Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Apa-apaan kalian


__ADS_3

"Istriku." Panggilnya saat baru saja memasuki ruang rawat Rania.


Berjalan cepat langsung memeluk istrinya tengah berbaring. "Sayang, maafin aku.."


"Maaf untuk apa, mas? apa yang terjadi? apa sesuatu terjadi sama anak-anak kita?" berondong Rania dengan khawatir.


Jafar melerai pelukan lalu menggeleng. Matanya terpejam kala tangan sang istri mengusap pipinya yang basah karena air mata turun bebas disana.


"Anak kita sehat, maafin aku dulunya pernah duain kamu dan gak sadar kalau aku cinta sama kamu. Makasih udah berjuang untuk ku dan anak-anak kita." di raih satu tangan Rania lalu di kecupnya.


"Sayang, setelah ini aku nggak akan menuntutmu untuk nambah anak. Cukup Reymond dan Reynold saja."


Rania mengerutkan dahi. "Kenapa? kata kamu ingin punya anak cewek."


Ya, Jafar pernah mengatakan hal itu sebelumnya.


Jafar menggeleng. "Enggak, aku nggak nyangka kalau hamil dan melahirkan butuh perjuangan. Aku takut kamu ninggalin aku." Jafar kembali mengecup punggung tangan Rania.


"Hei, kenapa kamu jadi melow begini? aku enggak akan pergi."


"Harus. Kamu enggak boleh pergi."


Jafar kembali memeluk Rania sembari mengucapkan. "I love you."


"Aku juga mencintaimu, tapi sekarang tolong bawa aku kesana. Aku ingin melihatnya, mas. Rasanya kurang tadi mendekap mereka."


Jafar melepaskan pelukan lalu mengecup kening Rania. "Lihat fotonya dulu ya, aku takut kamu banyak gerak nanti."


Awalnya Rania menolak, tetapi rayuan Jafar akhirnya mampu membuat wanita itu luluh.




"Suamiku, kenapa di telungkupkan begitu?" tanya Rania cemas.


"Model. Mama ketinggalan zaman."


Rania terdiam menatap Jafar, seperti ingin disampaikan namun ragu.


"Ada apa, hm?" Sepertinya pria itu menyadari kegundahan sang istri.


"Boleh Aditya kesini?"


Jafar tersenyum dan mengangguk. "Anak buahku udah kabari mereka. Tenang ya."


...****...


"Qenan, enak di peluk cowok serem?" tanya Nadira melihat suaminya masih diam tak bersuara setelah Jafar memeluknya tadi.


Qenan melirik ke arah Nadira lalu mendengus kasar sebab istrinya itu sedari tadi mencoba menggodanya.


Sungguh jika saja tadi mengetahui bahwa Jafar akan memeluknya tentu saja akan memberi jarak kepada Jafar.


Dasar. Badan aja yang kekar dan tato di mana-mana tapi istri melahirkan malah nangis. Umpat Qenan dalam hati.


"Ayo kita lihat bayi nya, Dad." ujar Nadira langsung menarik tangan Qenan.

__ADS_1


"Sayang, pelankan langkahmu." titahnya membuat Nadira segera menuruti. Istrinya itu tahu saat dimana akan membangkang perkataan nya dan langsung menurutinya juga.


Mengingat kehadian tadi membuat Qenan benar-benar harus mengawasi Nadira. Ada rasa khawatir memikirkan bagaimana nanti Nafira melahirkan apalagi setelah melihat Rania tadi.


"Sayang, lihatlah. Mereka sangat menggemaskan." ucap Nadira berbinar melihat dua makhluk kecil sedang terlelap.


Qrnan mendekati Nadira. Memeluk dari belakang sembati mengusap perut buncit Nadira. "Sebulan lagi kita bertemu anak kita, sayang."


Nadira mengelus kepala Qenan yang bertumpu di bahunya. "Itu berarti kita harus lengkapi keperluan anak kita sayang."


Qenan mengangguk sembari menghirup dalam-dalam aroma susu yang selalu memabukkan dirinya jika berdekatan dengan Nadira.


Candu.


"Qenan, geli ih." Nadira memberontak karena jika dirinya diam saja maka ada pergulatan di ruangan bayi tersebut.


Qenan tarik nafas lalu membuangnya secara kasar. "Baiklah, kayak nya istriku udah nggak mau lagi dekat dengan ku."


Ya, Sudah dua hari Qenan tidak menyatu dengan istrinya. Bukan Nadira yang menjauh namun ia mengerti jika Nadira pasti kelelahan nantinya menghadapi kegilaan permainan nya seperti biasa.


"Nanti malam, Dad. Tapi pijat kaki dulu ya." Nadira mengerling mata.


Senyuman terbit di wajah Qenan lalu mengangguk. Puas melihat bayi kembar Jafar dan Rania, keduanya menyju ruang rawat Rania.


"Anak mommy datang?" seru Nadira melihat bayi berusia 10 bulan sudah berjalan itu berada di brankar Rania.


