
Beberapa hari kemudian.
"Oppa."
Dion menoleh lalu melepas kacamata bacanya. Bangkit dari duduk menghampiri Melinda lalu mengajaknya masuk ke kamar mereka.
"Ada apa, Mi? apa ingin sesuatu?" tanya Dion lembut mengesampingkan pekerjaan yang baru saja ia pelajari.
Melinda diam membisu menatap dalam mata Dion. Sudah keputusan nya untuk memberitahukan pertemuan tanpa sengaja dengan Rian.
Beberapa hari lalu juga sempat bertemu lagi dan Rian menceritakan semua masalah rumah tangga pria itu dengan Laluna.
Benar dugaan nya dahulu jika Laluna selingkuh karena pernah melihat istri dari Rian itu berduaan masuk ke salah satu hotel di Jakarta.
Dan lebih parah lagi, anak yang di kandung Laluna ternyata bukanlah anak Rian.
"Dion, apa kamu akan marah kalau aku jujur padamu?" tanya Melinda lirih.
Dion mengerutkan dahi. "Apa akan menyakitiku?"
"Entahlah."
"Katakanlah, mi. Bagaimanapun nanti sikap ku, lebih baik kamu katakan karena gak bagus memendam rasa sendiri. Kamu lagi hamil."
"Dion, sebenarnya aku udah beberapa kali bertemu dengan Rian tanpa sengaja dan akhirnya kami berbincang lama."
Hening. Dion tak menyahut karena darahnya mendidih mendengar nama ptia itu ditambah Melinda baru mengakui setelah beberapa kali bertemu.
Bayangan masalalu teringat dikepalanya. Siapa yang rela orang yang dicintai pernah tidur dan di sentuh pria lain?
Sejauh ini sekuat tenaga ia berusaha melupakan kisah masalalu Melinda. Matanya terpejam justru bayangan Rian mengukung tubuh Melinda hadir.
Dion bangkit mengambil kunci mobil dan dompetnya. Untuk saat ini ia tak sanggup berbicara ataupun betemu Melinda.
Apa kalian melakukan itu lagi?
...****...
Di tempat lain.
"Mi amor. Coba pakai ini." pinta Qenan pada Nadira.
Mata Nadira membola sempurna melihat dua benda yang di berikan Qenan padanya. "Enggak, aku enggak mau." tolak Nadira tegas.
"Ayolah, sebentar lagi aku enggak bisa menikmati itu. Kamu pasti sibuk dengan Edzard." rengek Qenan bak anak kecil membuat Nadira tak tega.
Nadira menelan saliva dengan kasar. "Aku malu, Nan."
__ADS_1
"Aku bahkan sudah melihat semua dan menikmatinya. Ayolah."
Nadira merentangkan satu benda itu lalu menempelkan ke dua aset berharganya. "Nan, ini kekecilan. Cuma ujung doang yang ketutup."
Nadira mencebik ketika melihat senyum nakal dan tatapan Qenan. "Pakek ya, Ra. Yang satu juga di pakek."
Nadira mengangguk pasrah. Bukan marah karena ia suka melihat Qenan bahagia. Dengan menuruti fantasi sang suami memiliki rasa puas sendiri.
"Satu lagi juga di pakek, Ra." pintanya dan menghalangi Nadira hendak pergi dari hadapan nya.
"Disini aja pakeknya."
"Qe-nan, aku malu." ucap nadira terbata. Entah mengapa malam ini Qenan tampak berbeda dan membuat ia semakin cinta.
Qenan terkekeh. "Ayolah, sayang. Jangan malu. Kamu lupa kalau aku sering melihat kamu yang polos? bahkan aku punya banyak koleksi foto mu yang sangat menggai rahkan ku."
"Dasar bule mesum." sungut Nadira tetap menuruti permintaan Qenan dengan membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuh kemudian memakai bikini yang di berikan Qenan.
"Sudah."
Qrnan tersenyum menang laku mengajak Nadira menuju kolam renang di belakang rumah mereka.
Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa tak memperbolehkan satu pelayan pun berada di rumahnya ketika ia sudah berada dirumah.
Fantasi sek sual nya begitu liar dan ingin mencoba suasana baru. Mungkin karena darah muda yang sedang membara nya di usia 21 tahun ini.
Qenan terkekeh tanpa perdulikan apa yang dikatakan Nadira karena sedang asyik berenang bahkan dengan sengaja menoel rumah pengasahan rudal.
