
"Pa, Dira kangen." ucap Nadira setelah masuk di dalam ruangan papa Surya.
Esok hari, Nadira menyempatkan diri setelah pulang kuliah mampir ke kantor papa Surya.
"Jangan coba-coba rayu papa masalah adik mu, Dira." ujar papa Surya.
Papa Surya sudah mengetahui masalah Dion karena tadi malam anak bungsu nya itu pulang kerumah dan memberitahu perihal yang di alami Dion dan Melinda.
Setelah kepergian Dion, papa Surya memberi perintah kepada Wido untuk mencari tahu asal-usul Melinda dan itu membuat papa Surya terkejut bukan main.
"Ayolah pa, Melinda gadis baik-baik loh. Dira mengenalnya, pa." bujuk Nadira.
"Dia udah nggak gadis lagi, Dira." protes papa Surya.
"Apa bedanya sih? toh tetap aja kela min nya nggak berubah." sahut Nadira sewot melihat papa Surya yang sulit dibujuk sedari tadi.
"Bagaimana baiknya dan asal mula terjerumus di dunia malam. Tetap aja dia wanita malam."
"Asal papa tahu aja, Dion loh yang ambil ke gadisan Melinda. Itu berarti selama jadi wanita malam, Melinda sangat menjaga kesucian nya kan? anak papa hebat dong."
Papa Surya berdecak. "Itu sama aja. Kalau memang adik kamu itu cinta dan mau nikahi Melinda harus sah dulu baru malam pertama bukan nya malam pertama dulu baru nikah."
Nadira menghela nafas. Melihat papa Surya tentu ia mengerti, pastilah orang tua tidak ingin melihat anaknya melakukan kesalahan diluar batas begini.
"Jadi, mau gimana lagi pa? semua udah terlanjur bukan?"
Papa Surya mengangguk lemah. "Papa ngerasa gagal jadi orang tua, Nak. Kamu nikah diam-diam sedang adik mu melakukan itu sebelum menikah."
Papa duduk di sofa kepala menunduk dengan siku tangan bertumpu di paha pria paruh baya itu.
"Papa terlalu terpuruk atas menghilang nya mama dan kamu sampai melupakan Dion butuh perhatian papa, butuh didikan papa, butuh waktu bersama papa."
"Papa selalu menuntut adik mu untuk menjadi sempurna. Bahkan papa lupa kapan terakhir peluk adik mu dan merasa bangga padanya." ungkap papa Surya membuat Nadira
tertegun.
Diusap punggung papa Surya. "Pa, dengan melihat Dion datang langsung mengakui kesalahan itu sangat membanggakan untuk kita, restui mereka pa."
__ADS_1
Papa Surya menoleh ke arah Nadira lalu mengangguk. "Tapi jangan cegah papa, karena papa harus memberi sedikit hukuman untuk adik mu."
Nadira tersenyum lalu mengangguk. Banyak hal yang mereka obrolkan termasuk pabrik makanan Qenan yang akan segera di buka serta peraiapan resepsi pernikahan dan undangan sudah hampir rampung.
Hingga jam makan siang tiba, keduanya memilih makan bersama.
...****...
Jam makan siang telah tiba membuat Wido harus segera pulang. Hati ini adalah jadwal imunisasi baby Aditya.
Setiba dirumah, ia melihat Rania dan baby Aditya telah sudah rapi. Sepanjang jalan keduanya diam dalam pikiran masing-masing.
Wido memikirkan tugas dari papa Surya untuk memastikan ketika Wido datang menemui orang tua Melinda dapat di terima baik dan hal paling penting adalah sugar Daddy Melinda tidak mengusik hubungan keduanya. Lebih mengejutkan adalah sugar Daddy dari Melinda adalah sahabatnya sendiri.
Sedang Rania berpikir bahwa saat ini suaminya tengah memikirkan Nadira.
"Mas."
Wido menoleh menatap Rania dengan tajam. "Aku sedang tidak ingin berdebat." setelah bcr begitu, Wido kembali fokus ke jalanan.
