
Nafas keduanya masih nampak memburu ketika Qenan sadar melakukan kesalahan segera ia mencabut rudal Amerika lalu membalikkan tubuh Nadira.
"Ra.. Aku lupa.. Maafin aku Ra, aku kelepasan."
Qenan terus meminta maaf karena ia benar-benar tak sengaja melakukan kesalahan itu. Bahkan rasa bersalah itu terlihat jelas di wajahnya.
Tadi Nadira sempat syok menyadari pergumulan kali ini tanpa pengaman bahkan Qenan menumpahkan bibit-bibit unggul itu di lahan suburnya.
Mata Nadira melotot kala mengingat sesuatu yang bisa saja mengubah takdirnya.
"Qenan, dinding." Teriak Nadira membuat Qenan terkejut.
Dengan cepat Qenan memakai celana pendek nya lagi lalu membantu Nadira memakai baju karena dapat dilihat betapa syok Nadira saat ini.
"Sayang.. Ada apa?" tanya Qenan melembut membawa Nadira duduk di kursi yang ada di meja bar mini.
Nadira menatap dalam mata Qenan. Mata yang memiliki sorot tajam menusuk lawan bicara nya. Bahkan dari tatapan tajam itu Nadira bisa melihat bahwa Qenan adalah orang yang tegas.
"Kamu ingat saat nginep di rumah papa Surya?"
Qenan mengangguk.
"Kamu ingat gak kita ngelakuin nya gak pakek pengaman ataupun obat Qen.." ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia sangat takut bila hamil dalam keadaan hubungan yang masih di rahasiakan.
Sesaat Qenan juga syok namun segera ia kuasai diri kembali dan mencoba menenangkan Nadira.
"Udah gak apa-apa, kamu tenang ya.. Aku masakin omelet nya dulu." Ujar Qenan lalu mengecup pucuk kepala Nadira sebelum beranjak menuju depan kompor.
Sedang Nadira terus mendoktrin pikiran agar meyakinkan jika dirinya tak hamil. Namun memikirkan bagaimana tubuh yang mudah lelah dan mengantuk tak kenal waktu ditambah ia menjadi cengeng dan manja bila bersama Qenan semakin membuat nya takut.
"Jangan dipikirin oke.. Semua akan baik-baik aja, nanti aku belikan alat tes kehamilan ya.." Lagi-lagi Qenan melihat wajah panik istrinya. Ia meletakkan omelet itu di depan Nadira lalu duduk disebelahnya.
"Aku takut anak kita akan bernasib sama kayak aku." Suara Nadira sudah terdengar parau saat ini, mata nya sudah memerah dan ada genangan air disana.
Qenan bangkit dari duduknya lalu bersimpuh di lantai mendongak menatap wajah Nadira yang sudah di basahi air mata.
"Gak akan. Mau kamu setuju atau gak aku nikah sama cewek lain, aku gak akan duain kamu. Aku jamin sayang.. Gak akan ada anak rahasia di antara kita. Kalau besok terbukti kamu memang hamil, maka kita akan langsung datang ke rumah papa mama dan ke rumah papa Surya. Kita kasih bukti kalau kita udah nikah."
"Tapi gimana kalau orang luar anggep aku cewek gak bener?"
"Biarin orang ngomong apa, yang penting kamu tetap bahagia bersama ku. Udah jangan nangis lagi." Qenan mengusap air mata yang keluar dari netra istrinya lalu bangkit dan duduk kembali.
__ADS_1
"Makan dulu Ra abis itu kita mandi bereng ya.. Berendam di air hangat dalam satu bathub kayak nya ide bagus." goda Qenan menaik turun kan kedua alis nya dan itu berhasil membuat Nadira tertawa.
Nadira tertawa bukan hanya karena godaan Qenan melainkan melihat bagaimana wajah jenaka yang baru pertama kali diperlihatkan padanya.
Selama ia menjadi istri dari seorang Qenan Abraham lebih sering melihat raut wajah serius, dan marah saja.
"Bisa gak jangan omes kamu terus yang aku denger?"
"Mana bisa Ra, kalau kamu tahu betapa tersiksa aku menahan diri agar gak sentuh kamu setiap kita berada berdua di apartemen. Itu membuat ku sakit kepala dan terpaksa aku harus melakukan senam lima jari di kamar mandi."
Nadira mengerutkan dahi. "Gimana senam lima jari di kamar mandi? apa gak takut kepeleset senam disana?"
