
"Terimakasih ya, Dok." ucap Nadira.
Dokter Gadhing mengangguk dan tersenyum. "Jangan kelelahan, ingat."
"Siap Dokter ganteng."
Dokter Gadhing terkekeh.
Setelah Dion menebus obat dan vitamin Nadira, mereka langsung ke Bandara siang itu. Mempersiapkan keperluan kakaknya tengah hamil dengan segala kemanjaan Nadira membuat kesabaran nya teruji.
Jika orang lain melihat mereka pasti beranggapan sebagai sepasang kekasih. Tapi biarlah, ini demi kakak nya.
Jika saja Nadira tahu, masih ada terbersit di hatinya rasa bersalah karena kehadiran mama kandung nya di kehidupan papa Surya membuat Nadira dan Mama Melati harus berpisah.
Setibanya sampai di Pabrik, mereka bingung sendiri karena baru pertama kali datang kesini.
Dion dan Nadira berjalan menuju pos satpam menanyakan keberadaan Qenan dan Nazeef. Salah satu satpam itu melihat penampilan Nadira dan Dion secara bergantian.
"Na, kalau di perhatikan kita kayak tai cicak ya kan?" tanya Dion baru menyadari warna pakaian dan lain nya yang mereka gunakan hanya warna hitam dan putih.
Nadira pun tertawa dengan apa yang di katakan Dion karena ia juga baru menyadarinya.
"Maaf, Tuan tidak ada di pabrik."
"Tahu tempat penginapan nya nggak?" tanya Nadira.
"Di Mess mbak. 100 meter dari sini." Satpam itu menunjukkan arah dimana Mess tersebut.
Nadira hendak pergi, tetapi Dion melarang karena mereka tidak menyewa kenderaan. Jika saja Nadira tidak hamil, jalan 100 meter tidaklah jauh.
Nadira pun mengalah akhirnya menunggu di pos satpam. Tidak ada yang menghubungi Qenan maupun Nazeef karena ponsel keduanya kehabisan daya dan segan untuk menumpang mengisi daya karena satpam itu melihat mereka seperti tatapan menyidik.
Kedatangan mereka seperti bukan tamu terhormat, bahkan saat makan siang saja tidak ada yang sekedar menawarkan makan siang pada mereka. Dion berinisiatif bertanya dimana warung terdekat atau kantin khusus karyawan pabrik terletak.
"Ion, aku pengen tidur." celetuk Nadira seraya menguap.
"Kamu bandel, Na. Kan udah aku bilang, kita di kota aja, biar Qenan yang jemput. Ini lagi, kenapa nggak mau ngaku kalau kamu istrinya Qenan?"
"Aku kan masih istri rahasia." sahut Nadira lirih.
Demi apapun, saat ini Dion ingin memukul kepala Nadira.
"Jangan karena nggak ada resepsi lantas menilai begitu, kamu nggak tahu betapa Qenan membanggakan mu? kamu enggak tahu, berapa banyak wanita ingin mendekati suami mu itu tapi dengan tegas dia bilang bahwa kamu jauh lebih dari mereka."
"Kamu ini, bantu selesaikan masalah orang lain bisa tapi masalahmu sendiri di buat rumit."
Nadira sendiri diam seraya menyilang kaki sembari bersandar di dinding pos satpam.
Rasa kesal menyelimuti hati Dion karena tidak ada empati sedikit pun dari para karyawan itu menawarkan tempat duduk. Mereka duduk lesehan di samping pos satpam.
"Kita kayak gembel ya, Ion?" Nadira terkekeh setelah mengatakan itu.
__ADS_1
...****...
"Zeef, kabari ke suplier pengganti untuk mendatangkan bahan baku sesuai perencanaan ulang yang sudah kita bahas tadi." Qenan mengutarakan tanpa mengalihkan dari iPad di tangan nya.
"Iya."
Mobil mereka telah masuk ke gerbang masuk Pabrik Qenan. Mata Nazeef melotot melihat dua orang yang sedang duduk lesehen bagai peminta-minta.
Nazeef menelan salivanya dengan kasar menoleh melihat Qenan masih fokus pada iPad.
Jika saja Qenan tahu istrinya berada disana pasti akan mengamuk. Apalagi sekarang sahabatnya itu sudah beraling memegan ponsel nya.
"Boy, lo habis ini mau kemana? Kita balik aja ya."