Baby Aditya mendengar suara Nadira langsung berdiri melompat-lompat kegirangan. "Mmy.. Mmy."


Nadira mendekati brankar itu lalu menggendong Aditya. Ya, sebelumnya Nadira memang menyebut dirinya ajumma pada baby Aditya namun setelah Rania menjadi tawanan anak buat Wido, ia berinisiatif untuk anak Rania dan Wido memanggilnya mommy. Sudah meminta izin pada Qenan walau tahu jika suaminya itu tidak sepenuhnya mengizinkan.


Teringat perkataan Qenan waktu itu. "Aku ijinin, tapi ingat jaga kesehatan dan kehamilan mu. Jangan terlalu lama menggendong."


"Dan satu lagi, jangan buat alasan ini kamu dekat dengan Wido."


"Okey, Dad."


"Ah iya. Jangan jadi boomerang di kemudian hari."


"Baik, Dad."


...****...


Sudah cukup lama Qenan dan Nadira berada di Rumah Sakit. Tetapi agaknya Nadira masih enggan pulang karena baby Aditya selalu ingin berada dekat dengan istrinya.


"Bawa aja pulang." ucap Qenan sewot.


"Emang boleh, Ran?" tanya Nadira antusias.


"Apa enggak ngerepotin?"


"Enggak, kok. Kan ada mbak sus nya ikut."


Qenan melengos mendengar itu. Bukan karena tidak setuju baby itu ikut, tetapi ia tak suka suster itu menginap di rumah nya.


"Aditya aja yang nginap." titahnya.


"Tapi Qen, aku takut Aditya merepotkan Nadira." sela Rania sebagai ibu dari Aditya.

__ADS_1


"Kamu kira aku akan membiarkan istriku direpotkan?"


"Qenan, kamu membentak istriku?"


Qenan berdecak kesal. Padahal seharysnya tak perlu berdebat namun demi keinginan Nadira terwujud maka ia akan melakukan apapun.


"Oke baiklah, sekarang aku tanya, Aditya boleh ikut bersama kami?" tanya Qenan entah sama siapa karena pandangan nya tak teralih dari sang istri.


"Boleh."


"Oke baiklah, kami bawa Aditya tanpa pengasuh. Kami bisa menjaga Aditya."


"Nggak ngerepotin?" tanya Jafar karena ia sudah terbiasa semua keperluan nya di sediakan pelayan.


Qenan menggeleng. "Enggak. Aku udah terbiasa di repotkan istriku."


Terkekeh setelah mengucapkan itu karena melihat wajah sang istti cemberut. Setelah berdebat akhirnya Qenan dan Nadira pamit pulang dengan membawa baby Aditya.


Tak perlu izin dari ayah bayi ini karena Qenan tahu, jika menyangkut tentang Nadira pasti pria dewasa disana itu akan menuruti.


Qenan berpikir, jika saja Nadira adalah wanita serakah maka sangat mudah mempermainkan hatinya dan juga hati Wido.


Tetapi, Nadira bukan wanita seperti itu.


Sesampainya di rumah, Qenan turun dari mobil lalu membuka pintu mobil untuk Nadita. Di ambil alih baby Aditya sedang tidur dari pangkuan istrinya. Menggenggam tangan istrinya masuk ke dalam rumah. Namun sebelum itu ia meminta satpam untuk membawa barang-barang milik Aditya ke dalam rumah.


Tidak ada yang curiga dengan ke adaan setiap sisi ruangan rumah mereka karena pasangan itu langsung memasuki lif menuju kamar mereka.


"Sayang, Aditya mau di baringkan di kamar anak kita atau gimana?" tanya Nadira bingung.


"Kamar kita aja."


Nadira menoleh ke samping menatap Qenan.


"Kamu yakin?"


Qenan mengangguk. "Aku tahu kamu malam ini kelelahan. Tapi besok pagi siapkan dirimu. Aku harus memakan mu lebih dulu." Ia mengecup bibir Nadira lalu masuk ke kamar mereka bersama.


Usai baringkan baby Aditya dengan perlahan, keduanya mandi bersama tanpa ritual permainan sepak bola walau Qenan tetap mencuri-curi kecupan.


"Aku buat susu kamu dulu ya." ujar Qenan setelah selesai mandi dan sudah berpakaian.


"Iya, sama bawa roti selai cokelat ya."


"Iya." Qenan mengecup kening Nadira sekilas.


...****...


Qenan sudah berada di dapur dan tercengang dengan apa yang di lihatnya tetapi tak urung dengan tujuan utamanya membuat susu hamil dan dua lembar roti selai cokelat untuk istrinya sembari membatin.


Mungkin bi Onah lupa.


Sesaat hendak melangkah ia mendengar suara gelak tawa di ruang keluarga. Ia pun melangkah melihat ke ruangan itu.


"Apa-apaan kalian?"


❤️

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2