Sontak pertanyaan polos Nadira membuat Qenan tertawa lalu geleng-geleng kepala.
"Ternyata otak lambat mu belum hilang Ra.."
Mendengar itu membuat bibir Nadira manyun namun ada yang berbeda dari Nadira. Mata itu mengembun kembali.
"Kamu jahat." ucap Nadira dengan suara serak tertahan.
"Eh.. Enggak sayang maaf."
Ting tong.. Ting tong...
"Siapa ya?"
"Gak tahu, sebentar aku lihat dari kamera dulu." Apartemen Qenan memang difasilitasi bel kamera agar bisa melihat siapa yang berada di depan apartemen nya.
Qenan bangkit lalu melangkah menuju pintu masih dengan memakai celana pendek am bertelanjang dada serta rambut yang .asih acak-acakan.
Betapa terkejutnya ia melihat siapa yang sedang berada di depan apartemen nya. Ia pun lantas bergegas ke dapur mendatangi Nadira kembali.
"Ra, papa sama sama di depan." ucapnya panik, entahlah saat ini Qenan seperti kehilangan diri sendiri karena biasa menghadapi segala hal dengan tenang.
Bukan karena takut ketahuan, namu. pikiran nya sedang kalut memikirkan Nadira dan ada sesuatu yang belum bisa ia katakan pada Nadira.
Sangat sulit.
Nadira mengambil sepotong omelet lalu ngacir masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dapur.
"Kenapa harus kabur? aku panik karena baju mu masih begitu Ra dan aku takut mama bicarakan tentang hal itu di depan mu."
__ADS_1
Qenan membuang nafas dengan kasar lalu berjalan membukakan pintu karena sedari tadi suara bel itu memekakan telinga.
"Oh ya ampun boy.. Kenapa lama sekali sih.." sungut mama Sinta.
"Maaf ma." ucapnya mencoba baik-baik saja.
Padahal dalam hati nya begitu cemas meninggalkan Nadira di dalam kamar mandi.
"Kenapa berantakan sekali ruang tamu ini boy?" tanya mama Sinta sembari mengambil bantal sofa yang sudah berserak di lantai.
Qenan menelan saliva dengan kasar menyadari tempat-tempat yang masih terlihat berantakan pasalnya mereka tadi mengawali percintaan di ruang tamu lebih dahulu.
"Itu.." Qenan bingung harus menjawab apa, ia menatap Nazeef yang juga ikut bersama papa dan mama nya.
Sedang Nazeef sendiri sangat tahu ini pasti akibat pergumulan sepasang suami istri itu. Ia tak bisa membantu karena dari sepulang dari pertemuan mereka tadi, dan setelah mengantar Melinda pulang kerumahnya ia sudah menghubungi Qenan memberitahu kalau papa dan mama sudah berada di Bandara. Bahkan di sepanjang perjalanan Nazeef terus mencoba menghubungi Qenan namun tak jua ada jawaban.
Dering ponsel mama Sinta membebaskan Qenan dari pertanyaan-pertanyaan yang sulit di jawab oleh Qenan.
Kini papa Reno menatap lekat Qenan lalu bergantian dengan Nazeef. Wajah datar itu sangat kentara menurun pada anak semata wayang nya.
"Apa yang terjadi boy?" pertanyaan ambigu yang mampu membuat kedua pemuda itu bergidik ngerih.
"Maaf pa.."
Jika papa Reno sudah berbicara serius maka baik Qenan maupun Nazeef tak bisa mengelak untuk menutupi segalanya. Karena bisa di pastikan semua hal yang mereka lakukan sudah di ketahui papa Reno.
"Nazeef, jangan karena papa selama ini diam kamu dengan bebas celap-celup di sembarang tempat."
Nazeef menegang tenggorokan nya tercekat membuat dada sesak nafas seperti kekurangan oksigen.
Ia melupakan papa angkat nya sangat berkuasa.
"Maaf pa.."
"Sejak kapan kamu melakukan petualangan itu?"
"Satu tahun yang lalu pa, tapi aku selalu pakai pengaman pa.." Nazeef membuat pembelaan.
"Berhentilah.. Papa tahu itu sangat nikmat tapi lebih baik dilakukan pada satu orang wanita aja, benar begitu kan boy?" pertanyaan papa Reno seakan menyindir Qenan.
Qenan terus saja mencoba menetralkan tubuhnya agar tetap duduk tegak di depan papa Reno.
__ADS_1
🌸
Bersambung...