
Seakan sembelih pisau menikam jantung dan hatinya ketika melihat seseorang yang di paksa masuk ke kamar nya.
Dion.
Seseorang yang selalu mengisi hati namun kalimat pedas yang terlontar satu tahun lalu masih terngiang dan selalu bisa membuatnya sakit.
Dulu, ia pernah bertekad di hati bila saat bertemu, sebagai seseorang yang luka nya telah sembuh. Sebagai seseorang yang kepingan hatinya telah utuh.
Berencana akan menceritakan pada dia tentang betapa ia harus tertatih, jatuh, bangun, lari dari kejaran bayang-bayang dia.
Tentang betapa ia harus berdebat hebat dengan hati untuk terus melangkah pergi atau menyerah agar tetap mencintai.
Tentang betapa ia harus sanggup walau sebenarnya berat.
Dulu ia bertekad, ia akan kembali menemuinya, sebagai seseorang yang rasa cinta itu masih, tetapi rasa ingin memilikinya sudah tidak.
Tapi hati ku belum siap untuk ketemu, apalagi dalam situasi begini, oppa.
...****...
"Woy Nazeef. Buka pintu nya." Dion berulang kali menggedor pintu dan berusaha menarik handle pintu namun tetap saja tidak terbuka karena sudah terkunci dari luar.
"Sial." umpat nya berulang kali.
Pukulan dan tendangan ke udara terus di layangkan sebagai bentuk kekesalan.
Dion membalikkan tubuhnya tepat ke arah Melinda yang tengah menatapnya takut. Senyum smirk terbit dibibir setelah itu tangan bersidekap berjalan mendekati Melinda.
Sungguh kenyataan yang tak di sangka. Wanita yang di cinta adalah wanita malam yang rela tidur dengan setiap pria yang membayarnya.
Menggeleng tak percaya namun yang di lihat adalah nyata. Pertanyaan yang selama ini tak ditemukan jawaban, malam ini terlahir terjawab sudah.
Senyum meremehkan terus terpancar namun kekecewaan lebih mendominasi tatapan nya.
"Ternyata lo bener-bener murahan."
Walau sudah menyiapkan hati namun tetap saja ini sangat menyakiti hati Melinda. Dengan berpura-pura kuat, Melinda menengadah menatap Dion lalu menyilang kaki dengan kedua tangan ke belakang sebagai tumpuan.
Sungguh cara duduk Melinda sangat menggangu Dion saat ini.
"Menurutku, gak semurah yang oppa ucapin."
"Jangan panggil gue dengan sebutan itu." ucap Dion sarkas menatap Melinda dengan tajam.
__ADS_1
Hati Melinda semakin tertikam mendengar itu. "Oke, sekarang lo udah tahu siapa gue sebenernya. Sekarang keluar lah, gue mau layani Nazeef."
Melinda menghela nafas panjang mencoba untuk tidak menangis di depan Dion. Sungguh, saat ini ia begitu rapuh. Di ambil ponsel yang sedari berada di tas sandang nya untuk menghubungi Nazeef.
Ternyata ucapan Melinda membuat ia semakin tersulut emosi. Di tambah Melinda benar-benar menghubungi Nazeef.
Rasa cemburu kian menjadi membuat ia lupa diri. Dengan cepat ponsel itu ia rampas dan membantingnya ke sembarang arah.
Tatapan menyalang dan menantang saling beradu. Namun, bila mereka mengerti di balik tatapi itu ada luka yang belum dapat di sembuhkan.
"Lo." Sentak Dion menunjuk tepat di depan wajah Melinda.
"Apa? cemburu?"
"Ck. Seenggaknya jangan sama sahabat gue."
Melinda masih diam memandang wajah Dion. Ia merubah duduk tegak masih dengan lelaki bersilang.
"Kenapa? itu kerjaan gue, memuaskan pria-pria yang udah bayar gue termasuk Nazeef. Udah sana cepat chat Nazeef suruh masuk. Gue mau buat dia mende sah malam ini."
Dion kembali tersulut emosi. Di dorong tubuh Melinda hingga terhempas ke ranjang membuat Melinda memekik.