Sedang Rania menunduk melihat baby Aditya tengah tertidur. Sedetik kemudian turut memejamkan mata menahan perih dan air hendak keluar.
Wido menghela nafas. "Jangan sekali-kali kamu beranggapan perasaan ku tidak berubah karena ulah Nadira. Dia enggak ada salah sedikitpun tentang masalah rumah tangga kita."
"Jangan kamu berpikir aku tak membuka diri dan hati. Tapi, aku rasa kamu tahu kalau cinta itu nggak bisa di paksakan. Sampai sekarang aku jalani pernikahan ini karena tanggung jawab dengan Aditya dan kamu."
"Jadi, kita jalani aja pernikahan ini dengan tugas masing-masing. Tapi kalau kamu gak tahan, aku gak akan pernah halangi kamu untuk pergi."
Mendengar penuturan Wido, Rania semakin terisak. Tangan nya terkepal merasakan alamat dan cemburu bersamaan.
"Sebenarnya apa yang membuat mas begitu mencintai Nadira?" tanya Rania lirih masih terdengar di telinga Wido.
Wido menghela nafas, mungkin memang waktunya mereka membicarakan hubungan ini. Di tepikan mobil agar leluasa berbicara.
Tanpa menoleh sedikit pun Wido berujar. "Jangan kamu tanya apa yang membuatku jatuh cinta padanya. Karena aku lebih dahulu bertemu dengan nya dari pada kamu."
"Kamu terlalu obsesi pada Nadira."
__ADS_1
Wido tersenyum smirk. "Kalau memang aku terobsesi pada Nadira, aku pastikan akan dapat memilikinya bukan malah menikahi mu. Cukup perdebatan ini."
Wido kembali melajukan mobil menuju rumah sakit terdekat.
...****...
Setelah seleaai makan siang, Nadira memilih mampir ke Kafe Hebat untuk mendatangi suaminya. Taksi online yang ia pesan sudah menunggu di parkiran restoran dimana ia makan bersama dengan papa Surya.
Beberapa saat kemudian, ia telah sampai di depan Kafe Hebat yang tampak ramai. Para pekerja yang melihat Nadira langsung menghampiri.
"Kak Dira, mau pesan apa?"
Nadira menggeleng. "Bos ada di ruangan nya?"
"Ada di dalam kak."
"Oke, makasih ya."
Nadira melangkah kamu nya menuju ruangan Qenan. Ketukan ia lakukan membuat Qenan memekik kalimat 'masuk' dari dalam ruangan.
"Aku ganggu ya?" tanya Nadira merasa sungkan lantaran di dalam ruangan Qenan tak sendirian. Ada Nazeef dan pak Diki.
Qenan tersenyum lembut. Tadi, ia berpikir pekerja kafe mengantar minuman ke dalam.
"Duduk dulu di kursi kerja ku, sayang. Sebentar lagi selesai ya."
Nadira mengangguk menuruti apa yang di katakan Qenan. Selama rapat itu berlangsung, tidak membuat sedikit pun pandangan Nadira teralihkan.
Sekali lagi Nadira merasa jatuh dalam pesona sang suami. Dia, Qenan Abraham. Pria yang lebih muda darinya mampu bersikap blebih dewasa dari pada dirinya sendiri.
*Melihat mu semakin memesona semakin membuat ku takut kehilanganmu. Aku nggak pernah tahu di luaran sana ada yang berperilaku baik atau jahat ketika mengagumi dirimu, suamiku. Akan kah kamu tetap setia padaku atau berpaling dariku.
Memikirkan kamu berpaling dari ku saja rasanya begitu sakit apalagi hal itu benar-benar terjadi?
Bisakah aku percaya, hanya aku wanita satu-satunya kelak?
Aku tahu, menikah di usia muda nggak mudah untuk kita jalani ke depan nya. Pasti ada dimana rasa jenuh hinggap di hubungan kita nanti. Tapi, aku harap jika memang jenuh menghampiri, kita bisa tetap bersama tanpa ada pelarian*.
__ADS_1
🌸
Bersambung..