpun. Sibuk dengan ponsel dan tangan Qenan mengelus pipinya yang memerah.
__ADS_1
Saking kesalnya Nadira menggigit tangan Qenan yang ada di pipinya itu.
"Aww.." cicit Qenan langsung melihat ke arah Nadira yang cemberut.
"Kenapa, hm?"
Ingin sekali rasanya Nadira memberi bogeman di wajah Qenan itu. "Kenapa-kenapa, tahu ah." sahutnya langsung merebahkan diri menutupi seluruh badan dengan selimut.
...****...
Setelah berada di dalam kamar hotel, Qenan langsung mengompres pipi Nadira. Sekuat tenaga untuk tidak berbicara apapun karena hati masih di kuasai amarah.
Selesai mengompres, di elus-elus pipi Nadira sembari melihat ponsel karena Nazeef telah memberi kabar semua urusan beres.
"Aww.." cicitnya karena Nafira menggigit tangannya.
"Kenapa, hm?"
Kerutan di dahi melihat tingkah aneh Nadira namun tetap saja ia tak mengerti.
...****...
"Di minum, pi." ujarnya membuat Dion menoleh lalu menatap segelas kopi yang masih dengan asap mengepul.
"Masih panas."
Melinda tak menanggapi karena tahu saat ini suasana hati Dion sedang tidak baik-baik saja. Selama berhubungan dengan Dion hingga hafi ini sama sekali tidak tahu menahu tentang ibu mertuanya. Bahkan ia berfikir jika Dion dan Nadira satu ibu.
Melihat keakraban dari keduanya, kemiripan, dan kekompakan nya sama sekali tidak nampak jika mereka berbeda ibu.
Timbul pertanyaan di hati. Anak-anak mereka saja sangat akur, mengapa para orang tua tidak bisa seperti itu?
Dion dan Melinda menoleh ke arah pintu ketika suara ketukan itu terdengar. Melinda bangkit berjalan ke arah sana untuk membukanya.
"Papa?" tanya Melinda lalu mempersilahkan masuk mertuanya itu.
"Ayo kita ke kamar Nadira. Kita harus meminta maaf dengan nya." ujar papa Surya pada Dion.
Dion mengangguk lalu menyeruput kopi itu kemudian bangkit.
__ADS_1
"Oppa, aku tetap disini ya. Aku kelelahan."
Dion mengangguk berjalan menyusul papa Surya.
...****...
Qenan membuka pintu kamar dan mempersilahkan Papa Surya dan Dion duduk kemudian berjalan menuju lemari mengambil baju tidur untuk Nadira.
"Sayang, bangun. Ada papa dan Dion."
Nadira bangun di bantu Qenan duduk. Pria itu memakaikan baju itu kemudian menyuruh Nadira turun dari ranjang agar mudah memakaikan celana.
"Makasih, Dad." cixit Nadira menghadiahi kecupan di pipi Qenan.
Qenan mengangguk dengan menggenggam tangan Nadira mendatangi papa Surya dan Dion.
"Sayang, maafin papa."
"Maaf untuk apa, pa?"
"Atas kejadian tadi."
Nadira tersenyum mengangguk. Tidak ada yang perlu dimaafkan menurut Nadira karena mereka tidak salah. Hanya belum menerima takdir di masa lalu.
Nadira tersenyum melihat Dion yang terus memandangi tanpa berkata-kata namun sorot mata sang adik dapat dimengerti olehnya. "Jangan nangis, udah mau jadi papi juga." ledek Nadira membuat Dion mengalihkan pandangan sembari mengusap air mata yang menetes.
"Gak pengen peluk?" tanya Nadira pada Dion mampu membuat Qenan melotot.
Terlambat. Qenan terlambat mencegah karena istri dan sahabatnya itu sudah saling berpelukan.
"Maafin gue, Na. Maafin nyokap gue." lirih Dion dengar suara serak.
Nadira hanya mengangguk sembari mengusap punggung sang adik. "Gue udah maafin."
Papa Surya melihat keakuran kedua anaknya menjadi terharu. Sungguh rasanya sangat menyesal dahulu telah sia-siakan anak dan istri pertamanya.
*Melati, maafin mas. Dan harus mas akui. Didikan mu sangat baik untuk anak kita.
❤️
__ADS_1
Bersambung*..