"Lepas Dion." Melinda terus menggerakkan tubuh karena sudah terkukung tubuh Dion. Kedua tangan di cekal hingga tak bisa berbuat apa-apa.
"Kenapa? Bukan nya lo udah biasa di jamah sama pria lain, hah?"
Tahun lalu memang ia menginginkan Dion melakukan ini, tapi tidak dengan sekarang apalagi secara kasar begini. Bukan munafik, tapi Dion malam ini bukan lah oppa yang ia kenal selama ini.
"Le-pas Dion, lo nyakitin gue." ucapnya setelah cumbuan itu turun menjelajahi sisi tubuhnya yang lain.
Dion tersenyum smirk. "Mulut lo nolak tapi tubuh lo menginginkan sentuhan gue."
Ya, karena sedari tadi tubuhnya menggeliat nikmat merasakan sentuhan Dion. Bahkan setelah memperingati Dion, suara laknat itu keluar dari bibir mungil Melinda membuat semangat Dion kian membara.
Kedua tangan Melinda menyilang di dada setelah gaun malam sek*si nya sudah di robek Dion.
"Kenapa? bukan nya ini udah biasa di hidup lo? bahkan udah banyak pria yang tiduri lo kan?" Setelah bertanya pedas Dion membuka kaos dengan lutut masih bertumpu di kedua sisi kaki Melinda.
Melinda memalingkan wajah ketika melihat bagian atas tubuh Dion yang putih mulus.
Dion menyusuri setiap jejak kulit mulus Melinda. Memainkan kedua gundukan kenyal dengan nikmat tiada tara. Hingga ia mengetahui jika Melinda sampai pada pelepasan pertamanya.
"Kayaknya lo butuh lebih dari gue."
__ADS_1
Melinda menggeleng. Ini yang ia takuti. "Jangan Dion, gue mohon."
Namun permohonan Melinda tak di gubris, Dion sudah melepas celana jeans dan dalaman nya. Terpampang tubuh polos, kini.
Alat tempur sudah siap siaga menyerang sesuai bidikan.
"Sa-sakit." Tubuh Melinda melengkung dengan mata terpejam merasakan milik Dion memaksa masuk ke miliknya. Tangan yang tadinya di cekal kini meremas seprai sebagai tempat pelampiasan kesakitan nya.
...****...
Milik Dion memaksa masuk dan sempat merasa heran mengapa masih terasa sempit?
Matanya terbelalak ketika menyadari dirinya lah yang merampas kesucian Melinda. Ada rasa sesal,bangga, dan rasa bersalah bercampur menjadi satu.
Tapi mau berhenti juga tidak bisa karena miliknya sudah masuk. Ia sudah berhasil meroobek himen atau selaput darah karena ini adalah pertama kali untuk Melinda.
Ia masih tidak bergerak agar milik Melinda bisa menerima miliknya. Di usap peluh di dahi dan air mata di pelupuk mata Melinda.
Mata mereka beradu.
"Maaf." ucap Dion tulus.
Melinda menggeleng. "Lo gak salah, gue pantes dapat ini. Gue murahan sekarang."
Di dekap tubuh polos Melinda masih dalam ke adaan menyatu. "Gue minta maaf. Tapi gue nggak bisa berhenti Lin. Gue akan tanggung jawab."
"Oppa." seru Melinda membalas pelukan Dion.
"Ia, gue masih oppa lo. Sekarang mau di cabut atau lanjut?"
"Lanjut, udah masuk juga." bisik Melinda membuat Dion meremang.
"Gue enggak akan berhenti."
Malam itu, Dion benar-benar melakukan nya dengan lembut. Ia tidak memikirkan bagaimana bisa Melinda bisa sampai di tempat ini dan bertemu Nazeef.
Sepertinya setelah ini, ia akan berterimakasih kepada Nazeef.
Dan setelah malam ini, ia akan mencari cara bagaimana bisa memiliki Melinda seutuhnya dalam ikatan SAH.
"Aku mencintaimu dan aku sangat merindukanmu." bisik Dion setelah pelepasan pertamanya.
Sedang Melinda tak menjawab namun senyuman itu terukir indah dengan mata terpejam.
__ADS_1
🌸
Bersambung..