"Tumben, gue nggak mau nunda kerjaan. Gue mau pulang cepat, Zeef. Kalau lo maih mau lama disini terserah, lo."
Jawaban Qenan semakin membuat Nazeef tak karuan, apa lagi ketika melirik ke kaca spion, terlihat Nadira seperti lesu begitu bersandar di lengan Dion.
"Qen." serunya ketika melihat Qenan sudah keluar dari mobil.
...****...
Rasa khawatir semakin membuat dirinya ingin segera pulang. Nomor Nadira sedari pagi tidak bisa di hubungi, telepon di rumahnya juga yang menjawab pelayan nya.
Belum juga kaki melangkah, salah satu satpam menghampirinya mengatakan jika ada dua orang tamu menunggu sedari siang.
"Dimana mereka?" tanya Qenan datar.
"Disana, tuan." satpam itu menunjuk dengan membungkukkan badan.
Berjalan dengan langkah lebar sembari membuka jas nya ke arah Dion dan Nadira berada.
"Maaf, tuan. Tadi mereka menanyakan alamat Mess anda. Tetapi mereka tidak berangkat karena tidak membawa kendaraan."
Qenan menghentikan langkah menatap tajam kepada satpam tersebut. "Apa tidak ada kendaraan di Pabrik ini mengantarkan istriku, hah?" bentak Qenan.
"Is-tri? tapi Nyonya tidak mengatakan apapun, tuan."
"Lancang sekali kamu menjawab ku." sentak Qenan lagi.
"Qenan." panggil Nadira berjalan mendekatinya.
Ia langsung mendekati dan mendekap tubuh Nadira dengan erat sesekali mengecup pucuk kepala istrinya itu.
"Kita pulang." ujarnya merangkul bahu Nadifa menuju mobil di ikuti Dion di belakang.
Di dalam mobil, ia tak melepaskan Nadira dari pelukan nya.
"Qenan, jangan pecat satpam itu tadi ya."
Mendengar Nadira bicara sepwrti igu membuat ia menunduk memandangi wajahnya.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aku yang gak sebuti kalau aku ini istri kamu."
"Tapi nggak harus di telantarkan begitu. Kamu lagi hamil loh. Terus kenapa nyusul?"
Ia tersenyum kala pelukan semakin erat. Di elus perut Nadira dengan sayang. "Kangen sama aku?"
Nadira mengangguk.
Qenan beralih mwnatap kaca spion yang ada di dalam mobil. "Zeef, nanti kalau idah sampek minta penjaga Mess untuk bersihkan Mess satu lagi."
"Iya."
...***...
Di pabrik, kedua satpam tadi menjadi gelisah takut jika harus di pecat dari pekerjaan mereka. Tidak menyangka jika dua orang tadi adalah orang terdekat pemilik Pabrik.
"Gimana ini?"
"Nggak tahu, tadi kenapa di biarin begitu sih?"
"Entahlah, tamat lah riwayat kita."
...****...
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Mess tersebut sudah selesai di bersihkan. Qenan menggendong Nadira ke dalam kamar.
Ia duduk di pinggiran ranjang memandangi wajah istrinya yang terlelap. Menyadari kalau mereka tak bisa di tinggal jauh.
Kecupan mendarat di perut Nadira berulang kali. "Anak Daddy sehat, kan? maafin Daddy udah ninggali kalian jadi buat Mommy nyusul Daddy."
Setelah mengajak calon anaknya mengobrol, Qenan beralih mengecup seluruh wajah Nadira. Ia terkekeh melihat Nadira tak terusik sama sekali.
"Kamu beneran kelelahan ya, Sayang?"
"Qenan, ayo tidur." celetuk Nadira dengan suara parau dan mata terpejam.
Qenan terkekeh lagi lalu mengecup bibir Nadira. "Sebentar ya, aku mandi dulu."
Berlalu keluar kamar menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Usai itu, dengan handuk terlilit di pinggang ia mencari tas milik Nadira mencari sesuatu. Setelah mendapatkan nya, segera ia membuatkan nya.
Susu ibu hamil.
Itulah yang ia cari. Masuk kedalam kamar mendapati Nadira sudah duduk bersandar di kepala ranjang.
"Kok bangun?" tanya Qenan mendekati Nadira membantu sang istri untuk minum susu hamil.
Gelas telah kosong namun sang istri masih menatapnya secara intens. "Kenapa, hm?"
"Aku pengen."
"Pengen apa, sayang?"
"Kamu."
__ADS_1
❤️
Bersambung..