"Qenan.. Aku naik ini."
"Oh enggak bisa." Qenan mulai menggerayangi tubuh Nadira membuat sang empu menggeliat tak beraturan.
Tak lama kemudian hanya ada suara ero tis dan suara air kolam renang karena ulah mereka.
...****...
"Pa, ngapain kita ke rumah Qenan malam-malam? papa mau ganggu anak kita?" berondong mama Sinta karena setelah makan malam di luar langsung mengajak ke rumah anak mereka.
Sesampainya di pagar rumah, Mang Dadang langsung menghadang kedatangan Papa Reno dan Mama Sinta.
"Maaf, Tuan dan Nyonya jangan masuk dulu."
Papa Reno dan Mama Sinta saling pandang lalu melihat ke arah Mang Dadang. "Apa Qenan gak di rumah mang?"
"Enggak, eh iya Tuan."
Jawaban Mang Dadang semakin membuat sepasang suami istri itu bingung. "Maksudnya gimana mang? Qenan ada dimana? Nadira juga." cecar Mama Sinta mulai tak sabar.
__ADS_1
"Tuan muda dan Nyonya muda ada di belakang, Nyonya." Tentu mang Dadang tahu karena satu jam sekali ia akan mengelilingi rumah besar itu untuk memastikan keamanan. Namun tadi, tidak tahu bisa di bilang keuntungan atau kerugian untuknya melihat Tuan nya sedang menikmati jamuan yang tersaji dari Nyonya nya.
Tetapi ia bersyukur karena hanya melihat dari belakang tubuh Nadira jika tidak maka ia akan kehilangan kedua bola matanya sesuai isi kontrak di perjanjian kerja.
"Eh." Mang Dadang terkejut ketika mobil Papa Reno melaju melewatinya begitu saja.
Mama Sinta baru saja keluar dari mobil bersamaan dengan Papa Reno. "Pa, ngapain Qenan ajak Nadira keluar malam-malam begini."
Papa Reno berdecak. "Biarkan saja, ma. Namanya juga anak muda. Mama saja yang gak mau papa ajakin pacaran." ucap Papa Reno sewot.
Mama Sinta mencubit pinggang suaminya karena merasa geram. "Jadi maksud papa mau di ajakin pacaran gimana lagi? makan malam diluar sudah, mau ajakin mama nonton di bioskop biar di ketawain anak muda?"
Papa Reno tak mempermasalahkan cubitan istrinya. Justru lebih tertarik dengan ucapan sang istri.
"Itu ide bagus, Ma. Minggu depan kita atur jadwal untuk nonton di bioskop."
Mama Sinta melotot mendengar itu, sunggu ia menyesali ucapannya tadi. "Jangan gila, Pa. Ingat umur."
"Kita bisa nonton berdua disana. Itu mudah untuk kita."
Cebikan bibir mama Sinta terdengar hingga berhalan cepat menuju belakang rumah anaknya. Tetapi setelah berjarak beberapa meter dari kolam renang langkahnya melambat setelah melihat sesuatu.
"Astaga, anak ini kenapa gak bisa lihat tempat? pantas saja satpam di depan gak bisa jawab tadi."
Ia bervalik arah berjalan cepat sebelum suaminya menyusulnya. Jangan sampai suaminya itu menginginkan dirinya jika melihat adegan anaknya itu.
Bagaimana tidak? yang ia lihat adalah Nadira duduk di pinggir kolam renang dengan kaki ngangkang sedang Qenan di dalam kolam renang dengan kepala Qenan berhadapan pada inti Nadira.
Pasti tahulah sedang apa Qenan disana.
"Loh, kok balik ma?" tanya papa Reno mendapati istrinya balik lagi.
"Kita nunggu di dalam aja, pa. Mama kebelet." sahut mama Sinta beralasan.
...****...
"Udah ya, Nan. Dingin. Ini udah dua kali." rengek Nadira setelah merasakan pelepasan bersama.
Qenan mengangguk lalu ikut naik kemudian mengambil bathrobe untuknya dan Nadira. Dengan telaten diikat bathroba Nadira lalu menggendong istrinya itu ke dalam.
Setelah berada di dalam, mereka di kejutkan dengan orang tua mereka disana.
"Udah renang nya?"
❤️
Bersambung..
__ADS_1